Jangan Kau Jual Dengan Harga Selainnya

Jangan Kau Jual Dengan Harga Selainnya

Untaian kalimat yang mengesankan dari Muhammad bin Ali bin Abi Thalib Radhiyalluhu’Anhu yang masyhur di panggil Muhammad bin Al Hanafiyyah, karena ibunya berasal dari Bani Hanifah. Beliau berkata :”Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan jannah sebagai harga bagi jiwamu, maka janganlah engkau menjualnya dengan harga selainnya.”

***

Betapa indahnya kalimat yang membuka pintu tadabbur dan wawasan bagi orang yang cerdas dan mau berfikir. “Janganlah engkau menjual jiwamu dengan selain jannah,” begitulah sikap yang difahami oleh orang orang yang bertaqwa sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah : 111)

Maka seorang mukmin yang tulen akan mengerahkan kesungguhannya untuk mendapatkan jannah dan tidak akan menjual jiwanya dengan secuil kenikmatan dunia sebagaimana ia tidak akan menukarkan jiwanya dengan sesuatu yang fana dan akan sirna.

Begitulah bimbingan Islam yang lurus sebagaimana yang dipahami para ulama salaf dari Al Qur’an dan Sunnag NabiNya S.A.W. Berbeda halnya dengan prinsip materialis modern yang menyerukan manusia agar menjual dirinya atau bahkan mencelakakan dirinya demi mendapatkan sesuatu yang remeh dari dunia yang fana ini, bahkan demi kenikmatan sesaat yang segera sirna, namun setelah itu dia akan celaka selamanya dan ia ceburkan dirinya ke dalam kekecewaan yang tiada ujungnya.

Dihadapan kita terpampang bencana kecanduan narkoba yang menyebar pada kebanyakan masyarakat modern dan maju ini. Dengan kehidupan modern dan kemajuan secara materi ternyata manusia masih lemah daya tahannya untuk mengekang hawa nafsunya dan memberantas penyakit ini, sehingga merubah manusia menjadi makhluk lain yang kehilangan akal dan keinginan sehatnya, tak berdaya merealisasikan tujuan hidupnya yang hakiki.

Betapa buruknya kesudahan yang dialami oleh manusia dalam masyarakat modern, yang mana mereka tidak mengetahui kadar dirinya sendiri, tidak pula menghargai dirinya, mereka menjual dirinya hanya demi kelezatan semu, harapan palsu dan angan angan kosong.

Mereka itulah yang “merugikan diri mereka sendiri” sebagaimana dilukiskan di dalam Al Qur’an yang mulia. Hal itu karena mereka melecehkan kehormatannya, membuang apa yang menjadi bagiannya, menjual dirinya dengan harga yang rendah dan lupa bahwa jiwanya dapat ditukar dengan harga yang teramat mulia, tidak sebanding dengan sesuatupun dari kelezatan dunia dan perbendaharaannya yakni keridhaan Allah dan jannahNya.

Sesungguhnya orangorang yang menjual dirinya dengan harga yang murah, dengan hawa nafsu yang rendah dan angan angan yang hampa. Mereka itulah orang orang yang melupakan Allah maka Allah menjadikan mereka lupa kepada dirinya sendiri, sebagaimana firman Nya :

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al Hasyr : 19).

Bagaimana bisa manusia lupa terhadap dirinya padahal ia mengaku mencintai jiwanya dan setiap usahanya adalah demi kebahagiaan jiwanya?

Sungguh ia lupa akan maslahat yang hakiki, tersibukkan oleh maslahat yang nisbi !

Bersusah payah demi meraih kesengsaraan, ia sangka yang diangankan adalah kebahagiaan.

Sibuk dengan barang yang tak terbutuhkan dalam perjalanan, lupa akan satu satunya bekal yang mengantarkan ia ke tempat tujuannya !

Semua terjadi, disaksikan dalam sejarah kehidupan manusia sebagaimana terlihat di zaman modern ini yang tiada berbeda.

Inilah realita yang menjelaskan sebuat nasihat :“Betapa banyak orang yang menghinakan dirinya sedangkan ia menyangka bahwa ia telah memuliakannya !”

Itulah penyesalan yang tiada dirasakan manusia melainkan setelah berlalunya waktu dan hilangnya kesempatan, menjadi panjanglah kekecewaannya, amat dalamlah penyesalannya, sebagaimana yang dikabarkan Al Kitab Al Karim kepada kita tentang mereka :

“(Demikianlah Keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia),.Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (Al Mu’minun 99-100).

Alangkah jauhnya realita dari apa yang mereka angankan !

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: