Motivasi Motivasi Mencintai Nabi Dan Mengagungkannya

Motivasi Motivasi Mencintai Nabi

Dan Mengagungkannya

Ada beberapa perkara yang memotivasi setiap muslim kepada hal itu, antara lain :

1. Menyelaraskan kehendak Allah S.W.T karena Dia mencintai dan mengagungkan NabiNya. Dia telah bersumpah dengan kehidupan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sebagai penghormatan untuknya, dalam firmanNya,

“ (Allah S.W.T berfirman), ‘Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)’.” (Al-Hijr : 72). (Lihat, Syarh asy-Syafa karya Qadhi Iyadh, Mula Ali al-Qari, 1/72. Tidak boleh bagi seorang pun selain Allah bersumpah dengan nama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan tidak pula dengan kehidupannya, sebab tata cara pemuliaan yang sesuai syariat sudah jelas dalam al-Qur’an dan lewat lisan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang menjelaskan bahwa bersumpah dengan selain Allah S.W.T adalah syirik, sebagaimana akan dijelaskan dalam buku ini.)

Demikian pula Dia menyanjungnya dengan firmanNya,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam : 4).

Dia berfirman,

“Dan kami tinggikan namamu.” (Asy-Syarh : 4).

Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang disebut-sebut dan disanjung-sanjung sebagaimana Nabi Shallallahu’alaihi wasallam disebut-sebut dan disanjung-sanjung. Tuhannya mengangkatnya sebagai khalil (kekasih). (Sebagaimana disebutkan dalam hadist Muslim, 2/1855, no.2383.)

Ibnul Qayyim berkata, “ Segala kecintaan dan pengagungan kepada manusia hanya boleh karena mengikuti cinta Allah S.W.T dan pengagunganNya. Seperti mencintai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dan mengagungkannya, maka itu merupakan kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Dzat yang mengutusnya. Sebab umatnya mencintai karena Allah S.W.T mencintainya dan mereka mengagungkannya serta memuliakannya karena Allah S.W.T memuliakannya. Jadi itu adalah cinta karena Allah S.W.T,sebagai konsekuensi dari kecintaan kepada Allah S.W.T. demikian pula mencintai ahli ilmu dan iman serta mencintai dan memuliakan para shahabat Radhiyallahu’anhu adalah karena mengikuti mencintai Allah S.W.T dan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam.” (Jala’ al-Afham, hal. 297)

2. Karena itu, mencintai dan memuliakan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam merupakan syarat keimanan seorang hamba. Bahkan masalahnya, sebagaimana dikatakan Ibnu Taimiyah,” Tegaknya pujian dan sanjungan terhadap beliau serta pengagungan dan pemuliaan terhadap beliau berarti tegaknya agama secara keseluruhan, dan runtuhnya hal itu berarti runtuhnya agama secara keseluruhan.” (Ash-Sharim al-Maslul, hal. 211)

3. Keistimewaan yang diberikan Allah S.W.T kepadanya berupa kemuliaan nasab, kesempurnaan sifat, akhlak dan perbuatan.

4. Beliau sangat mencintai umatnya, berbelas kasih dan kasih sayang kepada mereka. Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At-Taubah : 128).

Betapa banyak beliau memohon kepada Allah S.W.T kebaikan untuk umatnya dan bergembira dengan karunia Allah S.W.T yang diberikan kepada mereka. Betapa banyak beliau bersabar terhadap penderitaan karena menyebarkan dakwah dan bersabar terhadap celaan kaum musyrik, baik dengan ucapan maupun perbuatan sehingga Allah S.W.T menyempurnakan –lewat perantaraan beliau- agama ini dan menyempurnakan nikmatNya. (Lihat, at-Ta’addub ma’a Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam fi Dhau’il Kitab was-Sunnah, Hasan Nur Hasan, hal. 37-123)

Kewajiban Mencintai Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Mencintai Nabi Shallallahu’alaihi wasallam adalah salah satu prinsip agama yang sangat penting. Tiada iman bagi siapa yang tidak lebih mencintai rasul daripada anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.

Allah S.W.T berfirman,

“ Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah : 24).

Qadhi Iyadh mengomentari ayat ini,”Cukuplah ini sebagai anjuran, peringatan, dalil dan hujjah atas keharusan mencintai beliau, serta keberkahan beliau mendapatkan cinta tersebut. Sebab Allah S.W.T telah mengancam orang yang lebih mencintai harta, keluarga dan anaknya daripada Allah S.W.T dan RasulNya Shalallahu’alaihi Wasalam dengan firmanNya, ‘Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.’ Kemudian Dia memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang fasik, dan memberitahukan kepada mereka bahwa mereka itu termasuk golongan orang yang sesat dan tidak diberi petunjuk oleh Allah S.W.T. (Asy-Syafabi Ta’rif Ahwal al-Mushthafa, 2/18)

Allah S.W.T berfirman,

“Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (Al-Ahzab : 6).

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam bersabda,

“Seorang tidak beriman kecuali aku lebih diutamakannya di dunia dan akhirat. Bacalah, jika kamu suka,’Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri.” (Al-Bukhari, 6/22, no. 4781; al-Fath, 8/376.)

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam bersabda,

“Aku lebih utama bagi setiap mukmin daripada dirinya sendiri.” (Muslim, 1/592, no.867)

Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- bersabda,

“Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (Al-Bukhari, no. 15; Fath, 1/58; Muslim, 1/67, no. 45)

Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- juga bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidaklah salah seorang kalian beriman sehingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya.” (Al-Bukhari, no. 14; Fath, 1/58)

Dari Abdulllah bin Hisyam Radhiyallahu’anhu, ia berkata,

“Kami bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan beliau sedang memegang tangan Umar bin al-Khaththab, lalu Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam, sungguh Anda adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain daripada diriku’. Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- menjawab,’Tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sehingga aku lebih kamu cintai daripada dirimu sendiri’. Umar berkata, ‘Sekarang, demi Allah S.W.T, Anda lebih aku cintai daripada diriku sendiri’. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menimpali, ‘sekarang, wahai Umar’.” (Al-Bukhari, 7/218, no. 6632; Fath, 11/532.)

Ibnu Hajar berkata, “Yakni, sekarang kamu telah mengetahui lalu kamu mengucapkan sesuatu yang wajib.” (Al-Fath, 11/536.)

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam bersabda,

“Ada tiga perkara yang barangsiapa ketiganya terdapat dalam dirinya, maka ia telah mendapatkan manisnya iman: Allah S.W.T dan RasulNya lebih dicintainya daripada selain keduanya, mencintai seseorang hanya karena Allah S.W.T, dan benci kembali kepada kekafiran sesudah Allah S.W.T menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.” (Al-Bukhari, no. 16; al-Fath, 1/77, 85; Muslim, 1/66, no. 43)

Dr. Muhammad Darraz mengomentari hadist ini, “Mencintai Allah S.W.T dan RasulNya Shalallahu’alaihi Wasalam adalah jenis kecintaan hati yang paling tinggi dan paling kuat. Barangsiapa motivasi cinta yang dimilikinya ialah mengetahui apa yang terdapat dalam diri Sang Kekasih berupa kesempurnaan Dzat, maka Allah S.W.T-lah yang paling berhak dicintai. Sebab kesempurnaan itu hanya dimilikiNya dan keindahan yang sempurna hanyalah dikarenakan sifat-sifatNya. Sedangkan, berikutnya, Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam yang paling berhak meraih cinta tersebut; karena beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi Tuhannya, memiliki akhlak yang luhur, dan jalan yang lurus. Barangsiapa yang cintanya kepada selainnya diukur dengan ukuran yang dapat mengantarkannya kepada cinta tersebut berupa manfaat dan kebaikan yang melimpah, maka Allah S.W.T jualah yang berhak dengan cinta ini. Nikmat-nikmatNya yang dianugerahkan kepada kita mengalir bersama nafas dan jantung kita. Semua nikmat itu berasal dariNya.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datang).” (An-Nahl : 53).

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah , niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (An-Nahl : 18)

Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam yang mulia lagi belas kasih dan penyayang ini adalah perantara nikmat yang agung ini. Sebab Allah S.W.T telah mengeluarkan kita, lewat perantaraan Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam-, dari kegelapan menuju cahaya, dari kesesatan menuju hidayah, serta menyelamatkan kita dari neraka setelah sebelumnya kita berada di pinggir jurang neraka itu. Tidak ada, sesudah Allah S.W.T, seorang pun yang lebih berjasa kepada kita ketimbang Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam-, dan mencintai beliau sejatinya merupakan bagian dari cinta kepada Allah S.W.T.” (Al-Mukhtar min Kunuz as-Sunnah, hal. 344,345.)

(Di salin dari Huququn Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam Bainal Ijlal wal Ikhlal/Setetes air mata cinta, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan [et al], Darul Haq Jakarta 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: