DISUNNAHKANNYA SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH

DISUNNAHKANNYA SHALAT TARAWIH BERJAMA’AH

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
________________________________________

Masalah – 153 merupakan edisi revisi dari Masalah – 15 = Disunnahkannya Shalat Tarawih Berjama’ah, yang sudah pernah dimuat di mailing list assunnah
________________________________________

Orang yang memiliki ilmu tentang sunnah, pasti meyakini disyariatkannya shalat malam berjama’ah pada bulan Ramadhan ; yaitu shalat yang lebih dikenal sebutan shalat tarawih. Hal ini berdasarkan pada beberapa hal :
[a]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan disyari’atkannya shalat berjama’ah.
[b]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menegakkannya.
[c]. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan keutamaannya.

[a]. Adapun mengenai penetapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang disyariatkannya shalat itu, adalah berdasarkan hadist Tsa’labah bin Abdil Malik Al-Quradzi, dimana ia menuturkan : “Suatu malam dibulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah, lalu menyaksikan orang-orang tengah melaksanakan shalat di ujung masjid. Beliau lantas bertanya :”Sedang apa mereka .?” Seorang shahabat menjawab : “Ya Rasulullah, mereka itu orang-orang yang belum banyak hafal Al-Qur’an, sedang Ubay bin Ka’ab seorang Qari ; maka mereka shalat bermakmum kepadanya”. Beliau menanggapi : ” Sungguh mereka telah berbuat kebaikan”. Atau beliau bersabda : “Sungguh mereka benar, perbuatan itu sama sekali tidak dilarang”.

[Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi II : 495, dan beliau menandaskan : “Hadits ini mursal dan hasan”. Saya katakan : Hadits ini juga diriwayatkan dari jalur lain dari hadits Abu Haurairah Radhiallahu ‘anhu dengan sanad yang lumayan kalau diiringi dengan Muttabbi’ (penyerta) dan syahid (penguat). Dikeluarkan juga oleh Ibnu Nashr dalam “Qiyamu Al-Laili” (hal 90), Abu Dawud (I:217) dan Al-Baihaqi]

[b]. Sedangkan mengenai Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang juga menegakkan shalat tersebut, adalah berdasarkan beberapa hadits.

Yang pertama : Dari An-Nu’man bin Basyir Radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau berkata :

“Artinya : Kami pernah shalat bersama nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam kedua puluh tiga bulan Ramadhan hingga sepenggalan malam terakhir. Kemudian kami juga shalat bersama pada malam kedua puluh lima hingga pertengahan malam. Selanjutnya pada malam ke duapuluh tujuh kami kembali shalat berjama’ah, sampai-sampai kami menyangka bahwa kami tidak akan mendapat “Kemenangan”. Kami biasa menyebut waktu bersahur dengan “Kemenangan”. [Hadits tersebut diriwayatlkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam “Al-Mushannaf” (II:90/2). Ibnu Nashr (89), An-Nasa’i (I:238), Ahmad (IV:272) dan Al-Firyabi dalam “Ar-Rabie’ wa Al-Khamis min Kitabi Ash-Shiyam” (II:72-1 : 73) dan derajat sanadnya shahih, juga dishahihkan oleh Al-Hakim (I : 440), lalu beliau menyatakan :

“Hadits itu mengandung dalil yang gamblang bahwa shalat tarawih di masjid-masjid kaum muslimin adalah sunnah yang pasti. Ali bin Abi Thalib pernah menganjurkan Umar bin Al-Khattab untuk menghidupkan kembali sunnah ini sampai akhirnya beliau menegakkannya”.

Yang kedua : Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu menuturkan :

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat malam di bulan Ramadhan ; lalu aku datang dan shalat disamping beliau. Lantas manusia berdatangan satu demi satu sehingga kami berjumlah beberapa orang (beberapa orang yang dimaksud disini tidak sampai sepuluh orang). Tatkala beliau mengetahui bahwa kami ada dibelakangnya, beliau segera meringankan shalatnya, lalu beliau masuk ke rumahnya. Ketika beliau sudah berada di dalam rumah, beliaupun shalat namun tidak sebagaimana ketika beliau mengimami kami. Setelah datang waktu pagi, kamipun bertanya :”Ya Rasulullah, apakah engkau mengetahui kehadiran kami tadi malam?” Beliau menjawab :”Ya, itulah yang membuat aku melakukan hal sebagaimana yang kalian saksikan”. [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (III : 199,212,291), Ibnu Nashar (89) dengan dua jalur sanad yang shahih, dan Ath-Thabari dalam “Al-Ausath” dengan lafazh yang mirip ; sebagaimana juga beliau riwayatkan dalam “Al-Jama'” (III : 173). Saya mengira juga ada dalam Shahih Muslim ; bisa diperiksa kembali]
Yang ketiga : Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha bahwa ia menuturkan :

“Dahulu manusia shalat di masjid Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam di malam bulan Ramadhan dengan berpencar-prncar (yakni dengan berimam sendiri-sendiri). Seorang yang banyak hapal Al-Qur’an, mengimami lima sampai enam orang, atau bisa jadi lebih atau kurang. Masing-masing kelompok shalat bersama imamnya. lalu Rasulullah menyuruhku untuk memasang[1] tikar di depan pintu kamarku (pintu itulah yang membatasi rumah beliau dengan masjid ,-pent).

Akupun melakukan perintahnya. Sesuai melakukan shalat ‘Isya di akhir waktu, beliau keluar kemuka kamar itu. ‘Aisyah melanjutkan ceritanya : Manusia yang kala itu ada di masjidpun lantas berkumpul ke arah beliau. Lalu beliau mengimami mereka shalat sepanjang malam. Kemudian orang-orang bubar, dan beliaupun masuk rumah. Beliau membiarkan tikar tersebut dalam keadaan terbentang. Tatkala datang waktu pagi, mereka memperbincangkan shalat yang dilakukan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang-orang yang ada pada malam itu (maka berkumpullah manusia lebih banyak lagi) dari sebelumnya. Sehingga akhirnya masjid menjadi bising (karena banyaknya orang -“Al-Bidayah An-Nihayah”). Pada malam ke dua itu, Nabi Shalalllahu ‘alaihi wa sallam kembali shalat bersama mereka. Maka di pagi harinya, orang kembali memperbincangkan hal itu, sehingga orang yang berkumpulpun bertambah banyak lagi (pada malam ketiga) sampai masjid menjadi penuh sesak. Rasul-pun keluar dan shalat mengimami mereka. Dimalam yang keempat, disaat masjid tak dapat lagi menampung penghuninya ; Rasulullah-pun keluar untuk mengimami mereka shalat ‘Isya dipenghujung waktu. Lantas (pada malam itu juga) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumahnya, sedangkan manusia tetap menunggunya di masjid”. ‘Aisyah lalu menuturkan : “Rasulullah bertanya kepadaku :”Orang-orang itu sedang apa ya ‘Aisyah ?” Saya pun menjawab : “Wahai Rasulullah, orang-orang itu sudah mendengar tentang shalatmu tadi malam bersama orang-orang yang ada di masjid ; maka dari itu mereka berbondong memenuhi masjid untuk ikut shalat bersamamu”. Lalu ‘Aisyah melanjutkan kisahnya : “Beliau lantas memerintahkan :”Tolong lipat kembali tikarmu, wahai ‘Aisyah !”. Akupun lantas melakukan apa yang beliau perintahkan. Malam itu, beliau berdiam di rumah tanpa tidur sekejappun. Sedangkan orang-orang itu tetap menunggu ditempat mereka. (Sebagian di antara mereka sampai berkata : Shalat, shalat !). Hingga datang pagi, barulah Rasulullah keluar. Seusai melaksanakan shalat subuh, beliau menghadap kearah para sahabatnya [2] dan bersabda :

“Wahai manusia, sungguh demi Allah, aku sama sekali tidak tertidur tadi malam. Akupun tahu apa yang kalian lakukan. Namun (aku tidak keluar untuk shalat bersama kalian) karena aku khawatir shalat itu menjadi wajib atas diri kalian. [ Dalam suatu riwayat disebutkan : Namun aku khawatir kalau shalat itu akhirnya menjadi wajib atas diri kalian sehingga kalian tak sanggup melakukannya] Bebankanlah diri kalian dengan amal perbuatan yang kalian sanggup melakukannya. Sesungguhnya Allah tak akan bosan, meskipun kamu sendiri sudah bosan”.

Dalam riwayat yang lain ditambahkan : Imam Az-Zuhri mengatakan :”Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, manusia tetap menjalani kebiasaan itu (yaitu berjama’ah shalat tarawih, namun tidak setiap hari, -pent). Demikian juga pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan awal-awal masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab Radhiallahu ‘ahuma [3].

Saya menyatakan : Bahwa hadits-hadits ini semua menunjukkan dengan gamblang, tentang disyari’atkannya shalat tarawih dengan berjama’ah. Karena kesinambungan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat tersebut berjama’ah selama beberapa malam. Adapaun Nabi yang meninggalkan shalat tarawih tadi dengan berjama’ah pada malam yang keempat (setelah beliau memulainya) sebagaimana disebut dalam hadits tadi, itu tidaklah bertentangan. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menerangkan alasannya dengan sabda beliau : “sesungguhnya aku khawatir tarawih itu menjadi wajib atas dirimu “. Dan tidak diragukan lagi. bahwa kekhawatiran Nabi tadi sudah hilang dengan meninggalnya beliau. Karena syari’at Allah yang beliau sampaikan telah sempurna (artinya tak akan lagi muncul hukum baru). Dengan demikian, berarti alasan beliau itupun sudah tidak berlaku lagi, yakni meninggalkan jama’ah shalat tersebut. Sehingga kembalilah hukum semula, yaitu disyari’atkannya shalat itu dengan berjama’ah. Oleh sebab itu, Umar bin Al-Khattab-pun kembali menghidupkan sunnah tersebut sebagaimana telah disebutkan, dan akan kembali disebutkan nanti. itulah yang menjadi pegangan sebagian besar ulama.

Yang keempat : Dari Hudzaifah bin Al-Yaman, bahwa beliau menuturkan :

“Suatu malam di bulan Ramadhan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat disebuah kamar yang berlantaikan pelepah kurma. Beliau lalu mengguyur lantai tersebut dengan seember air. Kemudian beliau berdoa (diawal shalat) : ” Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Dzal Malakuti wal Jabaruti wal Kibriya’i wal ‘Adzamah ” . Kemudian beliau membaca (seusai Al-Fatihah, pent) surat Al-Baqarah. Lalu beliau ruku’, dan panjang ruku’nya itu seperti kala beliau berdiri. Didalam ruku’nya beliau membaca : “Subhana Rabiyal ‘Azhim; Subhana Rabiyal ‘Azhim [sepanjang kala beliau berdiri], kemudian beliau mengangkat kepalanya (setelah ruku) lalu berdiri yang lamanya sama seperti diwaktu beliau ruku’ dan beliau mengucapkan ; Lirabbiyal hamdu. Kemudian langsung sujud. Dan sujud beliau itu sama panjangnya dengan kala beliau berdiri (yakni berdiri sesudah ruku’). Pada waktu sujud beliau membaca : “Subhana Rabbiyal A’la”. Setelah itu beliau mengangkat kepalanya dari sujud, lalu duduk. Pada waktu duduk diantara dua sujud itu beliau membaca : “Rabbighfirlii, Rabbighfirlii ” Beliau duduk sama panjangnya dengan ketika beliau sujud. Kemudian beliau kembali sujud, dan membaca : “Subhana Rabiyal A’la “, juga sama panjangnya dengan kala beliau berdiri. Beliau melakukan shalat itu empat raka’at. Dalam shalat itu beliau membaca Al-Baqarah, Ali-Imran, An-Nisaa, Al-Maidah, dan Al-An’am sehingga datang bilal untuk mengumandangkan adzan. [4]

[c]. Adapun penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang keutamaan shalat tarawih, adalah berdasarkan hadits Abu Dzar Al-Ghifari Radhiallahu ‘anhu.
“Kami shaum Ramadhan bersama Rasulullah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan qiyamullail berjama’ah bersama kami, hingga hitungan puasa tinggal tujuh hari (malam keduapuluh tiga), maka Rasulullah mengajak kami untuk qiyamullail berjama’ah hingga berlalu sepertiga malam, lalu beliau tidak menegakkannya lagi ketika Ramadhan sisa enam hari (malam keduapuluh empat) dan berjama’ah kembali ketika sisa lima hari (malam keduapuluh lima) sampai berlalu pertengahan malam, kamipun lantas bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah tak sebaiknya engkau sisakan sebagian malam ini agar kami shalat sendiri ?” Beliaupun menjawab : “Sesunguhnya, barangsiapa yang shalat bersama imam hingga selesai shalat, ia akan mendapatkan ganjaran shalat semalam suntuk ” Demikian juga yang disebutkan oleh Ibhu Nashr (hal 90) dari Imam Ahmad. Kemudian Abu Dawud melanjutkan kisahnya : “Imam Ahmad juga pernah ditanya dan saya mendengarnya sendiri : “Bagaimana kalau seorang itu mengakhirkan waktu shalatnya (pada waktu yang paling utama) ? Dia menjawab : “Tidak baik, termasuk sunnah kaum muslimin adalah shalat berjama’ah, hal itu lebih aku sukai” [5]
________________________________________

Disalin dari buku Shalati At-Tarawih, edisi Indonesia Shalat Tarawih penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tibyan, hal. 18 – 28, penerjrmah Abu Umar Basyir Al-Maidani
________________________________________
Foote Note.

1. Yang dimaksud disini menaruh/membentangkannya. Dalam “Lisanul Arab”, kata Nashab (memasang), bisa berati menaruh atau mengangkat. Makna pertama itulah yang nampaknya lebih sesuai disini. Maksudnya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan ‘Aisyah untuk meletakkan tikar di muka pintu kamarnya (masih didalam kamar) agar beliau bisa shalat disitu. Bisa juga yang dimaksud adalah yang kedua, yakni agar ‘Aisyah mengangkat tikar yang ada ke depan pintu kamar (di masjid). Hal itu dikuatkan dengan riwayat Zaid bin Tsabit : “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan satu kamar didekat masjid yang bertikar dan shalat beberapa malam di sana. Sehingga (pada tiap malamnya) manusia berkumpul shalat bermakmum kepada beliau …” [Diriwayatkan oleh Muslim II:188] dan yan lainnya.

2. Yang dimaksud dengan mengucapkan syahadat disini menurut anggapan saya adalah mengucapkan Khutbatul Hajah yang sudah tercakup didalamnya syahadat. Kami telah menjelaskan hal itu dalam mukaddimah tulisan kami yang pertama. Bahkan (pembahasan) itu telah dicetak secara terpisah.

3. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari III : 8-10, IV : 203, 205. Muslim II : 177-178, 188-189. Abu Dawud I : 217. An-Nasa’i I : 238. Al-Firyabi dalam “Ash-Shiyam” 73 : II. 74 : I – 75 : I dan Ibnu Nashr serta Ahmad VI : 61, 169, 177, 182, 232, 267. Dan ini adalah lafazh hadits mereka berdua. Sedangkan arti ucapan beliau : “Mereka tetap melakukan kebiasaan itu”. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengomentari : “Yaitu meninggalkan jama’ah shalat tarawih”. Saya (Al-Albani) mengatakan : “Yang lebih sesuai, bahwa mereka melanjutkan kebiasaan shalat dengan berpencar-pencar dengan beberapa imam, sebagaimana dapat dipahami dari awal hadits. Nanti akan disebutkan hadits tentang Umar Radhiallahu ‘anhu yang menghidupkan kembali sunnah Nabi tadi ; dimana riwayat itu menguatkan pendapat ini.

4. Yang dimaksud adalah adzan shalat subuh. Hadits itu diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah II/90/2, Ibnu Nashr hal. 89-90.An-Nasa’i I : 246 dan Ahmad V : 400, dari jalan Thalhah bin Yazid Al-Ashari, dari Hudzaifah. Masing-masing jalan saling melengkapi. Tirmidzi juga meriwayatkan darinya I : 303, Ibnu Majah I : 290 dan Al-Hakim I : 271 ; yakni bacaan antara dua sujud, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. Para perawinya terpercaya, akan tetapi Imam An-Nasa’i memandang hadits itu memiliki cacat tersembunyi. Beliau mengatakan : Hadits itu Mursal ; dan Thalhah bin Yazid sepanjang yang saya ketahui ia tak pernah mendengar hadits dari Hudzaifah ; Saya katakan : “Riwayat itu disambungkan oleh Amru bin Murrah dari Abu Hamzah –yakni Thalhah bin Yazid– seorang lelaki dari kota Abas. Syu’bah beranggapan bahwa ia (lelaki itu) adalah Shilah bin Zufar, dari Hudzaifah. ‘Dikeluarkan juga oleh Abu Dawud I : 139-140. An-Nsa’i I : 172. Ath-Thahawi dalam “Muskilu Al-Atsar” I : 308. Ath-Thayalisi I : 115. Al-Baihaqi II : 121-122. Ahmad V/398 dan Al-Baghawi dalam hadits Amir bin Al-Ja’ad I : 4/2 dari Syu’bah bin Amru, dan derajat sanadnya shahih. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim II : 186 dari jalur Al-Mustaurid bin Al-Ahnaf, dari Shilah bin Zufar, dengan lafazh yang mirip namun ada penambahan dan pengurangan, bahkan terkadang sebagiannya tidak sama.

5. Yakni berjama’ah dalam shalat tarawih itu meski di awal waktu, tetap lebh baik menurut pandangan beliau diabandingkan dengan shalat sendirian meskipun akhir malam. Padahal shalat malam diakhir waktu memiliki keutamaan tersendiri. Namun shalat berjama’ah tetap lebih utama. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegakkan shalat berjama’ah itu pada malam-malam yang telah disebutkan. Dimana beliau menghidupkan malam-malam itu di masjid bersama manusia, sebagaimana juga telah dikisahkan dalam hadits : “Aisyah dan yang lainnya. Maka dari itu, kaum muslimin masih terus melaksanakannya semenjak zaman Umar hingga hari ini.
________________________________________

NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

TIDAK PERNAH SHALAT TARAWIH MELEBIHI SEBELAS RAKA’AT

Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
________________________________________

Masalah – 154 merupakan edisi revisi dari Masalah – 16 = Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam Tidak Pernah Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at, yang sudah pernah dimuat di mailing list assunnah.
________________________________________

Setelah kita menetapkan, disyariatkannya berjama’ah dalam shalat tarawih berdasarkan ketetapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, perbuatan beliau dan juga anjurannya ; Maka sudah seharusnya kami jelaskan juga beberapa jumlah raka’at yang dilaksanakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada malam-malam yang beliau hidupkan bersama para sahabat. Dan perlu diketahui, bahwa dalam hal ini kami memiliki dua dalil.

Yang pertama : Dari Abi Salamah bin Abdir-Rahman, bahwasanya ia pernah bertanya kepada ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha tentang bagaimana shalat Rasulullah Shallallahu ‘alihi wa sallam di bulan Ramadhan ? Beliau menjawab : “Baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat malam melebihi sebelas raka’at[1] . Beliau shalat empat raka’at[2] ; jangan tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat lagi empat raka’at, jangan juga tanya soal bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat (witir) tiga raka’at.

Hadits tersebut diatas, diriwayatkan oleh Al-Bukhari (III : 25, IV : 205), Muslim (II : 166), Abu ‘Uwanah (II : 327), Abu Dawud (I : 210), At-Tirmidzi (II : 302-303 cetakan Ahmad Syakir), An-Nasa’i (I : 248), Malik (I : 134), Al-Baihaqi (II : 495-496) dan Ahmad (VI : 36,73, 104).

Yang kedua : Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘anhu bahwa beliau menuturkan : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu menjadi wajib atas dirimu”. [Diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 90), Ath-Thabrani dalam “Al-Mu’jamu Ash-Shagir” (hal 108). Dengan hadits yang sebelumnya, derajatnya hadist ini hasan. Dalam “Fathul Bari” demikian juga dalam “At-Talkhish” Al-Hafizh Ibnu Hajar mengisyaratkan bahwa hadits itu shahih, Namun beliau menyandarkan hadits itu kepada Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah masing-masing dalam Shahih-nya].

Hadits Tarawih Dua Puluh Raka’at Dha’if Sekali dan Tidak Dapat Dijadikan Hujjah Untuk Beramal

Dalam “Fathul Bari” (IV : 205-206) Ibnu Hajar ketika menjelaskan hadits yang pertama, beliau menyatakan : “Adapun yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari hadits Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di bulan Ramadhan dua puluh raka’at ditambah witir, sanad hadist ini adalah dha’if. Hadits ‘Aisyah yang disebut dalam shahih Al-Bukhari dan Muslim ini juga bertentangan dengan hadits itu, padahal ‘Aisyah sendiri lebih mengetahui seluk beluk kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada waktu malam daripada yang lainnya”. Pendapat serupa juga telah lebih dahulu diungkapkan oleh Az-Zailai’ dalam “Nashbu ar-Rayah” (II : 153).

Saya mengatakan : “Hadits Ibnu Abbas ini dha’if sekali, sebagaimana dinyatakan oleh As-Suyuthi dalam “Al-Hawi Lil Fatawa” (II : 73). Adapun cacat hadits itu yang tersembunyi, adanya perawi bernama Abu Syaibah Ibrahim bin Utsman. Al-Hafizh dalam “At-Taqrib” menyatakan : “Haditsnya matruk (perawinya dituduh pendusta)”. Aku telah menyelidiki sumber-sumber pengambilan hadits itu, namun yang aku temui cuma jalannya. Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya dalam “Al-Mushannaf ” (II : 90/2), Abdu bin Hamid dalam “Al-Muntakhab Minal Musnad” (43 : 1-2), Ath-Thabarani dalam “Al-Mu’jamu Al-Kabir” (III : 148/2) dan juga dalam “Al-Ausath” serta dalam “Al-Muntaqa” (edisi tersaring) dari kitab itu, oleh Adz-Dzahabi (II : 3), atau dalam “Al-Jam’u” (rangkuman) Al-Mu’jam Ash-Shaghir dalam Al-Kabir oleh penulis lain (119 : I), Ibnu ‘Adiy dalam “Al-Kamil” (I : 2), Al-Khatib dalam “Al-Muwaddhih” (I : 219) dan Al-Baihaqi dalam “Sunan”-nya (II : 496). Seluruhnya dari jalur Ibrahim (yang tersebut) tadi, dari Al-Hakam, dari Muqsim, dari Ibnu Abbas hanya melalui jalan ini”. Imam Al-Baihaqi juga menyatakan : “Hadits ini hanya diriwayatkan melalui Abu Syaibah, sedangkan ia perawi dha’if “. Demikian juga yang dinyatakan oleh Al-Haitsami dalam “Majmu’ Az-Zawaid” (III : 172) bahwa ia perawi yang dha’if. Kenyataannya, ia malah perawi yang dha’if sekali, seperti diisyaratkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar tadi bahwa ia Matrukul hadits (ditinggal haditsnya karena dituduh berdusta). Inilah yang benar, seperti juga dinyatakan oleh Ibnu Ma’in : “Ia sama sekali tak bisa dipercaya”. Al-Jauzajani menyatakan : “Jatuh martabatnya” (celaan yang keras). Bahkan Syu’bah menganggapnya berdusta dalam satu kisah. Imam Al-Bukhari berkomentar :”Dia tak dianggap para ulama”. Padahal Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan dalam “Ikhti-shar ‘Ulumi Al-Hadits” (hal 118) :”Orang yang dikomentari oleh Al-Bukhari dengan ucapan beliau seperti tadi, berarti sudah terkena celaan yang paling keras dan buruk, menurut versi beliau”. Oleh sebab itu, saya menganggap hadits ini dalam kategori Hadits Maudhu’ alias palsu. Disebabkan (disamping kelemahannya) ia bertentangan dengan hadits ‘Aisyah dan Jabir yang terdahulu sebagaimana tadi diungkapkan oleh Al-Hafizh Az-Zaila’i dan Al-Asqalani. Imam Al-Hafidz Adz-Dzahabi juga memaparkan hadits-haditsnya yang munkar. Al-Faqih Ibnu Hajar Al-Haitami menyatakan dalam “Al-Fatawa Al-Kubra” (I : 195) setelah beliau menyebutkan hadits ini.

“Hadits ini sungguh amat dha’if ; para ulama telah bersikap keras terhadap salah seorang perawinya, dengan celaan dan hinaan. Diantara bentuk celaan dan hinaan itu (dalam kaedah ilmu hadits) : Ia perawi hadits-hadits palsu, seperti hadits yang berbunyi : “Umat ini hanya akan binasa di Aadzar (nama tempat) ” juga hadits : “Kiamat itu hanya akan terjadi di Aadzar “. Hadits-hadistnya yang berkenaan dengan masalah tarawih ini tergolong jenis hadits-hadits munkarnya. Imam As-Subki itu sendiri menjelaskan bahwa (diantara) persyaratan hadist dha’if untuk dapat diamalkan adalah ; hadits itu tak terlalu lemah sekali. Imam Adz-Dzahabi menyatakan : “orang yang dianggap berdusta oleh orang semisal Syu’bah, tak perlu ditoleh lagi haditsnya”.

Saya mengatakan : “Apa yang dinukil beliau dari As-Subki itu mengandung isyarat lembut dari Al-Haitami bahwa beliau sendiri tak sependapat dengan mereka yang mengamalkan hadits tentang shalat tarawih 20 raka’at itu, simaklah”.

Kemudian, setelah beliau menyebutkan hadits Jabir dari riwayat Ibnu Hibban, Imam As-Suyuthi berkomentar : “Kesimpulannya, riwayat tarawih 20 raka’at itu tak ada yang shahih dari perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa yang tersebut dalam riwayat Ibnu Hibban merupakan klimaks apa yang menjadi pendapat kami, karena (sebelumnya) kami telah berpegang dengan apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha, yaitu : Bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik dalam bulan Ramadhan maupun dalam bulan lainnya tak pernah shalat malam melebihi 11 raka’at. Kedua hadits itu (Hadits Riwayat Ibnu Hibban dan Al-Bukhari) selaras, karena disebutkan disitu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat delapan raka’at, lalu menutupnya dengan witir tiga raka’at, sehingga berjumlah 11 raka’at. Satu hal lagi yang menjadi dalil, bahwa Nabi apabila mengamalkan satu amalan, beliau selalu melestarikannya. Sebagaimana beliau selalu meng-qadha shalat sunnah Dhuhur sesudah Ashar ; padahal shalat waktu itu pada asalnya haram. Seandainya beliau telah mengamalkan shalat tarawih 20 raka’at itu, tentu beliau akan mengulanginya. Kalau sudah begitu, tak mungkin ‘Aisyah tidak mengetahui hal itu, sehingga ia membuat pernyataan seperti tersebut tadi”.

Saya mengatakan : “Ucapannya itu mengandung isyarat yang kuat bahwa beliau lebih memilih sebelas raka’at dan menolak riwayat yang 20 raka’at dari Ibnu Abbas karena terlalu lemah, coba renungkan”.

________________________________________

Disalin dari buku Shalatu At-Tarawih, edisi Indonesia Shalat Tarawih, Penyusun Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka At-Tibyan hal. 28 – 36 Penerjemah Abu Umar Basyir Al-Maidani
________________________________________
Foote Noote

1. Dalam riwayat Ibnu Abi Syaibah (II/116/1), Muslim dan lain-lain : “Shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan yang lain adalah tiga belas raka’at. Diantaranya dua raka’at fajar”. Namun dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Imam Malik (I : 142), juga oleh Al-Bukhari (III : 35) dan lain-lain, diceritakan bahwa ‘Aisyah menuturkan :”Beliau shalat pada waktu malam tiga belas raka’at. Lalu bila datang adzan subuh memanggil, beliau shalat dua raka’at yang ringan”. Al-Hafidzh Ibnu Hajar mengatakan : “Pada dzahirnya, hadits itu nampakl bertentangan dengan hadits terdahulu. Bisa jadi, ‘Aisyah menggabungkan dengan dua raka’at shalat sesudah Isya, karena beliau memang melakukannya di rumah. Atau mungkin juga dengan dua raka’at yang dilakukan Nabi sebagai pembuka shalat malam. Karena dalam hadits shahih riwayat Muslim disebutkan bahwa beliau memang memulai shalat malam dengan dua raka’at ringan. Dan yang kedua ini lebih kuat, menurut hemat saya. Karena Abu Salamah yang mengkisahkan kriteria shalat beliau yang tak melebihi 11 raka’at dengan empat-empat plus tiga raka’at, hal itu jelas belum mencakup dua raka’at ringan (pembuka) tadi, dua raka’at itulah yang tercakup dalam riwayat Imam Malik. Sedangkan tambahan matan hadits dari seorang hafizh (seperti Malik) bisa diterima. Pendapat ini lebih dikuatkan lagi dengan apa yang tertera pada riwayat Ahmad dan Abu Dawud dari jalur riwayat Abdullah bin Abi Qais dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘anha dengan lafazh : “Beliau melakukan witir tiga raka’at setelah shalat empat raka’at ; atau tiga setelah sepuluh. Dan beliau belum pernah berwitir -plus shalat malamnya- labih dari tiga belas raka’at. Dan juga tidak pernah kurang -bersama shalat malamnya- dari tujuh raka’at. Inilah riwayat paling shahih yang berhasil saya dapatkan dalam masalah itu. Dengan demikian, perselisihan seputar hadits ‘Aisyah itu dapat disatukan”.

Saya mengatakan : Adapun hadits Ibnu Abi Qais ini akan kembali disebutkan Insya Allah dalam bahasan “Dibolehkannya shalat malam kurang dari 11 raka’at (hal 81).

Penyelesaian yang dikemukakan oleh Ibnu hajar itu ditopang oleh riwayat Imam Malik yang secara lebih rinci menyebutkan dua raka’at ringan tersebut ; yaitu dari jalur hadits Zaid bin Khalid Al-Juhani bahwasanya ia berkata : “Aku betul-betul berhasrat menyelidiki shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam. Beliau shalat terlebih dahulu dua raka’at ringan. Kemudian beliau shalat dua raka’at panjang, lalu dua raka’at panjang, lalu dua raka’at panjang. Dua raka’at yang kedua tidak sepanjang yang pertama. Demikian juga yang ketiga tak sepanjang yang kedua. Yang keempat juga tak sepanjang yang ketiga. Setelah itu beliau menutup dengan witir. Semuanya berjumlah tiga belas raka’at.

[Diriwayatkan oleh Imam Malik (I:143-144), Muslim (II:183), Abu ‘Uwanah (II:319) Abu Dawud (I:215) dan Ibnu Nashar (hal.48]

Menurut hemat saya, ada kemungkinan dua raka’at disitu adalah shalat sunnah sesudah Isya. Bahkan itulah yang nampak (berdasarkan hukum) secara zhahir. Karena saya belum mendapatkan satu haditspun yang menyebutkan dua raka’at itu berseiringan dengan penyebutan raka’at yang tiga belas. Bahkan sebaliknya, saya justru mendapatkan riwayat yang menopang apa yang saya perkirakan. Yaitu hadits Jabir bin Abdullah, dimana beliau menyampaikan :”Dahulu kami bersama-sama beranjak dengan Rasulullah dari Hudaibiyyah. Tatkala kami sampai di Suqya (yaitu perkampungan antara Mekkah dan Madinah), tiba-tiba beliau berhenti -dan jabir kala itu disampingnya- lalu melakukan shalat isya’ kemudian setelah itu beliau shalat tiga belas raka’at” (hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Nashar (hal 48). Hadits ini juga sebagai nash yang jelas, bahwa shalat sunnah ‘Isya termasuk hitungan yang tiga belas tadi. Seluruh perawi hadits tersebut tsiqah (terpercaya), selain Syurahbil bin Sa’ad. Dia memiliki kelemahan.

2. Yakni dengan satu kali salam. Imam Nawawi dalam ”Syarhu Muslim” menyebutkan :”Hadits ini menunjukkan bolehnya shalat dengan hitungan itu. Adapun yang dikenal dari perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan beliau memerintahkan, yaitu agar shalat malam itu dibuat dua-dua (raka’at).

Saya mengatakan : Yang dinyatakan oleh beliau itu sungguh benar adanya. Adapun pendapat madzhab Syafi’iyyah bahwa (Wajib kita bersalam pada setiap dua raka’at. Barangsiapa yang melakukannya dengan satu salam, maka tidak shah) sebagaimana tersebut dalam “Al-Fiqhu Ala Al-Madzahibi Al-Arba’ah” (I: 298) dan juga dalam “Syarhu Al-Qasthalani” Terhadap shahih Al-Bukhari (V : 4) dan lain-lain, pendapat itu jelas bertentangan dengan hadits shahih ini dan juga bersebrangan dengan pernyataan Imam An-Nawawi yang menyatakan dibolehkannya cara itu. Padahal beliau termasuk ulama besar dan alhi tahqiq (peneliti) dari kalangan Syafi’iyyah. maka jelas tak ada alasan bagi seseorang untuk menfatwakan hal yang sebaliknya.!
________________________________________

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: