Bahaya Riya’

Bahaya Riya’

Ada beberapa penjelasan tentang bahaya riya’, dan pengaruh buruk (dampak negatifnya) bagi individu, umat dan amal perbuatan, seperti yang dijelaskan dalam Al Qur’an dan Sunnah.

Berikut ini perinciannya :

Bahaya Riya’

Rasulullah S.A.W menjelaskan bahwa bahaya riya’ memiliki tingkatan yang bermacam macam, dan diungkapkan dengan ungkapan yang bermacam, diantaranya :

a. Bagi orang orang Musli, riya’ lebih bahaya dari fitnah Al Masih Ad Dajjal

Bahaya Masih Ad Dajjal tidak melanda orang yang akrab dengan Sunnah Rasulullah S.A.W. Oleh karenanya riya’ lebih besar bahaya bagi seorang Muslim.

Nabi S.A.W bersabda,

“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).

b. Riya’ lebih besar bahayanya dari serigala yang mengintai kambing.

Nabi S.A.W bersabda,

“Dua ekor serigala lapar yang dilepaskan di tengah kerumunan kambing, bahayanya tidak lebih besar dari kerakusan manusia terhadap harta, membanggakan agamanya (riya’) (Hadits diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi 2376, Imam Ahmad (3/456, 460), Imam Ad Darami 2/304, Imam Al Baghawi dalam Syarh sunnah 14/258, dan para perawi lainnya. Saya katakana, hadits ini dishahihkan oleh Imam At Tirmidzi. Ini seperti yang pernah dikatakan. Meskipun Zakariya Abu Zaidah seorang yang mudallas, tetapi ini telah dijelaskan dengan pembicaraan Bukhari dalam kitab Tarikh Al Kabir 1/150).

Ini adalah perumbapaan (analogi) yang dibuat Rasulullah S.A.W mengenai kerusakan agama seseorang karena menjaga harta dan kemuliaan duniawi. Dua hal inilah yang menggerakkan dan memotori sikap riya’ pada jiwa seseorang. Berbeda dengan kerusakan pada kambing karena adanya dua ekor serigala yang lapar yang mau menerkam kambing. Penjagaannya (kekhawatiran dari) akan hilang ketika malam dating. Kedua serigala tersebut makan dan mengambil apa yang menguntungkan baginya. Keburukan yang dimunculkannya hanya sedikit. Bahkan sangat sedikit, tidak seperti riya’. Maka hindarilah riya’.

Bahaya Riya’ bagi Amal Perbuatan

a. Menyia nyiakan amal shalih, dari pengaruh baiknnya dan tujuan luhurnya

Islam bukanlah agama yang menampakkan hal hal luar dan seremonial, karena menampakkan ibadah dan syi’ar itu tidak mencukupi selama tidak bersumber dari keikhlasan karena Allah semata. Ikhlas sangat berpengaruh dalam lubuk hati, mendorong untuk melakukan amal shalih, menerapkan sebuah metode yang dapat memperbaiki kehidupan manusia di dunia ini.

Ketika iman telah kokoh tertanam dalam hati, maka ia akan bergerak cepat agar zat iman itu terealisasi dalam bentuk amal shalih.

Oleh karena hakikat pendidikan yang penting ini, Allah mengisyaratkan dalam firmanNya,

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya Kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki Balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al Insaan : 8-9)

Sesungguhnya orang yang ikhlas adalah ibarat oase, yang meneduhi riya’ yang merusak. Orang ikhlas akan makan makanan dengan ketenangan jiwa, hati yang penuh kasih, niat yang ikhlas dan semata mata karena Allah. Ini dinampakkan dalam tingkah laku dan ucapan hatinya.

Petunjuk (isyarah) dari Al Qur’an ini akan menghancurkan kekerasan riya’ yang menebarkan bau busuk pada hati pemiliknya, dan tidak akan membuka sesuatu kelemahan, meskipun pemiliknya menyerahkan sesuatu dengan segala kebanggaan. Adapun di jalan Allah, mereka akan melarang meskipun untuk hal yang sangat remeh, dan tidak mendatangi manusia karena menjadi pengikat.

Allah S.W.T berfirman,

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna” (Al Maa’uun : 4-7)

Orang orang yang berbuat riya’ dan enggan menolong dengan barang berguna karena shalat mereka tidak menampakkan pengaruh positif pada diri mereka. Mereka menghalang pertolongan dan kebaikan dari hamba Allah. Apabila mereka menunaikan shalat semata mata karena Allah, pasti mereka tidak sungkan dan segan memberi pertolongan kepada hamba hambaNya yang membutuhkan.

Ini adalah parameter sesungguhnya untuk ibadah yang benar yang diterima di sisi Allah.

Mereka hanya melakukan gerakan gerakan dan ritual shalat semata. Mereka memperbagus dan memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnnya. Akan tetapi hati mereka tidak ikhlas dan tulus melakukannya, dan tidak menghadirkan hakikat dari shalat. Tidak merasakan keagungan Allah yang ada di depannya. Oleh karenanya dalam hati dan perbuatannya, sedikitpun tidak tertinggal pengaruh shalat.

Ini adalah riya’, yang meninggalkan amal perbuatan yang baik, dengan mengubahnya menjadi amal yang tidak baik.

b. Membatalkan amal shalih dan meleburnya

Allah S.W.T berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al Baqarah : 264)

Ini adalah hati yang keras yang telah diselimuti riya’. Perumpamaannya seperti safwan diselimuti debu-debu (Safwan adalah batu yang tidak kasar dan tidak terlalu licin permukaannya yang ditutupi oleh debu yang halus). Demikian pula riya’ menghalangi pandangan mata yang dapat menipu, seperti riya’ menghalangi kekerasan hati yang tidak memiliki iman. Kemudian hujan lebat yang menghilangkan debu debu tersebut, dan terbukalah auratnya serta tersingkaplah kegersangan dan kekerasannya. Tumbuhan pun tidak akan tumbuh, apalagi berbuah. Karena ia merupakan batu keras yang tergeletak di atas tanah. Ia tidak memiliki ketetapan. Seperti orang riya’ tidak akan membuahkan kebaikan. Tidak akan diringi dengan ganjaran bahkan mendatangkan dosa besar yang menunggu kejelekan yang berubah pada hari dimana harta dan anak tidak akan bermanfaat sama sekali kecuali orang yang dating kepada Allah dengan hati yang pasrah.

Ini adalah puncak dari riya’, yang akan melebur amal yang baik, pada saat pemiliknya tidak memiliki kekuatan dan penolong, dan karenanya ia tidak dapat menolak. Renungkanlah firman Allah S.W.T berikut,

“Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; Dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang Dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya” (Al Baqarah : 266).

Amal shalih ini pada mulanya adalah oase dan lampu yang menerangi kegelapan, surga yang indah (fainunah?) yang memilikii aroma dan keteduhan, kebaikan dan keberkahan, zakat dan pembersihan. Orang yang menginginkan mendapatkan surga surga ini, kemudian melakukan riya’, maka riya’ itu meleburnya seolah olah sebelumnya tidak pernah ada.

Kapan? Dalam waktu waktu genting untuk menyelamatkan diri, dan ketika dibutuhkan untuk meneduhinya, pada hari yang tidak ada keteduhan (bayang bayang) kecuali keteduhan (baying baying) dari Allah S.W.T.

Nabi S.A.W bersabda,

“Sesungguhnya hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa kalian adalah syirik al ashar (syirik kecil), yaitu riya’. Pada hari Kiamat Allah berfirman ketika membalas amal amal perbuatan manusia,’Pergilah kalian kepada orang orang yang kalian pamerkan sewaktu di dunia. Lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan (bagian) dari mereka’.” (Hadits riwayat Imam Ahmad 5/428, Imam Baghawi dalam Syarh Sunnah 4135, dari hadits Mahmud bin Lubeid R.A, dnegan isnad shahih, sesuai syarat Imam Muslim.)

Pada waktu itu, orang orang yang riya’ kemudian membalikkan tangannya dengan sesuatu yang telah dinafkahkannya kepada manusia dengan riya’. Lalu Allah memperlihatkan amal amalnya sebagai kerugian.

Wahai saudara seiman, hindarilah riya’ karena ia akan menghancurkan amal perbuatan.

Bahaya Riya’ bagi Umat dan Individu

a. Riya’ adalah syirik khafi.

Nabi S.A.W bersabda,

“Maukah kamu aku beritakan kabar yang bagiku lebih berbahaya bagi kalian dibanding dengan Al Masih Ad Dajjal; yaitu syirik Al Khafi. Yaitu ketika seseorang berdiri untuk menunaikan shalat, kemudian ia memperindah shalatnya karena ada orang lain yang melihatnya” (Hadits riwayat Ibnu Majjah (4204) dan perawi lainnya dari hadits Abi Said Al Khudari R.A. Hadits ini berkualitas hasan).

b. Riya’ mewariskan kehinaan dan kekerdilan.

Wahai hamba yang ikhlas, janganlah kamu terbujuk oleh tipu daya orang yang riya’ di suatu Negara, kemampuan mereka menguasai hamba, banyaknya kendaraan mereka dan kemewahan kendaraan mereka, karena bayang bayang maksiat ada diatas tengkuk mereka. Allah menolak, kecuali orang orang yangmelindungi orang orang yang durhaka kepadaNya.

Nabi S.A.W bersabda,

“Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, maka Allah akan memperdengarkan pendengaran makhluknya kepadanya, mengerdilkan dan merendahkannya” (Shahih Targhib wa Al targhib (1/6)

c. Riya’ menghalangi pahala akhirat.

Nabi S.A.W bersabda,

“Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, agama, keunggulan dan kekuatan di bumi. Barang siapa diantara mereka yang melakukan amal perbuatan amal perbuatan akhirat karena tujuan duniawi, maka di akhirat kelak ia tidak akan mendapatkan bagiannya” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad 5/134, Imam Al Hakim 3/318 dan perawi lain dari jalur Abi Al ‘Aliyah dari Abi bin Ka’ab R.A. “Saya katakana, ini hadits shahih”).

d. Riya’ menambah kesesatan.

Allah S.W.T berfirman,

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit[23], lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah : 9-10)

e. Riya’ menyebabkan kehancuran umat.

Nabi S.A.W bersabda,

“Allah akan menolong umat ini karena adanya orang orang yang lemah dengan doa dan shalat serta keikhlasan mereka.” (Shahih Al Targhib wa Al Targhib, 1/6)

Demikian pula Rasulullah S.A.W menetapkan bahwa keikhlasan karena Allah merupakan sebab kemenangan umat dari musuh musuh Islam. Tanpa ikhlas, maka itu riya’ dan nifak mungkin dapat dimanfaatkan oleh musuh musuh umat ini.

Hai orang orang Islam ! Sesungguhnya pelajaran Peperangan Badar Kubra selalu akan tersimpan di dalam hati orang yang ikhlas yang mau menunggu, selama mereka tidak mengubahnya.

Firman Allah dalam Al Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya[620] agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (Al Anfaal : 45-47).

Ayat ini bertujuan untuk menjaga golongan orang orang beriman yang tidak henti hentinya memerangi musuh musuh Allah, dengan cara keluar berperang dengan kesombongan dan keangkuhan. Karena orang beriman tidak akan keluar berperang kecuali untuk menegakkan kalimat Allah.

Bentuk keluar dengan sombong dan riya’ kepada manusia dan berpaling dari jalan Allah akan selalu hadir di depan pasukan orang beriman. Mereka melihat dengan mata kepala mereka keluarnya orang Quraisy pada hari Pertempuran Badar dengan kendaraan perangnya, jumlah pasukannya, baik yang berjalan maupun yang menunggang kuda, untuk mengulang kembali kemenangan Pertempuran Badar, di dengar oleh orang Arab dan selalu terus diperhitungkan. Akan tetapi riya’ ini cepat berakhir, berakibat buruk, dan cita citanya juga buruk. Riya’ menjadi suatu pungkasan. Orang orang musyrik telah menunjukkan riya’ dan keangkuhan.

Demikian pula mereka melihatnya pada saat yang berbahagia, ketika umat ini keluar untuk berperang. Akibatnya adalah kerugian dan kehinaan yang tidak akan dicabut oleh Allah sehingga ia bertaubat kepada Tuhan dan agamanya. Ketika itu orang orang Mukmin yang ikhlas sangat gembira dengan pertolongan Allah. Bukankah pertlolongan Allah itu dekat.

5 Balasan ke Bahaya Riya’

  1. Hamba Allah mengatakan:

    Assalamualaikum, boleh nih ana copy

  2. bunga mengatakan:

    siapa nama mu blh knln gak

  3. dian dianich mengatakan:

    Kuereeeeen abizzzz.Moga kita semua tak terkena bahaya riya’

  4. SAIFUL HUDA mengatakan:

    ijin sharing akh

  5. El-Qolam mengatakan:

    Terima kasih banyak atas artikelnya, semoga Allah membalas kebaikan anda. Ikut melengkapi ya, ini bayaha riya yang lainnya:
    Pada hari kiamat yang pertama kali dihisab oleh Allah adalah seorang syahid (orang yang guggur di jalan Allah). Allah memanggilnya dan mengatakan akan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya. Dia pun mengakuinya, kemudian akan ditanyakan kepadanya: “Apa yang telah kamu lakukan untuk mensyukuri nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan itu? Syahid itu menjawab: “Aku berperang di jalanMu sehingga aku gugur sebagai syahid”. Maka dijawab oleh Allah: “Kamu dusta, kamu berperang agar disebut sebagai pemberani (Pahlawan), dan kamu telah memperoleh gelar seperti itu”. Maka ia diseret dengan mukanya dan dimasukan ke dalam neraka Jahannam.

    Kemudian seorang ‘alim (orang yang banyak ilmu agamanya) dipanggil. Dia juga akan diingatkan oleh Allah dengan nikmat-nikmat yang telah dikaruniakan kepadanya, dan ditanya dengan pertanyaan yang sama. Dia aakan menjawab. “Ya Allah, aku telah menggunakan nikmat-nikmat itu untuk mencari ilmu, mengajar orang lain, dan membaca Al-Quran karena Engkau”. Kemudian Allah berfirman: “Kamu dusta, kamu lakukan semua itu semata-mata untuk dipanggil sebagai ulama, dan kamu telah mendapat gelar itu”. Kemudian diperintahkan supaya dia diseret dengan mukanya dalama keadaan telungkup, dan dimasukan ke dalam neraka Jahannam.

    Kemudian seorang hartawan dipanggil ke hadapan Allah. Setelah diingatkan dengan nikmat-nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, maka dia pun mengakuinya. Sebagai jawaban dari pertanyaan itu, dia berkata: “Tidak ada satu jalan kebaikan pun yang saya tinggalkan, melainkan telah saya belanjakan harta saya di dalamnya karena Engkau”. Allah pun menjawab: “Kamu dusta, kamu lakukan semua itu agar disebut sebagai dermawan, dan kamu pun telah mendapat gelar itu”. Setelah itu ia pun diperintahkan agar diseret dengan keadaan mukanya kebawah dan dicampakkan ke dalam neraka Jahannam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: