Bagian-Bagian Riya’

Bagian-Bagian Riya’

Ketahuilah wahai hamba yang taat, yang hatinya telah diberikan cahaya keikhlasan oleh Allah, bahwa riya’ banyak macamnya. Riya’ yahg satu berbeda dbegab riya’ lainnya, karena riya’ memiliki beberapa tingkatan

1. Tujuan seorang hamba bukan karena Allah. Akan tetapi ia berbuat ingin agar dikenal manusia, karenanya ia melakukan hal itu.

Seperti orang yang melakukan shalat di hadapan manusia atau sekitarnya, di saat sendirian ia tidak mau menegakkan shalat. Riya’ kategori ini merupakan bagian dari kemunafikan dan akan meragukan keimanan.

Allah S.W.T berfirman :

“Sesungguhnya orang orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dnegan malas, mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali” (An-Nisaa’ :142)

Nabi Muhammad S.A.W bersabda :

“Yang demikian itu adalah shalatnya orang munafik. Dia duduk mengamati matahari, sehingga ketika matahari berada diantara dua tanduk syetan, maka ia berdiri. Lalu ia menekur sebanyak empat kali. Ia tidak mengingat Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (H.R. Imam Muslim dan perawi lainnya dari hadist Anas R.A)

2. Seorang hamba berbuat karena Allah, akan tetapi kalau ia sedang dilihat oleh manusia ia akan semakin rajin beribadah dan memperindah ibadahnya.

Diriwayatkan oleh Mahmud bin Lubaid R.A yang berkata bahwa Nabi Muhammad S.A.W keluar lalu bersabda :

“Wahai manusia ! hindarilah syirik yang tersembunyi. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah ! Apakah yang dimaksud dengan syirik yang tersembuyi itu?’ Nabi menjawab, ‘Yaitu ketika seseorang berdiri kemudian melakukan shalat, dan ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya. itu adalah syirik yang tersembuyi.” (Diriwayatkan Muslim, dan lainnya dari hadist Anas R.A)

ini adalah riya’ yang terdapat dalam ibadah, bukan riya’ dari asal riya’ itu sendiri. Ini adalah riya’ yang ditakutkan, karena dalam riya’ seperti ini akan mengagungkan suatu ciptaan (makhluk).

3. Pada awalnya seorang hamba beramal karena Allah, namun kemudian ia melupakan Allah sedangkan ia menyadari hal itu. Ketika menerima pujian, ia merasa senang dan bahagia dengan pujian dari manusia, kemudian pujian itu mendorongnya untuk melaksanakan ibadah, dan jiwanya berharap agar manusia selalu memuji dan mengagungkannya. Ia pun memperoleh sesuatu yang diinginkannya.

Kesenangan yang ia peroleh ini adalah jenis riya’ samar (khafi), karena hatinya merasa bangga dengan adanya pujian manusia atas dirinya. Kalaulah bukan karena hatinya telah berpaling kepada manusia, dapat dipastikan kegembiraan tidak akan muncul ketika manusia memperhatikan dan memujinya.

Bentuk riya’ khafi ini bermacam-macam. Semuanya membahayakan. Ketika terbetik dalam jiwa seseorang, apakah amal ibadahnya perlu dipertontonkan orang lain atu tidak, maka ia akan memisahkan antara mana yang harus di pertontonkan dengan sesuatu yang tidak perlu ditampakkan. ini juga merupakan bagian dari riya’. Hal ini akan dijelaskan dalam pembicaraan tentang umuurun la tu’addu min al-riyaa, Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: