Bukti-Bukti Cinta dan Pengagungan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Bukti-Bukti Cinta dan Pengagungan Kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam

Pertama : Mendahulukan dan mengutamakan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di atas semua orang.

Allah S.W.T telah melebihkan NabiNya, Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam atas semua makhluk yang terdahulu dan yang terkemudian. Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dan imam sekaligus penghulu mereka.
Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah telah memilih Kinanah dari anak Ismail, dan memilih Quraisy dari Kinanah, memilih Bani Hasyim dari Quraisy, dan memilihku dari Bani Hasyim.” (Muslim, 2/1782, No.2276.)

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Aku adalah sayyid (penghulu) anak Adam dan ini tidak membanggakan, manusia pertama yang dibangkitkan dari kubur, orang mula-mula memberikan syafaat, dan orang yang mula-mula syafaatnya diterima.” (Muslim, 2/1782, No.2278)

Hasil yang diperoleh dari keyakinan tentang kelebihan beliau -Shallallahu alaihi wa sallam ialah merasakan wibawanya, kemuliaan derajatnya, keagungan dirinya, dan merasakan kebaikannya serta kedudukannya. “Dan makna-makna yang diperoleh karena mencintai dan mengagungkannya, dan segala sesuatu yang berasal dari perihal dirinya, akan membuat hati senantiasa mengingat hak beliau -Shallallahu alaihi wa sallam berupa tauqir dan ta’zir serta pengakuan terhadapnya. Sebab, hati adalah raja bagi anggota tubuh, sedangkan anggaota tubuh adalah prajurit dan pengikutnya. Selama pengagungan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam tersebut telah bersemayam dalam hati, tertera di dalamnya dengan berbagai ikhwalnya, maka pengaruhnya akan tampak pada anggota badan. Ini pasti dan bukan mustahil. Ketika itulah anda melihat lisan memuji, menyanjung dan menyebut-nyebut kebaikannya, dan anda melihat anggota badan lainnya melaksanakan apa yang dibawanya, mengikuti syariat dan perintahnya, menunaikan haknya dan memuliakannya.” (Huquq an Nabi ala Ummatihi, at-Taimi, 2/470)

Dalam masalah ini banyak manusia telah tersesat, di antaranya :

1. Rafidhah ekstrim (syiah), yang melebihkan para imam mereka –yang mereka anggap ma’shum- di atas Nabi Shallallahu’alaihi wasallam.

2. Shufiyah Batiniyah, yang melebihkan para auliya dan aqthab di atas Nabi Shallallahu’alaihi wasallam.

Kedua perbuatan tersebut –kita berlindung kepada Allah S.W.T- adlah perbuatan zindiq, kufur dan pengingkaran, serta menyelisihi nash-nash yang mutawatir dan ijma’ umat islam.

Kedua : Adab-adab Bersama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam.

Ini akan terwujud dengan perkara-perkara berikut ini :

1. Memujinya dengan pujian yang layak baginya. Pujian yang mendalam ialah pujian yang diberikan oleh Tuhannya dan pujiannya terhadap dirinya sendiri, dan yang paling utama ialah bershalawat kepadanya; karena perintah dan penegasan Allah S.W.T.

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-oran yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Al-Ahzab : 56).

Ibnu Abbas berkata, “Yushallun (bershalawat), artinya : yubarrikun (memberi keberkahan).” (Al Bukhari secara mu’allaq dalam kitab tafsir, 6/27. Al Khalil berkata,”Barakah (keberkahan) berarti bertambah dan berkembang.” Mu’jam Maqayis al Lughah, 1/23.)

Ini pemberitaan dari Allah S.W.T “mengenai kedudukan hamba dan NabiNya di sisiNya di majlis agung para malaikat, bahwa Dia menyanjungnya di sisi para malaikat muqarrabin dan bahwa para malaikat bershalawat kepadanya. Kemudian dia memerintahkan penduduk alam bawah (bumi) supaya bershalawat kepadanya, agar berhimpun sanjungan kepadanya dari penduduk alam atas (langit) dan alam bawah semuanya.” (Tafsir al Qur’an Al Azhim, Ibnu Katsir, 3/507: dan lihat tafsir ayat secara panjang lebar dalam Jala’al Afham, 253-276.) Shalawat kaum beriman kepadanya adalah doa untuk memohonkan tambahan pujian kepadanya (Lihat, at Ta’addub ma’a ar Rasul, Hasan Nur Hasan, Hal. 197)

Dalam ayat ini Allah S.W.T memerintahkan supaya bershalawat kepadanya, dan perintah itu menunjukkan kewajiban. Karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, ia tidak bershalawat kepadaku.” (At Tirmidzi 5/551, no 3546; dan Ahmad, 1/201).

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Semoga muka seseorang tersungkur, bila namaku disebut di sisinya tetapi ia tidak bershalawat kepadaku.” (Ahmad 2/254; Al Bukhari dalam al Adab Al Mufrad, Hal. 22, no.21; At Tirmidzi, 5/550, no 3545).

Bershalawat kepadanya disyariatkan dalam berbagai peribadatan, seperti tasyahhud, khutbah, shalat jenazah, sesudah adzan, saat berdoa dan berbagai kesempatan lainnya (Ibnu Qayyim merincinya sampai 41 kesempatan, Lihat Jala’al Afham, 463-661).

Kalimat shalawat yang paling utama ialah yang diajarkan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam kepada para sahabatnya, ketika mereka bertanya, “Tentang bersalam kepadamu kami telah mengetahuinya, lalu bagaimana bershalawat?” beliau -Shallallahu alaihi wa sallam menjawab, “Ucapkanlah, ‘Ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau bershalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berikan keberkahan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau berkahi keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia’.” (Al Bukhari 6/37 no. 4797; al fath 8/392).

Bershalawat kepadanya tidak sunyi dari berbagai faedah dan manfaat, karena bershalawat kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam merupakan faktor diperolehnya berbagai kebajikan, dihapusnya berbagai keburukan, dikabulkannya berbagai doa, mendapatkan syafaat, shalawat (rahmat) Allah S.W.T atas hambaNya, keabadian cinta kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam berikut tambahannya, dan selamat dari kebakhilan. (Ibnu Qayyim menyebutkan, shalawat kepada Nabi mempunyai 33 manfaat. Lihat, Jala’al Afham, 612-627).

2. Banyak mengingatnya, rindu untuk melihatnya, “menghitung-hitung berbagai keutamaannya, keistimewaannya, mukjizatnya dan bukti-bukti kenabiannya, memperkenalkan manusia kepada sunnahnya dan mengajarkan mereka kepadanya, mengingatkan mereka akan kedudukan dan hak-haknya, menyebutkan berbagai sifat dan akhlaknya, berbagai perkara dakwah, sirah dan peperangannya, dan pujian tentang hal itu baik berupa syair maupun prosa.” (Huquq an Nabi ala Ummatih, at Tamimi 2/427). Sebab manusia, sebagaimana kata Ibnul Qayyim, “Setiap kali mengingat sang kekasih dan menghadirkannya dalam hatinya, menghadirkan kebaikan-kebaikannya dan makna-maknanya yang membawa kepada cinta kepadanya, maka cintanya kepadanya semakin berlipat ganda dan kerinduannya kepadanya semakin bertambah serta menguasai segenap hatinya. Jika menolak untuk mengingatnya dan menghadirkan kebaikan-kebaikan di hatinya, maka cintanya berkurang dari hatinya. Tidak ada sesuatu pun yang lebih menyenangkan hatinya daripada mengingatnya dan menghadirkan kebaikan-kebaikannya. Jika ini menguat dalam hatinya, maka lisannya akan memuji dan menyanjungnya serta mengingat kebaikan-kebaikannya. Bertambah atau berkurangnya hal ini tergantung bertambah atau berkurangnya cinta tersebut dalam hatinya.” (Jala’al Afham hal 265)

3. Beretika ketika menyebut Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, yaitu tidak sekedar menyebut namannya, tetapi disifati dengan kenabian atau kerasulan. Ini sebagaimana etika para sahabat radhiyallahu’anhu dalam memanggilnya. Ini adab bagi mereka dan selain mereka pada saat menyebutnya. Tidak boleh menyebut : Muhammad, tetapi : Nabiyullah (Nabi Allah), Rasul dan sejenisnya. Itu kekhususan bagi Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam khithab (percakapan) Allah S.W.T untuknya dalam Kitab SuciNya, bukan untuk para saudaranya dari para nabi. Allah S.W.T tidak cukup menyebutnya dengan namanya saja, ketika berfirman,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu.” (Al-Ahzab : 40).

Tetapi Dia berfirman sesudahnya,

“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (Al-Ahzab : 40)

Terdapat bimbingan kepada etika ini dalam firmanNya,

“Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain).” (An-Nur : 63).

4. Adab di masjidnya, demikian juga di sisi kuburnya, dan tidak berbuat kegaduhan serta mengeraskan suara. Karena itu, Umar radhiyallahu’anhu melarang orang yang mengeraskan suaranya di dalamnya.

Dari Sa’ib bin Yazid, ia menuturkan, “Aku berdiri di dalam masjid lalu seseorang menegurku. Ketika aku memandang, ternyata Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, ‘Pergilah, lalu datanglah kepadaku dengan membawa dua orang ini.’ Lalu aku datang dengan membawa keduanya. Ia bertanya, ‘Siapakah kalian berdua?’ Keduanya menjawab, ‘Dari penduduk Thaif.’ Ia berkata, ‘Seandainya kalian berdua dari penduduk negeri ini, niscaya aku telah menghukummu; karena kalian berdua telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam’.” (Al Bukhari 1/120; al Fath, 1/667)

5. Menjaga kehormatan negerinya, Madinah Nabawiyah; sebab itulah tempat hijrahnya, negeri kemenangannya, negeri para Anshar (pembela)nya, tempat tegaknya agamanya, tempat dikuburkannya, dan di situ terdapat masjidnya yang merupakan sebaik-baik masjid sesudah Masjidil Haram.

“Tujuan dari mengagungkan Madinah ialah mengagungkan kehormatannya. Ini perkara yang wajib bagi siapa yang tinggal di sana atau memasukinya, dan wajib pula bagi para penduduknya untuk memperhatikan hak mujawarah (tempat tinggal) serta beretika di dalamnya. Itu mengingat karena Madinah memiliki kedudukan di sisi Allah S.W.T dan RasulNya Shallallahu alaihi wa sallam.” (Huquq an Nabi, 2/493).

6. Menghormati hadistnya, beretika ketika mendengarnya, dan berlaku sopan saat mempelajarinya. Para salaf umat ini dan para ulamanya secara umum serta para ahli hadistnya secara khusus memiliki manhaj yang bagus, metode yang kaya dan andil yang kuat dalam memuliakan hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, menghormati majlis hadist dan berlomba-lomba beramal dengannya, karena mengagungkannya.

Ini sebagian bukti :

Amr bin Maimun menceritakan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, di antara yag dikatakannya, “Aku tidak pernah mendengarnya sama sekali mengucapkan, ‘Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda’ kecuali sekali. Lalu aku memandang kepadanya yang ternyata kainnya terurai, urat lehernya mengembang, dan kedua matanya mengalirkan air mata. Lalu ia berkata, “Atau seperti itu atau kurang dari itu, mendekati hal itu atau menyerupai hal itu.” (Al Khathib al Baghdadi dalam al Jami’ li Akhlaq ar Rawi wa Adab as Sami’, 2/66, 67; lihat, Syam asy Syafa 2/74).

Diriwayatkan dari sejumlah imam bahwa mereka tidak menceritakan hadist Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam kecuali dalam keadaan berwudhu, di antaranya : Qatadah, Ja’far bin Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, Malik bin Anas dan al-A’masy, bahkan itu menjadi suatu yang dianjurkan bagi mereka dan mereka menganggap makruh sebaiknya. Dhirar bin Murrah berkata, “Mereka tidak suka berbicara tentang Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan tidak berwudhu.” (Lihat, Jami’ Bayan al Ilm wa Fadhlih, Ibnu Abdil Barr, 2/1217; Syarh asy Syafa, 2/77)

Abu Salamah al-Khuza’i berkata, “Malik bin Anas apabila hendak keluar untuk membacakan hadist, maka ia berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat, memakai pakaian terbaiknya, memakai penutup kepala dan menyisir jenggotnya. Ditanyakan kepadanya tentang hal itu maka ia menjawab, ‘Dengan semua itu aku menghormati hadist Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam’.” ( Al Jami’, al Khathib al Baghdadi, 2/34; Syarh asy Syafa, 2/77)

Ibnu Abi az-Zinad berkata, “Sa’id bin Musayyab –ia dalam keadaan sakit- berkata, “Dudukkanlah aku, sebab aku terlalu angkuh apabila menceritakan hadist Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dalam keadaan berbaring.” (Al Jami’, al Khathib, 2/45; dan Jami’ Bayan al Ilm 2/1220)

Malik bin Anas melewati Ali bin Hazim pada saat sedang menceritakan hadist. Ia pun melewatinya seraya berkata, “Aku tidak menemukan tempat untuk duduk dan aku tidak suka mengambil hadist Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam dengan berdiri.” (Al Jami’, al Khathib 2/53)

“Adalah Muhammad bin Sirin berbicara sambil tertawa, tetapi apabila hadist disebut maka ia menjadi khusyu’.” (Al Jami’, al Khathib 2/57)

Ahmad bin Sulaiman al-Qaththan berkata, “Tidak ada yang berbicara dalam majlis Abdurrahman bin al-Mahdi, tidak ada pena yang diruncingkan, dan tidak ada seorang pun yang tersenyum. Apabila ada yang berbicara atau pena di runcingkan..maka ia teriak dan memakai sandalnya lalu masuk (meninggalkan majlis). Demikian pula yang dilakukan Ibnu Numair, dan ia orang yang paling keras dalam masalah ini. Waki’ dalam majlisnya seperti mereka dalam shalat. Jika ia mengingkari sesuatu dari perihal mereka, maka ia memakai sandalnya dan masuk (meninggalkan majlis). Ibnu Numair marah dan teriak, dan apabila ia melihat orang yang meruncingkan pena, maka wajahnya berubah. “Hammad bin Salamah berkata, “Kami berada di sisi Ayyub mendengarkan suara gaduh, maka ia berkata, “Kegaduhan apakah ini? Apakah mereka belum mengetahui bahwa mengeraskan suara di sisi hadist dari Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasalam seperti mengeraskan suara di hadapannya saat beliau masih hidup?” (Al Jami’, al Khathib, 1/128, 130)

Ketiga : Membenarkan Segala yang Disampaikannya.

Termasuk prinsip keimanan dan pilarnya yang utama ialah mengimani kemaksuman Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dari dusta dan membenarkan segala yang dikabarkannya dari perkara yang telah berlalu, sekarang dan yang akan datang. Allah S.W.T berfirman,

“Dami bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm : 1-4)

Sungguh merupakan ketidakramahan, bahkan benar-benar kekafiran, menuduhnya dan mendustakannya apa yang diberikannya. Karena itu, Allah S.W.T mencela orang-orang musyrik dengan firmanNya,

“Tidaklah mungkin al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan Semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya.’ Katakanlah, ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.’ Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zhalim itu.” (Yunus : 37-39)

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puncak etika bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ialah penerimaan yang sempurna kepadanya, mematuhi perintahnya dan menerima beritanya dengan penerimaan dan pembenaran, tanpa menilainya bertentangan dengan imajinasi batil yang disebutnya sebagai logika, menilainya syubhat atau meragukan, atau mendahulukan pendapat para tokoh dan sampah pikiran mereka di bandingkan sabda Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian ia menjadikan Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam sebagai hakim satu-satunya, menerima keputusannya dengan ridha, dan tunduk serta patuh, sebagaimana ia mengesakan Dzat yang mengutusnya (Allah S.W.T ) dengan peribadatan, ketundukan, kepatuhan, inabah dan tawakal.” (Madarij as Salikin, 2/387)

Lihatlah kedudukan tinggi yang diperoleh Abu Bakar Ash Shuddiq radhiyallahu’anhu yang beriman kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dengan iman yang sebenarnya, lalu membenarkannya dengan pembenaran yang sejati. Dari Aisyah radhiyallahu’anhu, ia menuturkan, “Ketika Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di perjalankan pada waktu malam ke Masjidil Aqsha, orang-orang mulai membicarakan hal itu, lalu sejumlah orang yang sebelumnya telah beriman kepadanya dan membenarkannya menjadi murtad kembali. Mereka pergi dengan membawa berita tersebut kepada Abu Bakar radhiyallahu’anhu dan bertanya, ‘Apakah kamu mempercayai sahabatmu; ia menyangka dirinya diperjalankan semalam ke Baitul Maqdis?’ Abu Bakar radhiyallahu’anhu balik bertanya, ‘Apakah Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan demikian?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Abu Bakar radhiyallahu’anhu berkata, ‘Jika Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam memang mengatakan demikian, maka sungguh Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam berkata benar.’ Mereka bertanya, ‘Apakah kamu mempercayainya bahwa ia pergi dalam waktu semalam ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum shubuh?’ Ia menjawab, ‘Ya, sesungguhnyaaku membenarkannya tentang segala yang lebih dari itu. Aku membenarkannya tentang berita langit, baik pagi maupun sore.’ Karena itulah Abu Bakar di sebut Ash-Shiddiq.” (Al Hakim, 3/62 dan mengatakan,”Shahih sanandnya dan tidak diriwayatkan oleh keduanya, serta disetujui oleh Adz Dzahabi; dishahihkan oleh al Albani karena banyak penguatnya dalam as Silsilah ash Shahihah no. 306)

Di antara kandungan bab ini yang menunjukkan kedudukan dua syaikh yang mulia ini (yakni Abu Bakar dan Umar), bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya :

“Ketika seorang penggembala di tengah-tengah kambingnya, seekor serigala menyerangnya lalu menangkap seekor kambing. Lalu ia mencari kambing tersebut sehingga dapat menyelamatkannya, serigala itu menoleh kepadanya, lalu berkata kepadanya, ‘Siapakah pada hari kiamat yang tidak punya penggembala selainku?’ Ketika seseorang mengendarai seekor sapi yang telah membebaninya, maka sapi tersebut menoleh kepadanya dan berbicara kepadanya, ‘Sesungguhnya aku tidak diciptakan untuk ini, tetapi aku diciptakan untuk membajak’.” Orang-orang berkata, ‘Subhanallah!’ Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku mempercayai itu, demikian juga Abu Bakar dan Umar.” (Al Bukhari di berbagai tempat, diantaranya : 4/200, 192, 149, no. 3690, 3663, 3471; al Fath 6/592)

Keempat : Mengikuti dan Mentaatinya serta Berpegang Pada Petunjuknya

Pada dasarnya semua perbuatan dan ucapan Nabi Shallallahu’alaihi wasallam harus diikuti dan diteladani. Allah S.W.T berfirman ,

“Sesungguhnya telah ada apa (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah S.W.T dan (kedatangan) dari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Al-Ahzab : 21).

Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini adalah dasar utama untuk meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, baik dalam ucapan, perbuatan maupun hal ikhwal Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu, Allah S.W.T memerintahkan manusia supaya meneladani Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pada saat peristiwa Ahzab dalam hal kesabaran, ketabahan, persiapan perang dan jihadnya, serta menunggu kelapangan dari Tuhannya.” (Tafsir al Qur’an al Azhim 3/475)

Terdapat perintah Allah S.W.T mengenai wajibnya mentaati Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam banyak ayat, antara lain, firmanNya,

“Barangsiapa mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (An-Nisa’ : 80).

Dia memerintahkan untuk mengembalikan kepada Allah S.W.T dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika terjadi perselisihan. Dia berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepad Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa : 59).

Nash-nash hadist telah mutawatir tentang perintah supaya mengikuti dan mentaatinya, berpetunjukkan dengan petunjuknya, mengikuti sunnahnya, dan mengagungkan perintah dan larangannya. Di antaranya, sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam,

“Shalatlah sebagaimana kalian melihatku sedang shalat.” (Al Bukhari 1/155, no. 631; al Fath 2/132)

Juga sabda Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam,

“Hendaklah kalian mengambil dariku tentang manasik (haji) kalian.” (Muslim, 1/943 no. 1297)

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk; peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham. Serta berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang diada-adakan, sebab setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat.” (Ahmad, 4/126, 127; Abu Dawud, 13-15; At Tirmidzi; Ibnu Majah, 1/16)

Imam al-Khaththabi berkata, “Yang dimaksudkan dengan semua itu ialah kesungguhan untuk mengikuti sunnah, seperti orang yang menahan sesuatu di antara gigi gerahamnya dan menggigitnya agar tidak terlepas. Menggigit dengan cara demikian lebih dapat menahan sesuatu. Sebab sesuatu yang ditahan pada bagian depan mulutnya lebih mudah diambil dan lebih mudah terlepas.” (Ma’alim as Sunan, pada Hasyiyah Sunan Abi Dawud, 7/12)

Mentaati Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah contoh yang hidup lagi jujur tentang kecintaan kepada Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam. Setiap kali cinta tersebut bertambah, maka bertambah pula ketaatan. Karena itu Allah S.W.T berfirman,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosanya.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran : 31)

Ketaatan adalah buah dari cinta. Mengenai hal ini seorang penyair berkata,

Kau mendurhakai Tuhan padahal kau mengaku mencintaiNya
Ini sungguh dalam analogi sangatlah jauh
Sekiranya cintamu benar niscaya kau mentaatiNya
Karena pecinta itu mematuhi siapa yang dicintainya

Kelima : Berhakim Kepada Sunnahnya

Berhakim kepada sunnah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam adalah salah satu prinsip mahabbah (cinta) dan ittiba’ (mengikuti); sebab tidak ada iman bagi orang yang tidak berhukum kepada syariatnya dan menerima secara bulat. Allah S.W.T berfirman,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’ : 65).

Allah S.W.T berfirman,

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” (Al-Ahzab : 26).

Allah S.W.T telah menjelaskan bahwa salah satu tanda kesesatan dan kemunafikan ialah menentang sunnahnya dan tidak berhukum kepadanya. Dia berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. Apabila dikatakan kepada mereka : ‘Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul’, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu.” (An-Nisa : 60-61).

Ibnu Taimiyah berkata, “Setiap orang yang keluar dari Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan syariatnya maka Allah S.W.T telah bersumpah dengan diriNya yang disucikan, bahwa ia tidak beriman sehingga ridha dengan hukum Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam segala yang diperselisihkan di antara mereka dari perkara-perkara agama dan dunia serta tidak ada dalam hati mereka rasa keberatan terhadap hukumnya.” (Majmu’ al Fatawa, 8/471)

Ibnul Qayyim berkata, “Allah S.W.T menjadikan penentangan terhadap apa yang dibawa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan berpaling kepada selainnya sebagai hakikat kemunafikan, sebagaimana halnya hakikat keimanan ialah bertahkim kepadanya dan tidak ada rasa berat hati terhadap hukumnya serta menerima keputusannya dengan ridha, ketulusan dan cinta. Ini adalah hakikat iman, sedangkan penentangan tersebut adalah hakikat kemunafikan.” (Mukhtashar ash Shawa’iq al Mursalah, 2/353).

Keenam : Membelanya

Membela Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam adalah salah satu tanda kecintaan dan pengagungan. Allah S.W.T berfirman,

“(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (kerena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan (Nya) dan mereka menolong Allah dan RasulNya. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hasyr : 8).

Para sahabat radhiyallahu’anhu telah mengilustrasikan contoh terindah dan amalan yang paling jujur dalam membela Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam serta menebusnya dengan harta, anak dan nyawa, baik saat giat dan terpaksa, sulit maupun mudah. Kitab-kitab sejarah sarat dengan kisah-kisah mereka dan berita-berita mereka yang menunjukkan puncak kecintaan, sikap mendahulukan kepentingan Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam ketimbang diri sendiri, dan pengagungan.

Di antaranya, bahwa Abu Thalhah al-Anshari radhiyallahu’anhu melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada perang Uhud dan memanah di hadapannya, seraya berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu. Jangan sampai salah satu panah kaum mengenaimu, cukup leherku saja bukan lehermu.” (Al Bukhari, 5/33 no 4064; al Fath, 7/418).

Dari Qais bin Abi Hazim, ia mengatakan, “Aku melihat tangan Thalhah terangkat untuk melindungi Nabi Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud.” (Al Bukhari, 5/33 no. 4063; al Fath, 7/416)

Betapa indahnya apa yang dikatakan Anas bin Nadhr pada perang Uhud, ketika umat islam kalah, “Ya Allah, aku memohon ampun kepadamu terhadap apa yang diperbuat oleh mereka (yakni para sahabatnya) dan aku berlepas diri dariMu dari apa yang diperbuat oleh mereka (yakni kaum musyrik). Kemudian ia maju lalu Sa’ad menemuinya, maka ia berkata, “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, surga. Demi Tuhannya Nadhr, sesungguhnya aku mencium bau surga dari Uhud.” Wahai Rasulullah, aku tidak mampu berbuat sebagaimana yang diperbuatnya.” Anas bin Malik berkata, “Kemudian kami dapati padanya 87 sabetan pedang, tikaman tombak, atau lemparan panah. Kami mendapatinya telah syahid, dan kaum musyrikin telah mencincang-cincangnya. Tidak ada seorang pun yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya yang mengenalinya dari jari telunjuknya.” (Al Bukhari, 3/305, 5/31 no. 2805, 4047; al Fath, 6/27, 7/411)

Membela Nabi Shallallahu’alaihi wasallam mengharuskan beberapa hal, di antaranya

a. Membela para sahabatnya radhiyallahu’anhu.

Umat telah sepakat bahwa semua sahabat radhiyallahu’anhu adalah terpercaya dan adil dan bahwa mereka itu sebaik-baik umat sesudah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Telah mutawatir nash-nash dari al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjelaskan hal itu, antara lain :

Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18).

Allah S.W.T berfirman,

“Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Fath : 29)

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah mencaci maki salah seorang sahabatku; sebab salah seorang kalian senadainya menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka itu tidak menyamai satu mud ( yang diinfakkan) salah seorang mereka dan tidak pula mencapai separuhnya.” (Muslim, 2/1968 no. 2541)

Hak-hak para sahabat radhiyallahu’anhu banyak sekali, di antaranya :

1) Mencintai dan meridhai mereka.

Allah S.W.T berfirman,

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Tuhan kamu, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (Al-Hasyr : 10)

2) Mengikuti jalan mereka dan mencontoh sunnah mereka.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya siapa yang masih hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk sesudahku; berpeganglah dengannya dan gigitlah ia dengan dengan gigi-gigi geraham.” (Ahmad, 4/127; Abu Dawud, no. 7046; at Tirmidzi, no. 2676; Ibnu Majah, no. 43. Sanad shahih).

Tetapi ahli bid’ah menyimpang berkenaan dengan hak para sahabat radhiyallahu ‘anhu. Mereka tidak mengakui keutamaan mereka yang terlebih dahulu beriman, bahkan mencaci maki dan mengurangi martabatnya. Bahkan ahli bid’ah yang berlebih-lebihan telah menuduh mereka berdusta, munafik dan berkhianat. Karena itu Aisyah radhiyallahu’anhu berkata, “Mereka diperintahkan supaya memintakan ampunan buat para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, tapi malah mencaci maki mereka.” (Muslim dalam at Tafsir, 3/2317 no 3022)

Mencaci maki sahabat radhiyallahu’anhu sama halnya dengan mencaci maki Nabi Shallallahu’alaihi wasallam; sebab mereka adalah para kekasihnya. Karena itu Imam Malik dan selainnya berkata, “Para Rafidhah itu hanyalah hendak menikam Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, supaya orang mengatakan, ‘Orang yang buruk mempunyai para sahabat yang buruk. Seandainya ia orang yang baik niscaya para sahabatnya pun baik.” (Minhaj as Sunnah, 7/459).

Ibnu Taimiyah berkata, “Adapun Rafidhah maka mereka telah mencaci maki para sahabat, padahal sebenarnya mereka bermaksud mencaci maki risalah ini.” (Minhaj as Sunnah, 3/463)

b. Membela para isterinya, para Ummahatul Mukminin.

Termasuk membela Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ialah membela kehormatannya dan kehormatan para isterinya yang suci, khususnya Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anhu yang Allah S.W.T telah membebaskannya (dari segala tuduhan) dari atas langit ke tujuh dalam ayat-ayat yang akan dibaca hingga hari kiamat.

Dia berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahgian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata, ‘Ini adalah suatu berita bohong yang nyata’.”

Hingga firmanNya,

“Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu, ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.’ Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (An-Nur : 11-17)

Imam Malik berkata, “Barangsiapa mencaci maki Abu Bakar harus dicambuk dan barangsiapa mencaci maki Aisyah harus dibunuh.” Ditanyakan kepadanya, “Mengapa?” Ia menjawab, “Barangsiapa menuduhnya maka ia telah menyelisihi la-Qur’an.” (Ash Sharim al MAslul, hal 571).

Ibnu Katsir berkata, “Para ulama semuanya telah bersepakat bahwa siapa yang mencaci maki Aisyah, sesudah Allah S.W.T menyebutkan hal ini dalam ayat, maka ia kafir, karena ia menentang al-Qur’an.” (Tafsir al Qur’an al Azhim, 3/276).

Tuduhan kepada para isteri Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dengan kebatilan merupakan penghinaan terbesar kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, karena itu, al-Qurthubi berkata mengenai tafsir firmanNya, ‘Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya’. “Yakni mengenai Aisyah, karena semisalnya hanyalah ucapan yang sebanding dengan pernyataan tersebut, atau terhadap orang yang semartabat dengannya dari isteri-isteri Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, karena perbuatan tersebut merupakan penghinaan terhadap kehormatan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan keluarganya, dan itu kafir bagi siapa yang melakukannya.” (Tafsir al Qurthubi, 12/52).

Ketujuh : Membela Sunnahnya

Termasuk membela sunnahnya ialah memelihara dan melestarikannya, menjaganya dari ulah kaum yang batil, penyimpangan kaum yang berlebih-lebihkan dan ta’wil kaum yang bodoh, menolak syubhat kaum zindiq dan pengecam sunnahnya, serta menjelaskan kedustaan-kedustaan mereka. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mendoakan keceriaan wajah bagi siapa yang membawa panji sunnah ini, dengan sabdanya,

“Semoga Allah menceriakan wajah seseorang; ia mendengar sesuatu dari kami lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya. Banyak sekali orang yang diberi berita lebih paham daripada orang yang mendengar.” (Ahmad 1/437; at Tirmidzi 5/34; Ibnu Majah 1/85).

Termasuk membela sunnahnya ialah menolak syubhat orang-orang yang melecehkan sunnah yang sah darinya, baik ucapan, perbuatan maupun keyakinan. Misalnya, sebagian mereka menertawakan hijab, jenggot, isbal, siwak dan selainnya. Menertawakan sunnah yang shahih dalaha kafir, keluar dari agama. Allah S.W.T berfirman,

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah, ‘Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika kami memaafkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengadzab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” ( At-Taubah :65-66)

menganggap remeh membela Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan syariatnya merupakan penghinaan yang menunjukkan lemahnya keimanan atau hilangnya keimanan tersebutsecara keseluruhan. Barangsiapa mengaku cinta, sedangkan pengaruh ghirah (kecemburuan) terhadap kehormatannya, harga diri dan sunnahnya tersbeut tidak nampak padanya, maka ia telah berdusta dalam pengakuannya. Para imam hadist mempunyai kritik yang bermutu untuk memilih sunnah, memilih yang baik dari yang buruk, dan meneliti para perawi berikut hal ihwal mereka. Betapa bagusnya apa yang dikatakan Abu Bakr Ibnu Khalad ketika menjelaskan kegigihan para salafush shalih untuk membela sunnah nabawiyah. Ia menuturkan, “Aku menemui Yahya bin Sa’id saat dia sedang sakit, lalu ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abu Bakr, apa yang aku tinggalkan pada penduduk Bashrah yang mereka perbincangkan?’ Aku menjawab, ‘Mereka menyebut kebajikan, Cuma mereka mengkhawatirkan terhadapmu karena ucapanmu mengenai orang-orang.’ Ia berkata, ‘Ingatlah ucapanku, seseorang akan menjadi musuhku di akhirat itu lebih aku sukai daripada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam menjadi musuhku di akhirat seraya bersabda, Telah sampai kepadamu dariku suatu hadist yang menurut dugaanmu bahwa hadist dariku tersebut tidak shahih, tetapi kamu tidak mengingkarinya.” (Lihat Manhaj an Naqd ‘inda al Muhadditsin, hal 7).

Muhammad bin al-Murtadhi al-Yamani berkata, “Pembela sunnah yang membela dari segala yang meracuninya, seperti orang yang berjihad di jalan Allah S.W.T; ia menyiapkan untuk berjihad dengan perabotan dan kekuatan yang disanggupinya, sebagaimana firmanNya,

“Persiapkan untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (Al-Anfal : 60)

Termaktub dalam hadist shahih bahwa Jibril ‘Alaihissalam bersama Hasan bin Tsabit, ia mendukungnya karena membela Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam syair-syairnya. Demikian pula terhadap siapa saja yang membela agama dan sunnahnya sepeninggalnya, karena beriman kepadanya, mencintai dan setia keapdanya.” (Itsar al Haq ‘ ala al Khalq, hal. 20)

Kedelapan : Menyebarkan Sunnah Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam

Di antara kesempurnaan cinta dan pengagungan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam ialah berkeinginan kuat untuk menyebarkan sunnah dan menyampaikannya. Telah sah dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bahwa Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda dalam banyak hadist,

“Hendaklah yang menyaksikan (yang hadir) menyampaikannya kepada yang tidak menyaksikan (yang tidak hadir).” (Al Bukhari 2/191 no. 1739; al Fath 3/670; Muslim 2/1303 no. 1679).

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” (Al Bukhari 3/145 no 3461; al Fath 6/572).

Dari Abu Musa al-Asya’ari dari Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

“Perumpamaan apa yang dengannya aku diutus berupa petunjuk dan ilmu adalah semisal hujan lebat yang menimpa bumi. Di antara tanah itu ada yang gundul yang menerima air lalu menumbuhkan rumput yang banyak. Di antaranya ada yang kering yang dapat menahan air lalu kemudian Allah memberi manfaat kepada manusia dengannya lalu mereka minum, memberi minum dan menanam. Di antaranya ada yang menimpa tanah lainnya, ia hanyalah pasir yang tidak bisa menahan air dan tidak menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang memahami agamanya, dan ajaran yang karenannya aku diutus bermanfaat baginya, ia berilmu dan mengajarkannya, serta perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepalanya kepadanya serta tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.” (Al Bukhari 1/28 no. 79; al Fath 1/211; Muslim 2/1787 no. 2282).

Beliau -Shallallahu alaihi wa sallam memuji orang yang memiliki hati yang menghafalkan ilmu lalu menyebarkannya di tengah-tengah manusia sehingga mereka bisa memanfaatkannya. Inilah tingkatan yang kedua yang disinggung dalam hadist. Adapun orang yang diberi pemahaman yang jitu serta mampu menghafalkan ilmu tersebut; pertama ia bisa memanfaatkan dan kedua ia bermanfaat, maka ini tentu saja lebih sempurna dan utama. Inilah tingkatan yang pertama.

Keinginan untuk menyebarkan sunnah, menyampaikannya, dan mengajarkannya kepada manusia adalah salah satu pintu utama kecintaan dan pengagungan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam. Karena hal itu merupakan usaha untuk meninggikan sunnahnya dan menyebarkannya di tengah-tengah manusia. Konsekuensi dari hal itu ialah berupaya untuk mematikan bid’ah dan kesesatan yang menyelisihi perintah dan petunjuknya. Tidak diragukan lagi bahwa bid’ah dalam agamanya merupakan perusak kecintaan yang jujur. Karena itu, Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa mengada-ada dalam perkara (agama)ku ini yang tidak adapadanya, maka ia tertolak.” (Al Bukhari 3/167 no. 2697; al Fath 5/355).

Salah satu tipuan setan kepada sebagian orang bodoh dan pengikut hawa nafsu ialah mereka menyangka bahwa bid’ah dalam agama Nabi Shallallahu’alaihi wasallam merupakan kesempurnaan cinta kepadanya. Ini adalah kebodohan besar. Sebab cinta itu berkonsekuensi kepada kepasrahan kepada sang kekasih, mengikuti jejak peninggalannya, mematuhi perintah dan larangannya, dan berkeinginan untuk tidak mengurangi atau menambah sesuatu pun dalam agamanya.

Karena itu, akan didapati pelaku-pelaku bid’ah tidak menyukai tersebarnya sunnah nabawiyah dan berusaha untuk menyembunyikannya. Ibnu Taimiyah berkata, “Seperti diketahui bahwa anda tidak menjumpai seorang pun yang menolak nash-nash al-Kitab dan As-Sunnah dengan ucapannya melainkan orang yang membenci apa yang menyelisihi ucapannya. Ia senang bila ayat itu tidak pernah turun dan hadist itu tidak ada. Seandainya memungkinkan maka ia akan mengikis hadist itu dari hatinya. Dikatakan dari sebagian pemimpin Jahmiyah, baik Basyar al-Mursyi maupun selainnya, bahwa ia berkata, “Tidak ada sesuatu pun yang bisa mengurangi pernyataan kita daripada al-Qur’an; karena itu bacakanlah ia secara zhahir kemudian simpangkanlah dengan ta’wil.” Konon, ia mengatakan, “Jika mereka berargumen padamu dengan hadist, maka persalahkan mereka dengan pendustaan dan apabila mereka berargumen dengan ayat, maka persalahkan mereka dengan ta’wil.”

Karena itu akan dijumpai seorang dari mereka tidak suka menyampaikan nash-nash Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, bahkan memilih untuk menyembunyikannya, serta melarang untuk menyebarkan dan menyampaikannya, menyelisihi apa yang diperintahkan Allah S.W.T dan RasulNya, yaitu menyampaikan darinya (Minhaj as Sunnah an Nabawiyyah 5/217, 218)..

Itulah tanda-tanda cinta dan pengagungan kepada Nabi Shallallahu’alaihi wasallam, yang dengannya derajat pengagungan diukur dan dengannya kehangatan cinta diteliti. Kita memohon kepada Allah S.W.T agar kiranya menolong kita dan saudara-saudara kita umat islam seluruhnya untuk berkomitmen dengan sunnah selagi kita masih hidup.

(Di salin dari Huququn Nabi Shallallahu’Alaihi wa Sallam Bainal Ijlal wal Ikhlal/Setetes air mata cinta, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan [et al], Darul Haq Jakarta 2004)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: