Mulailah Dari Dua Sisi

Abu Sulaiman Ad Darani berkata : “Telah diriwayatkan bahwa Lukman Al Hakim berkata kepada Anaknya : “Wahai anakku, janganlah kamu masuk ke dunia dengan sesuatu yang memudharatkan akhiratmu, tapi jangan pula kamu meninggalkannya sehingga kamu dijauhi manusia” Beliau (Abu Sulaiman Ad Darani) katakan “Ibadah itu bukanlah kamu luruskan telapak kakimu untuk shalat sementara orang lain menyediakan makanan untukmu, akan tetapi mulailah dari dua sisi, jagalah keduanya lalu beribadahlah. Tiada kebaikan di hati orang yang mengetuk pintu menunggu orang yang datang untuk memberi makanan kepadanya.”

Banyak orang salah persepsi dalam memposisikan antara amal dan pekerjaan dalam masyarakat islam. Kebanyakan ahli ibadah menyangka bahwa karakter utama orang yang bertakwa adalah memisahkan diri dari manusia dan meninggalkan kesibukan dunia serta tidak menempuh sebab (ikhtiar), dengan dalih tawakkal, zuhud dan tenggelam dalam ibadah.

Ini adalah persepsi yang salah tentang takwa dan bentuk kebodohan dalam memahami pengertian ibadah, karena dunia adalah tempat untuk bekerja dan berusaha, lahan untuk kita sebanyak banyaknya menabung pundi pundi amal kita, selagi seorang mukmin iltizam/berpegang teguh dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan beraktifitas dengan sesuatu yang sesuai dengan manhaj/jalan Nya. Maka dia senantiasa dalam ketaatan dan ibadah, baik aktifitas itu berupa urusan dunia maupun urusan agama.

Sama sekali bukanlah pengertian takwa manakala seseorang lebih miskin dari yang lain lalu dia berdalih bahwa dia sibuk untuk ibadah dan mujahadah. Tengoklah bagaimana shahabat Abdurrahman bin ‘Auf yang tidak sekali kali mau bergantung dengan belas kasihan orang, sehingga beliau meminta ditunjukkan pasar manakala beliau hijrah ke Madinah.
Untuk orang-orang yang salah persepsi inilah nasihat Abu Sulaiman ditujukan : “Bukanlah ibadah itu engkau merapatkan kakimu dalam shaf sementara orang lain menyiapkan makanan untukmu”.

Meninggalkan sebab dan lari dari pekerjaan dan menghindar dari mata pencaharian berarti melawan perintah Allah Subhanallahu wa ta’ala dalam firman Nya :”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah” (Al Jumu’ah 10)

Tiada kaum muslimin akan terbelakang dan tidak pula lemah kekuatannya melainkan karena teledornya mereka dalam mengerjakan kewajiban ini. Berpangku tangan dan tidak mau memakmurkan bumi serta mengambil manfaat darinya yang baik-baik, menyebabkan menyebarnya penyakit malas dengan dalih tawakkal, zuhud dan qana’ah. Tawakkal bukanlah seperti itu, zuhud juga bukanlah seperti itu dan qana’ah bukanlah hanya berpangku tangan menerima apa adanya namun bergantung dari orang lain. Sehingga muncullah orang orang di zaman ini yang hanya i’tikaf, berkhalwat dan menyendri namun sengaja menggantungkan kebutuhannya kepada orang lain, sedangkan keluarganya, anak istrinya yang menjadi lahan ibadahnya dia tinggalkan dengan dalih Allah akan mencukupkan mereka. Dalam hal kebutuhan hidup untuk orang orang semacam inilah Abu Sulaiman menasihatkan : “Mulailah dengan dua sisi dan jagalah keduanya lalu beribadahlah”

Sesungguhnya menjaga keduanya adalah sebagai kinayah (kiasan) dari amal manusia yang harus ada dan setelah merealisasikan itu hendaknya memperbanyak nafawil dan merapatkan kakinya untuk shalat tathawu’. Tatkala itu dilakukan dengan konsisten maka jadilah dia seorang ahli ibadah yang tulen, yang mampu mengkompromikan antara urusan dien dan urusan dunia, mendatangkan kemuliaan dan kewibawaan bagi dirinya, sebagaimana Allah wajibkan bagi orang orang yang beriman. Jika tidak, maka tidak ada gunanya dia menyibukkan diri dengan ibadah sedangkan hatinya sibuk memikirkan penghidupan “Dia mengetuk pintu, menunggu orang yang akan memberkan makanan kepadanya.”

Inilah pemahaman yang benar dalam mengkompromikan antara bekerja dan beribadah sebagaimana yang diketahui oleh para pendahulu kita yang shalih, yang lurus aqidah dan jalan pemikirannya, maka begitulah seharusnya kita memahaminya, dan berusaha untuk merealisasikan tujuan kita.

Sesungguhnya meninggalkan medan pekerjaan yang bermanfaat dan mengelak dari sebab yang dapat meninggikan dan memajukan kaum muslimin dari yang lain, menyebabkan dunia Islam menjadi terbelakang dan mundur, menyerahkan urusannya kepada orang orang yang mendengki kepada mereka, yang menyebarkan kerusakan dan kemarahan. Jika Islam ini tegak, maka kuat dan berpengaruh di dunia. Kalau saja pemahaman yang lurus tentang kedudukan bekerja di dalam itu merata, maka tidak akan terjadi kemunduran dan Keterbelakangan dalam Islam, sehingga hak hak kamu muslimin tidak akan terampas, tidak akan terjadi penindasan terhadap orang Islam dan terinjak injaknya kehormatan mereka, seperti hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wassalam yang isinya bahwa kehormatan seorang muslim terletak dari tidak tergantungnya kebutuhan dia kepada orang lain

Maka wajiblah untuk memerangi kemalasan dan pengangguran, selayaknya menjauhkan diri dari tokoh-tokoh yang bersembunyi di balik klaim zuhud yang tidak syar’i sehingga kaum muslimin tidak hidup dalam kelemahan dan keterbelakangan.

wallahu’alam

5 Balasan ke Mulailah Dari Dua Sisi

  1. Ly mengatakan:

    semoga dunia tidak melenakan kita…

  2. nuun mengatakan:

    mudah2an klo ad pegawai yg rajin tilawah barang sesaat, dhuha, berjamaah dzuhur dan asar di masjid, ketika jam kerja (07.30 – 17.00) jg tmasuk yg profesional dlm krja..
    Makasi mas dah mampir. Oy, izin link ke blog-nya mas. boleh🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: