Kepribadian Seseorang Bercermin Pada Kawannya

Kepribadian Seseorang Bercermin Pada Kawannya

Fase perkembangan seorang manusia dimulai dari lingkup keluarga. Asuhan dan didikan orang tua perlahan namun pasti akan membentuk kepribadian dan prinsip seorang anak. Ketika beranjak dewasa, kontak sosial dengan masyarakat akan memberikan kesan lebih spesifik dalam perkembangan karakternya. Pada saat inilah kecenderungan orang tua untuk mempengaruhi seorang anak akan sedikit bergeser, bahkan mungkin saja lenyap bersamaan dengan peran seorang kawan. Mungkin akan menjadi suatu kebanggaan manakala peran kawan si anak cenderung kearah lebih baik, namun kekhawatiran akan timbul ketika kawan tesebut kontradiktif dengan kriteria orang tua. Yang menjadi pertanyaan dari hal itu ialah parameter apa yang digunakan orang tua dalam menilai suatu kebaikan. Apakah mereka menggunakan tataran harta kekayaan, background keluarga alias keturunan, pangkat/jabatan dalam melihat suatu kebaikan ataukah sebaliknya mereka menggunakan tataran kehidupan kekal dalam menilai suatu kebaikan, suatu kebaikan yang tentunya bukan hanya akan menyelamatkan dirinya dari tanggungjawabnya sebagai seorang hamba Allah yang musti dia pikul sehubungan dengan amanah yang dia terima namun juga otomatis akan menyelamatkan si anak tersebut baik di dunia or di akhirat.

Orang tua yang baik pasti akan sangat gelisah ketika mengetahui kawan si anak ternyata telah terjangkiti hal-hal yang meresahkan masyarakat, yang tentunya telah keluar dari kewajaran sebuah pergaulan. Realita mengungkapkan bahwa seorang kawan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menciptakan kepribadian, pola pikir dan karakter manusia. Dari seorang teman, prestasi dan kegagalan dapat dijadikan tolok ukur seseorang. Adakalanya kawan sebagai tautan, tapi mungkin juga sebagai ancaman. Ketika kawan tidak memberikan kontribusi positif, ketika kawan menyeret kepada kehidupan hedonis (segala sesuatu hanya diukur dari kepuasan jasmani), yang sama sekali tidak direstui Syar’i saat itulah ancaman akan segera dituai, bukan hanya sekedar kesuraman duniawi namun juga ukhrawinya.

Kriteria Kawan dalam Perspektif Islam

Islam adalah agama universal, segala aspek kehidupan manusia tidak ada yang terlewati dalam Islam termasuk di dalamnya cara berteman. Islam sebagai haluan hidup terpercaya telah mengatur tata cara berteman secara ma’ruf. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda :

“Seorang itu berada di atas Dien kawannya, maka perhatikan dengan siapa salah seorang diantara kalian berkawan.” (HSR. Ahmad 7/85, Abu Dawud 4193 dan At Tirmidzi 2300).

Selektif dalam memilih kawan adalah salah satu upaya preventif untuk mencegah timbulnya persahabatan negatif. Elemen asasi untuk melahirkan persahabatan positif adalah dengan berpijak pada amar ma’ruf nahi mnkar, komitmen untuk melepaskan tujuan duniawi semata yang materialistik, meletakkan standar kawan bukan pada keadaan ekonominya yang belebih-lebihan, bukan semata kecantikan/ketampanan, namun menetapkan taqwa sebagai ukuran tertinggi, sehingga persahabatan terjalin semata-mata karena ikhlas untuk menggapai ridhaNya. Kriteria kawan dalam perspektif islam ialah

1. Kawan yang berakal
2. Kawan yang berakhlak baik
3. Kawan yang bertaqwa
4. Kawan yang konsisten dan Istiqomah kepada AL Qur’an dan As Sunnah

Ketika kriteria tersebut telah didapat maka sudah sepatutnya persahabatan dihidupkan secara islami, mutlak untuk menggapai ridhaNya. Kawan wajib mengingatkan ketika kita lalai menghadap Allah, ketika kita hilang arah, dia meyakinkan terhadap jalan haq Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam dan senantiasa mendorong kita untuk senantiasa mengisi kekosongan jiwa dengan dzikrullah-mengingat kebesaran Allah.

Hak-hak kawan yang wajib ditunaikan

Terkadang konflik dan perbedaan muncul ketika kita berinteraksi dengan kawan. Keberagaman adalah fitrah selama dalam bingkai kewajaran. Konflik dapat diminimalisir dengan jalan mengetahui dan melaksanakan hak-hak dalam suatu persahabatan, yakni :

1. Memenuhi kebutuhan-kebutuhan kawan. Dalam hal ini ada beberapa tingkatan :

a. Tingkatan terendah yakni memenuhi kebutuhan kawan meskipun sebenarnya ia mampu dengan tetap membantu dengan wajah ceria dan berseri.

b. Tingkatan pertengahan yakni membantunya tanpa diminta.

c. Tingkatan tertinggi yakni mendahulukan kebutuhannya dari kebutuhan dirinya, tentunya untuk tingkatan ini terdapat aturan yang lebih spesifik.

2. Adakalanya lisan harus diam dan pada kesempatan lain harus berbicara. Diam dari mengingat atau menyebutkan aib kawannya baik disaat dia ada maupun tidak ada.

3. Sepatutnya menghindari perbincangan yang dibenci oleh temannya kecuali dalam urusan amar ma’ruf nahi munkar karena target dari hal tersebut adalah kebaikan. Ada saatnya pula berbicara dengan hal yang disukai teman sekecil apapun hal itu semisal menanyakan keadaan/kabarnya.

4. Sedapat mungkin senantiasa berhusnudzon terhadap tindakan teman, sehingga tindakan memata-matai kawan tidak akan pernah dilakukannya.

5. Mendoakan kawannya baik dia dekat, jauh, masih hidup maupun telah meninggal. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda : “Doa seorang muslim bagi saudaranya yang jauh adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada satu malaikat yang diserahi. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat berkata : ‘amin, dan bagimu seperti itu pula.’ “ (HSR. Muslim 2732 dan Abu Dawud 1534).

6. Setia dan ikhlas pada kawannya. Diantara bentuk kesetiaan antara lain enggan mendengarkan ungkapan buruk tentang kawannya

7. Tidak membebani tapi justru meringankan kawan. Tidak boleh mngandalkan kedudukan atau harta kawan. Tujuan berkawan hanya karena Allah semata dan sebagai sarana taqarrub kepadaNya.

Hak-hak tersebut merupakan unsur yang saling berkesinambungan dalam mengabadikan jalinan ukhuwah yang sering disepelekan oleh kebanyakan pribadi muslim.

Kawan Shalih Sebagai Prioritas

Allah berfirman :

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa. Hai hamba-hambaKu tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati.” (Az Zukhruf 67-68)

tentunya kita berlindung kepada Allah dari hal itu. Apalah artinya keakraban fana yang pada akhirnya menyisakan permusuhan di akhirat nanti. So..kita musti mengevaluasi unsur paling asasi dalam sebuah pergaulan/persahabatan. Hanya dengan keikhlasan akan terwujud sebuah pergaulan dan persahabatan menuju taqwa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasalam bersabda :

“Sesungguhnya Perumpamaan teman shalih dan teman yang buruk adalah seumpama pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Orang yang membawa minyak wangi mungkin akan memberimu atau engkau akan membelinya atau engkau akan mendapatkan bau harum dari padanya. Adapun tukang pandai besi mungkin akan membakar pakaianmu atau engkau akan mendapatkan bau busuk asap dari padanya.” (HSR. Bukhari 2101 dan Muslim 2628).

Hanya dengan kawan shalih terbina jalinan positif, tercipta amar ma’ruf nahi munkar yang dapat menghindarkan kita dari ketergelinciran pola pikir hedonistik yang sering menyusup dalam kehidupan remaja dengan berbagai ragamnya. Kawan shalih senantiasa akan mendorong kita kepada kebaikan, berbagi dalam bingkai ta’awun alal birri wat taqwa menuju kreatifitas yang terarah.

Dengan kawan shalih tentunya kita senantiasa akan memberikan sedikit kebanggaan bagi orang tua kita yang telah susah payah membesarkan kita (tentulah orang tua yang juga sadar makna dari sebuah kehidupan ini) . Kita bisa membalas kebaikan mereka meskipun cuma dengan sekedar sebagai penyejuk mata mereka yang Insya Allah juga menjadi simpanan yang menjadi peringan dari tanggung jawab besar mereka. Akan sangat naif bagi kita sebagai seorang anak manakala tidak ada sedikitpun kepedulian kita terhadap tanggung jawab besar orang tuanya itu. Bersama mereka kita tidak akan menyia-nyiakan hidup yang cuma sekali ini karena mereka tidak akan berani berspekulasi dengan kehidupannya yang tiap saat diintai oleh kematian. Wallahu’ allam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: