Mencintai Nabi S.A.W Dan Mengagungkannya

Mencintai Nabi S.A.W

Dan Mengagungkannya

Oleh Abdul Lathif bin Muhammad Al Hasan

Allah S.W.T telah memberikan kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam berbagai keistimewaan, sifat mulia dan akhlak luhur yang mendorong setiap muslim untuk memuliakan dan mengagunkannya dengan hati, lisan dan anggota badannya.
Ahlus Sunnah wal Jama’ah telah berjasa menghimpun berbagai keistimewaan beliau, menunjukkan berbagai keutamaan beliau, dan menyiarkan berbagai kebaikan beliau. Karena itu tidak ada satu pun dari kitab-kitab sunnah, seperti ash Shihah, as Sunan dan sejenisnya dari kitab-kitab yang diperuntukkan untuk menyebutkan atsar-atsar beliau (yang tidak menyebutkan semua itu).

Demikian pula dengan telah dikarang buku-buku tersendiri untuk membicarakan mengenai beliau dan sirahnya (Misalnya, Syama’il an-Nabi karya At Tirmidzi dan telah dirangkum oleh al-Albani, Subul al-Huda wa ar-Rasyad karya ash Shalihi, Ghayah as-Sul fi Khasha’is ar-Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam Karya al-Iz bin Abdus Salam, sebuah risalah bermutu yang telah di tahqiq oleh al-Albani dan ia menyebutkan bahwa semua hadistnya adalah sah, serta al-Khasha’is al-Kubra, karya as Suyuthi.)

Allah S.W.T telah memilih untuk NabiNya nama”Muhammad” yang mencakup pujian dan sanjungan (Lihat, Jala’ al-Afham fi Fadhil Ash Shalah wa as-Salam ‘ala Khair al-Anam, Ibnul Qayyim al-Jauziyah, tahqiq Masyhur Hasan Salman, hal.277). Ia terpuji di sisi Allah S.W.T, terpuji di sisi malaikat, terpuji di sisi para saudaranya dari para rasul dan terpuji di sisi ahli bumi seluruhnya, meskipun sebagian mereka mengingkarinya. Karena sifat-sifatnya terpuji bagi setiap orang yang berakal, meskipun mereka mengingkarinya. Benarlah penyifatan beliau terhadap dirinya sendiri, ketika bersabda,

“Aku penghulu anak Adam pada hari kiamat dan ini tidak membanggakan, mula-mula orang yang dibangkitkan dari kubur, mula-mula orang yang memberi syafa’at, dan mula-mula orang yang diterima syafa’atnya.” (Di riwayatkan oleh Muslim, 2/1782, no.2278)

Melalui beliau Allah S.W.T menyelamatkan manusia yang terjerumus dalam kegelapan syirik, kebodohan dan khurafat. Lalu lewat beliau Allah S.W.T menguak kegelapan, menghilangkan awan kesedihan dan memperbaiki umat. Ia “menjadi imam secara mutlak dalam petunjuk untuk keturunan Adam pertama dan terakhir.” (Majmu’ al-Fatawa, Ibnu Taimiyah, 10/727) Lewat beliau Allah S.W.T menunjukkan dari kesesatan, mengajarkan dari kebodohan, membimbing dari kesesatan, membuka mata yang terpejam, telinga yang tuli dan hati yang tertutup. Lewat beliau Allah S.W.T memperbanyak dari yang sedikit, memuliakan dari kehinaan, dan mencukupkan dari kemiskinan.

Beliau mengenalkan manusia kepada Rabb mereka dan Sesembahan mereka hingga mencapai klimaks pengetahuan yang bisa dijangkau oleh daya kemampuan mereka. Beliau tidak membiarkan umatnya merasa perlu pada pengenalan ini, baik kepada orang-orang sebelumnya maupun orang-orang sesudahnya, bahkan beliau telah mencukupi mereka sehingga tidak butuh lagi kepada siapa pun yang berbicara mengenai masalah ini.

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasannya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al-Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Ankabut :51).

Beliau memberitahukan kepada mereka jalan yang dapat mengantarkan kepada Rabb mereka, keridhaanNya dan “negeri anugerah” (surgaNya). Beliau tidak meninggalkan kebajikan pun melainkan telah memerintahkannya, dan tidak meninggalkan keburukan pun melainkan telah melarangnya.

Beliau memberitahukan kepada mereka tentang keadaan mereka sesudah datang di hadapan Allah S.W.T secara sempurna. Beliau telah menguak masalah itu dan menjelaskannya. Beliau tidak meninggalkan suatu pintu ilmu yang bermanfaat bagi hamba yang mendekatkan mereka kepada Allah S.W.T melainkan beliau telah membukakannya, dan tidak ada kemusykilan pun melainkan beliau telah menjelaskannya. Sehingga dengan perantaraan beliau, hati mendapat petunjuk dari kesesatannya, tersembuhkan dari penyakitnya, dan terselamatkan dari kebodohannya; maka adakah manusia yang lebih berhak untuk dicintai? Semoga Allah S.W.T membalas beliau dari umatnya dengan sebaik-baik balasan.

Diantara yang patut dipuji ialah sifat yang telah diberikan kepadanya berupa akhlak yang mulia dan perangai yang mulia pula. Siapa saja yang memperhatikan sifat dan perangai beliau, maka ia mengetahui bahwa itu adalah akhlak manusia yang terbaik dan tabiat manusia yang termulia. Sebab beliau adalah orang yang paling terpuji akhlaknya, paling terpercaya, paling jujur ucapannya, paling dermawan, paling penyabar, paling pemaaf dan santun menghadapi kejahilan yang menimpa dirinya.

Sebagaimana diriwayatkan al Bukhari dalam Shahihnya dari Abdullah bin Amr bahwa Allah S.W.T berfirman mengenai sifat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dalam taurat,

“Muhammad adalah hamba dan utusanKu. Aku menamakannya Mutawakkil. Ia tidak kasar dan tidak pula keras hati, tidak berteriak di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan tetapi memaafkan. Aku tidak akan mengambil (mematikan)nya sehingga aku telah meluruskan agama yang telah bengkok lewat perantaraannya dengan mereka mengucapkan,’Laa Ilaaha Illallah.’ Dengannya aku membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup.” (Al-Bukhari, 3/21 no.2125; al-Fath, 4/402)

Beliau orang yang paling pemurah dan paling belas kasih kepada mereka, orang yang paling bermanfaat bagi mereka dalam urusan agama dan dunia mereka, manusia yang paling fasih dan paling baik megnungkapkan tentang berbagai makna dengan kata-kata yang ringkas yang menunjukkan kepada apa yang dimaksud, orang yang paling bersabar di medan kesabaran, orang yang paling jujur di medan pertemuan, orang yang paling menepati janji, orang yang paling suka membalas kebaikan dengan balasan yang berlipat ganda, orang yang paling tawadlu’, orang yang lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri, orang yang paling membela para shahabatnya dan melindungi mereka, orang yang paling konsisten dengan perintahnya dan meninggalkan larangannya, dan orang yang paling menyambung tali kekerabatan (silaturrahim). Karena itu, beliau adalah orang yang paling berhak dengan ucapan penyair ini,

Sejuk dan belas kasih pada kawan dekat
Bersikap tegas terhadap para musuh
(Jala’ul Afham, Ibnul Qayyim, tahqiq Masyhur Salman, hal.284-291)

(Di salin dari Huququn Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam Bainal Ijlal wal Ikhlal/Setetes air mata cinta, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan [et al], Darul Haq Jakarta 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: