Aku Mencintai Manusia Seluruhnya

Agustus 24, 2010

Hatim Al Asham mengungkapkan : “Aku melihat manusia, maka ada seseorang yang aku sukai dan ada pula yang aku benci, yang aku sukai ternyata tidak memberiku apa apa, sedangkan yang kubenci juga tidak mengambil apa apa dari diriku. Kemudian aku berkata kepada diriku sendiri, ‘Darimana engkau mendapatkan perasaan suka dan benci semacam itu?’ aku berpikir dan memandang diriku sendiri, ternyata semua itu berasal dari rasa dengki. Lalu aku buang rasa dengki itu dari hatiku, sehingga aku dapat mencintai semua manusia.

=====

Inilah pandangan seorang pendahulu kita yang shalih terhadap persoalan berkaitan dengan hubungan manusia dengan sesamanya, sehubungan dengan adanya seseorang yang menjadi teman dan yang menjadi musuh, yang kemudian memunculkan pertanyaan apakah seorang teman dapat memberikan manfaat kepada temannya tanpa pemberian Allah, tanpa rahmat Allah kepadanya? apakah seorang musuh juga dapat merampas sesuatu yang telah diberikan Allah kepadanya , mencelakakannya dirinya, tanpa izin Nya? Baca entri selengkapnya »


Akhirnya, kebajikan yang kujadikan teman

Agustus 23, 2010

Hatim Al Asham mengungkapkan : “Aku melihat setiap orang memiliki teman tempat membuka rahasia dan berbagi rasa. Aku bertanya pada diriku sendiri, ‘siapakah temanku? setiap teman dan saudara telah kulihat sebelum mati, aku ingin mencari teman yang akan kubawa sampai sesudah mati, maka aku mengambil kebajikan sebagai teman untuk menemaniku hingga hari kiamat nanti, turut bersamaku meniti Ash Shirath lalu menegakkan tubuhku dihadapan Allah Azza Wa Jalla.

========

Alangkah bagusnya teman yang dipilih oleh Hatim, beliau memandang bahwa semua teman di dunia ini hanyalah teman semasa hidup, semasa kaya dan semasa memiliki kemudahan. Setelah itu, mereka tidak bisa menjadi teman lagi dan tidak diperlukan lagi, bahkan boleh jadi menjadi musuh musuh yang akan menjerumuskannya kepada murka Allah. Sebagian orang mencari teman sebanyak banyaknya dengan anggapan akan berguna buat mereka dan akan dapat menolong mereka, tetapi sebagian besar dari mereka pasti akan berhenti dengan habisnya masa hidup, setelah itu manusia akan kembali sendirian, mempertanggungjawabkan apa yang telah ia perbuat, dihisab terhadap apa yang telah dilakukannya, tiada yang akan menjadi teman yang akan dapat menolongnya. Allah berfirman :

“Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak anaknya, (Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya)” (‘Abasa : 34 -37) Baca entri selengkapnya »


Empat Malapetaka

Agustus 18, 2010

Muhammad bin Fadhal As Sarmanqandi menceritakan :

“Lenyapnya ajaran Islam karena empat bencana, yakni Pertama, ketika umat Islam tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui. Kedua Ketika umat Islam mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui. Ketiga Ketika umat Islam tidak mempelajari apa yang mereka tidak ketahui. Keempat Ketika mereka mencegah orang lain untuk belajar.

==============

Para Generasi terbaik umat Islam, generasi salafush shalih, para generasi terdahulu yang shalih memperingatkan bahaya hilangnya ajaran Islam. Padahal mereka sangat paham dan mengetahui bahwa Islam dengan dasar dasarnya yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah pasti akan senantiasa terpelihara dengan jaminan dari Allah, dengan segala karakteristiknya dan nilai kebenarannya akan terjaga hingga akhir jaman. Namun mereka khawatir dan memperingatkan akan hilangnya pengaruh Islam dalam kehidupan umat manusia, takut manakala umat Islam tidak tahu bagaimana menerapkan ajaran Islam, lalu tidak lagi mengamalkannya, yakni ketika berbagai perbuatan maksiat dan dosa sudah tersebar luas dan dianggap sebagai hal kebiasaan. Baca entri selengkapnya »


Lebih Baik Dari Mutiara

Agustus 16, 2010

Yahya bin Abi Katsier mengungkapkan : “Pusaka Ilmu lebih baik daripada pusaka emas. Keyakinan yang tulus itu lebih baik daripada mutiara.”

Itulah perbandingan yang tepat antara ilmu dengan harta. Namun artinya bukanlah mengutamakan kemiskinan tau menjauhkan diri dari sarana dan prasarana hidup, yang tulang punggungnya adalah harta. Namun artinya adalah bahwa orang tua hendaknya menumbuhkan dalam hati dan mencanangkan prinsip pentingnya ilmu karena itu adalah pusaka / warisan tertinggi untuk anak anaknya. Agar mereka tidak memandang ilmu sebelah mata dan tidak menganggap remeh dalam kehidupannya dan agar tidak menganggap bahwa yang paling penting bagi mereka adalah mewariskan kepada anak anak mereka harta kekayaan dan emas permata yang dapat memenuhi kebutuhan mereka. Baca entri selengkapnya »


Yang Kenikmatannya Tak Pernah Putus

Agustus 13, 2010

Diantara pesan Muhammad bin Ali AT Tirmidzi adalah : “Arahkan pantauanmu kepada Yang pandangan Nya kepadamu tak pernah lepas. Berikan rasa syukurmu kepada Yang kenikmatan Nya kepadamu tak pernah putus. Persembahkan ketundukanmu kepada Yang kekuasaan dan kekuatan Nya tak pernah sirna.”

Ketika seorang manusia meletakkan dirinya dalam barometer keadilan, memikirkan hakikat keberadaannya di alam nyata ini, pasti ia akan dapat mengetahui kepada siapa dia akan memberikan loyalitas dan orientasi hidupnya, siapa pula yang berhak mendapatkan cinta, keikhlasan dan rasa syukurnya. Karena ia adalah makhluk yang memiliki Pencipta yang Maha Bijaksana, Pemberi rezeki yang Maha Mulia, yang selalu melimpahkan karunia kepadanya, selalu memberinya sebelum ia meminta, memeliharanya siang dan malam, menundukkan baginya segala yang ada di langit dan di bumi, membiarkannya bila berbuat maksiat namun senantiasa menerimanya manakala bertaubat, memperbanyak kepadanya pahala bia ia taat dan menambahkannya lagi bila dia bersyukur, memperingatkannya bila ia lupa.Maka siapa lagi yang lebih berhak untuk ia syukuri dan ia berikan rasa tunduk kecuali daripada Nya? Baca entri selengkapnya »


Sedangkan mereka merasa aman dengan dosanya sendiri

Agustus 12, 2010

Seorang tabi’in yang agung, Rabi’ bin Khutsaim berada dalam suatu majelis. Beliau mendengar seorang membicarakan dan menyebut nyebut keburukan orang lain, lalu mereka bertanya kepada beliau tentang pendapat beliau, maka beliau menjawab : “Adapun aku tidak rela jika diriku lupa mengingat diriku, lalu mengingat orang lain. Sesungguhnya manusia takut kepada Allah atas dosa yang dikerjakan oleh orang lain, sedang mereka merasa aman dengan dosanya sendiri.

******

Sebuah pelajaran yang sangat baik dari perkataan beliau. Itulah problem yang betul betul serius pada setiap masa dan masyarakat, seseorang melihat aib orang lain namun tidak melihat aibnya diri sendiri, mengkritik orang agar berakhlak baik namun menutup mata terhadap akhlaknya sendiri. Baca entri selengkapnya »


Jika Mereka Tak Mengerjakannya Maka Tiada Manfaat Ikrar Mereka

Agustus 11, 2010

Amru bin Utsman Ar-Raqqy berkata :”Tatkala aku duduk bersama Sufyan bin Uyainah, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan berkata :”Wahai Abu Muhammad, bagaimana pendapat anda tentang iman yang dapat bertambah dan berkurang?”

Beliau menjawab :”Iman bertambah sesuai dengan kehendak Allah dan dapat berkurang terus hingga tak tersisa.”

Lalu beliau menyatukan tiga jarinya sedang ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran.

Laki-laki itu bertanya lagi :”Orang-orang mengatakan bahwa iman adalah ucapan?”

Beliau menjawab :”Perkataan telah mereka ucapkan sebelum diturunkannya hukum-hukum iman dan batasan-batasannya, Allah mengutus Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada manusia agar mereka mengucapkan “la ilaha illalah.” Apabila mereka mengatakannya maka terjagalah darah dan harta mereka melainkan dengan hak Islam, sedangkan hisabnya terserah Allah. Maka tatkala Allah mengetahui ketulusan hati mereka, selanjutnya Allah perintahkan NAbi agar beliau memerintahkan mereka untuk menegakkan shalat, lalu Nabi memerintahkan mereka dan merekapun melaksanakannya. Kalau saja mereka tidak mau mengerjakannya maka tiada manfaat apa yang telah mereka ikrarkan sebelumnya. Baca entri selengkapnya »


Jika Tak Mampu Menjadi Bulan Jadilah Matahari

Agustus 10, 2010

Sebuah kisah, Pada suatu hari Abu Sulaiman Ad Darany berkata kepada muridnya bernama Ahmad bin Abi Hawary : “Wahai Ahmad jadilah kamu bintang , jika tak mampu menjadi bintang, maka jadilah kamu bulan dan jika tak mampu menjadi bulan, maka jadilah kamu matahari.”

Kemudian Ahmad menjawab “Wahai Abu Sulaiman sesungguhnya bulan lebih terang daripada bintang dan matahari lebih terang daripada bulan, mengapa anda membalik urutannya?”

Abu Sulaiman menjawab “Wahai Ahmad, yang aku maksud adalah jadilah kamu seperti bintang yang muncul di awal malam dan tenggelam di waktu fajar, maka bangunlah untuk beribadah kepada Rabb mu sejak awal malam hingga akhir malam. Jikalau kamu tidak mampu shalat malam setiap hari, maka jadilah kamu laksana bulan yang terbit pada sebagian malam kemudian lenyap, maka bangunlah pada sebagian malam untuk beribadah kepada Rabb mu. Jika kamu tidak mampu juga untuk shalat malam, maka jadilah kamu laksana matahari, terbit sejak awal siang hingga tenggelam matahari, jika kamu tidak kuasa untuk shalat malam, maka janganlah sekali kali kamu bermaksiat kepada Allah di siang harinya. Baca entri selengkapnya »


Lama Off

Agustus 10, 2010

Sepertinya sudah lama sekali ga menulis di blog ini, hampir setahun ditinggalkan. Banyak yang ingin saya tulis sebenarnya, baik dari pikiran saya sendiri maupun dari tulis ulang dari buku atau copy blog lainnya, namun harus terus saya pending dan akhirnya hilang seiring dengan kesibukan kerja, apalagi setelah kepindahan tugas saya dari Depkeu (perbendaharaan) ke BPK, begitu banyak hal yang ingin saya curahkan di blog ini. Bagaimana saya harus melompat dari satu instansi yang telah membesarkan saya selama hampir 8 tahun, dimana saya banyak belajar berbagai hal, bagaimana saya harus berpisah dengan teman teman yang begitu mewarnai langkah saya selama itu. tentu berat, apalagi membayangkan lingkungan kerja baru yang sama sekali tidak saya kenal, baik personelnya maupun jenis pekerjaannya, namun itulah pilihan saya, hati saya tergerak untuk masuk ke dalam institusi itu setelah melalui pemikiran panjang dan istikharah berkali-kali.

Entahlah, seolah olah gerakan hati untuk berpindah ke BPK begitu kuat, bukan semata mata melihat prospek institusi BPK yang semakin luas cakupan kerjanya, tidak pula berandai andai mendapatkan penghasilan yang lebih besar di bandingkan di perbendaharaan. namun dorongan untuk lebih dekat dengan keluarga menjadi alasan paling kuat disamping alasan alasan lain yang mendorong saya meninggalkan depkeu.

Saat ini saya masih belum tahu bagaimana nantinya di BPK, setidaknya saya terus berusaha bermanfaat untuk orang orang di sekitar saya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.