Gambaran Cinta Dan Pengagungan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Semasa Hidup

Gambaran Cinta Dan Pengagungan Para Sahabat Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam Semasa Hidup

Para shahabat Radhiyallahu’anhu mendapatkan kemuliaan karena bertemu langsung dengan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Mereka memiliki kesempurnaan cinta dan pengagungan yang mengungguli selain mereka. Tidak akan dapat dan tidak akan pernah ada orang-orang sesudah mereka yang menyamai cinta mereka (Lihat pembahasan yang menyeluruh dalam Huquq an-Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ala Ummatih, Dr. Muhammad at-Tamimi, 2/448-461).

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu’anhu pernah ditanya, “Bagaimana cinta kalian kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam ?” ia menjawab, “Beliau -Shallallahu’alaihi wasallam-, demi Allah S.W.T lebih kami cintai daripada harta kami, anak-anak kami , ayah dan ibu kami, air dingin pada saat kehausan.” (Syarh asy-Syafa, 2/40).

Abu Sufyan bin Harb –saat ia masih kafir- pernah bertanya kepada Zaid bin Ad-Datsinah Radhiyallahu’anhu, ketika ia dikeluarkan oleh penduduk Makkah dari al-Haram untuk dibunuh dan ia menjadi tawanan mereka, “Katakanlah, demi Allah S.W.T, wahai Zaid ! Apakah kamu suka apabila Muhammad sekarang menggantikan kedudukanmu lalu kami memukul lehernya, sedangkan kamu berada di tengah keluargamu ?” ia menjawab, “Demi Allah S.W.T, aku tidak rela bila Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sekarang berada di tempatnya dan saat ini terkena sebuah duri yang menyakitinya, sedangkan aku duduk di tengah keluargaku.” Abu Sufyan berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang mencintai seseorang seperti kecintaan para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Al-Bidayah wan Nihayah, ibnu Katsir, 4/65).

Sa’ad bin Mu’adz Radhiyallahu’anhu berkata kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Badar, “Wahai Nabi Allah, kami ingin membangunkan untukmu singgasana yang akan kamu tempati dan kami menyiapkan kendaraanmu, kemudian kami menghadapi musuh kami. Jika Allah S.W.T memenangkan kami atas musuh-musuh kami, maka itulah yang kami sukai, jika yang lain duduk di atas kendaraanmu lalu menyusul orang-orang di belakang kami dari kaum kami, maka masih banyak kaummu yang tertinggal (seperti kaum wanita) yang kami lebih mencintaimu daripada mereka. Sekiranya mereka menduga bahwa engkau menghadapi peperangan, maka mereka tidak tertinggal darimu. Allah akan melindungimu dengan mereka, mereka akan saling memberi nasehat (untuk membelamu) dan berjihad bersamamu.” Kemudian Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam memujinya dengan kebaikan dan mendoakan kebaikan untuknya (Disebutkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah, 3/268).

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu, ia menuturkan, “Tatkala pada perang Uhud para penduduk Madinah melarikan diri sambil berteriak, ‘Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam terbunuh’ sehingga banyak teriakan di penjuru Madinah, maka keluarlah seorang perempuan dari Anshar dengan berikat pinggang. Kemudian ia diberi kabar mengenai kematian anak, ayah, suami dan saudaranya. Saya tidak tahu siapakah di antara mereka yang terbunuh terlebih dahulu. Ketika ia melewati salah seorang dari mereka, ia bertanya, ‘Siapakah yang mati ini?’ mereka menjawa, ‘Ayahmu, saudaramu, suamimu, anakmu!’ namun ia malah bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam ?’ mereka menjawab, ‘Majulah ke depan.’ Setelah sampai kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam, ia memegang ujung baju beliau kemudian mengatakan, ‘Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam. Aku tidak peduli, asal engkau selamat dari orang yang jahat’.” (HR. Ath-Thabrani dalam al-Ausath, 8/244, dan disebutkan dalam Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 6/115 dan ia menyebutkan bahwa para perawinya tsiqah kecuali satu orang yang tidak dikenalnya. Lihat pula dalam al-Bidayah wan Nihayah, 4/47). Dalam sebuah riwayat, ia mengatakan, “Setiap musibah terasa ringan setelah melihatmu selamat.” (HR. Ibnu Hisyam dalam as-Sirah, 3/43; diriwayatkan pula oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah, 4/47).

Para sahabat Radhiyallahu’anhu telah menjadikan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam sebagai hakim mengenai diri dan harta mereka. Mereka mengatakan, “Ini harta kami di hadapanmu, maka putuskanlah mengenai harta itu menurut yang engkau suka! Ini jiwa kami dihadapanmu; seandainya engkau memerintahkan kepada kami untuk menyelami lautan, niscaya kami melakukannya. Kami berperang di depanmu dan dari belakangmu, dari kanan dan kirimu.” (Raudhah al-Muhibbin, hal. 277. ini ucapan Sa’ad bin Mu’adz pada perang Badar, sebagaimana disebutkan para ahli sejarah. Lihat, Sirah Ibnu Hisyam, 2/188, dan asalnya dalam muslim, 2/1403, no. 1779). Inilah ungkapan yang paling jujur tentang cinta.

Demikian pula perihal mereka dalam mengagungkan dan memuliakan beliau terlalu jelas untuk dijadikan sebagai bukti. Orang yang paling bagus dalam menyebutkan keadaan mereka tentang hal ini ialah Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi Radhiyallahu’anhu, ketika ia berunding dengan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam perjanjian Hudaibiyah. Tatkala ia kembali kepada kaum Quraisy, ia berkata, “Wahai kaumku, demi Allah S.W.T, sungguh aku pernah menjadi delegasi yang diutus kepada Kaisar, Kisra dan Najasyi. Demi Allah S.W.T, aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh para sahabatnya sebagaimana para sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengagungkan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah S.W.T, tidaklah ia berdahak melainkan jatuh di telapak tangan salah seorang dari mereka lalu mengusapkannya pada wajah dan kulitnya. Jika ia memerintahkan kepada mereka, maka mereka segera melaksanakan perintahnya. Jika ia berwudhu, maka mereka berebut air wudhunya. Jika ia berbicara, maka mereka merendahkan suara mereka di sisinya, dan mereka tidak menatap tajam kepadanya karena mengagungkannya.” (Al-Bukhari, 3/178, no. 2731, 2732; dan al-Fath, 5/388).

Kondisi para sahabat ketika sedang duduk dan mendengarkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam telah banyak diriwayatkan dalam banyak hadist dengan ungkapan dan gambaran yang menakjubkan. Di antaranya penuturan Abu Sa’id al-Khudri, “Orang-orang diam seolah-olah ada burung di atas kepala mereka.” (Al-Bukhari, 3/213-214, no. 2841; dan al-fath, 6/57).

Amr bin al-Ash Radhiyallahu’anhu berkata,

“Tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dan tidak ada yang lebih mulia di mataku di bandingkan beliau. Aku tidak mampu menatapnya karena mengagungkannya. Seandainya aku ditanya, untuk menyebutkan kondisi beliau, tentu aku tidak sanggup, karena aku tidak pernah menatap beliau dengan tajam.” (Muslim, 1/112, no. 121).

Ketika Abu Sufyan mengunjungi putrinya, Ummu Habibah Radhiyallahu’anhu, di Madinah dan masuk rumahnya, ia hendak duduk di atas permadani Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam, maka Ummu Habibah mencegahnya. Abu Sufyan berkata, “Wahai putriku, aku tidak tahu apakah kamu lebih mencintaiku daripada permadani ini ataukah kamu lebih mencintainya daripada aku ?” Ia menjawab, “Ia permadani Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam, sedangkan anda musyrik; maka aku tidak suka anda duduk di atas permadaninya.” (Disebutkan Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah, 4/280; Ibnu Hajar dalam al-Ishabah, 4/299).

Di antara keinginan menggebu para sahabat untuk memuliakan beliau dan tidak menyakitinya ialah pernyataan Anas bin Malik,

“Pintu-pintu Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam diketuk dengan kuku-kuku.” (Al-Baihaqi dalam asy-Syu’ab, 2/201, no. 1531; al-Khatib dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’, 1/95).

Ketika turun firman Allah S.W.T,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebahagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.” (Al-Hujurat : 2)

Ibnu az-Zubair berkata, “Umar tidak pernah memperdengarkan suaranya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam sesudah turun ayat ini, kecuali bila meminta penjelasan.” (Al-Bukhari, 6/45, no. 4845; al-Fath, 8/454).

Sementara Tsabit bin Qais, orang yang suaranya sangat keras, pernah mengeraskan suaranya di sisi Nabi, lalu ia duduk di rumahnya dengan kepala tertunduk karena dirinya merasa sebagai ahli neraka karena sebab tersebut, sehingga Nabi Shallallahu’alaihi wasallam memberikan kabar gembira kepadanya dengan surga. (Lihat, al-Bukhari, 6/45, no. 4846; al-Fath, 8/455).

“Lantas apakah orang-orang yang senantiasa merayakan maulid Nabi Muhammad, mereka memiliki kecintaan semacam itu ??? sungguh mereka adalah orang-orang yang meras lebih dekat dengan Allah dan Rasulullah, namun sebaliknya Allah dan RasulNya semakin menjauhi mereka.”

“Mereka menyangka mengenal Laila, namun Laila tidak mengenal mereka sama sekali”

(Di salin dari Huququn Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam Bainal Ijlal wal Ikhlal/Setetes air mata cinta, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan [et al], Darul Haq Jakarta 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: