Menolak dan Memberi

Menolak dan Memberi

Imam Sufyan Ats Tsaury berkata :”Saya mendatangi Abu Hubaib Al Badawy dan mengucapkan salam kepada beliau, sedangkan aku belum pernah melihatnya, lalu beliau berkata kepadaku :”Andakah Sufyan Ats Tsaury yang disebut sebut orang ?

Saya menjawab :”Benar, wahai Abu Hubaib, saya memohon barakah dari Allah.”

Abu Hubaib berkata :”Wahai Sufyan, kita tidak melihat suatu kebaikan melainkan dari Rabb kita.”

“Benar wahai Abu Hubaib, kita tidak melihat kebaikan pun melainkan dari Allah Ta’ala.”

Abu Hubaib berkata :”Mengapakah kita benci bertemu dengan Dzat yang kita tidak melihat kebaikan melainkan berasal dariNya ? Wahai Sufyan, Allah menahan sesuatu darimu itu disebut pula sebagai pemberian.”

Sufyan bertanya :”Bagaimana bisa menahan sesuatu dikatakan memberi wahai Abu Hubaib ?”

Abu Hubaib menjawab :”Karena Dia menahannya bukan lantaran bakhil dan tidak punya, akan tetapi Dia menahannya karena sebagai pelajaran.”

***

Nasehat yang bagus ini disampaikan oleh Abu Hubaib Al Badawy, sedangkan beliau adalah seorang penggembala kambing yang tidak memiliki sedikit pun kekayaan dunia. Yang menakjubkan, bahwa Sufyan Ats Tsaury yang dikenal sebagai ahli fikih, mujtahid, ahli hadits yang tersohor meluangkan waktunya untuk mendatangi Abu Hubaib dan mengambil pelajaran dan manfaat dari nasehatnya.

Begitulah kebiasaan salafush shalih Rahimahullah, mereka mengharapkan hikmah dari mana pun datangnya. Mereka tawadhu’ dalam mencari ilmu untuk menambah pengetahuan dan kefakihan, beliau memahami bahwa sebagian orang memiliki kelebihan tertentu dari orang lain, sehingga tidak sepantasnya berlaku sombong dan berbangga diri.

Kalimat “kita tidak melihat suatu kebaikan pun melainkan dari Rabb kita”, sungguh betapa kalimat ini merupakan hakikat yang nyata dan terbukti dialami oleh manusia seluruhnya, sejak manusia diciptakan hingga datang saat ia harus meninggalkan dunia ini. Dalam Al Kitab Al Karim disebutkan :

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (An Nahl :53)

Bagaimana bisa manusia membenci kematian padahal kematian adalah jalan menuju perjumpaan dengan Allah S.W.T, sedangkan ia tidak melihat kebaikan melainkan datangnya dari Allah. Dan mengapa manusia betah hidup di dunia ini padahal dunia adalah tempat musibah dan bukan tempat menuai ganjaran ?

Oleh karena itulah para salaf kita yang shalih merindukan datangnya syahid di jalan Allah, mereka kerahkan ruhnya dengan ringan di jalan Nya, mereka tidak menyayangkan hilangnya dunia dan tidak pula ingin hidup selamanya di dunia apalagi dalam keadaan hina dan tertindas.

Adapaun Allah “Menahan sesuatu namun pada hakikatnya memberi” Sungguh ini mengandung makna yang dalam dan hanya dipahami oleh ulil albab dan ulil abshar karena Allah menghamparkan rizki bagi siapa yang dikehendaki, sebagaimana telah dijelaskan dalam Al Kitab Al Karim. Perbedaan pendapatan di dunia maupun usaha manusia dan upayanya dalam menunaikan kewajiban, menyimpan hikmah yang diketahui oleh Yang Maha Benar S.W.T. Pemberian tidak selalu bermakna ridha dan karunia, terhalang mendapat kenikmatan dunia bukan pula bermakna kemarahan dan kemurkaanNya.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (Al Fajr : 15-17).

Indikasi pemberian itu terkadang berarti terhalangnya seseorang untuk mendapatkan yang jauh lebih baik dari itu, yakni ketika diberikan kepada orang orang yang berbuat kerusakan dan para pembangkang sehingga harta akan mencelakakan mereka di dunia dan di akhirat.

Terkadang pula terhalangnya seseorang mendapatkan sesuatu adalah berarti pemberian Allah, demi kemaslahatan yang agung untuk menuju tingkatan derajat yang tinggi, mengharap tujuan tertinggi yang pantas diperebutkan. Inilah yang diketahui oleh Abu Hubaib Al Badawy lalu beliau ajarkan kepada Imam Sufyan Ats Tsaury.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: