Ushul as Sunnah

Ushul as Sunnah

Imam Ahmad bin Hambal

(edisi Indonesia : Jalan Menuju Sunnah)

Telah memerintahkan kepada kami Syaikh Abu Abdillah Yahya bin Abi Hasan bin al-Banna menceritakan kepada kami bapakku Abu Ali Hasan bin al-Banna menceritakan kepada kami Abu Husain Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Busyran al Mi’dali, Bahwa Utsman bin Ahmad bin Samak berkata : menceritakan kepada kami Abu Muhammad Hasan bin Abdul Wahhab pada bulan Rabiul awwal (293H);menceritakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad bin Sulaiman al-Munkiri al-Bashri di (Tunis); menceritakan kepadaku Abdu bin Malik al Athar, Dia berkata :”Aku mendengar dari Abu Abdillah Ahmad bin Hambal RA berkata :

“Dasar-dasar Sunnah menurut kami adalah: Berpegang teguh terhadap apa yang Rasul S,A,W dan para sahabatnya diatasnya, beruswah pada mereka (Sebagai dalil Firman Allah ta’ala :”Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk dan mengikuti jalannya selain kaum muslimin, Kami palingkan dia kemana dia berpaling dan Kami masukkan dia ke dalam jahannam, sebagai sejelek-jelek tempat kembali”(QS, An Nisa’ 115), meninggalkan kebid’ahan karena setiap bid’ah adalah sesat (Hadist shahih dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud dll,Lihat “al Irwa'” (2455), Meninggalkan perdebatan dalam agama (Sebagai dalil Firman Allah :”Dan janganlah seperti orang-orang musyrik, yakni orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi bergolong-golongan”(QS Ar Rum : 31-32)

As Sunnah adalah penjelas al Qur’an yakni petunjuk-petunjuk dalam al Qur’an (Allah berfirman :”Dan Kami turunkan kepadamu adz Dzikir untuk menjelaskan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar supaya mereka berpikir (QS An Nahl 44) Tidak boleh ada di dalam As Sunnah itu Qiyas, tidak boleh dibuat permisalan, tidak boleh diukur dengan akal dan hawa nafsu, akan tetapi dengan ittiba’ dan meninggalkan hawa nafsu (Lihat kitab “Bid’ah Ta’ashub Madzhabi”

Dan termasuk dari Sunnah yang tidak boleh ditinggalkan dan bila ditinggalkan satu sisi saja tidak termasuk ahlinya adalah :

1 Iman terhadap taqdir baik dan buruknya dan membenarkan hadist-hadist tentangnya dan mengimaninya (Nabi bersabda :”iman itu, kamu beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, Hari akhir dan Taqdir baik dan buruknya” (dikeluarkan oleh Muslim ta’liq imam Thahawi hal.44) tidak boleh mengatakan : Kenapa dan Bagaimana, Barangsiapa yang tidak mengerti penjelasan hadist tentang taqdir dan akalnya tidak sampai, maka wajib baginya mengimaninya dan berserah diri, seperti hadist (as Shadiqul mashduq=mungkin yang dimaksud adalah hadist Ibnu Mas’udz :”Dia berkata: Rasulullah menceritakan kepada kami yang mana beliau itu Shadiqul mashduq

:”Sesungguhnya penciptaan kalian diperut ibunya dalam masa 40 hari itu berupa nutfah (Muttafaq’alaih)

Dan semisalnya hadist tentang taqdir, juga hadist-hadist tentang melihat Allah, meskipun jarang terdengar dan banyak yang tidak suka mendengarnya, maka wajib mengimaninya dan tidak boleh memperdebatkannya, karena berdebat tentang taqdir, ru’yah, Al Qur’an dan lainnya dari Sunnah adalah Makruh dan terlarang (yakni berdebat dan bertengkar tentang taqdir, ru’yah, Al Qur’an dalam kafiyahnya karena telah shahih dari Rasul dan para sahabat tentang perintah beriman padanya, sebagaimana dalam hadist :”Bila disebut tentang taqdir, maka diamkan” “Berdebat tentang Al Qur’an adalah kufur” dan dalam “Aqidah Thahawiyah” disebutkan :”Kami tidak berbantah tentang Allah dan kami tidak berdebat tentang agama Allah”) Dan tidak termasuk Ahlus Sunnah hingga ia meninggalkan perdebatan dan beriman terhadap Atsar (“Tidak tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk kecuali karena melakukan debat”/Hadist Hasan dikeluarkan oleh Ahmad, Tirmidzi dan lainnya/Shahih al Jami’ 5633)

2 Al Qur’an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, tidak boleh atau tidak benar hanya dikatakan bukan makhluk, karena kalam Allah itu tidak didasarkan darinya dan tinggalkanlah orang-orang yang meremehkannya, Barangsiapa yang mengatakan tentang Al Qur’an : Aku tidak tahu makhluk atau bukan makhluk tetapi ia adalah kalam Allah, Maka orang ini adalah ahli bid’ah seperti orang yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk, Sesungguhnya Al Qur’an itu kalam Allah dan bukan makhluk (Lihat ta’liq Kitab “Aqidah Thahawiyah” Hal 24,38,39 dan “Aqidah Wasithiyah” 46,50)

3 Beriman terhadap ru’yah (melihat Allah) dihari qiyamat sebagaimana diriwayatkan dari Nabi dan hadist-hadist yang shahih (“Aqidah Wasithiyah” Hal 51,60)

4 Dan bahwa Nabi pernah melihat Rabbnya, Telah ada atsar yang shahih dari Rasulullah yang diriwayatkan oleh Qotadah dari Ikrimah dan Ibnu Abbas dan diriwayatkan oleh Hakim bin Aban dari Ikrimah dan Ibnu Abbas, serta diriwayatkan oleh Ali bin Zaid dan Yusuf bin Mihron dari Ibnu Abbas, dan Hadist itu menurut kami (pensyarh) harus dipahami sesuai dengan zhahirnya dan tidak memperdebatkan tentangnya dengan seorangpun (ini adalah perkataan yang benar, akan tetapi telah shahih darinya (Ibnu Abbas) juga yang berbeda :”Tidaklah berdusta hatinya tentang apa yang dia lihat, dan sungguh dia telah melihat Rabbnya pada waktu yang lain, Dia (Ibnu Abbas) berkata :”Rasul melihat Rabbnya dengan hatinya dua kali” (Mukhtashar Muslim”83) Imam Thahawi RA berkata dalam ta’liqnya : hadist ini mauquf, maka mahfumnya adalah bahwa Nabi tidak melihatNya dengan matanya, sebab akan menyelisihi hadist Aisyah yang jelas menolak adanya ru’yah dengan mata, Dan juga hadist Abu Dzar, dia berkata : Aku bertanya Rasulullah pernahkah engkau melihat Rabbmu? Dia bersabda : Berupa Nur aku pernah melihatnya (HR Muslim). Baik, anggap saja bertentangan dengan hadist Aisyah, akan tetapi Aisyah pernah bertanya kepada Nabi tentang firman Allah : “Dan sungguh dia melihatnya pada waktu yang lain” Dia bersabda : itu adalah Jibril Dan tidak diragukan lagi bahwa marfu’ itu diutamakan daripada mauquf” (mukhtashar muslim hal 29) ta’liq Thahawiyah hal 27)
5 Beriman terhadap timbangan dihari Qiyamat, sebagaimana dalam hadist : “Akan ditimbang seorang hamba dihari Qiyamat walau seberat sayap nyamuk”(Shahih maknanya/fathul Baari 8/426) Dan amal hamba itu akan ditimbang, sebagaimana disebutkan dalam atsar, wajib beriman padanya dan membenarkannya (Dalilnya firman Allah “Dan Kami letakkan timbangan-timbangan yang adil dihari qiyamat, maka tidak seorangpun yang terzhalimi sedikitpun, Dan meskipun seberat biji sawi, Kami akan datangkan dan cukuplah Kami sebagai penghisap (QS Al Anbiya 47) Dan dalam hadist :”Tidaklah sesuatu yang diletakkan dalam timbangan yang lebih berat dari akhlaq yang baik” Shahih Al Jami 5726) serta berpaling dari orang yang menolaknya dan meninggalkan perdebatan tentangnya (Dalilnya firman Allah ta’ala :”Dan apabila kamu lihat orang-orang mengejek ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka hingga beralih pada pembicaraan lain (QS Al An’am 68)

6. Bahwa Allah ta’ala akan bercakap cakap dengan hambanya di hari qiyamat tanpa penerjemah dan kita wajib membenarkannya. (Hadist shahih mutafaq’alaih yang bunyi awalnya : “Tidaklah seseorangpun dari kamu kecuali akan diajak bicara oleh Allah di hari qiyamat tanpa ada penerjemah.”)

7. Iman terhadap telaga dan Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam memiliki telaga yang akan dikerumuni umatnya dimana lebarnya dan panjangnya seluas perjalanan sebulan, bejananya sebanyak bintang di langit, sesuai dengan riwayat riwayat yang shahih. (hadist hadistnya adalah shahih dan mutawatir diantaranya : “Telagaku seluas perjalanan sebulan, sudut sudurnya sama, airnya lebih putih dari susu, baunya lebih wangi dari misik, bejananya sebanyak bintang dilangit. Barangsiapa yang minum darinya, maka tidak akan haus selama lamanya (mutafaq’alaih, lihat ta’liq Thahawiyah :30).)

8. Iman terhadap adzab kubur. (Lihat ta’liq Kitab “Thahawiyah” hal 50. sesungguhnya nash nash tentang adzab kubur dan kenikmatannya, mutawatir. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam “Berlindunglah kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’ala dari adzab qubur, karena sesungguhnya adzab qubur itu haq (benar) (As Shahihah :1444, 1377).)

Bersambung………

Satu Balasan ke Ushul as Sunnah

  1. Abu Aqil Al-atsary mengatakan:

    Assalamu’alaikum akh,
    Ditunggu sambungannya. Bagusni buat ummat islam sekarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: