Perbuatan yang Tidak Tergolong Riya’

Perbuatan yang Tidak Tergolong Riya’

beberapa perbuatan yang tidak tidak tergolong riya’, antara lain:

1. Pujian yang diberikan seseorang atas amal kebaikan yang dilakukan tanpa tujuan apapun dari manusia.

Ketika seseorang melakukan suatu kebaikan dengan ikhlas, kemudian Allah memujinya melalui makhluknya sementara hamba itu tidak suka dengan pujian mereka, maka kemudian ia dilapangkan dengan ciptaan Allah dan karuniaNya kepadanya. Kebahagiaannya dengan ketaatan kepada Allah, seperti dikatakan dalam Al Qur’an,

“Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus : 58)

Diriwayatkan dari Abi Dzar, ia berkata, “Wahai Rasulullah S.A.W, Bagaimana pendapatmu tentang laki laki yang melakukan suatu amal kebaikan tapi kemudian dipuji oleh manusia?” Nabi S.A.W bersabda, “Itu adalah kabar gembira bagi orang Mukmin yang disegerakan”. (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim 2642, Imam Ibnu Majjah 4225, Imam Ahmad (5/156,157,168), Imam Al Baghawi dalam kitab Syarh Sunnah 14/327-328).

Demikian pula, orang yang ikhlas itu akan menghindari dari popularitas dan tidak menyukainya, akan tetapi Allah memberikan popularitas pada dirinya, di bumi ini. Oleh karenanya, dengan karunia Allah, maka ia menjadi senang. Adapun orang yang riya’, mereka mengendarai pasukan dan perlindungan agar mendapatkan popularitas ini, bahwa dia melakukan ini. Sesungguhnya Allah mendengarnya, menghinakannya dan mengerdilkannya, seperti telah dijelaskan pada bahasan tentang “bahaya bahaya riya’ bagi umat dan individu”.

2. Aktivitas seorang hamba yang melakukan amal shalih di hadapan manusia, dan bersahabat dengan orang orang ikhlas dan shalih.

Ibnu Qudamah Al Maqdisi dalam Mukhtashar Minhaj Al Qaasidiin halaman 288 menyebutkan bahwa,

“Kadang seseorang semalaman bersama para mujtahid yang menghabiskan sebagian besar malamnya dengan shalat. biasanya ia berdiri sesaat mengikuti para mujtahid. Atau ketika para mujtahid berpuasa, ia ikut berpuasa. Kalau tanpa mujtahid, aktivitas demikian ini mungkin saja tidak akan terjadi.

Kadang orang menduga ini adalah riya’, padahal ini tidak bisa secara generalisir demikian. Akan tetapi dapat diklasifikasikan : setiap orang Mukmin yang senang beribadah kepada Allah, tetapi ada sesuatu yang menjadikannya malas atau menjadikannya lupa, acapkali dengan menyaksikan orang lain (footnote: pada mulannya begini, yang benar [kalimat al ghair] itu ghairuhu. Karena “al” tidak akan masuk pada isim mubham. Seperti ba’dun, kullun karena ia hanya akan menambah ke-mubham-an. Ia diketahui dengan idhafah. Yang demikian ini telah dilupakan oleh sebagian besar orang sekarang.) menyebabkan ia teringat dan bangkit dari kemalasan. Ketika seseorang sedang berada di rumahnya, lalu merasakan tidur di kasur yang empuk dan bersenang senang dengan istrinya. Akan tetapu jika ia menginap di tempat jauh, faktor faktor semacam ini hilang dan muncullah faktor faktor yang mendorongnya untuk melakukan kebaikan, antara lain yaitu dengan menyaksikan para ahli ibadah.”

Menurut saya jika aktivitas yang dilakukan untuk menghilangkan kemalasan ini demi mencapai kenikmatan dalam dirinya, dan jika aktivitasnya agar para mujtahid menyangka bahwa ia juga banyak melakukan ibadah, maka ini akan mencelakakannya.

Peristiwa ini pada mulanya disebutkan didalam sunnah. Bahwa kemalasan seorang hamba ketika berdiri, dan kesigapannya ketika berada di depan orang banyak disebutkan dalam hadits berikut,

“Tidak ada tiga orang yang berada di desa atau gunung yang tidak menegakkan shalat, kecuali syetan akan menggiringnya. Maka hendaklah kalian berjamaah, karena serigala hanya akan memakan domba yang menjauh dari kelompoknya.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari 10/486 Al Fath, Imam Muslim 18/119 Nawawi) dari hadits Abu Hurairah R.A)

3. Menyembunyikan Dosa

Setiap Muslim hendaknya tidak mengumbar umbar dosanya, akan tetapi menyembunyikannya. Karena pembicaraan tentang maksiat akan menebarkan kejahatan diantara orang Mukmin, dan menyebabkan meremehkan batas batas yang telah ditetapkan Allah S.W.T.

Allah S.W.T berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (An Nurr : 19)

Nabi S.A.W bersabda,

“Semua umatku akan dimaafkan kecuali orang yang memamerkan kemaksiatan, sesungguhnya diantara gambaran memamerkan kemaksiatan ialah ketika seseorang melakukan suatu amal perbuatan pada waktu malam kemudian pada waktu Subuh telah ditutupi oleh Allah, dengan berfirman ‘Wahai si Fulan, Aku telah melakukan ini, ini’. Padahal semalaman Allah telah menutupi kejahatannya, namun pada waktu pagi ia membuka aib(nya) yang ditutupi Allah” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari 10/486 Al Fath, Imam Muslim 18/119 Nawawi, dari hadits Abu Hurairah R.A)

Orang menduga bahwa menyembunyikan kemaksiatan adalah riya’ dan membicarakan dosa adalah keikhlasan. Ini telah dicampuri oleh syetan. Kami berlindung kepada Allah dari segala kehinaan.

4. Memperindah Pakaian, Sandal atau Lainnya

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi S.A.W yang bersabda,

“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat dosa sekecil biji sawi seperti sombong.”

Seseorang berkata, “Ada seseorang yang suka agar pakaian dan sandalnya terlihat bagus.”
Nabi S.A.W bersabda,

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai yang indah; kesombongan adalah keangkuhan yang sesungguhnya dan (ghamth) manusia.” (Hadits diriwayatkan oleh Imam Muslim 2/89 Nawawi dan para perawi lainnya)

5.Menampakkan Syi’ar Syi’ar Islam

Islam mengandung ibadah yang tidak mungkin disembunyikan, seperti haji, umrah, shalat jum’at dan lain lain.

Seorang hamba tidak dikatakan riya’ ketika melakukannya di muka umum, karena bagian dari kewajiban seorang Muslim adalah mempublikasikan, dan mempopulerkannya. Karena seluruh praktik atau ritual ibadah di atas adalah tanda tanda Islam dan syi’ar syi’ar agama. Bahkan meninggalkannya adalah menjadikan orang berhak mendapat celaan dan cacian. Maka menyingkirkan celaan itu dapat dilakukan dengan melakukan ibadah ibadah tersebut di depat publik.

Apabila yang dilakukan adalah perbuatan sunnah, maka yang benar hendaknya dilakukan secara sembunyi sembunyi karena meninggalkannya pun tidak berakibat apa apa. Tidak ada urgensitas di sana. Apabila ia mempublikasikannya dengan maksud ada yang mengikutinya itu baik.

Akan tetapi pada riya’, tujuan mempublikasikan itu agar orang melihatnya dan memujinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: