Mengaku Islam tanpa Amalan

Juli 26, 2007

Mengaku Islam tanpa Amalan

Hudzaifah bin Yaman R.A adalah sebagaimana yang telah digambarkan oleh Abu Nu’aim :”Orang yang memahami fitnah dan kondisi hati. Beliau bertanya tentang keburukan untuk menjauhinya, mempelajari betul kebaikan untuk dipegang teguh. Banyak bertaubat dan menyesali dosa, melampaui berlalunya hari dan waktu.”

Hal yang demikian itu karena beliau sering bertanya tentang masa yang akan datang waspada akan datangnya fitnah dan kerusakan, takut akan musibah dan malapetaka. Beliaulah yang menjawab Umar bin Khathab R.A tatkala beliau bertanya :”Siapakah diantara kalian yang mendengar hadits Rasulullah S.A.W tentang fitnah (malapetaka)?” Orang orang disekitarnya menjawab :”Kami telah mendengar hadits tentang fitnah seseorang dari keluarga dan hartanya.”Akan tetapi Umar berkata :”Bukan itu yang saya maksud, akan tetapi aku bertanya tentang fitnah yang bergelombang laksana gelombang lautan. “Pada saat itu Hudzaifah R.A yang berkata :”Saya telah mendengarnya wahai Amirul mu’minin.” Umar R.A bertanya : “Anda mendengarnya?” Baca entri selengkapnya »


Perbuatan yang Tidak Tergolong Riya’

Juli 20, 2007

Perbuatan yang Tidak Tergolong Riya’

beberapa perbuatan yang tidak tidak tergolong riya’, antara lain:

1. Pujian yang diberikan seseorang atas amal kebaikan yang dilakukan tanpa tujuan apapun dari manusia.

Ketika seseorang melakukan suatu kebaikan dengan ikhlas, kemudian Allah memujinya melalui makhluknya sementara hamba itu tidak suka dengan pujian mereka, maka kemudian ia dilapangkan dengan ciptaan Allah dan karuniaNya kepadanya. Kebahagiaannya dengan ketaatan kepada Allah, seperti dikatakan dalam Al Qur’an,

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus : 58) Baca entri selengkapnya »


Bahaya Riya’

Juli 17, 2007

Bahaya Riya’

Ada beberapa penjelasan tentang bahaya riya’, dan pengaruh buruk (dampak negatifnya) bagi individu, umat dan amal perbuatan, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Berikut ini perinciannya :

Bahaya Riya’

Rasulullah S.A.W menjelaskan bahwa bahaya riya’ memiliki tingkatan yang bermacam macam, dan diungkapkan dengan ungkapan yang bermacam, diantaranya : Baca entri selengkapnya »


Tanda Tanda Riya’

Juli 16, 2007

Tanda Tanda Riya’

Ada beberapa tanda tanda riya’, yaitu :

1. Menunda Ibadah dari waktunya tanpa udzur syar’i

Allah S.W.T berfirman dalam Al Qur’an,

“Maka kecelakaanlah bagi orang orang yang shalat, yaitu orang orang yang lalai dalam shalatnya. Orang orang yang berbuat riya’. Dan enggan (menolong dengan) barang yang berguna.” (Al Maa’uun :4-7).

2. Melakukan ibadah dengan bermalas malasan dan jiwa yang tidak bersih.

Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya orang orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, apabila mereka berdiri untuk menegakkan shalat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali (An Nisa’:142). Baca entri selengkapnya »


Bukti-Bukti Cinta dan Pengagungan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Juli 14, 2007

Bukti-Bukti Cinta dan Pengagungan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Pertama : Mendahulukan dan mengutamakan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas semua orang.

Allah S.W.T telah melebihkan NabiNya, Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam atas semua makhluk yang terdahulu dan yang terkemudian. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan imam sekaligus penghulu mereka.
Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (Muslim, 2/1782, No.2276.)

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Aku adalah sayyid (penghulu) anak Adam dan ini tidak membanggakan, manusia pertama yang dibangkitkan dari kubur, orang mula-mula memberikan syafaat, dan orang yang mula-mula syafaatnya diterima.” (Muslim, 2/1782, No.2278) Baca entri selengkapnya »


Faktor-Faktor Penyebab Riya’

Juli 13, 2007

Faktor-Faktor Penyebab Riya’

Ketahuilah wahai hamba, bahwa genesis (faktor utama) riya’ adalah cinta jabatan. Jabatan menempati posisi tertentu dalam hati semua orang. Jabatan merupakan keyakinan hati yang muncul pengaruh kesempurnaan dalam pribadi seseorang. Adakalanya diakibatkan ketinggian ilmu (strata akademis), ibadah, nasab (keturunan), kekuatan, keindahan penampilan atau hal lain yang diyakini oleh orang lain sebagai kesempurnaan. Sesuai dengan kadar keyakinannya itu, maka hatinya pun tergerak untuk mentaati, memuji, mengabdi dan mengagungkannya.

Orang yang kecintaannya terhadap semua ini mengalahkan hatinya, akan kesulitan mengontrol tingkah lakunya.Ia asyik dengan pujian manusia dan riya’ terhadap mereka. Perkataan dan perbuatannya tidak henti hentinya ditujukan untuk membesarkan kedudukan dirinya di hadapan orang lain. itu adalah embrio kemunafikan dan dasar segala kerusakan. Karena dalam benak hati seseorang yang mencari kedudukan dan jabatan terdapat keinginan agar dirinya mendapatkan posisi tertentu di hati manusia, maka ia memaksa agar menampakkannya sesuatu yang sebenarnya ia tidak berhak memilikinya, yang kemudian mengakibatkan riya’ dalam ibadah, menembus batas batas agar dapat mewujudkan keinginan hatinya. Baca entri selengkapnya »


Gambaran Cinta Dan Pengagungan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Semasa Hidup

Juli 12, 2007

Gambaran Cinta Dan Pengagungan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Semasa Hidup

Para shahabat Radhiyallahu’anhu mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli selain mereka. Tidak akan dapat dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah mereka yang menyamai cinta mereka (Lihat pembahasan yang menyeluruh dalam Huquq an-Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ala Ummatih, Dr. Muhammad at-Tamimi, 2/448-461).

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu pernah ditanya, “Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam ?” ia menjawab, “Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam-, demi Allah S.W.T lebih kami cintai daripada harta kami, anak-anak kami , ayah dan ibu kami, air dingin pada saat kehausan.” (Syarh asy-Syafa, 2/40). Baca entri selengkapnya »


Tekad Untuk Meningkatkan Layanan dalam Rapat Pimpinan Ditjen Perbendaharaan

Juli 11, 2007

Tekad Untuk Meningkatkan Layanan dalam Rapat Pimpinan Ditjen Perbendaharaan

(Jakarta, 30 Juni 2007) Di belakang panggung tempat Direktur Jenderal Perbendaharaan Herry Purnomo menyampaikan pengarahan terpampang spanduk besar bertuliskan “Rapat Pimpinan Direktorat Jenderal Perbendaharaan: Satukan Langkah dan Tekad untuk Mewujudkan Peningkatan Layanan kepada Stakeholder”. Itulah ilustrasi yang menandai dimulainya sebuah gawe besar yang diselenggarakan oleh Ditjen Perbendaharaan dari tanggal 28 sampai dengan 30 Juni 2007 di Hotel Red Top Jakarta.

Rapat Pimpinan yang dihadiri oleh seluruh pejabat eselon II Kantor Pusat, 30 Kepala Kantor Wilayah, dan 50 pejabat eselon III di lingkup Ditjen Perbendaharaan itu menjadwalkan beberapa agenda pembahasan. Isu utama yang diangkat adalah mengenai KPPN Percontohan, yang pembentukannya dimaksudkan untuk mewujudkan komitmen pimpinan Departemen Keuangan tentang tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan peningkatan kinerja pengelolaan keuangan negara (reformasi birokrasi). KPPN Percontohan dibentuk untuk dapat memberikan layanan yang cepat, akurat, tanpa biaya, dan transparan (zero defect). Baca entri selengkapnya »


Macam-Macam Cinta Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Juli 11, 2007

Macam-Macam Cinta Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa mencintai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam itu dua tingkatan :

Pertama, cinta yang wajib, yaitu cinta yang mengharuskan untuk menerima segala yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dari sisi Allah S.W.T dan menerimanya dengan rasa cinta, ridha, pengagungan dan penerimaan, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan beliau secara keseluruhan. Kemudian mengikuti beliau dengan baik dalam segala yang beliau sampaikan dari Tuhannya, yaitu membenarkan segala yang diberitakannya, mentaati segala kewajiban yang diperintahkannya dan menjauhi segala larangannya, membela agamanya, dan memerangi siapa saja yang menentangnya menurut kemampuannya. Ini suatu keharusan, dan iman tidak sempurna tanpa keberadaannya. Baca entri selengkapnya »


Motivasi Motivasi Mencintai Nabi Dan Mengagungkannya

Juli 10, 2007

Motivasi Motivasi Mencintai Nabi

Dan Mengagungkannya

Ada beberapa perkara yang memotivasi setiap muslim kepada hal itu, antara lain :

1. Menyelaraskan kehendak Allah S.W.T karena Dia mencintai dan mengagungkan NabiNya. Dia telah bersumpah dengan kehidupan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sebagai penghormatan untuknya, dalam firmanNya,

“ (Allah S.W.T berfirman), ‘Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)’.” (Al-Hijr : 72). (Lihat, Syarh asy-Syafa karya Qadhi Iyadh, Mula Ali al-Qari, 1/72. Tidak boleh bagi seorang pun selain Allah bersumpah dengan nama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan tidak pula dengan kehidupannya, sebab tata cara pemuliaan yang sesuai syariat sudah jelas dalam al-Qur’an dan lewat lisan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang menjelaskan bahwa bersumpah dengan selain Allah S.W.T adalah syirik, sebagaimana akan dijelaskan dalam buku ini.) Baca entri selengkapnya »