Jalin Kasih Sayang dan Hindari Perpecahan Sesama Ahlus Sunnah

Marhaban bikum, wahai saudara-saudara di jalan Allah; wahai para penuntut ilmu yang mulia –penuntut ilmu luhur- yang telah sengaja datang dari pelbagai tempat nan jauh, dengan tujuan mereguk ilmu syari’at yang memancar dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam , di kota tempat turunnya wahyu, yaitu kota Madinah; kota nya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang merupakan tempat kedua bagi turunnya wahyu setelah Mekkah. Kota yang menjadi titik tolak berkibarnya panji-panji jihad dan penaklukan negeri-negeri, untuk menjunjung tinggi Kalimat Allah –Tabaraka wa Ta’ala- untuk menyebar luaskan agama ini dan memenangkannya atas semua agama yang ada, sebagaimana Allah Subhanahu Wata’aala berfirman :

Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama, meskipun orang-orang musyrik benci. (QS Ash Shaf : 9)

Sesungguhnya, Allah Subhanahu Wata’aala telah memenangkan agama ini melalui tangan para sahabat yang mulia lagi ikhlas itu. Para sahabat Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang telah menaklukkan hati para manusia dengan senjata ilmu, petunjuk dan iman, serta telah membobol benteng-bentang dan negeri-negeri dengan pedang kebenaran.

Mereka benar-benar telah membela dinullah –Tabaraka wa Ta’ala- dengan segenap potensi yang mereka miliki, dengan mengerahkan harta dan sepenuh jiwa yang mereka mampu. Mereka benar-benar telah mewujudkan tujuan yang dikehendaki Allah Subhanahu Wata’aala bagi agama ini, (yaitu) agar agama memimpin dan mengungguli seluruh agama yang ada. Karena sesungguhnya, agama ini berdiri tegak berdasarkan petunjuk dan ilmu, bukan berdasarkan hawa nafsu, kebodohan, ketololan dan kekacauan yang kini merebak di banyak negeri; yang dilakukan oleh orang-orang yang dakwahnya tidak berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi berdasarkan hawa nafsu, kecuali orang-orang yang diselamatkan Allah –Tabaraka wa Ta’ala-.

Universitas Islam Madinah ini, dengan segenap penanggung jawab dan pendirinya, dapat memahami realitas kaum Muslimin serta apa yang mereka alami di dunia Islam, berupa kebodohan dan jauh dari manhaj Allah Subhanahu Wata’aala – kecuali sedikit. Universitas ini dibangun berdasarkan manhaj Islam yang benar, yang terpancar dari Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Sekitar 4/5 dari keseluruhan mahasiswa yang diterima (80 %, Pent) diperuntukkan bagi mahasiswa dari seluruh dunia Islam. Sedangkan 20 % sisanya diperuntukkan bagi mahasiswa dalam negeri Haramain Syarifain (Makkah dan Madinah). Supaya mereka –yang pergi menuntut ilmu- itu kembali ke tempat turunnya wahyu, agar dapat mereguk ilmu dari sumber-sumbernya yang jernih, kemudian kelak pulang ke negeri masing-masing untuk menyebarkan kebenaran, kebaikan dan petunjuk yang mereka pelajari ini.

Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga diri. (QS At Taubah : 122).

Ini merupakan kesempatan besar bagi kalian, maka pergunakanlah kesempatan ini. Songsonglah ilmu yang bermanfaat, jernih, bersih yang berdasarkan Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ini. Sebab –Alhamdulillah- sumber-sumber rujukan ilmu itu banyak di hadapan kalian di Kota Madinah ini dan di universitas ini. Siapa yang menginginkan kebenaran dan kebaikan untuk dirinya, keluarganya, masyarakatnya serta negerinya, maka hendaknya ia bersegera mengerahkan kesungguhannya. Hendaknya ia timba ilmu dari para ulama yang ada, yang telah menghibahkan dirinya untuk mengajarkan dan menyebarluaskan al haq ini. Semoga Allah Subhanahu Wata’aala memberikan berkah kepada kalian.

Belajarlah kalian dari sumber-sumber rujukan yang berisi aqidah dan manhaj yang benar. Bacalah kitab-kitab tafsir Salaf. Yaitu kitab-kitab yang menafsirkan Kitab Allah Subhanahu Wata’aala dengan Kitab Allah Subhanahu Wata’aala, dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan dengan pemahaman para sahabat mulia, yaitu orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu serta bergaul dan hidup bersama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, orang-orang yang memahami maksud-maksud Al Qur’an dan Sunnah. Merekalah orang-orang yang pemahamannya harus dipegang. Begitu juga pemeliharaan mereka terhadap kitab Allah serta Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Karena itulah, katika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menceritakan tentang perpecahan firqah-firqah dan menceritakan tentang firqah (golongan) yang selamat, Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Orang-orang yang berjalan diatas jalan yang aku tempuh bersama para shahabatku. (Syaikh Rabi’ hafizhahullah mengisyaratkan hadits iftiraq yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya (3991-3993) dan Ibnu Abi Ashim dalam Kitab As Sunnah (6370). Syaikh kami (Kami di sini, maksudnya ialah murid-murid Syaikh Al Albani di Markaz Al Imam Al Albani, Yordania) menshahihkan hadits tersebut dengan beberapa riwayat).

Jadi pemahaman para sahabhat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang mulia terhadap dinullah yang haq ini, yang mereka timba dari Kitab Allah Subhanahu Wata’aala serta Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dari sabda-sabda Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, perbuatan-perbuatan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tarbiyah dan pengarahan Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, harus menjadi sumber rujukan kita. Merekalah kaum Mukminin yang dimaksudkan dalam firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An Nisa’:115).

Firman Allah Subhanahu Wata’aala di atas merupakan ancaman keras bagi siapa saja yang menentang Allah Subhanahu Wata’aala dan RasulNya, serta tidak mengikuti jalan kaum Mukminin. Karena itu perhatikanlah perkara ini, dan bersungguh-sungguhlah untuk memahami jalan kaum Mukminin; orang-orang yang pemahamannya bersandar kepada Kitab Allah serta Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ; bersandar pada pembinaan penyucian jiwa dan tarbiyah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang dilakukan terhadap mereka tentang Kitab Allah Subhanahu Wata’aala dan hikmah (Sunnah). Semoga Allah senantiasa memberikan berkah kepada kalian.

Ini merupakan kesempatan besar bagi kalian. Fahamilah dinullah dengan benar melalui kesempatan ini. Berusahalah dengan segenap kesungguhan untuk memenangkan agama ini, mengalahkan semua agama lain dengan senjata hujjah dan dalil. Kalian harus menuntut ilmu dari sumber-sumbernya yang asli; dari kitab-kitab tafsir Salafi dan kitab-kitab aqidah salafiyah yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Kitab-kitab yang menjelaskan kepada kalian tentang perbedaan antara jalan kaum Mukminin yang sebenarnya, dengan jalan para ahli bid’ah yang meninggalkan manhaj Allah Subhanahu Wata’aala yang benar.

Mereka, maksud saya, kaum Mukminin yang sebenarnya itu –demi Allah Subhanahu Wata’aala – merekalah orang-orang terpercaya dari umat ini, untuk menjaga agar umat tetap pada agama Allah Subhanahu Wata’aala, agar menjaga keselamatan aqidah serta manhaj beragama mereka dan agar mereka tetap istiqamah mengikuti risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Adalah hal yang telah kalian ketahui secara pasti, bahwa kita wajib mengikuti Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Wajib bagi kita berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Wajib bagi kita menggigit Sunnah itu dengan gigi geraham kita.. Sebagaimana telah dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ketika Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan nasihat mendalam hingga membuat air mata yang hadir bercucuran dan hati mereka bergetar. Akhirnya, mereka meminta agar Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan nasihat. Mereka berkata: “Ya, Rasulullah. Seakan-akan nasihat ini adalah nasihat dari seorang yang akan berpisah. Oleh sebab itu, berilah kami nasihat”. Maka Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab: Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah …Perhatikanlah baik-baik wasiat Rasulullah ini : … dan mendengar serta taat (kepada pemimpin). Sesungguhnya barangsiapa yang hidup di antara kalian kelak, niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang kepada Sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidun yang mendapat petunjuk. Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Dan berhati-hatilah, jangan sekali kali kalian mengada-adakan perkara baru dalam agama, sebab setiap yang baru dalam agama adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ashim dalam kitab As Sunnah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Zhilal Al Jannah : 24-34. Lihat pula Silsilah Shahihah, no. 937).

Nasihat ini meliputi wasiat agar bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’aala yang memang merupakan keharusan. Taqwa ini tidak akan merefleksi, kecuali pada diri para ulama sejati dan shalih. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wata’aala :

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. (QS Faathir 2 8

Maka bertaqwalah agar kalian bisa mencapai derajat ulama ini. Belajarlah agar kalian bisa sampai kepada kedudukan ini. Sebab orang yang mengetahui aqidah shahihah, manhaj-manhaj yang benar, hukum-hukum, adab-adab dan akhlak yang bersumber dari Kitabullah serta Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam ; Dialah orang yang akan takut kepada Allah Subhanahu Wata’aala. Karena sesungguhnya taqwa itu hanya akan terwujud dengan semua perkara di atas.

Berangkat dari pemahaman terhadap perkara-perkara yang telah saya sebutkan di atas, seorang hamba akan terdorong menjadi taqwa kepada Allah Subhanahu Wata’aala dan terdorong menjadi takut, serta senantiasa merasa terpantau oleh Allah Subhanahu Wata’aala setiap saat, di tempat manapun dan dalam kondisi yang bagaimanapun. Ini merupakan kedudukan yang agung; inilah sikap ihsan. Yaitu, apabila engkau beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’aala seakan-akan engkau melihatNya, tetapi sekalipun engkau tidak melihatNya, maka sesungguhnya Dia melihatmu (Penggalan hadits Jibril, terdapat dalam hadits Al Bukhari, Muslim dan lain-lain.).

Inilah tingkatan ihsan. Yaitu apabila pada diri manusia terdapat keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata’aala senantiasa melihatnya, Allah Subhanahu Wata’aala senantiasa mendengar setiap ucapannya, mendengar setiap detak kalbunya, mendengar setiap getaran hatinya dan mendengar setiap apa yang dibicarakan dalam dirinya. Allah Subhanahu Wata’aala mengetahuinya, mendengarnya dan melihat segala gerak-gerik serta diamnya. Seorang mukmin sejati, pasti mengagungkan Allah Subhanahu Wata’aala dengan seagung-agungnya. Ia dapat memahami bahwa Allah Subhanahu Wata’aala mendengar setiap yang ia katakan, mengetahui semua yang ia percakapkan dan ia bicarakan dalam dirinya. Ia memahami bahwa Allah Subhanahu Wata’aala memiliki “Malaikat-malaikat mulia yang mencatat (segala yang engkau lakukan). Mereka mengetahui apa yang engkau kerjakan”. (Lihat QS Al Infithar:11-12).

Bila perasaan yang baik ini sudah tertanam dalam diri seorang mukmin, niscaya ia akan memperoleh kekuatan taqwa, sehingga dengannya ia akan dapat menjauhi perbuatan-perbuatan maksiat, kesyirikan, bid’ah dan khurafat. Iapun akan memperoleh kedudukan ihsan. Sebab ia senantiasa merasa dipantau Allah Subhanahu Wata’aala dan merasa bahwa Allah Subhanahu Wata’aala senantiasa melihat dirinya. Tidak ada sesuatupun di antara urusan dirinya, baik sedikit, banyak maupun hanya seberat butiran atom, yang luput dari pengetahuan Allah Subhanahu Wata’aala. Rasa yang agung serta mulia ini, insya Allah akan mendorong seorang mu’min menuju taqwa kepada Allah Subhanahu Wata’aala. Namun tidak akan ada yang bisa mencapai keadaan ini, kecuali orang yang memahami aqidah shahihah serta hukum-hukum yang benar, berupa hukum halal maupun hukum haram. Juga mengerti perintah-perintah, larangan-larangan, janji dan ancaman Allah Subhanahu Wata’aala melalui Kitabullah serta Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Merekalah orang-orang yang berhak mendapat pujian dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Allah Subhanahu Wata’aala berfirman tentang mereka:

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah
ulama. (QS Fathir 2 8

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (QS Al Mujadalah:11)”

Bersemangatlah kalian untuk menjadi orang yang bertipe seperti ini. Maksudnya, hendaklah kalian memadukan antara ilmu dan amal. Itulah buah ilmu yang benar, taqwa kepada Allah Subhanahu Wata’aala dan selalu merasa diawasi oleh Allah Subhanahu Wata’aala. Jadi, saudara-saudaraku, kalian harus berusaha mendapatkan iman yang benar dan bersih, berusaha mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih. Allah,Rabbuna telah berfirman:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS Al Ashri : 1-3).

Iman yang benar hanya bisa tegak berlandaskan ilmu dan amal shalih. Amal shalih tidak akan terpancar, kecuali dari ilmu. Dakwah menuju Allah Subhanahu Wata’aala tidak akan bisa bergerak, kecuali bila dilakukan oleh orang-orang yang berilmu. Dan sabar dalam menghadapi tantangan –semoga Allah Subhanahu Wata’aala senantiasa melimpahkan berkah kepada kalian- senantiasa dituntut bagi orang yang berilmu, yang mengajarkan ilmu dan berdakwah mengajak orang kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Hendaklah kalian menjadi golongan orang yang berilmu, kemudian beriman terhadap ilmunya ini, kemudian mengajak orang untuk kembali kepada ilmu serta iman ini, dan bersabar menghadapi tantangan ketika menyampaikan kebenaran serta kebaikan kepada manusia. Sebab, seorang muslim yang beriman dan berdakwah kepada orang untuk kembali kepada Allah Subhanahu Wata’aala, pasti akan menghadapi tantangan yang mungkin tidak pernah terlintas di dalam benaknya, atau tidak pernah terbayangkan.

Hendaknya orang mukmin jangan heran terhadap tantangan itu. Sebab para nabi dan para rasul Allah pun, sebagai manusia terbaik –‘Alaihimush Shalatu was Salam-benar-benar telah mengalami gangguan di jalan Allah Subhanahu Wata’aala dan di jalan dakwah ilallah. Mereka mengalami gangguan lebih banyak dari kita dan mendapatkan permusuhan lebih keras dari permusuhan yang ditujukan kepada kita. Itulah makna sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam,

”Orang yang paling berat mendapatkan cobaan adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian orang yang sifatnya paling mendekat golongan sebelumnya. (Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Silsilah Shahihah, no. 143, 144.)”

Juga sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

Tiada seorangpun yang diganggu di jalan Allah seperti halnya aku di ganggu di jalan Allah. (Silsilah Shahihah, 2222.)

Maka, barangsiapa yang berpegang teguh pada Kitab Allah Subhanahu Wata’aala dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam kemudian mendakwahkannya, pasti akan mendapat gangguan, kecuali jika Allah Subhanahu Wata’aala menghendaki lain. Oleh karenanya, mantapkanlah dirimu untuk bersabar.

”Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az Zumar:10).”

Allah Subhanahu Wata’aala pun telah memerintahkan RasulNya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam untuk mengambil suri tauladan dari para rasul Ulul Azmi sebelumnya dan bersabar dalam mengarungi medan dakwah dan jihad, sebagaimana kesabaran Ulul Azmi. Allah Subhanahu Wata’aala berfirman:

”Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta (disegerakan) azab bagi mereka. (QS Al Ahqaf : 35).

Dan pada diri Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam serta pada diri semua nabi Allah Subhanahu Wata’aala terdapat uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagi kita. Jadi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam diperintahkan untuk mengikuti jejak, mengikuti petunjuk nabi-nabi sebelumnya. Sedangkan kita diperintahkan untuk mengikuti petunjuk serta mengambil suri tauladan dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat. (QS Al Ahzab : 21).”

Mengambil uswah hasanah meliputi semua aspek permasalahan yang dibawa oleh Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Ber-uswah (mengambil suri tauladan) dalam aqidah Beliau, artinya kita harus meyakini yang diyakini oleh Beliaun. Ber-uswah dalam ibadah Beliau, artinya kita harus beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’aala secara ikhlas dengan menyerahkan seluruh ketundukan hanya kepada Allah Subhanahu Wata’aala serta harus mengikuti tata cara yang diajarkan oleh Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam yang mulia ini. Dan ber-uswah dalam masalah akhlak luhur, yang kini banyak da’i kehilangan akhlak ini, banyak pemuda yang kehilangan akhlak agung ini, sementara sebagian pemuda lain melupakan banyak sisi dari akhlak ini atau bahkan melupakan semuanya. Padahal Allah Subhanahu Wata’aala telah memuji Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dengan pujian mendalam lagi harum (karena akhlak agung Beliau). Allah Subhanahu Wata’aala berfirman:

“Sesungguhnya engkau benar-benar berpijak pada akhlak yang agung. (QS Al Qalam : 4).”

Dengan demikian, seorang da’i ilallah (orang yang berdakwah untuk mengajak manusia kembali kepada Allah Subhanahu Wata’aala), seorang penuntut ilmu, seorang penyuluh masyarakat, serta pemberi nasihat, semuanya perlu ber-uswah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, baik dalam aqidah, manhaj maupun akhlaknya. Apabila perkara-perkara ini terwujud secara sempurna pada diri da’i ilallah, atau paling tidak mendekati sempurna, niscaya ia akan sukses dakwahnya –insya Allah. Da’i tersebut akan dapat menawarkan dakwahnya dalam bentuk yang paling indah dan paling afdhal. Semoga Allah melimpahkan berkah kepada kalian.

Namun jika seorang da’i tidak berakhlak mulia dalam urusan dakwahnya, tentu hal itu merupakan kekurangan yang teramat sangat dalam dakwahnya. Di antara akhlak tersebut ialah, akhlak sabar, hikmah, lemah-lembut, ramah dan akhlak-akhlak lain, yang semuanya merupakan perkara mendesak (dan) menjadi tuntutan dakwah semua rasul Allah ‘Alaihimush Shalatu was Salam. Atas dasar ini, maka seorang da’i harus menyempurnakan akhlaknya. Tetapi, terkadang banyak orang yang melalaikannya. Ini membahayakan dakwah salafiyah dan membahayakan pelakunya. Sebab, ketika melalaikan akhlak ini padahal sedang menawarkan dakwah salafiyah kepada halayak; dengan cara yang mereka benci dan mereka anggap buruk serta menakutkan, yaitu cara keras, kasar dan semacamnya; akan dapat menghambat dakwah dan menghambat diterimanya dakwah. Sesungguhnya hal-hal seperti itu dibenci menurut ukuran keduniaan, apalagi menurut ukuran agama.

Maka penuntut ilmu harus menempuh akhlak yang baik dalam berdakwah. Atas dasar ini, maka hendaknya engkau –wahai saudaraku- harus mengikuti atsar-atsar yang ada berkaitan dengan tata cara dakwah ilallah. Yaitu dengan cara mempelajari Sirah (sejarah perjalanan) Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, mempelajari akhlak Beliau, mempelajari aqidah Beliau dan mempelajari metoda dakwah Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Sebagian orang enggan memperhatikan aqidah serta manhaj Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Tetapi justru menempuh manhaj-manhaj serta aqidah-aqidah lain yang diciptakan oleh setan untuk para ahli bid’ah dan orang-orang sesat, orang-orang yang mampu ditundukkan setan. Dan ada sebagian orang lagi, mendapat taufiq untuk mengikuti aqidah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Tetapi mereka mengabaikan manhaj Beliau. Sebagian yang lain lagi, mendapat taufiq untuk mengikuti aqidah dan manhaj Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, tetapi dalam tingkah lakunya, mereka mengabaikan aqidah dan mengabaikan manhaj. Jadi ada sisi kebenaran pada diri mereka, yaitu aqidah serta manhajnya benar, tetapi tingkah laku mereka serta tata cara mereka dalam berdakwah justeru mematikan dakwah dan membahayakan dakwah.

Hati-hatilah, jangan sampai menyelisihi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam hal aqidah, manhaj, dan dakwah. Kalian harus mempelajari metode Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mengajak manusia. Jadikanlah petunjuk-petunjuk Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai ilham untuk membimbing kalian bersikap bijaksana, sabar, santun, lapang, memaafkan, lunak, lembut dan hal-hal lain yang semisal. Fahamilah ya ikhwan, dan ketahuilah bahwa cara-cara di atas merupakan keharusan bagi dakwah kita. Jangan ambil Islam hanya dalam satu sisi, sementara sisi-sisi lain kita abaikan. Atau jangan ambil satu sisi metode dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, sementara kita abaikan sisi-sisi lainnya. Sebab yang demikian itu akan membahayakan dinullah (agama Allah), membahayakan dakwah dan membahayakan pelaku dakwah.

Demi Allah, dakwah salafiyah tidak tersebar pada zaman sekarang ini dan zaman-zaman lain, kecuali melalui tangan orang-orang yang alim (ulama), bijaksana dan santun, yang menjadi cermin bagi manhaj Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan menerapkan manhaj itu menurut kemampuan. Maka Allah Subhanahu Wata’aala menjadikan mereka bermanfaat. Dakwah Salafiyah pun tersebar ke seluruh penjuru dunia disebabkan akhlak, ilmu serta kebijaksanaan mereka. Namun pada hari-hari ini, kita melihat dakwah salafiyah mengalami kemunduran dan penyusutan. Itu tidak lain karena dakwah ini telah kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh para ulama, bahkan kehilangan sikap bijaksana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam–sebelum kehilangan yang lain- kehilangan sikap santun, kasih sayang, akhlak, lemah lembut dan lunak yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam.

Suatu kali Aisyah R.A pernah memaki seorang Yahudi, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam memberikan teguran: ’Wahai, Aisyah! Sesungguhnya Allah mencintai kelemah-lembutan dalam semua urusan.( HR Muslim, 2165.)

Hadits ini, bila hari ini ada orang alim menyebutkannya untuk memberikan pengarahan kepada pemuda agar menempuh manhaj yang benar dalam berdakwah ilallah, tentu mereka akan berkata : “Ini adalah tamyii’ (mengikuti arus sana-sini atau tidak tegas)”.

Jika akhlak yang mulia ini disebut-sebut dan sering dipraktekkan dalam mengingatkan, seperti akhlak hikmah, lemah lembut, ramah, santun dan suka memaafkan, niscaya hasilnya orang akan banyak yang masuk ke dalam agama Allah Subhanahu Wata’aala dengan berbondong-bondong. Akhlak yang sesungguhnya merupakan kebutuhan mendesak bagi dakwah ilallah Tabaraka wa Ta’ala dan merupakan faktor daya tarik agar manusia mau mendekati dakwah yang benar. Namun orang-orang yang mengganti akhlak mulia tersebut justeru mempergunakan cara yang membuat orang lari, meskipun Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

Sesungguhnya di antara kamu ada yang membuat orang lari. (HR Bukhari no. 7159 dan Muslim no 466, dari hadits Abu Mas’ud Al Anshari.)”

Mudahkanlah, jangan engkau persulit dan berilah kabar yang menyenangkan, jangan engkau buat mereka lari.( HR Bukhari no. 69 dan Muslim no. 1732, dari hadits Abu Musa Al Asy’ari.)

Wahai saudara-saudaraku, sebenarnya mereka tidak faham. Demi Allah, mereka tidak faham kalau konsekwensi (perkataan mereka) membawa mereka harus menjuluki Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai mumayyi’ (ikut arus sana-sini/tidak tegas) pula. Menggiring mereka menjuluki para sahabat serta para ulama umatpun sebagai mumayyi’. Kekerasan mereka yang merusak itu, yang telah merusak dakwah salafiyah, mengharuskan mereka untuk menganggap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam sendiri – seorang nabi yang menyerukan agar orang bersikap lemah lembut, bijaksana dan lunak- sebagai nabi yang mumayyi’. Astaghfirullah!!!

Demi Allah, sebenarnya mereka tidak bermaksud mengatakan demikian, tetapi mereka tidak faham. Oleh karena itu, sekarang mereka harus memahami konsekwensi perkataan mereka itu. Demi Allah, (jika) kita berjihad, berdiskusi, menulis, memberi nasihat dan berdakwah dengan lemah lembut untuk mengajak orang kembali kepada Allah Subhanahu Wata’aala, merekapun akan menganggap kita mumayyi’. Mereka tidak ingin kalau kita mengucapkan: bijaksana, lunak dan lemah lembut. Kami benar-benar telah menyaksikan bahwa sikap keras telah menghancurkan dakwah salafiyah dan merobek-robek para pelakunya. Lalu apa yang mesti kita perbuat? Saya jawab ya ikhwah: Ketika kita lihat api menyala, apakah kita akan membiarkannya makin berkobar? Ataukah kita datangi dengan membawa akhlak-akhlak mulia yang akan memadamkan kebakaran-kebakaran itu?

Saya harus mengatakannya –ini merupakan kewajiban saya-. Meskipun saya sudah mengatakannya sebelum ini, akan tetapi saya lebih memusatkan perhatian saya untuk mengatakannya setelah melihat kehancuran serta bencana ini. Saya katakan: Kalian harus lemah lembut, harus lunak, harus saling bersaudara dan saling menyayangi. Sebab sikap keras itu hanya akan terarah kepada Ahlu Sunnah itu sendiri. Mereka membiarkan ahli bid’ah tetapi justeru mengarahkan sikap keras yang menghancurkan ini kepada Ahlu Sunnah, kemudian di dalamnya mengandung kezhaliman serta ketetapan-ketetapan hukum yang batil dan dhalim.

Maka jangan sekali-kali kalian menempuh cara yang justeru akan membinasakan kalian sendiri, membinasakan dakwah salafiyah dan membinasakan para pelakunya. Ajaklah orang supaya kembali kepada Allah Subhanahu Wata’aala dengan segenap kemampuan, berdasarkan hujjah dan dalil di setiap tempat, dengan firman Allah Subhanahu Wata’aala dan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Selanjutnya, sesudah meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu Wata’aala, engkau cari pertolongan melalui perkataan para imam petunjuk (a’immatul huda) untuk menjelaskan semua itu. Para imam yang Ahlu Sunnah serta ahli bid’ah, semuanya bisa menerima ke-imam-an serta kedudukan mereka dalam Islam. Saya wasiatkan kepada saudara-saudaraku yang pergi ke Afrika, Turki, India atau negeri lainnya, hendaknya mereka ucapkan kata-kata: Allah Subhanahu Wata’aala berfirman, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda dan ulama Fulan berkata, – yaitu ulama yang dihormati penduduk setempat.

Apabila engkau pergi ke Afrika misalnya, engkau katakan: Ibnu Abdil Barr berkata…, Imam Malik berkata …, ulama Fulan berkata…. Meskipun tidak sedikit disana jumlah orang yang memiliki aqidah rusak. Tetapi jika engkau datangi mereka dengan Kitab Allah Subhanahu Wata’aala dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, kemudian engkau bawakan pula perkataan ulama (yang mereka hormati-pent), niscaya mereka akan mendengar perkataanmu dan patuh kepadamu. Inilah hikmah (bijaksana). Namun kalau engkau hanya membawakan perkataan ulama yang ada pada dirimu saja, maka tidak akan ada orang yang menerimamu. Jadi, sesudah Kalam Allah dan Kalam RasulNya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, engkau harus membuat pendekatan melalui perkataan para ulama yang mempunyai posisi serta kedudukan di hati manusia dan mereka tidak bisa mencela pribadi serta perkataan ulama tersebut. Kalau engkau katakan “Imam Bukhari berkata …”, maka mereka akan menghormatinya.

Sebagai misal, orang sufi di manapun selalu menghormati Imam Bukhari, menghormati Imam Muslim, menghormati dua kitab shahih mereka, menghormati Imam Ahmad bin Hanbal, Al Auza’i, Sufyan Ats Tsauri dan ulama-ulama besar terdahulu lainnya. Jadi, sungguh di sana ada benang-benang pengikat yang bisa mempertemukan antara kita dengan mereka. Maka masuklah kepada mereka melalui celah-celah ini. Ini termasuk hikmah, wahai ikhwan! Atas dasar ini, tidak seyogyanya engkau sebutkan kepada mereka sejak pertama kali “Ibnu Taimiyah mengatakan …”, meskipun beliau seorang imam. Sebab orang-orang bodoh itu tidak mengenalnya. Sekalipun mengenal, tetapi mereka sudah dibuat benci oleh apa yang selama ini mereka dengar dari para tokoh mereka tentang Ibnu Taimiyah. Mereka tidak menghendaki dan tidak menginginkan Ibnu Taimiyah. Semoga Allah memberikan berkah kepada kalian. Sebutlah “Ibnu Taimiyah mengatakan ….” di kalangan salafiyin, karena mereka menghormati Ibnu Taimiyah. Tetapi jangan disebutkan di kalangan orang lain “Ibnu Taimiyah berkata, Muhammad bin Abdul Wahab berkata” –misalnya- sebab orang bodoh yang dididik di tengah-tengah ahli bid’ah akan lari darinya.

Syaikh-syaikh mereka memang membuat mereka lari dari nama-nama itu. Sebutkan kepada mereka nama-nama imam yang mereka hormati dan mereka sanjung-sanjung. Sebab para guru serta tokoh mereka telah membikin opini rancu tentang Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdil Wahab dan ulama serta imam dakwah lainnya, sebagaimana telah saya sebutkan tadi. Engkau jangan datang kepada mereka melalui pintu ini. Itu bukan hikmah. Tetapi masuklah kepada mereka melalui pintu “Imam Malik mengatakan, Sufyan Ats Tsauri berkata, Al Auza’i berpendapat, Ibnu Uyainah mengatakan, Imam Bukhari berkata, Imam Muslim berpendapat …, dalam juz sekian …, halaman sekian …

Hal semacam ini akan dapat diterima. Kalau mereka sudah menerima engkau, maka kelak mereka akan menghormati Ibnu Taimiyah dan memahami bahwa Ibnu Taimiyah berada dalam kebenaran. Merekapun akan menghormati Ibnu Abdil Wahab dan memahami bahwa beliau berada dalam kebenaran. Semoga Allah Subhanahu Wata’aala memberikan berkah kepada kalian. Demikianlah seterusnya. Saya katakan, ini merupakan peringatan agar kalian menempuh cara hikmah dalam mendakwahi orang banyak supaya kembali kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala. Kemudian, di antara cara hikmah lainnya ialah, jangan engkau caci jama’ah mereka.

”Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampui batas tanpa pengetahuan. (QS Al An’am:108).”

Saya akan bercerita. Ketika saya pergi ke Sudan, saya singgah di Port Sudan. Di sana saya disambut oleh para pemuda dari Jama’ah Ansharus Sunnah. Mereka berkata; “Ya, Syaikh! Kami ingin agar Syaikh memperhatikan sesuatu”. Saya jawab: “Ya silahkan. ”Mereka berkata: “Silahkan Syaikh berbicara apa saja yang Syaikh kehendaki. Silahkan katakan Allah berfirman, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda. Silahkan cerca segala macam bid’ah dan kesesatan, baik berupa do’a kepada selain Allah Subhanahu Wata’aala, menyembelih binatang korban untuk selain Allah, bernadzar, ber-istighatsah kepada selain Allah Subhanahu Wata’aala dan seterusnya. Tetapi janganlah Syaikh mencerca kelompok Fulan, Syaikh Fulan! Janganlah menyebut (kelompok) Tijaniyah termasuk firqah, jangan pula menyebut firqah Bathiniyah serta nama-nama tokoh mereka. Akan tetapi paparkanlah aqidah, niscaya Anda mendapatkan bahwa kebenaran yang Anda sampaikan diterima oleh mereka”.

Wahai pencari ilmu, jangan sekali-kali Anda menyangka bahwa bagian dari kesempurnaan manhaj yang benar, adalah keharusan mencela atau melecehkan tokoh-tokoh mereka. Sebab Allah berfirman:

”Dan janganlah kamu memaki sesembahan-sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampau batas tanpa pengetahuan”. (QS. Al An’am: 108).”

Celaanmu terhadap tokoh mereka, atau engkau mengatakan (ia) orang yang sesat, atau ia demikian, atau thariqat fulaniyyah! Dengan ini, mereka akan lari dari engkau, sehingga akhirnya engkau berdosa. Sebab telah membuat takut mempertakuti manusia. Diantara kalian memang ada yang menyebabkan orang menghindar melarikan orang (dari dakwah Islam). Nabi saat mengutus Muadz dan Abu Musa ke Yaman, Beliau berpesan: “Mudahkah, jangan kalian persulit dan berilah kabar yang menyenangkan, janganengkau buat mereka lari. (HR. Bukhari (4341) dan Muslim (2733).

Metode ini yang mengandung kemudahan dan simpati, yang tidak ada unsure yang menyebabkan untuk membuat orang menghindar lari. Demi Allah, aku tidak masuk masjid kecuali aku lihat rona muka mereka berbinar. Aku tidak bisa keluar masjid karena banyaknya orang yang ingin berjabat tangan denganku dan mendo’akanku. Kemudian tatkala tokoh-tokoh sufi, setan-setan (dalam bentuk manusia) menyadari bahaya metode dan manhaj dakwah ini bagi mereka, merekapun berkumpul dan membuat rencana dan berkonsolidasi menyiapkan ceramah untuk menyanggahku. Mereka menyampaikan ke khalayak bahwa akan ada ceramahku di lapangan besar. Kami berkumpul di lapangan itu. Aku mulai bicara. Kemudian pembesar mereka berdiri mengomentari ceramahku. Ia mulai membolehkan istighatsah (meminta tolong agar dibebaskan dari penderitaan yang sedang mendera), melegalkan tawasul. Mereka menafikan sifat-sifat Allah dan lain-lain. Ia mendukung berbagai kebatilan dengan takwil yang rusak. Begitu selesai dari pemaparan dalil-dalil yang ia miliki, yang ternyata hadits-hadits dhaif (lemah) lagi maudhu’ (palsu) ditambah dengan ucapan-ucapan para pengagum filosof Socrates, maka aku berkata: “Wahai hadirin, Antum telah mendengar ceramahku. Yang aku kutip hanya ‘Allah berfirman’ dan ‘Rasul bersabda’ dan ‘Para ulama besar mengatakan’. Namun lelaki ini hanya membawakan hadits-hadits palsu. Di dalamnya, sama sekali tidak ada peran (kutipan, Red) Al Qur’an. Apakah kalian pernah mendengar darinya firman Allah yang membolehkan istighatsah kepada selain Allah? Juga membolehkan tawasul? Apakah Antum mendengar darinya perkataan ulama umat Islam sekaliber Imam Malik dan yang sepadan dengannya? Yang Antum dengar tadi hanyalah hadits-hadits palsu dan lemah, juga ucapan orang-orang yang dikenal sebagai khurafi (orang-orang sesat) saja!”

Maka sang khurafi itu berdiri untuk mencela dan memaki! Dan aku hanya tertawa, tidak aku cela atau tidak aku maki. Komentarku tidak lebih dengan ucapan: “Barakallah fik. Jazakallahu khairan. Jazakallah khairan. Barakallah fik”. Kami berdua berpisah. Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Esoknya, pada hari kedua, di masjid-masjid dan pasar, mereka memperbincangkan bahwa kaum sufi telah dipecundangi!

Pelajarilah metode-metode agama yang benar ini. Tujuan kita adalah agar manusia mendapatkan hidayah. Orientasi kita adalah menyampaikan kebenaran kepada hati manusia. Saudaraku, Dalam berdakwah di jalan Allah Subhanahu Wata’aala, engkau harus menggunakan segala sarana yang sesuai syari’at yang engkau mampu. Menurut kamus kita, tidak ada kaidah “tujuan membenarkan segala cara”. Semacam ini adalah karakter ahli bid’ah, yang menyeret mereka dalam kedustaan, tipu muslihat petak umpat, bertele-tele dan makian. Persis seperti dengan apa yang dikatakan Imam ‘Ali bin Harb al Maushili:

“Setiap ahli bidah akan berdusta, tanpa memperdulikannya”.( Al Kifayah (hal. 123) karya Imam Khathib Al Baghdadi)

Ciri khas ini, sama sekali tidak ada pada diri kita. Kita adalah insan-insan yang jujur dan membawa kebenaran. Dalam setiap kesempatan, kita mempertunjukkan gambaran yang menyebabkan orang simpatik dan membekas di sanubari mereka. Barakallah fikum. Lalu kami bergegas menuju distrik Kasala di negara Sudan juga. Allah Subhanahu Wata’aala menghendaki dakwah di sana sudah lancar lagi baik, alhamdulillah. Kami pun ceramah, dan alhamdulillah ceramah kami bermanfaat. Kemudian kami menuju Ghatharif, kota kecil di sana. Kami mengelilingi semua masjid di sana. Para penduduk mengatakan: “Hanya ada satu masjid tersisa, milik tharikat Tijaniyah. Kami tidak mampu menembusnya”. Aku bertanya,”Mengapa?” Mereka menjawab,”Orang-orangnya sangat fanatik.” Akupun berkata,”Mari kita ke sana dan minta izin. Kalau mereka memberi izin, kita akan sampaikan ceramah. Jika tidak boleh, maka kita memiliki udzur di sisi Allah Subhanahu Wata’aala. Tidak sepantasnya kita menghadapi mereka dengan paksaan dan tindakan represif. Barakallah fikum.”

Kami datang dan shalat dengan imam. Usai shalat, aku mendekatinya dan mengucapkan salam, seraya berkata,”Bolehkah kami berceramah sebentar di hadapan jama’ah?” Ia menjawab,”Silahkan!” Aku mulai bicara. Aku menyeru mereka kepada Allah, tauhid dan Sunnah, dan perkara-perkara yang berhubungan dengan ilmu. Aku mengkritik kesalahan dan kesesatan yang terjadi, sampai (kemudian) aku mengangkat hadits ‘Aisyah yang muttafaq ‘alaihi (disepakati Bukhari Muslim): “Ada tiga perkara, barangsiapa mengatakan salah satunya, berarti ia telah berdusta atas nama Allah dengan kedustaan yang besar. (Yaitu): Barangsiapa mengatakan Muhammad melihat Rabb-nya, maka ia telah berdusta besar atas nama Allah. Barangsiapa mengatakan Muhammad mengetahui yang terjadi besok, maka ia telah berdusta atas nama Allah -dan aku perkuat dengan membawakan dalil-dalil tentang itu. Dan barangsiapa mengatakan Muhammad belum selesai menyampaikan risalah, maka ia telah berdusta atas nama Allah.” (HR. Bukhari (4855) dan Muslim (177) dengan teks yang hampir sama.)

Maka sang imam yang sebelumnya terlihat gelisah (lantas) berdiri dan berkata: “Demi Allah, Muhammad telah melihat Rabb-nya dengan mata kepalanya sendiri”. Aku berkata kepadanya: “Jazakallah khairan. Bukankah ‘Aisyah orang yang paling tahu tentang Nabi? Ia mengatakan ‘Barangsiapa mengatakan Muhammad telah melihat Rabb-nya, maka ia telah berdusta besar atas nama Allah’. Seandainya Beliau telah melihat Rabb-nya, tentu sudah Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam beritahukan kepada ‘Aisyah. Namun Beliau tidak mengabarinya”. Orang ini mulai keras kepadaku dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Maka aku jawab: “Saudaraku, tunggu sebentar! Biarkan aku selesai dari pembicaraanku. Setelah itu, bertanyalah sesukamu! Yang aku tahu, akan kujawab. Yang tidak kuketahui, maka aku akan mengatakan ‘Allah a’lam’.” Aku biarkan dia dan kuteruskan pembicaraanku. Aku tidak tahu, apakah ia tetap di masjid atau pergi. Aku tidak tahu. Aku tidak menoleh kepadanya. Kemudian aku dengar ada orang yang mengatakan “Demi Allah, perkataan orang ini benar”. Kemudian aku dengar pernyataan yang sama dari orang lain dan menambahi dengan “Orang ini hanya menukil “firman Allah, sabda Rasul”. Barakallah fikum.

Sampai kemudian terdengar adzan Isya‘. Ceramah usai dan iqamah dikumandangkan. Tiba-tiba mereka mendorongku untuk menjadi imam. Aku berkata,”Tidak! Aku tidak akan menjadi imam. Imamlah yang akan shalat (bersama kalian).” Mereka berkata,”Demi Allah, shalatlah! Demi Allah, majulah!” Maka aku jawab,”Baiklah,” maka aku mengimami shalat dengan mereka. Usai shalat, aku menunggu, dan kemudian aku keluar dengan para pemuda -dari Anshar Sunnah- yang bersamaku. Aku bertanya kepada mereka,”Dimana sang imam?” Mereka menjawab,”Mereka telah mengusirnya.” Aku bertanya,”Siapa yang melakukannya?” Mereka menjawab,”Para jama’ahnya.” Inilah yang terjadi, wahai saudaraku. Kalau ada orang yang datang kemudian membodoh-bodohkan penganut tarikat Tijani Marghinani, kemungkinan besar mereka akan langsung menyembelihnya, tidak sekedar diusir saja. Tetapi bila kalian menemui mereka dengan hikmah dan kelembutan -barakallah fik- Allah akan memberikan manfaat untuk mereka dengan metode ini.

Pergunakanlah ilmu yang bermanfaat dan hujjah yang kuat serta hikmah yang berdaya guna dalam dakwahmu. Kalian harus menghiasi diri dengan budi-pekerti yang baik lagi luhur yang dianjurkan oleh Al Kitab dan juga oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Itu semua adalah faktor-faktor kemenangan dan rahasia keberhasilan. Percayalah, para sahabat tidak menyebarluaskan Islam dan dapat menembus relung hati kecuali dengan hikmah dan ilmu. Ilmu mereka lebih berperan daripada pedang-pedang mereka. Orang yang masuk Islam karena takut pada pedang, kadang-kadang keyakinannya tidak kokoh. Adapun orang yang masuk Islam melalui jalur ilmu, argumentasi dan petunjuk, inilah orang yang akan tegar dalam keimanannya dengan idzin Allah Subhanahu Wata’aala dan taufikNya. Kalian harus melaksanakan cara-cara yang baik ini. Kalian harus tekun belajar. Kalian harus giat dalam berdakwah. Saya ingin mengingatkan kalian –wahai saudaraku- tentang dua hal: Pertama. Menjalin persaudaran sesama Ahli Sunnah seluruhnya. Wahai, salafiyyun! Tebarkan ruh cinta dan kasih sayang sesama kalian. Realisasikan perintah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam atas diri kita, bahwa orang-orang beriman itu seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. (HR. Bukhari (481) dan Muslim (2586) dari Abu Musa Al Asy’ari).

Mereka layaknya juga sebuah tubuh. Jika salah satu anggota badannya menanggung sakit, maka mengundang seluruh anggota lainnya untuk ikut merasakan demam dan tidak tidur.( HR. Bukhari (6011) dan Muslim (2586) –teksnya milik Muslim dari Nu’man bin Basyir.). Jadilah demikian –wahai saudaraku. Jauhilah faktor-faktor perpecahan. Karena hal itu-demi Allah- kejelekan yang berbahaya dan penyakit yang menular. Kedua. Jauhilah faktor-faktor yang menyeret kepada dendam dan permusuhan, perpecahan dan saling antipati. Jauhilah semua ini. Pasalnya, realita ini telah mencengkeram tangan-tangan orang-orang yang hanya Allah Subhanahu Wata’aala sajalah yang mengetahui keadaan dan interes-interes mereka. Perkara-perkara di atas telah mendominasi dan banyak terjadi, mengoyak para pemuda di negeri ini -baik di universitas ini ataupun tempat lainnya- maupun di seluruh penjuru dunia. Kenapa terjadi demikian? Lantaran ada orang yang menerjuni ladang dakwah, tetapi ia bukan ahlinya, baik ditinjau dari kapasitas ilmu maupun pemahamannya. Atau ada kemungkinan mereka berasal dari kubu musuh yang menempatkan seorang aktor untuk mencabik-cabik dan memecah belah kalangan salafiyyin. Demikian ini, sama-sekali tidak mustahil. Bahkan mesti terjadi. Barakallah fikum. Karena itu, prioritaskan jalinan tali persaudaraan. Jika pernah terjadi konflik diantara kalian, maka lupakanlah yang telah berlalu. Keluarkanlah lembar catatan yang putih –lembaran baru- sekarang. Aku nasihatkan kepada ikhwah: Terhadap orang yang muqashshir, tidak sepatutnya kita jatuhkan atau kita menghabisinya. Kepada orang yang berbuat kekeliruan diantara kita, tidak perlu kita menghabisinya -barakallah fikum. Tetapi kita koreksi dengan lembut dan hikmah. Kita berikan kepadanya bukti kecintaan dan sayang, serta seluruh etika yang baik disertai dakwah yang benar, sehingga ia bisa bertaubat. Kalau masih ada kelemahan pada dirinya, hendaknya kita tidak tergesa-gesa memberikan respon negatif. Jika kita tidak demikian, demi Allah, tidak akan ada orang yang tersisa, tidak akan ada yang tertinggal!

Sekarang ini, sebagian orang memojokkan salafiyyin; bahkan sampai tingkat ulamanya dan menyematkan kepada mereka label mumayyi’in! Sekarang, tidak ada ulama kecuali telah dituduh negatif. Ini adalah tradisi Ikhwanul Muslimin dan budaya ahli bid’ah. Termasuk senjata ahli bid’ah, adalah memulainya dengan menjatuhkan kehormatan para ulama. Ini justru praktek Yahudi Masoni: jika Anda ingin menghancurkan sebuah pemikiran, maka hancurkan wibawa ulama dan tokoh-tokohnya!

Jauhilah barang warisan yang buruk ini. Muliakanlah ulama. Demi Allah. Tidak akan ada orang yang berusaha mengkritikku atau mencoreng apa yang sedang kita lakukan ini, kecuali ia bertujuan menjatuhkan manhaj. Orang yang membenci manhaj ini akan mengomentari ulamanya dengan miring. Orang yang antipati terhadap manhaj ini dan ingin menumbangkannya, ia tentu akan menempuh cara ini. Cara ini terbuka bagi mereka, (yang merupakan) metode Yahudi dan juga cara-cara kelompok sesat, baik dari kalangan Syi’ah dan lainnya. Syi’ah sangat membenci Islam. Namun mereka tidak berdaya untuk membidik Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam langsung. Karena itu, mereka mencerca habis-habisan Abu Bakar, Umar dan ulama Islam. Mereka hendak menghancurkan Islam. Para ahli bid’ah yang kuat, jika akan mencerca, tidak akan berkomentar miring terhadap Imam Ahmad, Imam Syafi’i. Tetapi mereka akan melayangkannya kepada Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Ibnu Taimiyah dan lainnya, demi meruntuhkan manhaj ini.

Sekarang ini, ada sebagian orang yang tumbuh di tengah barisan salafiyyin. Namun tidak aku ketahui, kecuali mereka ingin menginjak-injak kepala para ulama. Apa yang mereka inginkan? Apa yang mereka kehendaki? Bila mereka menginginkan Allah Subhanahu Wata’aala, akhirat dan membela manhaj ini –dan mereka mencintai manhaj ini- demi Allah, niscaya akan membela para ulama tersebut. Jangan merasa aman terhadap mereka atas agama kalian. Janganlah kalian percaya kepada mereka. Barakallah fikum. Waspadailah mereka dengan ekstra waspada. Bersatu padulah dan jalin persaudaraan sesama kalian. Aku tahu, kalian tidak ma’shum (terjaga dari dosa). Ulama juga tidak ada yang ma’shum. Kita kadang mengalami kekhilafan, kecuali, kalau ada orang yang masuk ke dalam Syi’ah, Mu’tazilah, atau Jahmiyah, atau hizbiyah lainnya, maka orang semacam inilah yang harus dicampakkan. Adapun orang salafi yang loyal dengan kalangan salafiyyin, yang mencintai manhaj Salaf -barakallah fikum-yang antipati kepada hizbiyah, membenci bid’ah dan benci pengusungnya serta tanda-tanda lain dari manhaj Salaf, kemudian mengalami kelemahan pada sebagian aspek, maka kita harus bersikap lembut kepadanya, tidak kita tinggalkan; tetapi kita nasihati dan bersabar dengannya dan mencoba memperbaikinya -barakallh fikum.

Sedangkan ungkapan “Siapa yang berbuat salah, berarti ia telah hancur”, maka jika berpegang dengan kaidah ini, niscaya tidak akan ada orang yang tersisa! Karena itu, lihatlah mereka, saat tengah menggarap telah memberesi generasi muda. Mereka memulainya dengan untuk menghabisi ulama. Ini manhaj Ikhwanul Muslimin. Mereka telah menerobos ke berbagai negara. Dan langkah awal yang mereka lakukan ialah dengan menjatuhkan wibawa ulama. Pada saat yang bersamaan, mereka membela Sayyid Quthb, (Hasan) Al Banna, (Abul A’la) Al Maududi dan ahli bid’ah lainnya. Mereka menjatuhkan ulama yang berhaluan manhaj Salaf, dan menuduhnya sebagai para pegawai negeri, mata-mata, ulama penguasa… dan berbagai tuduhan lainnya! Apa yang mereka inginkan?! Tujuan mereka, ialah untuk meruntuhkan manhaj Salaf, (kemudian) membangun beragam kebatilan dan kesesatan di atas reruntuhannya. Sekarang, orang-orang yang menikam (para ulama), mereka mengklaim dirinya sebagai salafiyyun, namun kemudian mereka menikam ulama salafiyah! Apa yang mereka inginkan? Menegakkan bendera Islam? Mengibarkan panji Sunnah dan manhaj Salafi?!

Mana mungkin? Mana mungkin? Ini faktor yang menguatkan adanya indikasi penguat dan indikator kalau mereka kelompok pembohong dan pihak yang tertuduh; apapun klaim mereka. Saya berwasiat untuk kalian, wahai saudara-saudaraku. Dan aku tekankan, tinggalkan perpecahan. Kalian harus saling berkawan. Kalian harus saling menolong untuk membela al haq. Kalian harus menyebarkan dakwah ini –di kalangan mahasiswa Jami’ah dan tempat lainnya- dengan cara yang benar dan penampilan yang baik. Bukan menawarkannya dengan potret carut-marut yang dipraktekkan mereka! Suguhkan dakwah salafiyah –seperti penjelasanku kepada kalian- dengan tampilannya yang menawan: “Allah berfirman…, Rasulullah bersabda…, Sahabat menjelaskan…, Imam Syafi’i berpendapat…, Imam Ahmad berkata…, Imam Bukhari mengatakan…, Muslim mengatakan… Demikian juga imam-imam lain yang mereka hormati dan muliakan. Ajak mereka mendengar perkataan para imam mereka-barakallah fikum.

Ini akan sangat membantu kalian. Memang benar, kalian akan menghadapi adanya pihak yang melawan. Namun, tidak setiap orang akan memusuhi. Kalian akan mendapati bahwa masih banyak orang yang akan menyambut dakwah kalian, baik di Jami’ah (Universitas Islam Madinah), atau tatkala kalian kembali ke negara asal. Pergunakan cara-cara ini, yang akan menarik orang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan kepada manhaj Salafush Shalih, aqidah yang benar dan manhaj yang tepat. Aku memohon kepada Allah Tabaraka Wa Ta’ala, semoga memberikan kepada kita taufik menuju hal yang dicintai dan diridhaiNya, menjadikan kita da’i-da’i yang ikhlas dan ulama yang beramal, juga agar menjauhkan kita sekalian dari tipu-daya setan, baik setan dari bangsa jin maupun jenis manusia. Aku juga memohon kepada Allah Subhanahu Wata’aala, supaya memadukan hati kalian, menyatukan suara kalian di atas al haq, dan menjadikan kalian bermanfaat dimanapun berpijak, dimanapun kalian tinggal dan bepergian. Semoga Allah mewujudkannya.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.
(Syeikh Rabi Al Madkhaly)
(Bonus Majalah As Sunnah)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: