‘Aidh al-Qorni dan Amma ba’du

‘Aidh al-Qorni dan Amma ba’du

Oleh :

Syaikh Abu Mundzir Ahmad bin Jaelan

Ada di tanganku sekarang sebuah kaset ceramah yang berjudul “Amma Ba’du” oleh Dr. ‘Aidh al-Qorni -semoga Allah memberinya hidayah-. Maka terbetik dalam benakku untuk mendengarkannya karena kaset itu banyak menyebar di kalangan manusia. Ketika aku mendengarnya hampir-hampir aku tidak mempercayai isinya, di dalamnya terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam aqidah dan kesalahan-kesalahan ilmiah yang (sebenarnya) tidak layak muncul dari seorang yang terdidik dalam lingkungan ahli sunnah wal jama’ah. Apalagi dia adalah seorang dai kondang, sasterawan dan penyair yang telah meraih gelar Doktor dibidang hadits/sunnah. Dan bahkan dia pernah dilarang (ceramah) selama bertahun-tahun, sebetulnya ini sudah cukup sebagai peringatan baginya untuk dia bertobat.

Setelah aku mendengarkan kesalahan-kesalahnnya yang fatal dalam kaset pertamanya setelah dia di-blacklist beberapa tahun lamanya. Aku pun bertekad untuk menulis risalah atau makalah ini dalam rangka menegakkan pilar nasehat dan membela Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta menjelaskan kepada manusia terutama para pemuda agar mereka tidak tertipu dengan keindahan bahasa serta syairnya. Aku beri judul makalah ini dengan “Qosfur Ro’di Fii Nasfi Ughluuthoot Muhadhorot Amma Ba’du”

Aku ringkas kesalahan-kesalahannya dalam 10 hal dan yang terakhir (yang kesepuluh) menyangkut beberapa hal yang berbeda. Semoga aku menjadi orang yang dikatakan oleh Aidh al-Qorni dalam dalam kasetnya tersebut: “Itulah sepuluh yang sempurna, aku hadiahkan kepada pecinta nasehat, perindu kebaikan, pencari hakekat, pendamba kedamaian, dan pengembara ilmu, (aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan pertolongan Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nyalah aku kembali) (QS. Huud: 88)”.

Semoga Allah ta’ala memberi taufik kepada Aidh al-Qorni untuk bertobat dan kembali kepada kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Dan agar dia memfokuskan ceramah-ceramahnya dalam membela tauhid dan sunnah serta menjelaskan hal-hal yang bermanfaat bagi agama dan keimanan kaum muslimin. Dan supaya dia mengikuti jejak para ulama dan penuntut ilmu (yang benar) dalam memberikan nasehat serta wasiat yaitu dengan menyebutkan nash-nash (al-Qur’an dan hadits) serta mengagungkannya. Dan supaya dia menyeru umat untuk berpegang teguh kepada metode salafus sholih, karena tidak akan baik akhir umat ini kecuali dengan apa-apa yang menjadikan awal umat ini baik. Dan semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan petunjuk kepada kita ke jalan yang lurus serta menjadikan kita tetap istiqomah di atas agamanya. Sesungguhnya Dia maha kuasa atas semua itu. Sholawat dan salam serta keberkahan selalu tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya.

Penyimpangan pertama: Dia beristighotsah kepada hati dan darahnya bukan kepada Allah ta’ala. Dia berkata pada awal ceramahnya: “Bagaimana aku bisa memulai? Wahai darah tolonglah aku. Wahai hati temanilah aku, wahai darah selamatkanlah diriku”

Sesungguhnya panggilan yang dijadikan sebagai pembuka ceramah oleh Doktor adalah suatu kesalahan yang buruk yang pernah aku dengar dari kasetnya ini. Bagaimana dia bisa membolehkan bagi dirinya beristighotsah dengan selain Allah? Dia beristighotsah dengan darahnya untuk menolong dan menyelamatkannya serta hatinya untuk menemaninya!!! apakah bisa darah dan hatinya menyelamatkannya selain Allah? Apakah doktor tidak tahu bahwa istighotsah itu adalah ibadah yang harus ditujukan kepada Allah semata tidak lainnya???

Sungguh telah jelas bagi pemula dari penuntut ilmu apa yang ditetapkan oleh para ulama tentang masalah istighotsah ini. Di antara para ulama tersebut adalah Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab -rahimahullah-. Beliau telah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya perkara yang agung ini, perkara yang berkaitan erat dengan ketauhidan dan ibadah kepada Allah. Didalam beberapa kitab dan makalah beliau, diantaranya apa yang beliau sebutkan dalam kitab Ushuluts Tsalatsah : “bentuk-bentuk ibadah yang diperintahkan Allah Ta’ala adalah Islam, Iman dan Ihsan, diantaranya juga doa, rasa takut….., isti’anah, istighostah, menyembelih, nadzar dan lain sebagainya dan bentuk-bentuk ibadah yang diperintahkan Allah ta’ala“

Imam Al-Allamah Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin -rahimahullah- berkata tentang istighotsah: “istighotsah adalah meminta pertolongan dari keselamatan di kala terjepit dan binasa, dan istighotsah itu bermacam-macam:

a. Beristighotsah kepada Allah Azza wa Jalla, dan ini termasuk seutama-utama dan semulia-mulia ibadah dan ini adalah jalannya para Rasul serta pengikut mereka.

b. Beristighotsah kepada orang-orang mati atau kepada yang masih hidup tapi tidak ada di hadapan (kita) dan dia tidak mampu untuk menolong. Ini adalah kesyirikan kepada Allah. Karena orang tersebut tidak beristighotsah kepada selain allah kecuali dengan sebab keyakinannya bahwa yang diistighotsahi itu memiliki pengaruh yang tersembunyi di alam semesta ini. Orang itu telah memberikan hak rububiyyah Allah kepada yang di istighotsahi.

Allah Ta’ala berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang-orang yang dalam kesulitan apabila dia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan yang lain? Amat sedikitlah kamu mengingat-Nya” (QS. An-Naml: 62)

c. Beristighotsah dengan orang yang masih hidup dan mampu untuk membantu, maka ini boleh. Allah berfirman: “Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu” (QS. Al-Qoshosh: 15)

d. Beristighostah dengan orang yang masih hidup tapi tidak mampu untuk membantu dan tidak ada keyakinan bahwa pada diri orang tersebut tersimpan kekuatan (ghaib,-pent). Seperti ada seseorang yang tenggelam lalu dia meminta tolong kepada orang lumpuh maka ini merupakan ejekan dan canda gurau terhadap yang dimintai tolong tersebut. (Lihat Syarh Ushuluts Tsalatsah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Utsaimin -rahimahullah- hal. 60 – 61)

Maka termasuk yang manakah istighotsahnya Doktor ‘Aidh? Bukankah yang wajib baginya setelah di-blacklist adalah agar dia bernaung kepada Allah dan beristighotsah kepada-Nya? Bukankah dia sendiri yang mengatakan dalam 10 faedah atau pelajaran yang diambil dari kisah saat dia di-blacklist: “Kembali kepada Allah di kala gundah gulana, menyerahkan diri kepada Allah di kala susah dan memohon kepada-Nya di kala duka nestapa”. Maka kenapa dia lalai dari ucapannya ini dan beristighotsah dengan hati dan darahnya selain Allah Ta’ala?

Minimal yang bisa dikatakan terhadap penggilan dan istighotsah yang dia katakan dengan suara lantang adalah wajib baginya untuk beristighotsah dan kembali kepada kebenaran karena yang dia lakukan adalah istighotsah dengan anggota tubuh yang mati dan tidak mampu!

Penyimpangan kedua: mengatakan atau mensifati sejarah Nabi dengan kata usthurah (dongeng), dia menyebutkan dalam bagian pertama kasetnya setelah penyebutan syahadat Muhammad Rasulullah sebuah bait yang tidak dinisbatkan kepada penyairnya mungkin dia sendiri yang membuatnya, dia berkata:

Wahai yang terusir (Nabi) sesungguhnya nama beliau (Nabi) harum memenuhi dunia dan menjadi buah bibir bagi setiap orang.

Sejarahnya menjadi usthurah yang diriwayatkan oleh perowi dari perowi yang lainnya.

Sesungguhnya menggunakan kata usthurah untuk mensifati sejarah Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tidaklah benar karena kata tersebut dalam bahasa (Arab) digunakan hanya untuk suatu ucapan atau tulisan yang batil.

Ibnu Faris -rahimahullahu- berkata: Al-Asaathir (jama’ dari usthuurah, asaathir dan isthoorun) adalah sesuatu yang ditulis dari kebatilan.” [Lihat : Mu’jam Maqooyisii Lughoh oleh Ibnu Faris hal.458 (dengan sedikit perubahan-pent).

Ibnu Mandzur -rahimahullahu- berkata: “al-baathiil dan al-asaathir adalah cerita-cerita yang tidak ada benarnya.: [Lihat Lisanul Arab oleh Ibnu Mandzur 6/257]

Hal ini juga dikuatkan oleh ayat-ayat al-Qur’an, diantaranya firman Allah Ta’ala: “Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: al-Qur’an ini tidak lain hanyalah asaathir atau dongengan orang-orang dahulu” (QS. al-an’am: 25).

Dan firmannya: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: apakah yang telah diturunkan Tuhanmu? Mereka menjawab asaathirul awwaliin (dongengan orang-orang dahulu)” (QS. an-nahl: 24).

Dan firman-Nya: “Dan mereka berkata: dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya dituliskan, maka dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang” (QS. al-furqon: 5).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan bahawa orang-orang kafir dahulu yang mendustakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan wahyu yang beliau bawa, mereka mensifati wahyu tersebut dengan usthurah. Maka kata usthurah yang ada dalam bait syair Doktor itu sangat membahayakan bagi kehormatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan keimanan kepada beliau. Sebenarnya yang wajib bagi penceramah (DR. ‘Aidh) untuk mengagungkan Sunnah dan sejarah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dan tidak mensifatinya seperti diatas.

Penyimpangan Ketiga: Memanggil atau bermunajat kepada Allah dengan mengatakan: Ya, Anta. Dia menyebutkan dalam bagian awal kasetnya setelah penyebutan dua kalimat syahadat, dia memuji Allah dalam sebuah bait syair dan tidak dinisbatkan kepada penyairnya. Mungkin dialah si penyair itu, dia berkata:

Wahai anta (kamu), wahai sebaik-baik nama dalam hatiku

apa yang harus kukatakan atau jelaskan tentang matan dan sanadnya?

Sesungguhnya bermunajat kepada Allah Ta’ala dan berdo’a kepada-Nya adalah suatu ibadah yang mulia sebagaimana firman Allah ta’ala: “dan Tuhanmu berfirman: berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan kupernakan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dan dihina” (QS. al-Mukminun: 60)

Di dalam hadits Nu’man bin Basyir -radhiyallahu ‘anhuma- dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Do’a adalah ibadah” (HR Ahmad, Abu Daud, lihat (Shohih Al-Jami’) oleh Syaikh Al-Albani dan masih banyak lagi nash-nash yang semisal ini.}

Ketahuilah bahwa ibadah adalah perkara yang agung dan memiliki kedudukan yang mulia karena dia merupakan (manifestasi) tauhid yang merupakan hak khusus bagi Allah, tidak boleh bagi seorang Muslim untuk berbicara dalam masalah ibadah kecuali dengan ilmu yang benar yang bersumberkan dari al-Qur’an dan Sunnah, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan di minta pertanggungan jawabnya” (QS. al-isra’: 36)

Karena begitu mulianya kedudukan do’a ini maka kitab-kitab hadits tidak melalaikannya bahkan dikumpulkan hadits-hadits tentang do’a. Lebih dari itu sebagian ulama mengarang buku khusus tentang do’a, tentang adab-adabnya serta aturan-aturannya. Diantara aturan-aturan do’a yang disyari’atkan adalah seorang hamba ketika berdo’a dia harus menyeru nama Allah atau salah satu sifat Allah yang telah ditetapkan dalam al-Qur’an ataupun Sunnah. Inilah yang telah dikatakan oleh Ahlus Sunnah. Akan tetapi kita mendapatkan Doktor berdo’a kepada Allah dengan mengatakan: “Ya anta“. Apakah “anta” termasuk nama Allah? Apa dalilnya? Kapan dhomir atau kata ganti dan ismul isyarah bisa menjadi nama Allah Ta’ala? Bisa sih kalau menurut orang-orang sufi atau tashawwuf.

Lajnah Da’imah Lil Ifta’ (Komite Tetap Urusan Fatwa) Saudi Arabia pernah ditanya: “Apakah boleh berdo’a kepada Allah dengan menggunakan “ya huwa” (wahai dia) yaitu Allah tapi dengan dhomir atau kata ganti orang ketiga?”

Jawaban: “Segala puji bagi Allah, Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya, kemudian setelah itu:

Dhomir-dhomir mutakallim, khithab dan ghoib (kata ganti orang I, II dan III) secara mutlak bukan termasuk nama Allah baik secara bahasa maupun syari’at karena Allah tidak memberi nama bagi diri-Nya dengan dhomir-dhomir tersebut. Maka berdo’a dengan menggunakan dhomir-dhomir tersebut tidak boleh dan karena hal tersebut termasuk ilhad atau penyimpangan dalam pemberian nama bagi Allah Ta’ala yang Dia tidak memberi nama-Nya dengan hal tersebut. Hal tersebut termasuk berdo’a dengan cara yang tidak disyariatkan. Allah ta’ala melarang akan hal itu dalam firman-Nya:

“Hanya milik Allah asmaul husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan” (QS. al-a’raaf: 180).

Wabillahi at-taufiq wa shalallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shohbihi wa sallam. [LIhat Fatawa Lajnah Da`imah II/295 no. 3867 bagian aqidah (tashawwuf).

Maka telah jelas bagi kita bahwa berdo’a kepada Allah dengan “Ya anta” tidak diperbolehkan dan hal tersebut termasuk ilhad dalam asma Allah serta merupakan metode yang salah dalam berdo’a karena tidak sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala.

Tapi mungkin ada yang menyanggah hal ini, dia akan berkata kenapa kalian berburuk sangka dengan Syaikh DR ‘Aidh? Mungkin saja dia tidak memaksudkan dengan kata-katanya (ya Anta) itu Allah pencipta alam semesta. Tapi beliau memaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam !!!!

Sanggahan di atas tidaklah benar karena konteks ucapannya berkaitan erat dengan seruan atau do’anya kepada Allah. Dia sebelum menyebutkan bait syair diatas dia berkata: “Maha suci Engkau, aku akui segala dosa dan kesalahanku di hadapanmu” dan dia juga menyebutkan setelah bait syair tersebut “Ya Rabbi, Ya Hayyu Ya Qoyyum Ya Lathif…..” semuanya menunjukkan bahwa dia berdo’a kepada Allah.

Walaupun jika kita terima bahwa dia memaksudkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam (dengan ucapannya: Ya anta) maka hal ini juga tidak dibenarkan karena Allah Ta’ala melarang para sahabat yang mulia Shallallahu ‘alaihi wa Salam untuk memanggil Rasulullah dengan namanya langsung.

Allah berfirman: “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian yang lain. Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi diantara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan di timpa cobaan atau di timpa adzab yang pedih” (QS. an-nuur: 63)

Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata tentang tafsir ayat di atas: “Mereka dahulu mengatakan: wahai Muhammad, Ya Abal Qosim, maka Allah pun melarang mereka untuk memanggil dengan hal tersebut demi untuk menghormati Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam“

Qotadah -rahimahullah- berkata: “(Hal ini) demi untuk menghormati, memuliakan dan mengagungkan Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir III/337].

Apapun yang DR. Aidh maksudkan dalam do’anya itu, tetap dia salah akan tetapi kalau maksudnya Allah maka lebih parah.

(Dialihbahasakan oleh Ust. Abu Abdirrahman bin Thayib, Lc dari Majalah Al-Asholah edisi 44 tahun ke 8 Syawal 1424 H dan dimuat di Majalah Adz-Dzakhiirah al-Islamiyyah)

from abusalma.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: