Dimana Letak Kenikmatan Ibadah

Yahya bin Yaman berkata : “Aku bertanya kepada Sufyan Ats-Tsauri :”Wahai Abu Abdillah, dimanakah letak kenikmatan ibadah?” Beliau menjawab :”Jika sekarung roti rela ditukar dengan satu dirham, hingga seseorang tidak melirik kepada yang lain.”

Para pendahulu kita yang shalih melihat realita kehidupan, mereka hidup bersama manusia, memperhatikan problematika mereka dan mengetahui begitu kuatnya pengaruh ekonomi dalam kehidupan manusia, kebutuhan yang darurat dan mendesak. Mereka tidak hanya memberikan solusi berupa nasehat dan wejangan dan tidak membiarkan manusia terus dalam keadaan lapar dan tidak berpakaian, tidak pula berpura-pura tidak tahu akan kebutuhan pokok bagi manusia.

Inilah Sufyan Ats-Tsauri, memandang derajat paling utama dalam meraih kelezatan ibadah dan membersihkan hati, yakni kedudukan yang ditandai dengan murahnya harga dan tercukupinya makanan pokok, hingga sekarung roti dihargai satu dirham! Yang demikian itu agar “Seseorang tidak melirik kepada orang lain” yakni seseorang tidak susah-susah mencari roti namun tak di dapatkan, sedangkan ia melihat orang lain dalam keadaan kenyang dan stok yang melimpah mampu untuk memberi. Manakala secara umum semua telah hilang belenggu harga yang membumbung tinggi, maka memungkinkan manusia untuk berkonsentrasi dalam beribadah, berdzikir, merenung dan mencari ilmu yang bermanfaat. Berbeda halnya manakala dalam keadaan sulit mendapatkan makanan pokok, dan tidak dapat memperolehnya melainkan dengan cara yang amat sulit atau dengan harga yang terlalu tinggi atau karena langkanya pada waktu tertentu.

Dari sini kita mendapatkan bahwa para salaf Rahimahumullah memiliki nasihat-nasihat yang banyak dan bermanfaat dalam perkara ini, secara fokus mengarah pada pentingnya memenuhi kebutuhan pokok manusia, hingga dapat menjaga kehormatan mereka dan menjaga martabat manusia dari kehinaan. Sebagian Tabi’in ada yang setiap hari pergi ke pasar untuk bertanya tentang harga makanan pokok, dia tidak hendak berjual beli, akan tetapi dia merasakan tenteram manakala mendapatkan harga sembako (dalam bahasa negara indonesia) murah sehingga meringankan kaum muslimin secara umum lalu dia bertahmid kepada Allah karenanya.

Mereka tidak suka jika manusia banyak terbelit hutang karena sekedar ingin mengenyangkan perut dan menuruti keinginan yang tidak perlu, agar hutang tidak menyibukkannya dari berpikir, berdzikir dan beribadah.

Sufyan Ats-Tsauri ditanya tentang seseorang yang memiliki hutang :”Bolehkan ia memakan daging (padahal dia berhutang)? Beliau katakan : “tidak.”

Suatu ketika ada seseorang berkata kepada Ibrahim bin Adham :”Harga daging mahal!” Beliau berkata : “Apakah mereka ingin murah?” Orang itu menjawab : “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab : “Dengan meninggalkannya.”

Sesungguhnya persoalan harga yang membumbung tinggi dan barang yang langka yang dialami oleh kebanyakan masyarakat Islam hari ini, telah ada solusinya. Dalam wasiat para salaf yang menganjurkan agar mencukupkan diri dengan barang-barang pokok dan tidak berlebih-lebihan, menghambur-hamburkan, berbangga dan bergaya (sok kaya) sebagaimana seorang pedagang yang akan mendapatkan pahala di sisi Allah bila memberikan kemudahan bagi saudaranya dan tidak membohongi mereka karena berharap keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Kalau saja para pedagang hari menerima nasehat-nasehat ini maka tidaklah perlu demo besar-besaran untuk menuntut turunnya harga sembari mengangkat pundaknya dan mereka ingin lari dan berpaling dari ikatannya.

Seandainya masyarakat Islam memiliki kesadaran yang sempurna, kepribadian yang utuh, niscaya akan banyak problem yang lebih mudah diselesaikan. Seperti apa yang dialami oleh kebanyakan negeri-negeri Islam yang terbelit hutang dengan orang-orang barat dan timur. Hingga mereka membutuhkan uluran tangan orang luar untuk mencukupi kebutuhan makanan, obat-obatan, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan pokok yang lain.

Bagi para da’i hendaknya mengetahui bahwa nasehat saja tidaklah cukup menyelesaikan masalah, namun harus mampu mengidentifikasi persoalan, memahami hakikatnya lalu memberikan solusi yang riil, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup manusia secara cukup dan mudah, dengan hal itu tercapailah kenikmatan ibadah.

from :Buku Potret Kehidupan Para Salaf (Edisi Indonesia) Penulis DR. Musthafa Abdul Wahid Penerbit Pustaka At Tibyan (Judul Asli : Haakadzaa.. Tahaddatsas Salaf)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: