Sambungan Kedua Ushul As Sunnah

sambungan kedua Ushul As Sunnah

1 s/d 19…………………..

20. Barangsiapa yang keluar/memberontak terhadap pemerintahan muslimin, padahal manusia telah sepakat dan menyerahkan kekhalifahan padanya baik dengan ridha atau dengan kemenangan perang, maka dia telah bermaksiat terhadap kaum muslimin dan menyelisihi jejak Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam. Dan apabila ia mati dalam keadaan demikian maka matinya seperti mati jahiliyah. (lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 47)

21. Tidak halal memerangi Sulthan/pemerintah, tidak halal pula keluar dari bai’atnya karena seseorang, barangsiapa yang melakukan hal itu maka ia adalah mubtadi’ keluar dari Sunnah (Tidak halal memeranginya dan keluar dari bai’atnya kecuali jika nampak padanya kekafiran yang nyata. Maka wajib bagi Ahlil Halli Wal Aqdi untuk melepaskan diri dari bai’atnya dan mewujudkan kemaslahatan. Akan tetapi dengan syarat memiliki kemampuan dan tidak menimbulkan mafsadah atau fitnah yang lebih besar, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Abdul Izzi Al Hanafi hal 381).

22. Memerangi pencuri dan penjahat boleh, bila mereka telah merampas jiwa dan harta seseorang. Maka bagi orang tersebut boleh memerangi mereka untuk mempertahankan jiwa dan hartanya dengan segala kemampuan. Namun bila mereka telah pergi dan meninggalkannya, maka tidak boleh mengejarnya. Tidak boleh seorangpun, kecuali imam atau pemerintah, karena kewajibannya hanyalah untuk mempertahankan diri dan harta di tempat tinggalnya, serta harus tidak dengan niat ingin membunuh seseorang. Jika penjahat itu mati ditangannya dalam peperangan mempertahankan diri, maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan mengalihkan orang yang terbunuh (penjahat) itu dari rahmatNya, dan jika dia (yang dirampok) terbunuh sedang dia itu mempertahankan jiwa dan hartaynya maka dia mati syahid sebagaimana dalam hadits. Seluruh atsar dalam masalah ini memerintahkan agar memeranginya (Hadits :”Barangsiapa yang terbunuh karena (membela) hartanya, maka dia syahid, barangsiapa terbunuh karena jiwanya, dia syahid. Barangsiapa terbunuh karena agamanya, dia syahid. Barangsiapa terbunuh karena keluarganya, dia syahid (shahih “Al Irwa” 708)). Dan tidak memerintahkan untuk membunuhnya serta mengejarnya. Tidak boleh membunuhnya jika dia telah menyerah atau terluka. Dan jika telah menawannya maka tidak boleh membunuhnya dan tidak boleh melakukan hukuman padanya, akan tetapi diserahkan urusannya kepada pemerintah.

23.Kita tidak boleh mengklaim/menetapkan jannah atau neraka bagi ahli qiblat terhadap amal yang dia lakukan. Kita mengharapkan yang baik dan khawatir terhadap yang jelek. Kita khawatir atas dosa dan kesalahan. Serta kita mengharap baginya rahmat Allah (lihat ta’liq kita “Thahawiyah” hal 41).

24. Barangsiapa yang menghadap Allah dengan dosa yang menyebabkan dia masuk neraka, akan tetapi dia telah tbertaubat dan tidak mengulanginya, maka sesungguhnya Allah akan menerima taubatnya dan mengampuni dosa dan kesalahannya (Firman Allah : “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Asy Syura : 25)).

25. Barangsiapa yang menghadap Allah setelah ditegakkan hukuman kepadanya di dunia, maka itu menjadi penebus dosa baginya, sebagaimana dalam hadits Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam “Barangsiapa yang melakukan dosa dan telah dilakukan hukuman dosa itu padanya, maka itu sebagai peleburnya” (dikeluarkan oleh Ahmad dan lainnya. Lihat “As Shahihah” no 1755).

26. Dan barangsiapa yang menghadapNya dnegan mengulang ulang dosa, tidak bertaubat dari dosa dosa yang selayaknya mendapat siksa, maka urusannya diserahkan kepada Allah. Jika Allah menghendaki akan mengadzabnya, dan jika Allah menghendaki akan mengampuninya (lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 45).

27. Barangsiapa dari orang kafir yang menghadap Allah, Dia akan mengadzabnya dan tidak mengampuninya.(lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 41. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala : “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam”, Padahal Al masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah : 72).

28. Hukum rajam (dilempari batu hingga mati) adalah hukuman bagi orang yang berzina (yang sudah berkeluarga). Dan ditahan dulu hingga diketahui kejelasannya. Sungguh Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam dan para Imam Khulafaur Rasyidin telah melakukannya (Lihat “Al Irwa’ 7/352).

29. Barangsiapa yang mencela salah seorang Shahabat Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam atau membencinya atau menyebut nyebut kesalahannya, dia adalah mubtadi’. Sampai ia menyayangi mereka semua dan harus menyelamatkan hati dari penilaian jelek terhadap mereka (Dalilnya firman Allah ta’ala : “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb Kami, beri ampunlah Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman lebih dulu dari Kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati Kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb Kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”(Al Hasyr : 10). Lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 57 dan syarh nya hal 467).

30. Kemunafikan adalah kekafiran yakni mengingkari Allah dan beribadah kepada selainNya, sedangkan secara zhahir ia menampakkan keislaman, seperti orang orang munafik dimasa Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam. (Dalilnya firman Allah ta’ala :

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS.Ali Imran 164) ).

31. Tiga perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang sifat tersebut, berarti ia munafik (Hadits Shahih mutafaq’alaih dari Abu Hurairah). Dengan tegas kami meriwayatkan seperti apa adanya tanpa mengkiaskannya. Dan juga sabda Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam: “Jangan kamu kembali pada kekafiran yang sesat sesudah wafatku, dimana sebagian kami membunuh sebagian yang lain” (Shahih mutafaq’alaih tanpa kata (dholala) akan tetapi menurut Ahmad dan Nasa’I memakainya.)
Seperti dalam hadits:

”Bila dua orang Islam berkelahi dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang dibunuh masuk neraka” (Shahih Mutafaq’alaih).

“Mencerca orang Islam itu fasiq dan membunuhnya kafir” (Shahih mutafaq’alaih. lihat syarh “Thahawiyah” hal 369).

“Barangsiapa yang berkata pada saudaranya :Hai kafir ! maka telah berbalik kepada salah satunya.” (Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad 2/112 dan lainnya).

“Berlepas dirilah dari kekafiran kepada Allah walaupun sedikit.” (Dikeluarkan oleh Ahmad, Darimi dan lainnya dan dihasankan oleh Al Albani dalam “Shahih Al Jami’” 4485).

Dan semisal hadits hadits tersebut yang shahih dan terjaga. Sesungguhnya kami berserah diri kepada Nya meskipun kami tidak mengetahui tafsirnya, tidak memperbincangkannya, tidak berdebat tentangnya dan tidak menafsirkan hadits hadits ini kecuali sesuai datangnya serta tidak menolaknya kecuali dengan yang lebih benar darinya (lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 40).

32. Jannah dan neraka adalah dua makhluk Allah sebagaimana hadits dari Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam: “Aku masuk Jannah maka aku melihat istana dan al Kautsar (telaga). Ditampakkan padaku di jannah, maka aku lihat kebanyakan penghuninya seperti ini dan dinampakkan padaku di Neraka, maka aku lihat penghuninya begini begini. Barangsiapa yang menyangka bahwa keduanya bukan makhluk berarti mendustakan Al Qur’an dan hadits hadits Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam. Dan aku yakin dia tidak beriman dengan jannah dan neraka.” (lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 51 dan syarh nya hal 420).

33.Barangsiapa yang termasuk ahli kiblat, kemudian mati sebagai muwahhid, wajib dishalatkan dan dimintakan ampun. Tidak terhalang istighfar untuknya dan tidak boleh pergi untuk tidak menshalatkannya karena dosanya, baik dosa kecil maupun dosa besar, semua itu diserahkan pada Allah ta’ala (lihat ta’liq “Thahawiyah” hal 41, 45, 46 dan syarh nya hal 377).

Penutup

Segala puji bagi Allah semata, shalawat dan salam semoga tetap tercurah pada Nabi Muhammad Shallallahu’Alaihi Wassalam dan keluarganya.

Seluruh risalah ini telah didengar dari lafazh Syaikh Imam Abu Abdillah Yahya bin Abi Ali Hasan bin Ahmad bin Al Banna dengan riwayatnya dari bapaknya Syaikh Imam Al Muhadzib Abu Muzhfir Abdul Malik bin Ali bin Muhammad al Hamdani dan dia berkata:

“Dengan risalah ini aku tunduk kepada Allah. Dia mendengar dari penulis naskah ini yakni Abdurrahman bin Hibatillah bin Mi’rodl al Haram pada akhir Rabiul Awwal 529 H. Alhamdulillah anakku Abu Bakar Abdullah, saudaranya Badruddin Hasan dan ibunya Balbal bintu Abdullah serta yang lainnya, Abdul Hadi telah mendengar risalah itu dari lafazhku, tepatnya pada senin, 27 Jumadil Awwal 897 H. dan aku perintahkan mereka untuk melihat risalah itu dariku dan seluruh penjelasanku dengan riwayat riwayatnya dan syarat syaratnya. Dan Yusuf bin Abdul Hadi ikut mencatat”.

Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata: Aku telah selesaikan naskah itu dari tulisan tangan di Zhahiriyah Damsyiq menjelang Zhuhur, Rabu 6 Sya’ban 1374 H.

Dari Buku Ushul As Sunnah Penulis Imam Ahmad bin Hambal Penerbit Dar Al Manar Al Kharaj, edisi Indonesia “Jalan Menuju Sunnah” Penerbit Pustaka Imam Bukhari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: