Sang Pahlawan Pemberani

Sang Pahlawan Pemberani

Abul Hasan As Sarri As Saqathi Rahimahullah menyatakan :

“Ada lima yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka ia adalah pahlawan pemberani : konsekuen terhadap syari’at Allah, tanpa menyimpang sedikitpun, bersungguh sungguh tanpa pernah alpa, selalu waspada tanpa pernah lengah, selalu mengingat Allah di tengah keramaian atau dalam kesendirian tanpa sikap riya, dan selalu mengingat mati dengan bersiap siap menyongsongnya”

***

Itulah hakikat kepahlawanan dan keberanian sejati di medan peperangan paling menyulitkan yang dihadapi oleh seorang manusia, yakni berperang melawan hawa nafsu dan membawanya untuk konsekuen, untuk bersikap jujur dan bersiap siap melakukan perjalanan panjang.

Itulah kepahlawanan yang didasari tekad yang benar, keinginan yang dapat dipercaya dan pengetahuan yang sempurna untuk meniti jalan yang lurus. Namuin siapakah yang mampu memiliki semua karakter itu dengan sempurna? Dan mampu menerima segala konsekuensi dari seluruh sikap tersebut?

Kesemuanya itu hanya mampu diterapkan oleh kaum beriman yang penuh keyakinan, yang mengetahui tanggungjawab, yang sudah diperhitungkan segala konsekuensinya. Mereka adalah orang orang yang berjihad untuk mencapai derajat tinggi tersebut. Mereka menyadari bahwa manusia itu diciptakan untuk menghadapi cobaan agar terlihat logam mulai yang terkandung dalam dirinya melaui tingkah lakunya dan sikapnya menghadapi kehidupan ini.

Namun kita harus mencermati berbagai persyaratan yang dijelaskan oleh “As-Siiri” Rahimahullah untuk melakukan berbagai kewajiban tersebut agar dapat direalisasikan sikap kepahlawanan sempurna.

Beliau menggambarkan bahwa sikap konsekuensi dalam ajaran Allah adalah “yang tidak mengalami penyimpangan.” Betapa jelinya penggambaran itu dan betapa jelas indikasinya terhadap sikap konsekuen yang dapat menyelamatkan pelakunya. Orang orang yang betul betul konsekuen dalam ajaran Allah memang tidak akan menyimpang sedikitpun, tidak akan bersikap plin plan dalam tingkah laku dan tidak akan mengotori diri mereka dengan melakukan berbagai pelanggaran dengan alas an dan penakwilan yang batil.

Beliau juga menggambarkan sikap sungguh sungguh tanpa pernah alpa. Artinya adalah sikap telaten yang berkesinambungan dan sikap sungguh sungguh menjadi kebiasaan bagi pelakunya, menjadi tabiat baginya. Itu merupakan peringatan terhadap semangat yang diiringi dengan rasa malas dan sikap meledak ledak yang kemudian berubah menjadi melempem.

Kemudian beliau menggambarkan sikap waspada yang terlepas dari kelengahan. Beliau juga menggambarkan kewajiban ingat kepada Allah yang tidak disertai dengan sikap riya’. Semua sifat sifat itu belumlah sempurna, masih ada satu sifat lagi yang harus selalu ada dan tidak boleh terpisah dari diri seorang mukmin yang bersifat pahlawan, yakni selalu ingat mati, bersiap siap dan mempersiapkan bekal menghadapinya.

Oleh sebab itu, orang yang telah menggabungkan dalam dirinya seluruh sifat sifat yang lima di atas, berhak mendapatkan gelar sebagai pahlawan pemberani. Karena itu sebuah kepahlawanan yang mahal harganya, sebuah keberanian dalam keinginan dan kekuatan tekad, kewaspadaan hati dan pikiran. Bukan sekedar kepahlawanan lahiriah yang bisa dicapai oleh pelakunya dengan melatih otot dan semangat tinggi saja.

Kalau kita mau mencari orang yang berhak mendapatkan gelar yang tinggi ini dalam masyarakat Islam sekarang, berapa banyak yang bisa kita dapati ???

Jawaban dari pertanyaan itu dapat dijelaskan hakikat dari problematika dunia Islam saat sekarang ini ! sudah terlalu banyak unsur unsur kepribadian Islam yang telah hilang. Karena kepribadian itu hanya bisa diciptakan oleh aqidah Islam, ibadah, akhlak dan pengarahan ajaran Islam.

Kepahlawanan yang ada hanyalah kepahlawanan lahiriah semata, bukan kepahlawanan hati, intelektualitas dan cita cita. Padahal tidak ada yang menghalangi kedua bentuk kepahlawanan itu untuk muncul bersamaan. Karena Islam memberi perhatian terhadap persoalan jasmani sebagaimana Islam memberi perhatian pada persoalan rohani. Islam juga menganjurkan seorang muslim untuk kuat, sebagaimana Islam mengajurkan kekhusyu’an di hadapan Allah Rabb dari sekalian makhluk.

Hai para pendidilk dan pengajar, para instruktur dan para pemerhati berbagai problematika masyarakat Islam modern ! Carilah solusi untuk memunculkan kembali perlombaan kepahlawanan yang sesungguhnya. Beritahukan syarat syaratnya secara sempurna kepada kawula muda. Seorang Tabi’in yang ahli ibadah lagi zuhud dan ahli fakir ini telah memberi kemudahan kepada kalian. Ia merangkum semua syarat syarat itu dalam beberapa baris kata di atas.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: