Engkau Selamat Dari Gangguanku

Sufyan bin Uyainah Rahimahullah menafsirkan makna salam yang saling diucapkan oleh orang-orang mukmin setiap kali bertemu dan ucapan yang merupakan syi’ar Islam dengan perkataan beliau : “Orang yang mengatakan assalamu’alaikum, berarti dia mengatakan engkau selamat dari gangguanku dan aku selamat dari gangguanmu, kemudian dia mendoakan dan mengatakan wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh. Maka tidak sepantasnya jika kedua pihak yang saling mengucapkan salam tersebut menggunjing di belakangnya dengan sesuatu yang tidak layak, baik berupa ghibah ataupun selainnya.”

Bercermin dari perkataan Al Imam Al Faqih tersebut, sungguh sangat disayangkan dalam kehidupan umat Islam saat ini. Mereka menghilangkan makna suatu kalimat berpaling dari makna yang ditunjukkan dalam lafazh tatkala dia beribadah dan bermua’malah sehingga seakan-akan itu sekedar ucapan dan gerakan-gerakan, tidak pula meninggalkan bekas sesudahnya, tidak dapat merubah perbuatan dan perangai yang salah. Kalimat yang saling diucapkan sesama saudaranya hanyalah sekedar ikut-ikutan, tidak diiringi dengan hadirnya perasaan dan tidak pula menjaga keburukan. Padahal kalimat salam itu dianjurkan oleh Islam untuk disebarluaskan dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala jadikan sebagai ucapan selamat bagi orang-orang mukmin tatkala masuk jannah, sebagaimana firman Allah Yang Maha Benar :

“Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya adalah ucapan salam” (Al Ahzab : 44)

Dan firman Nya :

“(sambil mengucapkan) ‘salamun’alaikum bima shabartum’.” (Ar-Ra’du : 24)

Juga sabda Nabi Shalallahu’Alaihi Wa Sallam : “Sebarkanlah salam di antara kalian.” Salam adalah kalimat yang memiliki kandungan makna yang dalam, cakupannya luas, dan bukan sekedar ucapan selamat sebagaimana adat yang berlaku bagi manusia tatkala saling bertemu.

Kalimat tersebut merupakan pernyataan dari seorang muslim yang bertemu dengan saudaranya, bahwa dia betul-betul suka jika saudaranya dalam keadaan selamat dan berharap secara tulus akan hal itu, maka hal itu menuntut dirinya untuk menjaga darah, harta dan kehormatan saudaranya. Dia siap untuk menjaga kehormatan saudaranya dan menjaga hak-haknya. Ini adalah janji dan sumpah setia yang sebagai balasan dari ucapannya diwujudkan dengan saling menghormati dan membiasakannya.

Jika saudaranya muslim menjawab dengan ucapan “wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh”, maka berarti dia telah menambah ikrar dan mendoakan saudaranya agar dirahmati Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan diberkahi. Hal ini sebagai realisasi dari perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa).” (An Nisa 86)

Dengan jawaban seperti ini, maka dapat lebih melengkapi perjanjian dan menyempurnakan kesepakatan kaum muslimin. Maka tidak selayaknya setelah saling memberi ucapan tersebut, salah satu pihak membatalkan perjanjian dengan saudaranya, rasa cinta seketika menjadi permusuhan, keselamatan berubah menjadi perang, tolong menolong menjadi saling menjatuhkan dan takaful tiba-tiba berubah menjadi kedengkian dan saling mencelakakan.

Sufyan bin Uyainah menganggap bisa saja mengunjungi saudaranya sebagai suatu kemungkaran karena jika tadinya bertemu dengan mengucapkan salam atau menjawab salam, lantas bagaimana jika yang terjadi setelah itu adalah tipu daya, kedengkian atau membuat rekayasa untuk mencelakakan saudaranya atau bergembira di saat saudaranya menderita dan sengsara?

Sesungguhnya kalimat salam belumlah dikatakan mampu menumbuhkan rasa cinta atau belumlah berfungsi sebagai peringatan atas hak-hak yang mesti ditunaikan bagi saudaranya muslim, jika kita hanya mendengarnya berulang-ulang di dalam majelis dan dijalan-jalan namun tidak berbekas dalam pergaulan dan berinteraksi.

Seorang muslim bila masuk rumah saudaranya, mereka mengucapkan salam dan berjabat tangan, kemudian dia keluar. Jika sebagian mereka (setelah itu) berkata dengan ucapan permusuhan atau mengunyah daging saudaranya dengan menggunjingnya, padahal baru saja dia telah mengikrarkan bahwa dia akan menjaga keselamatan saudaranya dan hak-haknya, serta menyatakan bahwa saudaranya akan selamat dari gangguan lisan dan tanganya, berarti dalam waktu sekejap dia membatalkan perjanjian tersebut.

Maka sudah menjadi keharusan jika kita saling mengingatkan tentang makna ucapan salam dan konsekuensinya, hak-hak dan kesepakatan yange terkandung di dalamnya agar ucapan tersebut membekas sebagaimana yang diingatkan oleh Rasulullah Shalallahu’Alaihi Wa Sallam :

“Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu perkara yang jika kalian mengerjakan niscaya kalian akan saling mencintai?, yaitu sebarkanlah salam diantara kamu sekalian.” (HR. Muslim dan Trimidzi)

Jika suatu hari kita telah menghayati makna salam dan merealisasikan kewajiban dan haknya, tentulah akan terwujud perdamaian, saling cinta, sirnalah kegelapan, permusuhan dan perseteruan. Inilah yang menjadi tujuan Islam sebagai agama yang selamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: