Walau pun Pahit

Walau pun Pahit

Sahabat yang agung Abu Dzar Al Ghiffari telah menyampaikan kepada kita wasiat yang menyeluruh dari penutup para nabi, yakni Nabi Muhammad S.A.W. Ia mengatakan : “Kekasihku Muhammad S.A.W telah memerintahkan kepadaku tujuh perkara :
1. Mencintai orang miskin dan mendekati mereka

2. Melihat orang yang dibawahku dan tidak melihat orang yang diatasku dalam hal dunia.
3. Menyambung hubungan silaturrahim sekalipun sudah diputus
4. Agar aku tidak meminta minta kepada siapapun
5. Mengatakan yang benar walaupun pahit.
6. Tidak takut dengan celaan orang yang suka mencela.

7. Banyak membaca la haula wa laa quuwwata illa billah karena ini adalah perbendaharaan jannah
(H.R. Imam Ahmad dalam Musnad nya, Jilid : 5/ Hal :159)

Masing-masing wasiat yang berharga tersebut membutuhkan pemahaman, renungan dan pengertian akan batasan-batasan dan bagaimana pengaruhnya dalam mewujudkan kemaslahatan pribadi dan masyarakat. Akan tetapi dalam pembahasan ini, difokuskan pada dua hal saja yang memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan bermasyarakat yaitu : mengatakan yang benar walaupun pahit dan tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela.

Mungkin ada yang bertanya-tanya :”Bagaimana kebenaran itu menjadi pahit rasanya padahal ia adalah kebaikan dan sesuatu yang lurus?”

Jawabnya: Pada dasarnya kebenaran itu tidak bisa dikatakan pahit, bahkan manis atau segar rasanya bagi orang yang siap menerimannya. Akan tetapi sebagian manusia yang berkarat hatinya dan akrab dengan kebathilan, seringkali merasakan pahit menerima kebenaran sebagaimana orang sakit merasakan pahit dimulutnya tatkala minum air tawar atau laksana pahitnya obat yang mesti ditelan demi mendapat kesembuhan.

Ketika kebenaran berat didengar oleh telinga sebagian orang atau dirasa pahit oleh sebagian orang yang sakit, seorang mukmin sejati tidak akan canggung menyeru kebenaran secara terus terang, tidak merasa hina tatkala mengutarakannya, sebagai andil untuk mengobati masyarakat dan membentengi mereka dari berbagai penyakit.

Demikian pula halnya dengan wasiat yang selanjutnya :”Agar tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela tatkala berada di jalan Allah.” Dari sini muncul pertanyaan, apakah ada orang yang mencela orang-orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah keburukan, yang konsisten dengan kebenaran dan menjauhkan diri dari kebathilan ?

Jawabnya : Sesungguhnya masyarakat telah mengetahui contoh konkrit dalam rentang sejarah yang panjang, demikian pula pada hari ini. Di antara manusia ada yang tidak suka jika seseorang mengingatkan dirinya tentang suatu kebenaran atu mencegahnya tatkala berperilaku menyimpang. Dari sini muncullah dilema dalam hati seseorang, apakah ia hendak mencari ridha manusia, membiarkan mereka di perbudak hawa nafsu ataukah hendak mencari ridha dari Rabb nya yang telah memerintahkan hamba Nya agar memutuskan hukum dengan adil sebagai saksi atas ajaran Allah, sekali pun terhadap dirinya sendiri, orang tua maupun kerabatnya?

Dalam hal inilah Abu Dzar Al Ghiffary mengingatkan kita akan wasiat Imamul muttaqin S.A.W yang memerintahkan kita agar selalu mengatakan yang benar sekalipun pahit dan agar kita tidak takut celaan dari orang yang suka mencela (tatkala kita berada di jalan Allah). Dengan cara ini kaum muslimin akan mendapatkan pertolongan dan kemuliaan serta akan terhindar dari segala penyakit seperti yang telah menimpa kaum sebelum mereka. Di antaranya adalah kaum Yahudi seperti yang telah dikisahkan oleh Allah :

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat itu.” (Al Maidah : 79)

Sesungguhnya masyarakat Islam adalah masyarakat yang dipenuhi dengan nasihat, keikhlasan, berani mengutarakan pendapat dan berterus terang dalam kebenaran, pengharapan dan rasa takut tidak akan merubahnya. Sejarah Islam sebagai saksi berbagai sikap patriotisme keislaman yang telah menggambarkan secara jelas terhadap prinsip kebenaran dan loyalitas yang hak serta teguh dalam kejujuran dan jauh dari perbudakan hawa nafsu.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: