Tali Kekeluargaan Sambunglah Jangan Diputus

Paham kapitalisme yang dibangun di atas filsafat materialisme seakan telah menyusup dalam jiwa kaum muslimin. Salah satu gejalanya adalah meremehkan hubungan kekeluargaan. Bahkan tidak sedikit yang mudah memutuskan tali keluarga karena masalah sepele. Hubungan keluarga adalah sesuatu yang sangat dihormati oleh syariat Islam. Islam telah menetapkan segala sesuatu yang dapat menguatkan dan mengeratkan ikatan hubungan di antara para pemeluknya. Pada skala keluarga, misalnya, kita dapati Islam menyerukan ikatan tersebut dalam suatu bentuk yang merealisasikan keselarasan dan kasih sayang, mencegah kerusakan, menjadi penengah dan jalan keluar dari perselisihan yang terjadi. Islam pula menyeru dan mengajarkan bagaimana menjaga hak-hak kerabat. Islam mengajarkan bagaimana menunaikan hak sebaik mungkin, dengan cara menjalin hubungan, berbuat baik, melakukan kunjungan dan memuliakan. Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman,

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Al-Isrå:26)

Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam bersabda dalam hadits yang terdapat dalam Shahihain (Bukhari dan Muslim),

“Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan ditangguhkan ajalnya, maka hendaknya dia menyambung tali silaturahim.” (Shåĥiĥ al-Bukhåri no. 5986, Shåhih Muslim no.2557, dan Sunan Ibnu Hibban no.439).

Demikian pula sabda Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam yang lain di dalam Shahihain yang diriwayatkan dari Jabir bin
Muth‘im dari ayahnya,

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus tali silaturahim .” (Shåhih Muslim no.2556 dan Sunan Abi Dawud no.1696).

Yang dimaksud dengan rahim (karib kerabat) adalah siapa saja yang memiliki pertalian nasab dengan kita, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Wajib menyambung hubungan dengannya dan haram memutuskannya. Ini mencakup nasab dari ayah ke atas, anak ke bawah atau dari pihak sanak kerabat, baik yang dekat maupun yang jauh. Sekalipun demikian ancaman syariat terhadap pemutus silaturahim di atas tidaklah diperuntukkan kecuali bagi pemutus yang memiliki tanggung jawab memberi nafkah, seperti ayah ke atas (Kakek, buyut dan seterusnya) dan anak ke bawah (Cucu, cicit dan terus bawah). Adapun berbuat baik kepada para kerabat, maka pelaksanaannya disesuaikan dengan kemampuan seseorang berdasarkan keadaan dirinya dan keadaan kerabatnya itu, baik berupa nafkah, salam, kunjungan, ataupun penghormatan. Kemudian tatkala tuntutan untuk berbuat baik itu membesar, maka tanggung jawab pelaksanaannya pun menjadi bertambah besar dan agung, sebagai wujud kepatuhan atas perintah Allah Subhaanahu Wa Ta’ala yang berikut.

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya.” (Al-Isra:26)

Dengan ayat ini menjadi jelas bahwa hak tersebut adalah hak yang wajib ditunaikan, baik berupa hak secara materi maupun secara moral. Menelusuri Kata Rahim Penjelasan mengenai asal kata ar-rahim ini terdapat dalam hadits Abu Hurairah R.A dari Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam, beliau bersabda,

“Sesungguhnya arrahim merupakan syajnah dari al-Rahman. Allah berfirman, ‘Barangsiapa menyambungmu, maka Aku akan menyambungkannnya, dan barangsiapa memutusmu, maka Aku akan memutuskannya.’” (Shåĥiĥ al-Bukhåri no.5988).

Makna frase syajnah dari ar-Rahman’ dalam hadits di atas adalah bahwa kata rahim diambil dari nama Allah, ar-Rahman (yang memiliki rahmat yang luas). Barangsiapa menyambung rahim, maka Allah Subhaanahu Wa Ta’ala akan menyambungnya dengan rahmat-Nya, dan barangsiapa yang memutus rahim, maka Allah akan memutusnya dari rahmat-Nya.

Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam juga bersabda,

“Sesungguhnya Allah Subhaanahu Wa Ta’ala menciptakan para makhluk-Nya, sampai ketika Dia selesai dan sempurna mencipta, ar-Rahim berkata, ‘Inilah tempat aku berlindung kepadamu dari keterputusan.’ Allah berkata, ‘Benar. Tidakkah kamu ridha Aku menyambung orang yang menyambbungmu, dan Aku memutuskan orang yang memutusmu?’ Ar-Rahim berkata, ‘Tentu, ya Rabb.’ Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berkata, ‘Ketetapan ini untukmu.’” Bersabda Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wassalam, “Jika kalian ingin bacalah firman Allah Subhaanahu Wa Ta’ala :

“Maka apakah jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutus hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang Allah laknat, maka Dia tulikan (telinga-telinga) mereka dan Dia butakan penglihatan mereka.” (Ayat yang dimaksud adalah salah satu ayat dalam surat Muĥammad ayat 22-23. Shåĥiĥ al-Bukhåri no.4552 dan Shåhih Muslim no. 2554).

Diriwayatkan dari Aisyah R.A dari Nabi Shallallahu’Alaihi Wassalam, beliau bersabda,

“Rahim berkait pada Arsy. Ia (Rahim) berkata, ‘Barangsiapa menyambungkku, Allah akan menyambungkannya, dan barangsiapa memutusku, Allah akan memutuskannya.” (Shåhih Muslim no. 2555).

Dan sebaik-baik sedekah adalah yang diberikan kepada kerabat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits: “Sedekah yang engkau berikan kepada orang miskin (hanyalah sekadar) sedekah, dan jika diberikan kepada kerabat menjadi dua, yaitu sedekah dan menyambung (tali kekeluargaan).”

Tingkatan Silaturahim Berkata Qadhi ‘Iyad, “Tidak ada perbedaan pendapat bahwa menyambung tali silaturahim merupakan kewajiban secara global, dan memutusnya adalah dosa besar.” Selanjutnya beliau berkata, “Akan tetapi, bentuk menyambung tali silaturahim itu bertingkat-tingkat, yang satu di atas yang lain. Dan bentuk menyambung tali silaturahim yang terendah adalah meninggalkan muhajarah (mendiamkan, tidak mengajak bicara orang lain), dan cara menyambungnya adalah dengan kembali mengajak bicara sekalipun hanya dengan memberi salam. Dan hal ini berbeda sesuai dengan perbedaan kemampuan dan kebutuhan, dan hukumnya pun ada yang wajib dan ada pula yang mustahab (disukai). Jika seandainya seseorang telah berusaha untuk menyambungnya, tetapi tidak membuahkan apa yang dia harapkan, maka dia sudah tidak dikatakan sebagai pemutus tali silaturahim. Sebaliknya, jika seandainya dia melalaikan sesuatu yang mampu atau seharusnya dilakukan, maka dia belum dinamakan penyambung tali silaturahim.” (Syarh Imam Nawawi terhadap hadits Shåhih Muslim)

Diterjemahkan dari kitab Usul al- Minhaj al-Islami oleh: Abul Khair
(Sumber : Majalah Fatawa Vol 3 No 12 desember 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: