Mukadimah Syeikh

Mukadimah

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, tempat kami memuji dan memohon pertolongan serta ampunan. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan yang datang dari dalam diri kami dan amal perbuatan kami. Siapa saja yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun dapat menyesatkannya. Demikian pula orang yang telah disesatkan oleh Allah, maka tidak seorangpun dapat memberi petunjuk kepadanya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu bagiNya. Dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba serta utusanNya.
Amma ba’du.

Konsep (Manhaj) transendental Islami yang paling adung untuk mendidik dan mensucikan jiwa adalah dengan menautkan antara setiap (suluk) lahiriah, faktor-faktor perasaan, dengan tali keimanan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Hari Kiamat.

Menfokuskan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk dijadikanNya satu dzat dalam tujuan ibadah dan tempat mengadu, hal tersebut mesti dibarengi dengan berperilaku baik kepada setiap hambaNya. Tanpa mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari siapapun.

Kufur kepada Allah menjadikan pelakunya sombong, angkuh, dan kikir. Hal ini hanya akan menjerumuskan kepada kekikiran yang berimplikasi pada pengingkaran atas berbagai nikmat Allah, sehingga pengaruhnya tampak dalam perbuatan, pemberian, dan memberi sesuatu pada orang lain dengan tujuan riya’ kepada manusia, atau mencari popularitas diantara mereka. Hal ini terjadi karena ia tidak mengakui lagi akan adanya balasan (jazaa) akhirat, sehingga ia terobsesi hanya oleh ketenaran dan keangkuhan di hadapan manusia.
Demikianlah batasan dan karakteristik perilaku manusia. Yang memotivasi seseorang untuk melakukan amal shalih, berkata baik dan berakhlak mulia adalah keimanannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sembari mengharapkan kerelaan dan pahala akhirat dariNya. Motivasi seperti ini memiliki nilai yang paling tinggi derajatnya. Pemilik sikap seperti ini tidak akan berbuat karena pujian manusia, sebab memang pada dasarnya ia tidak ingin dikenal oleh manusia. Jika hal hal yang bersifat ketuhanan tidak dijadikan motivasi dalam berbuat, maka manusia akan berkonsentrasi melakukan perbuatan dan amal yang mendatangkan nilai nilai duniawi, mengikuti keinginan manusia, dan hanya itulah nilai tertinggi yang didapatkannya. Yaitu perilaku yang tercela seperti kesombongan, keangkuhan dan riya’ kepada manusia.

Para hamba telah menyiapkan diri dengan bersungguh sungguh untuk menempuh jalan akhirat. Mereka memaksa jiwanya, memutuskan diri dari belenggu syahwat dan menggiringnya pada kecenderungan untuk beribadah, tidak pula mereka rela melakukan kemaksiatan sedikitpun. Suka menampakkan ilmu dan amal, berbuat sesuatu dengan keikhlasan, agar mendapatkan kenikmatan tersendiri yaitu diterima di sisi tuhanNya. Kemudian jiwa mereka mendapatkan suatu kenikmatan yang agung, sehingga terketuk untuk meninggalkan maksiat. Salah seorang diantara mereka mengira bahwa ia adalah orang yang ikhlas, padahal sebenarnya ia telah dikelompokkan kedalam golongan orang munafik. Ini adalah tipu daya terbesar yang tidak seorang pun dapat menghindarinya, kecuali para ulama yang mengamalkan ilmunya, yang arif tentang allah, serta dicintai dan dibenci karena Allah. Dengan keimanan mereka, Tuhan menunjukkan mereka menuju keikhlasan.

Ketika aku dapati bahwa ini adalah penyakit dan merupakan perangkap paling berbahaya yang digunakan syetan agar selalu dapat memperdaya hamba hamba Allah yang ikhlas. Syetan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia agar selalu berbuat kemaksiatan.

Menurut saya (pengarang); jika demikian halnya, maka harus dijelaskan faktor faktor penyebab riya’, bagian bagian, macam macam, pengaruh, serta solusinya.

Buku ini adalah sebuah risalah yang insya Allah bermanfaat dan berguna bagi kita semua. Buku ini kami beri judul “Al-Riya’ : Dzammuhu wa Atsaruhu Al-Sayi’ fi Al-Ummah”.

Saya berharap agar Allah Subhanahu wa Ta’ala berkenan menerimanya sebagai salah satu amal kebajikan, dan dapat menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa sehingga mampu menunjukkan mereka jalan yang lurus dan lebih bagus lagi.
Barang siapa yang mendapatkan kebenaran, maka hendaknya memuji Allah yang telah memberikan nikmatNya dengan kesempurnaan keshalihah. Barangsiapa yang menemukan kesalahan, maka hendaknya dia berkenan menasehatiku dan mengingatkanku. Karena itu adalah artikulasi kelemahan dan ketidakmampuanku. Seseorang akan kuat karena saudara saudaranya saling nasehat menasehati dalam kebaikan, saling nasehat menasehati kepada kesabaran dan saling nasehat menasehati dengan hikmah dan kasih sayang.
Hanya kepada Allah saja tempat kembalinya setiap perbuatan.
Abu Salim Al Hilaly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: