DAKWAH DAN CINTA SESAMA

Akhlak adalah salah muatan misi diutusnya Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Karena itulah dalam kehidupan sehari-harinya beliau sarat dengan kilauan akhlak yang mulia. Akhlak bersama keluarga, sahabat, tamu, tetangga dan ketika menjalankan aktivitas dakwah. Akhlak beliau memperindah untaian kata-kata pesan dan nasehatnya.

Keindahan akhlak beliau kepada sesama manusia adalah ketika memaafkan kejahatan para penentang dakwahnya. Inilah salah satu yang diwarisi oleh ahlussunnah. Di antara sifat-sifat terpenting yang dimiliki oleh Ahlussunnah adalah pengusaan ilmu dan menyayangi semua makhluk Allåh Subhanahu Wata’aala. Mereka adalah para pemilik ilmu, pengikut setia, pengamal ilmu dan pengikut perbuatan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Mereka adalah orang-orang yang amat mengetahui kebenaran, yang paling bersemangat dalam menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan yang memerangi Ahlul Ahwa (para pengikut hawa nafsu) serta para pelaku bid’ah. Semua itu didasari atas perasaan kasih kepada sesama makhluk Allåh Subhanahu Wata’aala. Tidak ada yang mereka inginkan kecuali kebaikan dan petunjuk. Karenanya, merekalah orang-orang yang amat luas dan besar rasa belas kasihnya kepada sesama dan yang paling benar nasihatnya.

Ibnu Taimiyah berkata, “Para imam Ahlussunah dan para ulamanya adalah orang-orang yang memiliki ilmu. Mereka berlaku adil kepada orang yang menyelisihi kebenaran, meskipun mereka dizhalimi. Sebagaimana firman Allåh Subhanahu Wata’aala,

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allåh Subhanahu Wata’aala, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (Al Maidah 8)

Mereka amat belas kasih kepada makhluk Allåh Subhanahu Wata’aala. Karenanya, mereka berusaha agar manusia dapat memperoleh kebaikan, petunjuk, dan ilmu. Mereka tidak pernah bermaksud untuk menimpakan kejelekan kepada manusia. Kalaupun mereka menghukum Ahlu Bid‘ah, menjelaskan kesalahan, kebodohan dan kezaliman mereka, tujuannya adalah semata-mata menjelaskan kebenaran dan karena rasa kasihan kepada mereka dan umat secara keseluruhan. Ibnu Rajab berkata, “Para rasul dan para pengikutnya yang sejati semuanya bersabar menahan derita dalam dakwah di jalan Allåh Subhanahu Wata’aala demi terlaksananya perintah-perintah Allåh Subhanahu Wata’aala. Mereka rela menerima siksaan yang sangat pedih dari manusia. Mereka menjalani semua itu dengan sabar bahkan dengan rela dan ikhlas, sebagaimana Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz berkata kepada ayahnya, ketika ayahnya menjabat khalifah, ‘Wahai ayah, demi terlaksananya kebenaran dan tegaknya keadilan, aku rela seandainya diriku dan dirimu dimasukkan ke dalam kuali-kuali yang berisi air mendidih karena Allåh Subhanahu Wata’aala.’”

Sebagian orang saleh berkata, “Aku rela tubuhku dipotong-potong kalau dengan itu kemudian menjadikan semua manusia mau taat kepada Allåh Subhanahu Wata’aala.” Maksud perkataannya bisa jadi karena dia kasihan terhadap sesama akan adzab Allåh Subhanahu Wata’aala di akhirat kelak. Karenanya dia rela menjadi tebusan adzab Allåh Subhanahu Wata’aala walau dirinya menderita di dunia. Atau bisa jadi karena dia telah mengetahui begitu agungnya Allåh Subhanahu Wata’aala sehingga berhak untuk diagungkan, dimuliakan, ditaati, dan dicintai. Sehingga dia berkeinginan agar semua makhluk taat kepada Allåh Subhanahu Wata’aala, walaupun dia harus mengorbankan dirinya di dunia. Ahlus Sunnah wal Jamaah mewarisi sifat-sifat terpuji ini dari pemilik akhlak yang agung yaitu Nabi Muhammad Subhanahu Wata’aala. Beliau adalah orang yang paling mengetahui kebenaran dan paling besar kasih sayangnya. Untuk menampakkan kebenaran, beliau sampaikan risalah Allåh Subhanahu Wata’aala dan menunaikan amanah dengan terus berjihad di jalan Allåh Subhanahu Wata’aala. Semua itu beliau lakukan disertai dengan rasa kasih sayang dan keinginan yang besar untuk membukakan pintu-pintu hidayah di dalam hati manusia. Hal ini dinyatakan sebagaimana tersebut dalam firman Allåh Subhanahu Wata’aala,

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Al-Taubah 128)

Aisyah R.A berkata, “Tidaklah Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dihadapkan kepada dua perkara melainkan beliau akan memilih yang paling ringan bagi umatnya, selama hal itu tidak termasuk ke dalam perbuatan dosa.”( Shåhih al-Bukhåri no. 3296 dan Shåhih Muslim no. 4294)

Coba kita ingat dan renungkan kembali berbagai penderitaan yang dialami oleh Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam berdakwah di jalan Allåh Subhanahu Wata’aala. Bagaimana saat beliau menyeru penduduk Thåif. Dakwah beliau ditolak, bahkan dilempari dengan batu, sehingga harus kembali ke Makkah dengan membawa nestapa yang mendalam. Tatkala beliau sampai di Qårnil Manazil, malaikat pengurus gunung mendatangi beliau menawarkan untuk melemparkan dua gunung di Makkah kepada penduduknya jika beliau berkehendak. Akan tetapi karena rasa sayang beliau terhadap ummatnya beliau menjawab,

“Semoga Allåh Subhanahu Wata’aala mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allåh Subhanahu Wata’aala semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu.” (Shåhih al-Bukhåri no. 3059 dan Shåhih Muslim no. 1795 dari hadits Aisyah.)

Berbelas kasih kepada sesama manusia dan berpegang teguh kepada kebenaran merupakan salah satu sifat yang melekat pada nabi-nabi terdahulu. Hal ini masih bisa kita saksikan dalam catatan perilaku kehidupan yang tampak jelas di dalam kisah-kisah mereka. Ibnu Mas‘ud R.A berkata, “Råsulullåh Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bercerita tentang seorang nabi dari nabi-nabi terdahulu. Nabi tersebut dipukul oleh kaumnya sehingga wajahnya mengucurkan darah. Nabi tersebut mengusap darah di wajahnya sambil berkata, ‘Ya Allåh, ampunilah kaumku karena mereka belum mengetahui kebenaran.’”

Generasi awal umat ini dan para ulama-ulama yang saleh juga menempuh jalan sebagaimana yang dicontohkan oleh para rasul. Abu Umamah al-Bahili telah mengeluarkan ungkapan yang benar dan menunjukkan belas kasihnya terhadap sesama makhluk, ketika beliau melihat 70 kepala orang-orang Khawarij dipancangkan di pinggir jalan raya Damaskus. Beliau berkata, “Hal ini dilakukan karena untuk menunjukkan kebenaran kepada umat. Mahasuci Allåh Subhanahu Wata’aala, alangkah buruknya apa yang diperbuat oleh setan terhadap anak Adam. Mereka, pengikut faham Khawarij yang dipancangkan kepalanya, adalah anjing-anjing Jahannam, sejelek-jelek orang yang dibantai di kolong langit ini.” (Lihat kembali pembahasan tentang Khåwarij ini pada Fatawa vol. I no.12). Kemudian beliau menangis seraya berkata, “Aku menangis karena kasihan kepada mereka.”

Demikian pula Imam Ahmad bin Hanbal yang tetap kokoh di atas kebenaran, tidak gentar terhadap celaan para pencela. Beliau mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa Al-Quran adalah kalamullah (firman Allåh) dan bukan makhluk. Beliau tetap bersabar menghadapi berbagai macam intimidasi dan fitnah yang dilancarkan oleh musuh-musuh beliau yaitu para pemuka Mu’tazilah dan pengikutnya, termasuk di dalamnya Khålifah al-Ma’mun, al-Mu‘tashim, dan al-Watsiq. Meskipun berat penderitaan yang ditimpakan kepada beliau, tatkala ke luar dari penjara beliau berkata, “Mereka yang pernah menyakitiku semuanya aku maafkan kecuali ahli bid‘ah. Dan aku juga telah memaafkan Abu Ishaq, yakni al-Mu‘tashim (khålifah yang paling keras menyakiti beliau).”

Teladan lain yang telah dicontohkan oleh para imam Ahlus Sunnah adalah apa yang diperbuat oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau tidak hanya mendakwahkan akidah salafussaleh tetapi juga berjihad dengan lisan dan pedang melawan kelompok-kelompok sesat dan meyimpang. Beliau membantah Ahlul Kitab, menelanjangi kedustaan kaum Bathiniyyah, mendebat kaum Shufi dan juga ahli filsafat. Semua itu beliau lakukan guna menjelaskan dan menyampaikan kebenaran. Namun demikian, dalam waktu yang bersamaan beliau juga menunjukkan sikap belas kasih dan ihsan kepada para penentangnya. Di antara bukti-bukti yang menunjukkan hal itu, adalah apa yang dikisahkan oleh murid beliau Imam Ibnu Qåyyim al-Jauziyah. Beliau berkata, “Suatu hari aku mendatangi Ibnu Taimiyah dengan maksud untuk memberi kabar gembira tentang kematian salah seorang musuh besarnya yang paling keras permusuhannya dan paling banyak menyakitinya. Akan tetapi beliau justru menghardikku dan memarahiku. Saat itu juga beliau segera pergi menuju rumah keluarga mayit dan berkata kepada keluarganya, “Mulai sekarang aku yang akan menggantikan tanggung jawabnya. Apapun yang kalian butuhkan akan aku usahakan untuk memenuhinya.” Maka merekapun bergembira dan mendoakan kebaikan untuk Imam Ibnu Taimiyah.” Ketika beliau sakit menjelang wafat, salah seorang musuhnya menjenguk beliau memohon udzur dan minta dimaafkan. Maka beliau berkata, “Aku telah memaafkanmu dan semua orang-orang yang memusuhiku, yang tidak menyadari bahwa aku berada di atas kebenaran.”

Ketika ahlussunnah mampu mengaplikasikan metode dakwah Rasulullah dengan konsisten dihiasi dengan keluhuran akhlak yang mulia, maka, biidznillah, dakwah ahlussunnah akan dimudahkan oleh Allåh Subhanahu Wata’aala dalam menuntun manusia pada jalan-Nya. Wallåhu a‘lam.
(Disadur dari kitab Ma‘alim fi as-Suluk wa Tazkkiyah an-Nufus tulisan Syaikh Abdul Aziz bin)

Sumber : Fatawa Vol.IV/No.01 | Muharram 1429 / Januari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: