Faktor-Faktor Penyebab Riya’

Faktor-Faktor Penyebab Riya’

Ketahuilah wahai hamba, bahwa genesis (faktor utama) riya’ adalah cinta jabatan. Jabatan menempati posisi tertentu dalam hati semua orang. Jabatan merupakan keyakinan hati yang muncul pengaruh kesempurnaan dalam pribadi seseorang. Adakalanya diakibatkan ketinggian ilmu (strata akademis), ibadah, nasab (keturunan), kekuatan, keindahan penampilan atau hal lain yang diyakini oleh orang lain sebagai kesempurnaan. Sesuai dengan kadar keyakinannya itu, maka hatinya pun tergerak untuk mentaati, memuji, mengabdi dan mengagungkannya.

Orang yang kecintaannya terhadap semua ini mengalahkan hatinya, akan kesulitan mengontrol tingkah lakunya.Ia asyik dengan pujian manusia dan riya’ terhadap mereka. Perkataan dan perbuatannya tidak henti hentinya ditujukan untuk membesarkan kedudukan dirinya di hadapan orang lain. itu adalah embrio kemunafikan dan dasar segala kerusakan. Karena dalam benak hati seseorang yang mencari kedudukan dan jabatan terdapat keinginan agar dirinya mendapatkan posisi tertentu di hati manusia, maka ia memaksa agar menampakkannya sesuatu yang sebenarnya ia tidak berhak memilikinya, yang kemudian mengakibatkan riya’ dalam ibadah, menembus batas batas agar dapat mewujudkan keinginan hatinya.

Ini persoalan rumit yang tidak dapat diketahui kecuali hanya oleh para ulama Allah, yang arif dan yang mencintaiNya. Apabila dipisahkan maka ia akan kembali kepada tiga hal :
pertama : senang menerima pujian.
kedua : lari dari celaan.
ketiga : mengharap sesuatu yang berada di tangan orang lain.

Hal ini terbukti dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Musa Al ‘Asy’ary R.A, ia berkata :

“Pada suatu hari datang seorang pria kepada Nabi S.A.W, lalu orang tersebut berkata, ‘ada orang yang berperang karena fanatisme, ada yang karena keberaniannya dan ada pula yang berperang karena riya’. Mana yang dinamakan perang fi sabilillah?’

Rasulullah S.A.W bersabda :”Barangsiapa yang berperang dengan tujuan untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berperang fi sabilillah.” (diriwayatkan oleh Imam Bukhari (13/441 Al Fath), Imam Muslim (13/59 Nawawi), Imam Abu Daud (2517), Imam Tirmidzi (1646), Imam Nasa’i (6/23), Imam Ibnu Majjah (2783), Imam Ahmad (4/397,405) dan lain lain)

Maksud ucapan penanya yuqaatilu syajaa’atan ‘berperang karena keberanian’, adalah agar namanya disebut sebut dan dipuji.

Arti ucapan penanya yuqaatilu hamiyatan ‘berperang karena fanatisme’, adalah karena terpaksa dan lari dari celaan.

Arti ucapan penanya yuqaatilu riyaa’an ‘berperang karena riya’ adalah agar kedudukannya diperhitungkan.

Ini adalah kenikmatan jabatan dan kedudukan dalam hati yang dapat menggerakkan munculnya sikap riya’.

Ketahuilah bahwa mencari jabatan dapat diklasifikasikan menjadi dua tujuan :

Pertama, mencari jabatan dengan kepemimpinan, kekuasaan dan harta.

Mencari jabatan dengan cara ini sangat bahaya. Karena pada umumnya akan menghalangi kebaikan, kemuliaan dan keagungan akhirat.

Allah berfirman,

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka bumi) dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al Qashash : 83)

Sedikit sekali orang yang mendapatkan jabatan kepemimpinan duniawi karena mencari, kemudian dia mendapatkan pertolongan bahwa menguasai dirinya sendiri.

Rasulullah S.A.W bersabda,

“Wahai Abdurrrahman ! Janganlah engkau sekali kali meminta jabatan kepemimpinan, karena jika engkau mendapatkan suatu problematika maka engkau akan mewakilkannya, dan jika engkau diberi kekuasaan tanpa permasalahan maka engkau akan terlena.” (Hadist diriwayatkan oleh Imam Bukhari (11/516-517), Imam Muslim (12/206-Nawawi), Imam Abu Dawud (2929), Imam TIrmidzi (15929), Imam Nasa’i (8/225), Imam Ahmad Hambal 5/62, dan perawi perawi yang menyitir hadist Abdurrahman bin Samrah R.A)

Ketahuilah bahwa orang yang mencari popularitas dengan tujuan semata mata hanya mencari kemuliaan kedudukan di antara manusia, agar ia di pandang lebih mulia dari yang lain, menunjukkan kepada masyarakat bahwa orang lain sangat membutuhkan dan bergantung kepadanya, dan merendahkan derajat manusia saat mereka ingin memenuhi kebutuhannya di hadapannya; berarti jiwanya telah menyerobot sifat ketuhanan. Yaitu sifat rububiyah dan uluhiyah, bahkan merampas kesombongan dan keagungan Allah.

Nabi S.A.W meriwayatkan sebuah hadist yang didengar beliau dari Tuhannya :

Rasulullah bersabda dari firman Allah S.W.T,

“Kesombongan itu adalah selendang Ku, dan keagungan adalah pakaian Ku, Barangsiapa yang melepaskannya dari Ku salah satunya saja, maka akan Aku lemparkan dia ke dalam neraka Jahannam.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (4090), Imam Ibnu Majah (4147), Imam Ahmad (414, 427, 442) dari hadist Abu Hurairah R.A Menurutku isnad hadist ini shahih)

Hendaklah orang-orang yang dipercayakan menangani suatu urusan yang disenanginya takut kepada Allah (para penguasa) yang ingin disebut dengan : Maliku Al Mulk ‘raja segala raja’, Qadhi Al Qudhaat ‘qadi dari segala qadi’, Hakim Al Hukkam ‘hakim dari segala hakim’, atau Syahin Syah ‘raja dari segala raja’, karena julukan julukan tersebut paling dibenci oleh Allah.

Nabi S.A.W bersabda,

“Nama yang paling dibenci Allah pada Hari Kiamat nanti adalah seseorang yang menggunakan nama dengan maliku al amlak (raja diraja) sedangkan tidak ada raja kecuali Allah.” (Hadist diriwayatkan oleh Imam Bukhari (10/558-Al Fath), Imam Muslim (14/121-Nawawi), Imam Ahmad 2/244, Imam Abu Dawud 4961, Imam Tirmidzi 2838, Imam Al Thahawi dalam kitab Musykil Al Atsar 2/16 dan para perawi lain dengan mengutip hadist dari Abu Hurairah R.A. Kalimat yang ada dalam kurung adalah tambahan dalam riwayat Imam Muslim.

Orang yang memiliki jabatan dan kekuasaan senang mendapat pujian atas perbuatan perbuatannya yang mereka lakukan, disanjung dan bahkan mereka mencari pujian dan sanjungan tersebut dari manusia. Tidak jarang mereka menyakiti orang untuk dapat memenuhi keinginannya tersebut.

Oleh karenanya, setiap perbuatan perbuatan baik yang dilakukannya diperlihatkan agar mendapatkan pujian. ini seperti yang di singgung dalam firman Allah,

“Janganlah sekali kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan; janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Al Imran : 188)

Kedua, Mencari jabatan dalam masalah masalah keagamaan, seperti ilmu, amal dan zuhud.

Sesungguhnya didunia ada surga yang baunya tidak dapat tercium kecuali oleh orang orang yang ikhlas. Surga itu adalah mengetahui Allah, mencintaiNya, takut kepadaNya, taat kepadaNya, serta ilmu yang bermanfaat dan amal shalih yang ditunjukkannya. Barangsiapa yang ilmu dan amalnya menghantarkan dirinya untuk dapat masuk ke surga duniawi ini, maka di akhirat dia akan mewarisi surga Firdaus Al A’la. Barangsiapa yang tidak menemukan baunya, dan tidak mengetahui jalannya maka pada Hari Kiamat ia tidak akan mencium bau surga.

Nabi S.A.W bersabda,

“Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya ia lakukan hanya semata mata karena Allah, namun ia mempelajarinya hanya untuk mendapatkan kedudukan duniawi, maka pada Hari Kiamat nanti ia tidak akan mencium bau surga (Hadits diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud 3664, Imam Ibnu Majah 252, Imam Ahmad bin Hambal 2/338 dan para perawi lainnya dari jalur falih Ibnu Sulaiman, dari Abdullah bin Abdirrahman, Ibnu Ma’mar Abi Thawalah, dari Sa’id bin Yasar dari Abu Hurairah. Saya katakan, “Isnad hadits ini lemah karena Falih bin SUlaiman seorang yang suduqun sayyiul Al Hifdzi. Akan tetapi hadits ini menurut Abdul Al Barr dalam kitab Jami Bayan Al Ilmi memiliki tabi’ dari Abu Sulaiman Al Khaza’i 1/190. Abdullah Barr kemudian menshahihkan hadits ini. Wallahu A’lam.”)

Oleh karenanya Rasulullah S.A.W memperingatkan adanya riya’ al ‘ilmi, seperti dalam sabdanya,

“Janganlah kamu mempelajari ilmu karena membanggakan diri di hadapan para ulama, dengan tujuan untuk mendebat orang-orang bodoh. Janganlah kamu mempelajari ilmu agar diberi kesempatan berbicara di tengah majlis. Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka neraka adalah neraka.” (Hadits diriwayatkan oleh Ibnu MAjjah 254, Imam Ibnu Hibban (90-Mawarid), Imam Hakim 1/86, Imam Abdul Al Barr dalam kitabnya Jami Bayan Al ‘Ilmi 1/187 dan para perawi lainnya dari jalur Ibnu Abi Maryam : kami diberitakan oleh Yahya bin Ayub dari Ibnu Juraij dari Abi Zubeir, tentang hadits tersebut. Saya katakan,”Isnad hadits ini lemah karena Ibnu Jureij dan Abi Zubeir perawi yang mudallas, dan kami telah menolaknya. Akan tetapi hadits ini memiliki beberapa syawahid antara lain : Hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih Al Mutafaqqih 2/88 dan isnad hadits tersebut hasan. Ia menambahkan, ‘Tetapi pelajarilah ia karena Allah dan kehidupan akhirat’. Sehingga kesimpulannya, semua hadits tersebut statusnya menjadi shahih.”)

Oleh karena itu, orang pertama yang akan mendapat siksa di akhirat nanti adalah seorang alim yang tidak memanfaatkan ilmunya karena Allah. Mereka adalah orang yang paling rugi dan paling hina di Hari Kiamat, karena ia memiliki alat untuk mendapatkan keselamatan tetapi tidak memanfaatkannya kecuali untuk hal hal paling merugikan, keji dan hina. Mereka diumpamakan orang yang mendapatkan mutiara indah tetapi kemudian dijualnya untuk mendapatkan swasa (tembaga).

Nabi S.A.W bersabda’

“Sesungguhnya orang pertama yang akan diadili di Hari Kiamat kelak adalah seorang yang mati syahid. Kesyahidan itu didatangkan dan kemudian diperkenalkan dengan nikmat nikmatnya, dan ia pun mengenalinya”.

Allah bertanya,”Apa yang telah kau lakukan dengan nikmat tersebut?”

Syahid menjawab,”Aku telah berperang karenaMu sehingga aku mati syahid.”

Allah menjawab,”Kamu bohong, akan tetapi kamu berperang agar disebut pahlawan, dan kamu telah mendapatkan keinginanmu itu.”

Kemudian dihidab sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya, sehingga akhirnya dimasukkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang yang mempelajari ilmu, mengamalkannya, membaca Al Qur’an. Ilmu itu kemudian didatangkan kepadanya dengan nikmat nikmatnya, dan ia pun mengenalinya.
Allah bertanya,”Apa yang telah kamu lakukan?”

Alim menjawab,”Aku mempelajari Ilmu dan mengamalkannya, saya juga membacakan Al Qur’an untukMU.”

Allah berkata,”Kamu bohong, akan tetapi kamu mempelajari ilmu agar dipandang sebagai orang alim. Kamu membaca Al Qur’an agar disebut sebagai qari’ dan kamu telah mendapatkan yang kamu inginkan.”

Kemudian ia dihisab sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya, sehingga akhirnya ia pun dimasukkan ke dalam neraka.

Kemudian seorang laki laki yang telah mendapatkan kelapangan dari Allah S.W.T, dengan dikaruniai harta yang banyak. Harta itu didatangkan kepadanya dan ia pun merasakan nikmatnya.

Allah bertanya,”Apa amal perbuatanmu di dunia?”

Orang kaya itu menjawab,”Saya tidak sedikit pun meninggalkan jalan yang Engkau cintai kecuali dengan menafkahkan hartaku disana semata mata karena Engkau.”

Allah menjawab,”Engkau telah berdusta. Engkau melakukan itu agar disebut sebagai seorang dermawan, dan engkau telah mendapatkan yang engkau inginkan itu.”
Kemudian ia dihisab sesuai dengan amal perbuatannya, dan dimasukkan dalam neraka.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim (13/50-51- Nawawi), Imam NAsa’i 6/23-24, Imam Ahmad bin Hambal 2/322, dan para perawi lainnya dari hadits Abu Hurairah R.A)

Ini adalah kebiasaan para fuqaha dan para alim yang mengakui sesuatu yang tidak diberikan kepadanya. Anda akan menemukan mereka berlomba lomba mengeluarkan fatwa karena tidak ingin dikatakan sebagai orang bodoh dan karena mengharap agar mendapatkan kedudukan di majelis majelis keilmuan.

Akan tetapi ketahuilah wahai hamba Allah bahwa sesungguhnya apabila engkau mati, engkau akan dihadapkan kepada Allah untuk dimintai penjelasan mengenai perintah dan laranganNya. Engkau akan bergantung pada pertanggungjawabanmu tentang semua yang kamu lakukan. Oleh karenanya, apabila kamu ditanya tentang suatu persoalan, maka seharusnya tujuanmu bukan menyelamatkan penanya, tetapi menyelamatkan dirimu sendiri lebih dahulu. Pikirkan lah. Apabila engkau menemukan solusi, katakanlah. Apabila tidak, diamlah. Karena diam itu lebih selamat. Wallahu a’lam.

Wahai orang yang akan dimatikan (dicabut nyawanya)! Lihatlah bagaimana kamu dimatikan?Kamu telah menghadapkan dirimu karena urusan yang Maha besar yang tidak akan kamu datangi kecuali karena dharurah atau terpaksa.

Seorang fuqaha tidak suka menjawab suatu persoalan dan fatwa sehingga ia tidak menemukan kejelasan tentang yang dia fatwakan. Apabila ia tidak ditanya, maka itu lebih menyenangkan baginya.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Laila, ia berkata,”Saya menemukan 120 shahabat dari golongan Anshar. Salah seorang dari mereka ditanya tentang suatu persoalan, yang tidak seorang pun dari mereka menjawab kecuali saudaranya menahannya.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ad Darami 1/53, Ibnu SA’ad dalam kitab Thabaqaat Al Kubraa 6/110, Ibnu Al Mubarraq dalam kitab Al Zuhd 58, Al fasiy dalam kitab Al MA’rifah wa Al Tarikh 2/817-818, Ibnu Al Jauzi dalam kitab Talbis Iblis 132, melalui jalur Sufyan yang menerima dari Atha’ bin Saib. Saya katakan, ‘Hadits ii isnadnya shahih. Para Perawinya tsiqat kecuali Atha’ bin Saib yang telah bercampur dengan lain. Tetapi pendengaran Sufyan tentang hadits lebih dahulu dan orang yang mendengarnya lebih dahulu sebelum bercampur, maka hadits ini shahih.’)

Sebagian ahli ilmu menjadikan ilmu sebagai sarana untuk mendapatkan kekuasaan, mendekatkan diri kepada raja dan penguasa, memperoleh kemuliaan dan kepemimpinan.

Salah seorang dari mereka lalu membenarkan perbuatannya bahwa ia masuk untuk memberi pertolongan kepada orang Islam. Kalaupun benar, maka ia akan menasehatinya kepada para hakim, tidak merendahkannya dan meninggalkan keingkaran kepada para raja. Adakalanya memberi dispensasi kepada para raja mengenai hal hal yang mestinya tidak ada dispensasinya, untuk mendapatkan harta duniawi. Maka lalu jatuhlah kepada kerusakan, dalam beberapa hal :

Pertama, pemegang kekuasaan berkata,”Kalau aku tidak benar, maka pasti orang alim ini akan berpaling dariku. Bagaimana ia mengatakan aku tidak benar, sementara ia makan dari hartaku?!”

Kedua, alim berkata,”Amir ini tidak bahaya, demikian pula harta dan perbuatannya. KArena seorang alim Fulan tidak meninggalkan dirinya.”

Ketiga, Al alim yang merusak agamanya dengan hal hal seperti itu. Oleh karenanya Rasulullah S.A.W bersabda,”Barang siapa yang mendatangi penguasa, maka ia telah mendapatkan fitnah.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud 2859, Imam TIrmidzi 2256, Imam Al Nasa’i 7/195-196, Imam Ahmad bin Hambal 1/357 dan para perawi lain dari jalur Sufyan, dari Abi Musa, dari Wahab bin Munabbih dari Ibnu Abbas dari Sufyan. Isnad hadits ini lemah karena Abi Musa seorang yang majhul. Akan tetapi hadits ini mempunyai isnad yang lain yang diriwayatkan Imam Baihaqi dalam Syu’bu Al Iman 3/2/248. Karenanya, hadits ini insya Allah menjadi kuat. Hadits ini juga mempunya syahid, antara lain : 1. Hadits Abu Hurairah R.A yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud 2860, Imam Ibnu Hibban dalam kitab Al Majruhin 1/233 dan para perawi lainnya dengan menggunakan jalur Al Hasan bin Al HIkam dari ‘Adiy Abi Tsabit, dari Abi Hazim, dari Abu Hurairah. Isnad hadits ini berkualitas la ba’sa bih, karena Al Hasan bin Al HIkam adalah seorang yang suduq yuhthi’u (seorang sadik yang pernah berbuat salah).
2. Hadits Abu A’war Al Sulami berkualitas shahih seperti dalam kitab Silsilatu Al Ahadits Al Shahihah 1253. Hadits tersebut dengan semua jalur dan syahidnya menjadi shahih. Ini tidak diragukan lagi. Wallahu A’lam.
)

Oleh karenanya para Salafus Shalih-semoga Allah mengasihi mereka-melarang orang yang ingin menegakkan kebenaran dan mencegah kemungkaran untuk bertemu dengan para penguasa. Karena mereka khawatir mendapatkan fitnah jika menemui para penguasa. Karena jiwa, adakalanya kosong apabila mereka jauh ia memerintah dan melarang mereka, dan bersikap keras terhadap penguasa. Apabila menyaksikan mereka dari dekat maka hati akan condong kepada penguasa. Karena kecintaan kepada jabatan itu bertempat dalam jiwa.

Oleh karena itu ia akan menghinakan dan melunakkan hati penguasa, atau bahkan condong (tunduk) kepada penguasa dan mencintainya. Terlebih lagi apabila sebelumnya para penguasa berbuat lembut kepada mereka dan memuliakannya.

Sufyan Ats Tsauri-semoga Allah mengasihinya- menulis surat kepada Abbad bin Abbad, dan mengatakan,”Amma ba’du, kamu berada pada suatu masa dimana para shahabat Nabi S.A.W berlindung darinya. Mereka mempunyai ilmu pengetahuan yang tidak seperti kita. Mereka mempunyai pijakan atau landasan keimanan yang tidak seperti kita. Bagaimana dengan kita ketika memiliki sedikit ilmu, sedikit kesabaran, sedikit melakukan kebaikan, berbuat kerusakan kepada manusia dan memperkeruh dunia?

Maka Hendaklah engkau kembali kepada asalmu (fithtah). Berpegang teguh dengannya dan hendaknya engkau takut pada kelemahan karena sekarang ini adalah zaman kelemahan. Hendaknya engkau mengasingkan diri dan mengurangi pergaulan dengan manusia. Karena jika manusia saling bertemu, maka salah seorang dari mereka selalu mengambil manfaat dari yang lain. Sekarang hal itu telah hilang. Kesuksesan akan dapat diraih jika kalian meninggalkan mereka dan tidak bergaul dengan manusia seperti mereka, sebagaimana pendapat kami.

Hindarilah para umara (penguasa). Janganlah mendekati mereka dan jangan berinteraksi dengan mereka tentang suatu perkara. Hendaklah kamu pasrah. Dikatakan kepadamu :”Tolonglah dan berpalinglah (tadra’) dari orang yang dianiaya atau membalas menganiaya. Karena yang demikian itu tipu daya iblis. Sesungguhnya yang melakukan itu hanyalah para qurra yang jahat.”

Dikatakan,”Takutlah kamu dari fitnah seorang hamba yang bodoh dan seorang alim yang jahat karena fitnah dari keduanya adalah fitnah atas segala fitnah. Apa pun persoalan dan fatwa yang kamu temukan maka taruhkanlah dan janganlah kamu bersekongkol dengan mereka dalam berfatwa.

Hendaklah kamu takut menjadi orang yang mencintai untuk mengamalkan perkataannya atau menyebarkan perkataannya, atau mendengarkan perkataannya. Apabila engkau meninggalkan hal itu darinya maka ia akan dikenal.

Hindarilah kecintaan kepada kekuasaan. Karena seorang laki laki itu lebih mencintai kekuasaan dari pada emas dan perak. Ini adalah persoalan rumit yang tidak dapat dilihat kecuali oleh para ulama yang mendalam ilmunya. Maka kosongkanlah jiwamu, beramallah dengan niat. Ketahuilah bahwa persoalan yang menjadikan seseorang ingin mati telah dekat dengan manusia, dan keselamatan.” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilyah 6/376-377)

Demi Allah, Daar bin Al Mubarak-semoga Allah mengasihinya-pernah berkata:
Wahai orang yang menjadikan ilmu sebagai alat
Untuk merampas harta orang orang miskin
Engkau telah memilih dunia dan keindahannya
Dengan perhiasan lalu meninggalkan agama
Setelah itu, engkau menjadi gila karenanya
Engkau adalah obat bagi orang gila
Dimana riwayatmu dalam kekekalannya
Dari Ibnu Aun dan Ibnu SIrin
Dimana riwayat masa lalumu
Dalam meninggalkan pintu pintu para sultan
Jika engkau katakan, aku benci
Mengapa demikian
Hilangkanlah keledai ilmu di dalam lumpur

(Lihat Jami Al Bayan Ilmi wa Fadlihi 1/165 dan kitab Sairu A’lami An Nubala 8/114-412)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: