Pernahkah Engkau Melihat Orang Yang Pintar

Pernahkah Engkau Melihat Orang Yang Pintar

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqatnya meriwayatkan bahwa ada seorang laki laki yang biasa dipanggil dengan Mathar bertanya kepada Hasan Al Basri tentang suatu masalah. Beliau pun menjawabnya. Lalu laki laki tersebut berkata :”Akan tetapi fuqaha’ (orang orang pintar) berbeda dengan pendapatmu? Lalu Al Hasan berkata :”Celaka wahai Mathar, sudah pernahkah kamu melihat seorang yang pintar? Tahukah kamu siapakah orang yang pintar itu? Orang yang pintar adalah orang yang bersifat wara’ dan zuhud, yang tidak melihat kepada orang di atasnya dan tidak pula meremehkan orang yang berada di bawahnya dan tidak mengambil ilmu dari apa yang diajarkan Allah kepadanya demi harta.”

***

Begitulah, Al Hasan Rahimahullah mengajak kita berpindah dari aspek teori menuju aplikasi, beliau ceritakan akhlaq orang yang pintar dan pandangannya terhadap dunia serta bagaimana bergaul dengan yang kaya maupun yang miskin, dengan ulama’ maupun dengan juhala’, begitupun dengan sikapnya dalam mengajarkan ilmu dan tidak menjadikan kepandaiannya sebagai sarana untuk menumpuk numpuk harta.

Hasan Al Bashri menyaksikan karakter tersebut pada profil teladan dari para shahabat Rasulullah S.A.W, karena Hasan Al Bashri lahir di Madinah Al Munawarrah di zaman khalifah Utsman bin Affan Radhiyalluhu’Anhu, pernah pula mendengarkan hikmah dari pelajaran Ali bin Abi Thalib Radhiyalluhu’Anhu. Begitu pula beliau bertemu dengan ratusan shahabat Rasulullah S.A.W, beliau dapatkan sunnah Nabi dari perkataan dan perbuatan mereka. Fitnah terjadi, tetapi setelah itu Al Hasan di karunia umur panjang hamper mencapai seratus tahun, karena beliau wafat pada tahun 110 H. Alangkah drastisnya perubahan yang terjadi pada manusia antara awal abad pertama hijriyah dengan awal abad kedua hijriyah. Bertolak dari sinilah Al Hasan Rahimahullah mengingatkan akibat penyimpangan dan beliau mengalihkan pandangannya kepada profil contoh istimewa yang pernah beliau lihat dengan mata kepala, dan beliau hidup bersama mereka. Agar mereka mau kembali kepada kebenaran dan berpegang dengan apa yang telah ditempuh oleh pada shahabat Rasul yang mulia S.A.W.

Maksud Hasan Al Bashri mengemukakan pengertian yang hakiki dari kata faqih (orang pintar) tersebut adalah untuk membantah anggapan bahwa fikih ataupun kepandaian hanyalah berupa ilmu, pemahaman, pengetahuan terhadap sesuatu yang mirip, pemahanan terhadap perkara perkara ikhtilaf maupun pokok pokok ijtihad belaka. Karena aspek ilmu barangkali mudah diraih oleh kebanyakan orang yang memiliki semangat dalam belajar, juga yang diberi kemudahan dalam menghafal, cerdas, mudah dalam memahami dan mengambil kesimpulan. Akan tetapi hanya mengandalkan aspek ini belumlah layak seseorang disebut sebagai faqih yang hakiki, belum berhak menyandang julukan tersebut bila hanya mahir dalam bidang bidang itu.

Orang yang pandai namun tidak memiliki sifat wara’ dan zuhud, tidak mengharapkan akhirat, tidak memahami hakikat dunia, tidak mengetahui tipu dayanya, maka sama sekali

dia bukanlah faqih. Dan orang yang pandai namun tidak menjauhkan diri dari tipu daya dunia, serta dari peremehan dan penghinaan terhadap orang yang lemah dan miskin maka ia sedikit sekali pemahamannya terhadap fikih. Ia tidak layak mendapatkan predikat mulia seperti yang didapatkan oleh orang orang yang merealisasikannya dan benar benar faqih.

Demikian pula jika ia tidak memahami bahwa ilmu syar’i adalah amanah dari Allah yang harus diaplikasikan tanpa mengharapkan imbalan (dunia), dan bahwa barakah dari ilmu tersebut terletak pada kesungguhannya untuk mendapatkan, kesabaran dalam menempuh jalan, apapun yang ia miliki baik tenaga, waktu, dan biaya maka dia belumlah termasuk ke dalam golongan fuqaha’ yang Allah menjadikan mereka bermanfaat bagi manusia dan mereka menebar kasih sayang bagi hamba hamba Allah.

Jika Hasan Al Bashri tidak menyukai adanya perubahan akhlak fuqaha’ pada zaman beliau, padahal beliau hidup di tengah generasi utama (tabi’in), masih ramai dengan kebaikan kebaikan dan masih banyak pula orang orang shalih yang tinggal di dalamnya, lantas apa yang bisa kita katakana terhadap kondisi kita hari ini. Yang mana antara kita dengan mereka terpisah 14 abad? Kaum muslimin semakin tajam perbedaan jalannya dari jalan pendahulu mereka?

Sehingga istilah “fikih” hanya terbatas pada ilmu saja, yang memiliki jurusan tersendiri dalam bangku sekolah. Itupun dipelajari sebagai sarana untuk mendapatkan pekerjaan, tidak lagi sebagaimana yang dilakukan para salaf, ilmu disebarkan dimasjid masjid dan di majelis majelis, tiada dilarang siapapun yang ingin masuk dan tidak menutup pintu bagi siapa pun yang ingin mengambil faedah.

Seandainya faqih terhadap dien merata di tengah tengah kaum muslimin, para ahli fikih kembali kepada jalan pendahulunya, yang memiliki sifat wara’ dan zuhud, antusias dalam mengajarkan ilmu demi mengharap ridha Allah, tanpa mengharapkan martabat dan imbalan dunia, maka mereka berhak mendapatkan gelar yang mulia tersebut.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: