Tamak Terhadap Sesuatu yang Bukan Menjadi Bagiannya

Tamak Terhadap Sesuatu yang Bukan Menjadi Bagiannya

Seorang Shahabat yang agung, Mu’adz bin Jabal RA berkata : “Berlindunglah kalian kepada Allah dari sifat tamak yang melahirkan tabiat buruk dan dari sifat tamak terhadap kepuasan yang semu dan dari sifat tamak terhadap sesuatu yang bukan menjadi bagiannya.”

Sifat tamak yang melahirkan tabiat buruk adalah sifat tamak yang menjerumuskan manusia kepada akhlaq dan sifat yang tercela, menyebabkan kegelapan hati dan membutakan penglihatannya. Ini adalah bentuk dari ketergelinciran, penyimpangan dan pelecehan terhadap hukum, nurani, keteladanan dan akhlaq yang utama.

Adapun tamak terhadap kepuasan yang semu adalah sifat tamak terhadap sesuatu yang berakibat buruk, tidak bermanfaat, baik dari sisi agama maupun dunianya. Ini merupakan bentuk tipuan pandangan yang dilihatnya sebagai suatu kebaikan padahal bukanlah suatu kebaikan! Dari sini banyak manusia yang bersusah payah mencari harta, kedudukan dan kesenangan, namun ternyata yang mereka dapati adalah fatamorgana yang tiada air di sana, lalu mereka menyesali jerih payahnya untuk mencari dan mendapatkannya.

Sedangkan tamak terhadap sesuatu yang tidak pantas diharapkan adalah tamak terhadap sesuatu di luar kemampuannya atau tiada layak baginya untuk tamak terhadapnya. Seperti tamaknya seorang tua renta padahal tiada tersisa umurnya melainkan seperti sisa sinar matahari yang hampir tenggelam.

Berbeda dengan tamak yang menipu dan sia-sia tersebut, kita melihat adanya sifat tamak yang benar dan bermanfaat, yang tidak akan menyebabkan penyesalan dan kelalaian, yakni tamaknya seorang mukmin yang senantiasa taat dan khusyu’ terhadap rahmat Allah, ampunan maupun pahala dariNya. Sebagaimana Al Khalil Ibrahin AS yang dikisahkan dalam Al Qur’an Al Karim : “Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat” (Asy Syu’ara :82)

Dan sebagaimana Firman Allah S.W.T perihal orang-orang yang bertaqwa :

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Rabb nya dengan rasa takut dan harap” (As Sajdah :16)

Mereka takut adzab Allah dan mengharapkan rahmat dan pahala dariNya. Inilah rasa tamak yang memang sudah layak, dibuktikan dengan prasangka baik terhadap Allah dan bagusnya amal.

Maka orang-orang yang bertaqwa menempatkan harapannya ke tempat yang semestinya, mereka tamak terhadap sesuatu yang bersifat kekal, bukan terhadap sesuatu yang fana. Tamak terhadap sesuatu yang bermanfaat dan bukan terhadap sesuatu yang menimbulkan mudharat. Tamak terhadap Jannah yang luasnya seluas langit dan bumi, terhadap kehidupan kekal yang tidak akan musnah. Tamak terhadap rasa aman yang tiada rasa takut dan gelisah didalamnya. Dunia bagi mereka adalah seperti yang telah mereka ketahui lewat syair :
Mereka melihat di dalamnya. lalu tatkala mereka tahu
Dunia bukanlah persinggahan baginya
Mereka jadikan duina sebagai samudra
Sedangkan amal shalih sebagai bahteranya

Jikalau anda bertanya kepada sebagian besar orang di zaman ini tentang apa yang menjadi angan-angan dan harapannya, niscaya akan anda dapatkan bahwa yang mereka inginkan adalah memiliki kekayaan yang melimpah, daerah kekuasaan yang luas, popularitas dan kehormatan di mata manusia, baik yang di barat maupun yang di timur, mereka minum dari bejana yang sama, yakni bejana materialisme yang demikian luas dan merata, hingga angan-angan mereka tertuju hanya kepada dunia belaka dan tiada lagi angan angan sesudah itu, melainkan bagi orang yang dirahmati Allah, namun sedikit sekali mereka.

Sungguh Shahabat yang agung ini telah mengingatkan kita agar berlindung kepada Allah S.W.T dari bermacam-macam sifat tamak, terhadap sesuatu yang remeh dantelah merata di zaman ini. Adapun penyembuhannya membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh dan tarbiyah yang lurus sehingga dapat mengarah kepada tujuan yang luhur di hadapan generasi ini. Sudah selayaknya seorang mukmin berupaya untuk dapat menempuhnya, waspada terhadap segala tipu daya hawa nafsu dan sifat tamak yang menyimpang, yang akan menghabiskan umur dan menyia-nyiakan tenaga yang tiada manfaat, tiada menjadikan bahagia dan tiada kekal.

Betapa jauh perbedaan antara tamaknya ahli iman dengan ahli syaithan dan tak layak bila cita cita kedua kelompok tersebut sama. Kecuali jika ahli iman tersebut yang lupa kana tujuannya dan menyalahi janjinya kepada Allah. Inilah peringatan Mu’adz bin Jabal RA yang terkandung dlam kalimat di atas.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Satu Balasan ke Tamak Terhadap Sesuatu yang Bukan Menjadi Bagiannya

  1. ARIFIN AGUNG PRABOWO mengatakan:

    TOMAK ADALAH SAUDARA PEREMPUAN IBLIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s