Sambungan dari Ushul as Sunnah

sambungan dari Ushul as Sunnah Imam Ahmad bin Hambal

1 s/ad 8……….

9. Dan umat ini akan ditanya di dalam kuburnya tentang Islam, Iman, siapa Rabbnya, siapa Nabinya, dan akan datang malaikat Munkar dan Nakir sesuai dengan keadaan dan keinginannya. Dan kira mengimaninya dan membenarkannya. (Dalilnya adalah hadits Al Baro’ bin Azib dikeluarkan oleh Ahmad dan Abu Dawud dengan shahih. Lihat “Ahkamul Janaiz” hal. 155 dan pada hadits mutafaq’alaih : “Sesungguhnya aku mendapat wahu bahwa kamu akan di Tanya di dalam qubur”. “Bila mayit di dalam qubur, akan datang kepadanya dua malaikat kehitam hitaman dengan nama Munkar dan Nakir (Hasan, “As Shahihah”1391). Lihat ta’liq kitab “thahawiyah” hal 50.).

10. Iman terhadap syafa’at Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam dan terhadap kaum yang dikeluarkan dari neraka setelah terbakar hangus, maka mereka diperintah masuk ke sungai di dekat pintu jannah seperti dalam atsar, kita mengimaninya dan membenarkannya (Hadits hadistnya mutawatir, lihat ta’liq Kitab Thahawiyah hal. 30 dan syarh nya hal 229 dan hadits yang dimaksud adalah hadits Abu Said riwayat mutafaq’alaih).

11. Iman terhadap munculnya Dajjal di hari akhir, yang tertulis di antara kedua matanya “Kafir” dan iman terhadap hadits hadits tentangnya (Syaikh Al Albani dalam ta’liq nya atas “Thahawiyah” hal 59 berkata :hadits hadits tentang Dajjal adalah mutawatir seperti disaksikan oleh para ahli hadits, dan aku mempunyai risalah tentangnya yang diberi judul :Kisah Al Masih Ad Dajjal dan turunnya Isa A.S yang akan membunuhnya”. Mudah mudahan Allah memberi kemudahan padaku dalam menjelaskannya.)

12. Bahwa Isa bin Maryam akan turun dan membunuhnya di pintu Ladd (hadits shahih dikeluarkan oleh Muslim dan lainnya)

13.Iman adalah ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang (ini merupakan madzab salaf, berbeda dengan madzab Hanafi dan Maturidi seperti termaktub dalam “Aqidah Thahawiyah” lihat ta’liq Al Albani hal 42,43) sebagaimana tersebut dalam hadits :

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baikakhlaknya.” (Hadits shahih dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud dll, lihat “As Shahihah” no 284)

“Barangsiapa meninggalkan shalat, sungguh dia telah kafir.”(Hadits shahih dikeluarkan Ahmad, Abu Dawud dll, lihat “As Shahihah” no 564).

Dan tidak ada sesuatu pun dari amal yang apabila ditinggalkan akan menyebabkan kafir keduali shalat (Abdullah bin Syaqiq berkata :”Para shahabat Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam tidak menganggap kafir suatu amal yang ditinggalkan kecuali shalat” (dikeluarkan oleh Tirmidzi dan lainnya dishahihkan oleh Al Albani dalam shahih targhib no 565 jilid I/227 dan barangsiapa yang ingin penjelasan rinci supaya melihat “As Shahihah” no 87 jilid I/120), (Al Albani berkata dalam Hasyiyah Al Mahthuthah :nama Thalhah hilang/tidak ada pada aslinya dan aku temukan pada Shahih Bukhari 7/54).

Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka kafir dan halal darahnya.

14. Sebaik baik manusia setelah Nabi Nya adalah Abu Bakar ash Shiddiq, kemudian Umar bin Khattab, kemudian Utsman bin Affan. Kami dahulukan tiga orang di atas sebagaimana para shahabat Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam mendahulukan, tidak ada perselisihan tentangnya. Kemudian setelah itu adalah lima anggota Syura (ashhabus syura) yakni : Ali bin Abi Thalib, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Thalhah. (Mereka semua berhak atas kekhalifahan, mereka semua adalah imam/pemimpin. Kami sebut lima orang itu berdasarkan hadits Ibnu Umar :

“Kami memilih urutan shahabat ketika Rasulullah masih hidup dan para shahabat berkumpul, yakni : Abu Bakar, kemudian Umar, Kemudian Utsman, kemudian kami diam, kemudian Ashhabus Syura, kemudian ahli Badr dari Muhajirin, kemudian ahli Badr dari Anshar sesuai dengan peringkatnya masing masing (Shahih, lihat “Al Fath”, 7/17, 54, 58. Ibnu Hajar berkata : “Secara zhahir bahwa Ibnu Umar menyebutkan dengan peniadaan Ali bin Abi Thalib. Pada pertama ini berdasarkan ijtihad mereka para shahabat, hingga yang nampak padanya tida shahabat itu, sedang mereka pada waktu itu tidak menyebut berdasarkan nash”. Kemudian Ibnu Hajar berkata “Dan sungguh Imam Ahmad telah membawakan hadits Ibnu Umar yang menghubungkan Ali bin Abi Thalib pada urutan keempat dalam keutamaan para shahabat”. Dan juga berdasarkan hadits Safinah secara marfu’. “Khalifah itu akan berlangsung pada kalian selama 30 tahun kemudian berubah kerajaan (As Shahihah no 460). Syaikh Al Albani menukil ucapan Ibnu Taimiyah dalam ta’liq nya terhadap “Thahawiyah” hal 57 :”Dan barangsiapa yang mencela pada kekhalifahan salah satu dari pada khalifah itu maka dia lebih baik sesat dari keledai negerinya”.(Majmu Fatawa 3/153. untuk menambah wawasan lihatlah “Syarh Thahawiyah” hal 467, 489).

Kemudian manusia terbaik sesudah para shahabat itu adalah generasi yang Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam diutus padanya (telah shahih hadits tentang masalah itu, lihat “As Shahihah” no 700). Setiap orang yang mengikutinya, baik setahun atau sebulan atau sehari atau sesaat dan dia melihatnya, maka dia adalah termasuk shahabat sesuai dengan peringkatnya, karena telah dahulu bersamanya, mendengar darinya dan melihat padanya. Serendah rendah peringkat mereka masih lebih utama dari generasi yang tidak melihatnya walaupun memiliki amal yang banyak. Mereka para shahabat Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam lebih utama dari Tabi’in walaupun tabi’in itu beramal dengan segala kebaikan. (Dalilnya adalah firman Allah ta’ala :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.
Dan sabda Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam :

“Seandainya salah seorang kalian menginfaqkan sebesar gunung uhud, tidaklah akan menyamai satu atau setengah mudnya (cakupan) salah seorang dari mereka”. )

15. Mendengar dan taat pada para imam dan pemerintah kaum mukmim yang baik maupun yang jelek. Dan kepada khalifah yang manusia bersatu padanya dan meridhainya. Dan juga kepada orang yang telah memenangkan atas manusia hingga berdiri kekhalifahan dan disebut Amirul Mukminin.(Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 47, 48 dan Syarh nya hal 379).

16. Perang harus dilakukan bersama imam sampai hari qiyamat baik imam yang baik maupun yang jelek, tidak boleh tidak (Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 49 dan Syarh nya hal 387).

17. Pembagian ghanimah/fa’I dan penegakan hukuman harus diserahkan pada imam, tidak boleh bagi seorangpun untuk mencela dan menyelisihinya. (Inilah sunnah Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam dan Khulafa’ur Rasyidin. Dan dalam kitab disebutkan :”Kami berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam untuk tidak menentang pemerintah……)

18. Senantiasa menunaikan zakat pada pemerintah, meskipun pemerintah tersebut jelek. (Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 46 dan Syarh nya hal 373).

19. Melakukan shalat Jum’at dibelakang mereka dan dibelakang orang berwali kepadanya. Barangsiapa yang mengulang shalatnya, dia adalah mubtadi’ yang meninggalkan jejak (Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 35, 36), menyelisihi sunnah dan tidak ada keutamaan sedikitpun dari shalat Jum’atnya bila tidak mau shalat dibelakangnya, baik pemerintah itu baik atau buruk. Karena sunnah memerintahkan untuk shalat bersama pemerintah dua rakaat dan tidak boleh ada sesuatupun dalam hatimu. (Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 35, 36)

bersambung………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: