Macam-Macam Cinta Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Macam-Macam Cinta Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Ibnu Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa mencintai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam itu dua tingkatan :

Pertama, cinta yang wajib, yaitu cinta yang mengharuskan untuk menerima segala yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dari sisi Allah S.W.T dan menerimanya dengan rasa cinta, ridha, pengagungan dan penerimaan, serta tidak mencari petunjuk dari selain jalan beliau secara keseluruhan. Kemudian mengikuti beliau dengan baik dalam segala yang beliau sampaikan dari Tuhannya, yaitu membenarkan segala yang diberitakannya, mentaati segala kewajiban yang diperintahkannya dan menjauhi segala larangannya, membela agamanya, dan memerangi siapa saja yang menentangnya menurut kemampuannya. Ini suatu keharusan, dan iman tidak sempurna tanpa keberadaannya.

Kedua, sampingan, yaitu cinta yang merupakan konsekuensi dari meneladani dengan baik serta merealisasikannya dalam bentuk meniru sunnahnya, akhlaknya, etikanya, amalan-amalan sunnahnya, makan-minumnya, berpakaiannya, perlakuannya yang baik terhadap isteri-isterinya, adab-adab sempurna dan akhlak lahiriyahnya yang lain (Istinsyaq Nasim al-Uns min Nafahat Riyadh al-Quds, hal. 34).

Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani menukil dari ucapan sebagian ulama, “Mencintai Allah S.W.T itu dua macam : wajib dan anjuran. Yang wajib ialah cinta yang memotifasi untuk melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-laranganNya serta ridha dengan ketentuanNya. Barangsiapa yang terjerumus dalam kemaksiatan berupa mengerjakan keharaman atau meninggalkan kewajiban, maka ia telah mengurangi rasa cinta kepada Allah S.W.T, karena ia lebih mendahulukan hawa nafsunya. Berkurangnya cinta tersebut bisa juga karena larut dalam suatu yang mubah, sehingga menyebabkan kelalaian yang membawa kepada harapan yang muluk, lalu ia mendahulukan kemaksiatan, atau terus dalam kealpaan sehingga terjerumus (dalam kemaksiatan).

Demikian pula mencintai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam itu ada dua macam, sebagaimana telah disebutkan, disertai tambahan yaitu tidak mengambil sesuatu pun dari perintah dan larangan melainkan dari Misykat (sumber)nya, tidak meniti kecuali pada jalannya, ridha dengan syariatnya sehingga tidak ada dalam hatinya rasa keberatan terhadap keputusannya, serta berperilaku dengan akhlaknya dalam hal kedermawanan, mementingkan orang lain, kesantunan, ketawadhuan dan selainnya (Fath al-Bari, 1/61).

Yang Dimaksud Dengan Pengagungan

Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan RasulNya, menguatkan (agama)Nya, membesarkanNya. Dan bertasbih kepadaNya di waktu pagi dan petang.” (Al-Fath : 8-9).

Dia menyebutkan hak yang menyatu antara diriNya dan RasulNya yaitu hak untuk diimani, dan hak yang khusus bagiNya yaitu tasbih, serta hak yang khusus bagi nabiNya yaitu ta’zir dan tauqir (memuliakan).

Rangkuman dari pendapat mengenai arti keduanya (Ta’zir dan Tauqir) sebagai berikut : Ta’zir adalah istilah yang berarti membelanya, mendukungnya dan menghalanginya dari segala segala yang menyakitinya. Sedangkan Tauqir adalah istilah yang berarti segala yang berisi ketenangan dan ketentraman berupa pengagungan dan pemuliaan, serta memuliakan dan mengagungkan dengan perkara yang dapat melindunginya dari segala yang mengeluarkannya dari batasan penghormatan (Ash-Sharim al-Maslul, Ibnu Taimiyah, hal. 422).

Makna-makna inilah yang dimaksud pada kata ta’zhim secara mutlak. Sebab artinya menurut bahasa adalah tabjil (memuliakan). Dikatakan, Al-Fulan Azhamah’inda an-Nas, yaitu memiliki kehormatan yang dimuliakan (Lisan al-Arab, Ibnul Manzhur, 4/3005). Meskipun kata ta’zhim tidak terdapat dalam nash-nash syar’i, cuma ini dipakai untuk mendekatkan makna pada benak pendengar, dengan kata yang bisa membawa kepada makna yang dimaksud yaitu ta’zir dan tauqir (Lihat, Huquq an-Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ala Ummatih, Dr. Muhammad at-Tamimi, 2/422).

Pengagungan (ta’zhim) merupakan tingkatan cinta yang tertinggi; karena orang yang dicintai tidak mesti diagungkan. Seperti anak yang dicintai oleh azabnya dengan suatu cinta yang mendorongnya untuk memuliakannya bukan mengagungkannya, berbeda dengan cinta si anak kepada ayahnya, sebab cinta tersebut mendorongnya untuk mengagungkannya (Lihat, Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, 2/193).

Bagaimana Merealisasikan Cinta dan Pengagungan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Mencintai dn mengagungkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam adalah ibadah karena Allah S.W.T dan qurbah (pendekatan diri) kepadaNya. Sedangkan ibadah yang dikehendaki dan diridhai Allah S.W.T ialah yang dilakukan demi mencari ridhaNya serta sesuai dengan apa yang disyariatkanNya dalam KitabNya dan lewat lisan NabiNya Shallallahu’alaihi wasallam.

Adapun ikhlas dalam beramal dan mencari wajah Allah S.W.T di dalamnya merupakan konsekuensi dari persaksian Laa Illaaha Illallaah, karena maknanya adalah “Tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah S.W.T.”

Sedangkan mengikuti Nabi Shallallahu’alaihi wasallam adalah konsekuensi dari kesaksian “bahwa Muhammad adalah utusan Allah” dan merupakan satu keharusannya. Sebab makna persaksian kepadanya, bahwa Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- benar-benar utusan Allah S.W.T ialah mentaati segala yang diperintahkannya, membenarkan segala yang diberitakannya, menjauhi segala yang dilarangnya, dan tidak beribadah kepada Allah S.W.T kecuali dengan apa yang disyariatkannya (Majmu’ Mu’allafat asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab, 1/190).

Ini kesempurnaan cinta, kesempurnaan pengagungan dan puncak penghormatan. Adakah pengagungan atau cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bagi orang yang meragukan beritanya, congkak untuk mentaatinya, melakukan perbuatan yang menyelisihinya, berbuat bid’ah dalam agamanya dan beribadah kepada Allah S.W.T dengan selain SyariatNya ?

Karena itu Allah S.W.T sangat mengingkari kalangan yang meniti jalan yang tidak disyariatkanNya dalam beribadah.

Dia berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?” (Asy-Syura : 21).

Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- bersabda,

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak aku perintahkan, maka itu tertolak.” (Muslim, 2/1342, no. 1718).

Jika cinta dan pengagungan adalah ibadah, maka ibadah itu tempatnya di hati, lisan dan anggota badan.

Pengagungan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam terealisir dengan hati, dengan cara mendahulukan kecintaan kepadanya ketimbang diri, orang tua, anak dan manusia seluruhnya; sebab keimanan tidak sempurna melainkan dengannya. Kemudian tidak ada penghormatan dan pengagungan tanpa cinta.

Sesungguhnya yang dapat menanamkan rasa cinta ini hanyalah pengenalan seseorang kepada kedudukan dan kebajikan-kebajikan Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam- (Lihat, Syu’ab al-Iman, al-Baihaqi, 2/133).

Jika cinta yang jujur tersebut telah bersemayam dalam hati, maka ia akan memiliki konsekuensi yang pada hakikatnya merupakan bukti pengagungan terhadapnya, yang nampak pada lisan dan perbuatan.

Kita akan melihat kedudukan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di sisi orang-orang pilihan dari umat ini (para sahabat) Radhiyallahu’anhu, dari contoh-contoh yang berbicara tentang pengagungan dan menjadi saksi cinta tersebut.

(Di salin dari Huququn Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam Bainal Ijlal wal Ikhlal/Setetes air mata cinta, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan [et al], Darul Haq Jakarta 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: