Murnikan Agamamu!

Maret 27, 2007

Murnikan Agamamu!

Oleh: abu_ubaidillah

Kehidupan beragama kaum muslimin yang telah banyak mengalami penambahan-penambahan, tentunya butuh kepada pemurnian. Sehingga agama mereka kembali sebagaimana diturunkannya pertama kali. Umar bin Khattab berkata, “Kita adalah kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam. Jika kita mencari kemuliaan dengan selain islam, Allah akan menghinakan kita.”

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh beliau. Melalui sejarah kita bisa melihat, tidak ada suatu kaum yang lebih mulia dari pada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Hal itu karena mereka benar-benar memahami dan mengamalkan ajaran Nabi mereka yang masih murni tanpa tercampuri perkara-perkara baru. Mereka sangat jauh dari perkara baru yang diada-adakan di dalam agama. Mereka paham bahwa perkara-perkara baru itu bukan dari islam dan hanya akan membawa kehinaan dan kerugian kepada pelakunya. Baca entri selengkapnya »


Tamak Terhadap Sesuatu yang Bukan Menjadi Bagiannya

Maret 27, 2007

Tamak Terhadap Sesuatu yang Bukan Menjadi Bagiannya

Seorang Shahabat yang agung, Mu’adz bin Jabal RA berkata : “Berlindunglah kalian kepada Allah dari sifat tamak yang melahirkan tabiat buruk dan dari sifat tamak terhadap kepuasan yang semu dan dari sifat tamak terhadap sesuatu yang bukan menjadi bagiannya.”

Sifat tamak yang melahirkan tabiat buruk adalah sifat tamak yang menjerumuskan manusia kepada akhlaq dan sifat yang tercela, menyebabkan kegelapan hati dan membutakan penglihatannya. Ini adalah bentuk dari ketergelinciran, penyimpangan dan pelecehan terhadap hukum, nurani, keteladanan dan akhlaq yang utama. Baca entri selengkapnya »


Tuntutlah Ilmu Syar’i Secara Ta’shili

Maret 4, 2007

Tuntutlah Ilmu Syar’i Secara Ta’shili

Penulis: Abu Sa’id Satria Buana

Menuntut ilmu syar’i merupakan amal yang sangat mulia, bahkan seorang yang pergi menuntut ilmu seperti halnya orang yang pergi berjihad sampai ia kembali. Namun perbuatan yang baik ini jika tidak diiringi dengan metode belajar yang benar justru akan menjadi tidak teratur dan semrawut. Maka dari itu sangat penting bagi setiap penuntut ilmu untuk memperhatikan bagaimanakah cara belajarnya.

Ilmu Didapat Secara Bertahap

Seseorang yang tidak sabar ingin menelaah seluruh judul buku/kitab kerapkali berbuntut pada kebosanan dan dan akhirnya malah putus. Semangatnya begitu membara di awal, tetapi setelah itu padam tanpa bekas. Jadi sebenarnya apa masalahnya? Masalahnya adalah metode pembelajaran yang tidak berjenjang dan tidak memprioritaskan penguatan kaidah dasar (ta’shili), yaitu bertahap dimulai dari tahap awal kemudian meningkat ke jenjang yang lebih tinggi dan seterusnya. Dan adalah seorang yang cerdas ia mengambil ilmu sedikit demi sedikit sesuai dengan kadar kemampuannya, dengan semangat juang yang tinggi. Karena ilmu itu seperti tangga, untuk bisa mencapai bagian puncak dari tangga maka ia harus memanjat dari bawah terlebih dahulu, jika ia mamaksakan untuk langsung menuju puncak, maka ia tidak akan mampu atau akibatnya ia akan celaka. Baca entri selengkapnya »


Biografi Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di

Maret 4, 2007

Biografi Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’di

Penerjemah: Abu Muslih Ari Wahyudi (Staf Pengajar Ma’had Ilmi)

(Diambil dari kitab Al Mukhtaraat Al Jaaliyah, karya Syaikh As Sa’di cetakan Mu’assasah as-Sa’diyah, disertai beberapa penambahan)

Beliau adalah Al ‘Allamah (seorang yang sangat dalam ilmunya) yang memiliki sifat wara’ (hati-hati), zuhud, pengingat akan generasi salaf asy-Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir bin Abdillah Alu Sa’di Tamimi Al Hambali.

Kelahirannya

Beliau dilahirkan di kota ‘Unaizah di wilayah Qashim pada tahun 1307 hijriah, ibundanya telah meninggal pada saat beliau masih berumur 4 tahun, lalu ayahandanya juga meninggal pada tahun 1314 H ketika beliau menginjak umur 8 tahun, dan kemudian istri ayahnya (ibu tiri beliau) memberikan perhatian yang besar kepada beliau, sehingga beliau amat disayanginya melebihi kasih sayangnya kepada anak-anaknya sendiri, demikian pula saudaranya, Hamad dirawat olehnya, sehingga tumbuhlah Syaikh dengan baik. Beliau pun memasuki madrasah tahfizh/penghafal Quran dan sudah bisa menghafalnya dalam umur 11 tahun, dan beliau mampu menghafal Al Quran di luar kepala ketika mencapai umur 14 tahun. Baca entri selengkapnya »


JALAN MENUJU SURGA

Maret 2, 2007

JALAN MENUJU SURGA

Abdullah bin Ubaid bin Umair menyatakan bahwa Abu Dzar RA pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam . Ia adalah shahabat Beliau yang paling banyak bertanya. Katanya : “Maukah engkau memberitahukan kepadaku amalan yang membawaku masuk Surga ?”

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam menjawab : “Hendaknya engkau beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan dengan sesuatu apapun.” Abu Dzar bertanya : “Hal itu tentu ada tindak lanjutnya ?”

Beliau Shallallahu’alaihi Wasalam menjawab : “Dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Abu Dzar bertanaya lagi : “Kalau tidak punya harta untuk dizakati ?”. Beliau Shallallahu’alaihi Wasalam menjawab : “Lakukanlah amar ma’ruf nahi mungkar.” Abu Dzar berkata : “Tetapi untuk itupun terlalu lemah ?” Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda : “Masih ingin berbuat baik juga ? Tahan dirimu untuk berbuat jahat terhadap manusia.” (dikeluarkan oleh Hannad dalam Az-Zuhd no. 1061. Syaikh Abdurrahman Al Faryuwa’I menyatakan : “Sanadnya shahih, apabila Abdullah bin Umair mendengarnya dari Abu Dzar RA. Karena saya tidak mendapatkannya dalam kutubur Rijal bahwa ia meriwayatkannya dari abu Dzar RA. Hadits ini juga dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam Mawarid no. 863. dengan sanadnya sendiri dari Abu Katsir As Suhaimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar RA secara marfu’. Hadits ini memiliki penguat yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Musa. Lihat Az-Zuhd II : 515) Baca entri selengkapnya »


BAGAIMANA ZAMAN AKAN HANCUR

Maret 2, 2007

BAGAIMANA ZAMAN AKAN HANCUR

Diriwayatkan dari Asy Sya’bi dari Ziyad bin Jarir, ia berkata : “Saya mendatangi Umar bin Khathab kemudian beliau berkata : “Wahai Ziyad, apakah kamu sedang meruntuhkan bangunan Islam atau sedang menegakkannya? Aku menjawab : “Saya sedang menegakkannya.” lalu beliau berkata : “Sesungguhnya zaman akan hancur karena ketergelinciran ulama dan karena munculnya perdebatan orang-orang munafik atau pemimpin yang menyesatkan.”

Kebangkitan memiliki perantara, demikian pula kehancuran memiliki tanda-tanda. Sedangkan kaum Muslimin dituntut untuk waspada terhadap unsur-unsur pemicu kehancuran dan konsisten dengan sarana-sarana menuju kebangkitan serta hendaknya tidak berlaku toleran terhadap orang-orang yang berhasrat menghancurkan bangunannya, merobohkan sendi-sendinya dan menyebarkan malapetaka yang tiada membedakan antara orang yang shaleh dan yang jahat. Baca entri selengkapnya »


Manhaj Golongan Yang Selamat

Maret 1, 2007

MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT

1. Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hidupnya, serta manhaj para Shahabat sesudahnya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepadanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).”
(Dishahihkan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’) Baca entri selengkapnya »