Apakah Kau Kira Mereka Lebih Khusyu’ Daripada Abu Bakar dan Umar ??

Apakah Kau Kira Mereka Lebih Khusyu’ Daripada Abu Bakar dan Umar ??

Seorang tabi’in yang agung bernama Amir bin Abdillah bin Zubair belajar dari ayahnya Abdullah bin Zubair Radhiyalluhu’Anhu. Pada suatu hari Amir terlambat pulang ke rumah lalu ayahnya bertanya :”Kemana saja kamu, wahai Amir?”

Ia menjawab :”Saya melihat suatu kaum yang tidak ada yang lebih baik daripada mereka, mereka berdzikir kepada Allah Ta’ala salah satu di antara mereka gemetar kemudian pingsan karena takut kepada Allah!”

Lalu ayahnya berkata :”Janganlah kamu duduk bersama mereka lagi, wahai Amir!”

Kemudian Amir bertanya :”Mengapa ? Bukankah mereka adalah suatu kaum yang takut kepada Allah?”

Bapaknya menjawab :”Sungguh saya telah melihat bagaimana Rasulullah S.A.W membaca Al Qur’an, dan aku melihat pula Abu Bakar Radhiyalluhu’Anhu dan Umar Radhiyalluhu’Anhu membaca Al Qur’an, namun tidak sampai mengalami sebagaimana orang orang yang kamu ceritakan itu, lalu apakah kau kira mereka (kaum itu) lebih khusyu’ daripada Abu Bakar dan Umar?”

****

Penulis mendapatkan kisah tersebut dalam biografi tabi’in yang zuhud dan ahli ibadah ini. Beliau belajar kepada ayahnya, seorang shahabat yang agung Abdullah bin Zubair, yang merupakan putra shahabat yang agung pula, yakni Zubair bin Awwam, maka petunjuknya sesuai dengan petunjuk Nabi S.A.W. melihat dalam riwayat ini terdapat solusi dari problem berupa ghuluw (melampaui batas) dan sikap ekstrim yang banyak menimpa kaum muda yang tengah bersemangat, sekalipun dengan niat baik dan menginginkan kebaikan, akan tetapi mereka salah salam menempuh cara/jalan (manhaj). Sehingga mereka tidak mendapatkan kebaikan dan target yang mereka kehendaki.

Abdullah bin Zubair bertanya kepada anaknya Amir atas keterlambatan pulang ke rumah, itu merupakan hak baginya dan bahkan kewajiban bapak terhadap anaknya. Bukan berarti beliau merampas kemerdekaan anak atau mengekangnya, bahkan hal itu merupakan wujud penjagaan dan perhatian seorang ayah dan bagian dari tarbiyah yang baik.

Sungguh buruk sekali pendidikan yang mengklaim memberikan kemerdekaan kepada anak sepenuhnya tanpa adanya pengawasan dari orang tua terhadap perilaku mereka. Itu adalah kemerdekaan yang semu dan kebebasan yang merusak. Menganggap anak memiliki kedewasaan seperti dirinya, hingga mereka terjerat pergaulan dengan anak anak berandalan, salah jalan, sementara mereka masih awam, cupet nalarnya dan masih sempit pengalamannya. Dengan demikian mereka begitu mudah dijerumuskan dan dipengaruhi oleh teman teman yang buruk, sementara bapaknya hanya menyaksikan dan bersikap netral tanpa komentar. Dengan dalih memberikan kemerdekaan bagi anaknya dan tidak ikut campur tangan dalam urusannya.

Inilah faedah pertama dari riwayat ini, yakni memberikan gambaran tentang konsep pendidikan Islam yang lurus semenjak awal tarikh hijriyah. (Amir tidak mempersoalkan pertanyaan ayahnya yakni tidak menyanggah ayahnya mengapa ia menanyakan urusannya), namun beliau memberikan alasan yang menyebabkan keterlambatannya. Beliau memberitahukan tentang keadaan suatu kaum yang beliau lihat, mereka berdzikir kepada Allah dengan khusyu’ dan takut hingga salah satu diantara mereka gemetaran lalu pingsan karena takut kepada Allah.

Akan tetapi ayahnya (Abdullah bin Zubair) tidak simpati dengan kondisi kaum yang diceritakan tersebut, tidak suka dengan apa yang mereka lakukan, tidak terpedaya oleh sikap lahir mereka. Bahkan dia meminta agar anaknya tidak bergaul dengan kaum yang dikatakan khusyu’ tersebut, dan agar anaknya menjauhi mereka. Larangan tersebut tentu membuat Amir keheranan mengapa ayahnya melarang berkumpul dengan kaum yang sampai pingsan akibat begitu takutnya mereka kepada Allah, maka ia bertanya pada bapaknya :”Mengapa, wahai ayah, padahal mereka adalah kaum yang takut kepada Rabb mereka?”

Seharusnya ayahnya menganjurkan dia untuk bergaul dengan mereka dan memberikan motivasi untuk mengikuti mereka. Mengapa malah ayahnya melarangnya padahal rasa takut itu telah bertahta di hati dan menguasai perasaan mereka?

Lalu muncullah jawaban dari shahabat yang agung tersebut, menjelaskan manhaj ittiba’ dan jauh dari bid’ah, serta menerangkan tidak adanya kebaikan dalam ghuluw (berlebih lebihan) atau melampaui dari apa yang telah dikerjakan oleh NAbi S.A.W dan para shahabatnya. Lalu beliau katakana bahwa beliau melihat Nabi S.A.W ketika membaca Al Qur’an (Al Qur’an adalah sebaik baik dzikir), begitu pula halnya dengan kedua shahabat beliau yang agung yakni Abu Bakar dan Umar Radhiyalluhu’Anhuma, namun tidaklah mengalami kondisi sebagaimana kondisi kaum yang dilihat anaknya yakni orang yang pingsan karena kekhusyu’annya. Apakah mereka lebih khusyu’ kepada Allah dari Rasul Nya yang mulia padahal beliau telah menyebutkan nikmat yang Allah karuniakan kepada beliau dengan sabdanya :

”Sesungguhnya orang yang paling bertakwa kepada Allah dan yang paling takut kepadaNya adalah aku”

Dan apakah mereka lebih khusyu’ pula daripada dua shahabat yang mulia, yakni Abu Bakar dan Umar ? Padahal Abu Bakar Radhiyalluhu’Anhu lebih bagus keimanannya daripada iman seluruh umat ini, sebagaimana pernah disebutkan dalam sebuah hadits. Sedangkan Umar :”Syetan lari darinya” sebagaimana yang dikabarkan oleh Al Musthafa S.A.W

Jika demikian, mereka adalah orang orang yang mengada ada dan mutakallifun (memperberat diri) atau daru ahli meditasi dan filsafat, sufi yang jauh dari petunjuk salaf yang berada di tengah tengah dan lurus.

Sehingga tidak ada baiknya berteman dan meneladani mereka, maka camkanlah nasihat ini wahai para pemuda.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: