Apa yang telah ditanam Al Qur’an di Hatimu

Malik bin Dinar adalah seorang ahli ibadah, zuhud, wara’ dan memiliki kalimat yang ringkas. Akan tetapi kalimat tersebut seakan akan mengetahui pintu menuju hati bagaikan anak panah yang melesat lalu mengenai sasarannya dan meninggalkan bekasnya.

Beliau menyeru kepada para pembaca Al Qur’an : “ Wahai pembaca Al Qur’an, apa yagn telah di tanam Al Qur’an di hatimu? Karena sesungguhnya Al Qur’an itu adalah penyubur orang orang yang beriman sebagaimana hujan menyuburkan tanah. Hujan turun dari langit lalu mengenai biji bijian maka busuknya tanah tidak menghalangi tumbuhnya, menghijaunya dan keindahannya. Maka wahai pembaca Al Qur’an apa yang telah ditumbuhkan al Qur’an di hati kalian ?”

Sesungguhnya di situ ada pertanyaan yang menyentuh perasaan dan menggerakkan hati yakni seberapa besar pengaruh Al Qur’an di hati orang yang membacanya. Al Qur’an bukan sekedar untaian bahasa atau pun bait yang dihafalkan oleh seorang muslim, lalu dipersaksikanpada momen tertentu, akan tetapi Al Qur’an berfungsi untuk menghidupkan hati, menggerakkannya menuju kebenaran dan menjauhkannya dari kebathilan, memperlihatkan kepada hati akan hakikat alam dan mendorongnya untuk memperhatikan apa apa yang dikandungnya.

Tidak sama hati yang dibasahi oleh siraman Al Qur’an yang penuh barakah dengan hati yang tidak mendapat siramannya.

Jika Malik bin Dinar bertanya kepada orang yang hafal satu atau dua surat al Qur’an, apa yang telah mereka kerjakan di antaranya, dan apa yang telah ditumbuhkan oleh satu surat atau dua surat di hati mereka. Maka bagaimana halnya dengan orang yang menghafalkan Al Qur’an al Karim seluruhnya, yang tidak terlewatkan satu huruf pun dan apa pula yang telah ditumbuhkan al Qur’an di hati mereka.

Sesungguhnya Al Qur’an menumbuhkan pepohonan yang banyak berdahan dan penuh barakah, buahnya di hati orang orang yang menghafalnya dan menghayatinya dengan sepenuh penghayatan, tiada berhenti buahnya, tidak pernah putus juga hasilnya.

Seperti itulah pengaruh Al Qur’an pada generasi terbaik umat Islam, generasi pendahulu yang shalih, yang telah membuahkan dengan buah yang penuh barakah dari akal, hati, akhlak, rumah, tempat kerja, lading, medan perang dan kehidupan masyarakat mereka. Sungguh Al Qur’an merupakan sumber pengetahuan Islam, karena semua ilmu Islam tegak di atas kepahaman dan penghayatan terhadapnya, dari Al Qur’an pula pemikiran Islam menerawang dengan gigih untuk mengetahui segala hakikat.

“Katakanlah : “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi” (Yunus : 101)”

Akan tetapi generasi yang belakangan, hingga saat ini, banyak terhalang jiwanya dari ruh yang subur dan kehidupan yang abadi ini, manakal mereka berhenti pada batas menghafal dan tajwid saja. Mereka lupa untuk menghayati dan merenungkannya, merasa cukup dan bangga dengan berlembar lembar membaca tanpa memahami maknanya, merasa cukup hanya dengan mengetahui tafsir dengan I’rab dan balaghah nya atau menukil pendapat pendapat ataupun riwayat riwayat kendati terkadang dha’if dan asing.

Mereka lupa akan pertanyaan Malik bin Dinar : “ Wahai pembaca Al Qur’an, apa yang telah ditumbuhkan Al Qur’an di hati kalian?? “
Dialah yang tatkala membaca firman Allah subhanallahu wa ta’ala Yang Maha Benar

“Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung , pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.” (Al Hasyr : 1).

Lalu beliau menangis dan berkata : “ Aku bersumpah kepada kalian, tiada seorang hamba pun beriman kepada Al Qur’an ini melainkan hancur (luluh) hatinya disebabkan takutnya kepada Allah.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: