Cahaya yang masuk di hatimu

Ishak bin Ibrahim berkata : “Aku mendengar Sufyan bin Uyainah berkata :”Pikiran adalah cahaya yang dimasukkan di hatimu !” Sufyan juga sering mengatakan :”Jika seseorang memiliki fikiran, maka segala sesuatu baginya adalah pelajaran”

Beliau juga mengatakan :”Berpikir adalah kunci rahmat, tidakkah anda memperhatikan bahwa seseorang yang berfikir akhirnya bertaubat?”

****

Begitulah pendangan para pendahulu kita tentang urgensi berpikir. Mereka mendudukkan ide dan gagasan-gagasan, tidak seperti yang dituduhkan orang-orang hasad bahwa para salaf hanya sekedar menghafal nash-nash, mengulanginya dan tidak menghayatinya, mereka tidak pula memusuhi para pemikir selagi masih sebagai ahlus Sunnah dan ahlul Atsar. Bahkan mereka mengumpulkan dua perkara, sukses dalam dua kebaikan, mereka bisa mengambil manfaat dari nash-nash dan khabar (hadits), mereka bisa pula mengambil manfaat dari ide dan gagasan, mereka memiliki pemahaman yang jeli, pandangan yang cemerlang, memperhatikan saran pemikiran, dan menghargai perasaan hati nurani.

Dengan pikiran dan gagasan ini mereka memenuhi kitab-kitab yang mereka tinggalkan untuk kita dengan berbagai macam cabang pengetahuan dan ilmu kehidupan. Orang-orang jelek mencoba untuk memisahkan antara manhaj khabar dan atsar dengan manhaj fakir dan wawasan. Lalu mereka mengklaim sebagai ulama yang menjaga manhaj khabar dan membuang manhaj fakir dan bahwa orang yang iltizam dengan nash mesti membuang wawasan dan pemikiran, lalu mengkategorikan hal itu sebagai filsafat (yang dilarang oleh salaf). Padahal keterkaitan antara “manqul” (dalil naqli) dengan “ma’qul (dalil akal) dalam agama dan dalam sejarah ilmu pengetahuan kita sangatlah erat. Tidak mungkin untuk direkayasa agar saling kontradiksi.

Al-Imam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah telah menulis dalam kitabnya yang monumental “Dar’u Ta’arudh Al Aql wa An Naql” (membantah adanya kontradiksi antara akal dan naql) sebagai bantahan terhadap syubhat tersebut sebagaimana beliau juga menulis dalam kitabnya “Muwafiqatu Shahih Al Manquul li Sharih Al Ma’qul” (kesepakatan antara dalil naqli yang shahih dengan dalil aqli yang sharih/jernih) karena beliau mengetahui bahwa Islam adalah dien yang menganggap akal sebagai bagiannya dan kuatnya agama adalah setelah berpikir dan mengambil pelajarannya.

Di dalam Al Kitab Al Kariem terdapat 10 ayat yang menyeru untuk berpikir, menganalisa dan melarang mereka taqlid buta atau tunduk kepada Syubhat yang sesat ! Allah berfirman :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Ali Imran : 190-191)

Metode berpikir, mencari ide dan gagasan adalah manhaj yang telah digariskan oleh imam-imam kita, para ulama pada generasi yang utama. Akan tetapi di abad kebodohan dan kemunduran, manusia disibukkan dengan keajaiban-keajaiban dan khurafat, di antara mereka ada yang mencampakkan cahay akal, hingga mereka menakut-nakuti orang yang bertanya dan meminta penjelasan dengan mengatakan “Barangsiapa berkata kepada syaikhnya mengapa? Apa alasannya, maka dia tidak akan beruntung!”

Saya ingat dengan kalimat yang pernah saya baca dalam buku Hayatu Al Hayawan Al Kubra Karya Ad Damiiri, dia berkomentar tentang keajaiban, cerita dusta dari sebagian dongeng, seakan-akan dia khawatir jika pembaca akan membantahnya dengan akalnya dan penalarannya, lalu dia menulis ditujukan bagi yang membacanya “Hendaknya anda meyakini dan tidak mengkritik, maka anda selamat!”

Yakin dengan dasar apa? Apakah dengan dongengan yang direkayasa atau kejadian aneh yang mereka klaim di luar persoalan aqidah dan tidak ditujukan oleh khabar yang shahih.

Kemudian bangkitnya pengetahuan Islami dari tidur nyenyaknya, di tangan para pahlawan yang mendudukkan pikiran sesuai dengan proporsinya, mereka kumpulkan antara naqli dan aqli yang shahih karena mereka tahu bahwa pikiran adalah cahaya yang masuk di hati dan kunci rahmat sebagaimana yang dikatakan Sufyan bin Uyainah Rahimahullah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: