Tali Kekeluargaan Sambunglah Jangan Diputus

Maret 15, 2008

Paham kapitalisme yang dibangun di atas filsafat materialisme seakan telah menyusup dalam jiwa kaum muslimin. Salah satu gejalanya adalah meremehkan hubungan kekeluargaan. Bahkan tidak sedikit yang mudah memutuskan tali keluarga karena masalah sepele. Hubungan keluarga adalah sesuatu yang sangat dihormati oleh syariat Islam. Islam telah menetapkan segala sesuatu yang dapat menguatkan dan mengeratkan ikatan hubungan di antara para pemeluknya. Pada skala keluarga, misalnya, kita dapati Islam menyerukan ikatan tersebut dalam suatu bentuk yang merealisasikan keselarasan dan kasih sayang, mencegah kerusakan, menjadi penengah dan jalan keluar dari perselisihan yang terjadi. Islam pula menyeru dan mengajarkan bagaimana menjaga hak-hak kerabat. Islam mengajarkan bagaimana menunaikan hak sebaik mungkin, dengan cara menjalin hubungan, berbuat baik, melakukan kunjungan dan memuliakan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Al-Isrå:26) Baca entri selengkapnya »


Dengan Tauhid…Bahagia Dunia Akhirat

Maret 10, 2008

Orang yang hidup di dunia tentu menginginkan untuk mencercap kebahagiaan dunia. Bahkan tidak cukup di dunia orang pun mengangankan meraih kenikmatan di akhirat kelak.

Siapa yang tidak menginginkan kebahagiaan dunia dan akhirat, kita semua tentu menginginkannya. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana cara meraih keduanya. Kita yakin bahwa Islam adalah agama yang ajarannya lengkap dan menyeluruh. Islam satu-satunya agama yang mendapatkan pengakuan dari Sang Pemiliknya Jalla Sya’nuhu. Islam adalah agama yang rahmatan lil ’alamin. Tidak didapatkan satu ajaran pun dalam Islam yang akan merugikan para pemeluknya, tidak ditemukan satu prinsip pun dalam Islam yang mencelakakan para penganutnya. Sementara tidak sedikit pemeluknya yang mengabaikannya, menitikberatkan perhatiannya pada masalah dunia dan bagaimana cara untuk mendapatkannya. Padahal Allåh S.W.T telah mengingatkan kita dengan firman-Nya,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan diakhirat (nanti) ada adzab yang keras dan ampunan dari Allåh S.W.T serta keridhåan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid:20)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang mereka telah usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-Hud:15-16)

Apakah Råsulullåh S.A.W, sebagai teladan sejati, juga berperilaku demikian? Ternyata tidak. Sementara itu petunjuk Råsulullåh S.A.W adalah sebaik-baik petunjuk. Siapa yang mengambilnya akan bahagia dan yang meninggalkannya akan celaka. Baca entri selengkapnya »