Derai Air Mata Orang Bertakwa

Sebagai seorang muslim tentu kita sering membaca dan mendengarkan al-Quran baik di dalam shalat atau diluar shalat. Kita pun sering mendengar ceramah yang berisi nasehat dan arahan

Pernahkah pada saat tersebut, hati kita tersentuh kemudian air mata pun mengalir? Atau barang kali kita merasa biasa-biasa saja? Atau bahkan karena suatu sebab justru malah tertawa…? Menangis di saat mendengar ayat-ayat Allåh Subhanahu Wata’aala dan nasehat-nasehat tentang akhirat adalah merupakan bukti dalamnya iman, merupakan bukti manfaatnya ilmu dan merupakan kebiasaan para Nabi dan orang-orang shålih selagi di dunia. Sementara orang-orang yang ingkar dan lemah iman justru selalu bergembira ria serta banyak tawa dan canda.

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis” (Maryam : 58).

Ayat ini mengisahkan tentang kondisi para Nabi ketika dibacakan ayat-ayat Allåh Subhanahu Wata’aala kepada mereka. Mereka sujud dan menangis karena besarnya ketundukan dan rasa takut juga sebagai ungkapan rasa syukur terhadap besarnya nikmat yang diberikan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala kepada mereka. Mereka menangis dikarenakan merasa sangat lemah dan sangat kurang di dalam menunaikan hak Råbb Yang Maha Agung (disarikan dari Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Aisarut Tafasir tentang ayat di atas )

Menangis ketika mendengar alunan kitab Allåh Subhanahu Wata’aala juga merupakan kebiasaan orang shålih dan berilmu dari kalangan Ahli Kitab. Sebagaimana firman Allåh Subhaanahu Wa Ta’ala,

”Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.)” (Al Maidah :83).

Menangis juga merupakan kebiasaan Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya. Abdillah bin al-Syikhkhir berkata, “Aku mendatangi Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika beliau sedang shålat, dalam dadanya terdapat gemuruh seperti bergolaknya air mendidih di kuali disebabkan sedang menangis.” (Hadits riwayat Tirmidzi dengan sanad sahih).

Abdullah bin Mas’ud R.A pernah diminta oleh Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk membacakan al-Quran, beliaupun membacakan surat al-Nisa dan ketika sampai pada ayat ke-41 Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyuruhnya berhenti. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Maka lalu aku menoleh padanya, ternyata kedua mata beliau bercucuran air mata’.” (Hadits riwayat Bukhåri-Muslim)

Aisyah R.A berkata, “Abu Bakar adalah seorang yang lembut hatinya, apabila membaca Al-Quran, dia tidak kuasa menahan tangis.” (Hadits riwayat Bukhåri-Muslim)

Asma’ binti Abi Bakar berkata, ”Para sahabat Nabi apabila dibacakan al-Quran kepada mereka, kondisinya sebagaimana yang disifatkan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala, mata mereka menangis dan kulit mereka mengkerut. (Tafsir al-Qurthubi juz 15 hal. 218)

Irbad bin Sariyah berkata, “Råsullullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pernah memberikan nasehat kepada kami, karenanya hati-hati menjadi takut dan air mata berderai.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, sanadnya sahih)

Demikianlah kondisi para wali Allåh. Hati mereka sangat tersentuh ketika mendengar ayat-ayat Allåh Subhanahu Wata’aala, hidup mereka dipenuhi rasa takut dan deraian air mata. Kondisinya berbeda dengan wali-wali setan yang selalu berpaling dari al-Quran dan justru lebih tertarik dengan lagu, nyanyian, dan larut dalam canda dan tawa. Hal ini digambarkan dalam ayat di bawah ini

”Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? Sedang kamu melengahkan(nya)? (Al-Najm:59-61)

Syaikh Abu Bakar al-Jazairi berkata tentang makna ayat ini, ”Yakni kalian lalai sepenuhnya maka lalu kalian merasa heran dengan al-Quran ini, dan bahkan kalian tertawa-tawa sepertinya hati kalian telah mati, sehingga tidak mau menangis, bahkan lupa dan terlena menyibukkan diri dengan nyanyian dan permainan.”

Keutamaan Menangis
Allåh Subhanahu Wata’aala akan memberikan balasan yang besar kepada seseorang yang menangis karena takut kepada-Nya. Jika meminta doanya dikabulkan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala, dan kelak di akhirat tubuhnya diharamkan dari api neraka.

“Tidak masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allåh.” (Hadits riwayat Tirmidzi, dia berkata hasan sahih)

Tsabit al-Banani mengatakan bahwa Aisyah pernah berkata, “Aku mengetahui kapan doaku akan dikabulkan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala.’ Mereka bertanya, ‘Dari mana engkau mengetahuinya?’ Aisyah berkata, “Yaitu di saat kulitku mengkerut, hatiku merasa takut, dan air mataku berlinang di saat seperti itulah doaku akan dikabulkan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala’.” (Tafsir al-Qurthubi juz 15 hal. 219)

Agar Mata Mudah Menangis
Al-Quran al-Karim pada dasarnya memberikan pengaruh besar pada hati-hati manusia. Jangankan hati manusia, gunung yang tebal dan keras pun akan merasa takut apabila al-Quran diturunkan padanya. Hal ini ditunjukkan dalam firman Allåh Subhanahu Wata’aala,

”Kalau Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir”. (Al Hasyr : 21)

Namun pengaruh al-Quran tersebut hanya menjalar pada orang yang mau memahaminya disertai dengan hati yang hidup dan punya rasa takut kepada Allåh Subhanahu Wata’aala.

”Oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, Orang yang takut (kepada Allah) akan mendapat pelajaran” (Al-A’la:9-10).

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya.” (Qaf:37)

Syaikh Abdurråhman al-Sa’di berkomentar tentang ayat ini, “Yakni al-Quran akan memberikan pelajaran bagi hati yang agung, yang hidup, dan yang cerdas lagi bersih. Hati semacam ini apabila disebutkan padanya ayat-ayat Allåh Subhanahu Wata’aala akan bisa mengambil pelajaran dan manfaat, kondisinya pun akan semakin membaik.”

Rasa takut kepada Allåh Subhanahu Wata’aala merupakan kunci kebaikan. Dengannya seseorang akan giat melakukan ibadah dan menjauhi larangan. Karenanya hati menjadi lunak dan mudah menangis. Namun rasa takut yang hakiki hanya bisa diraih melalui jalur ilmu sebagaimana firman Allåh Subhanahu Wata’aala,

”Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”. (Al-Fathir:28)

Maka orang-orang yang mudah menangis ketika membaca atau mendengar ayat-ayat Allåh Subhanahu Wata’aala sebagaimana yang Allåh Subhanahu Wata’aala cantumkan di dalam kitabnya adalah para nabi dan ulama.
Imam Ibnu Qåyyim berkata, “Ahmad bin Ashin berkata, ’Orang yang paling mengenal Allåh Subhanahu Wata’aala sebagaimana firman Allåh Subhanahu Wata’aala,

dan sebagaimana sabda Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam,

“Demi Allåh aku orang yang paling mengenal Allåh dan paling kuat rasa takutnya kepada Allåh. (Shåĥiĥ al-Bukhåri no. 6101 dan Shåhih Muslim no. 2356)”(Tahdzib Madarijus Salikin hal. 617)

Makrifat terhadap Allåh Subhanahu Wata’aala tersebut, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qåyyim, meliputi tiga perkara yaitu: Pertama, tentang nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya secara terperinci. Kedua, tentang perintah dan larangan-Nya, dan mengimani janji dan ancamannya. Ketiga, tentang hari akhir dan segala sesuatu yang terjadi pada hari akhir seperti surga, neraka, haudh, hisab, mizan, dan shirath.

Di Saat Hati Membatu
Mata air hanya keluar dari tanah yang lunak (gembur/porus), mata air tak akan memancar dari gunung batu, begitu pula air mata hanya akan merembes dari hati yang lunak bukan dari hati yang telah membatu. Abu Shalih bercerita, “Serombongan orang dari penduduk Yaman menghadap Abu Bakar al-Shiddiq. Mereka kemudian membaca al-Quran diiringi oleh tangisan. Abu Bakr pun berkata,

‘Demikianlah kondisi kami (para sahabat) dahulu, hingga kemudian hati-hati pun menjadi keras dan mata pun enggan menangis.’.” (Al-Burhan fi Tajwidil Quran:IIV)

Lalu kenapa hati menjadi keras…? Penyebabnya tidak lain adalah adanya dosa-dosa. Allåh Subhanahu Wata’aala berfirman,

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu.” (Al-Maidah:13)

Syaikh Abdurråhman al-Sa’di berkata tentang ayat ini, “Disebabkan mereka enggan menjalankan perintah dan tidak menjauhi larangan, maka kami hukum mereka dengan beberapa hukuman. Pertama, kami laknat, yakni dijauhkan mereka dari rahmat kami. Kedua, kami jadikan hati-hati mereka mengeras, menjadi hati yang tebal, hati yang tidak bisa mengambil manfaat dari nasehat-nasehat ayat-ayat dan peringatan. Kabar gembira tidak membuat mereka tertarik untuk beramal, ancaman-ancaman tidak membuat mereka berhenti dari maksiat. Hukuman seperti ini merupakan hukuman terburuk bagi bagi seorang hamba.”

Hukuman berupa kerasnya hati terkadang bisa karena banyak berkata yang tidak berguna, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits,

“Janganlah kalian memperbanyak ucapan selain dzikrullah. Sunggguh banyaknya percakapan selain dzikrullah akan menyebabkan kerasnya hati. Sungguh manusia yang paling jauh dari Allåh adalah yang hatinya keras.” (Sunan al-Tirmidzi no. 2411, berkata Abu Isa (Tirmidzi), “Hadits ini hasan gharib.”)

(Sumber : Majalah Fatawa Vol.III/No.12 | Desember 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: