Jika Tak Mampu Menjadi Bulan Jadilah Matahari

Sebuah kisah, Pada suatu hari Abu Sulaiman Ad Darany berkata kepada muridnya bernama Ahmad bin Abi Hawary : “Wahai Ahmad jadilah kamu bintang , jika tak mampu menjadi bintang, maka jadilah kamu bulan dan jika tak mampu menjadi bulan, maka jadilah kamu matahari.”

Kemudian Ahmad menjawab “Wahai Abu Sulaiman sesungguhnya bulan lebih terang daripada bintang dan matahari lebih terang daripada bulan, mengapa anda membalik urutannya?”

Abu Sulaiman menjawab “Wahai Ahmad, yang aku maksud adalah jadilah kamu seperti bintang yang muncul di awal malam dan tenggelam di waktu fajar, maka bangunlah untuk beribadah kepada Rabb mu sejak awal malam hingga akhir malam. Jikalau kamu tidak mampu shalat malam setiap hari, maka jadilah kamu laksana bulan yang terbit pada sebagian malam kemudian lenyap, maka bangunlah pada sebagian malam untuk beribadah kepada Rabb mu. Jika kamu tidak mampu juga untuk shalat malam, maka jadilah kamu laksana matahari, terbit sejak awal siang hingga tenggelam matahari, jika kamu tidak kuasa untuk shalat malam, maka janganlah sekali kali kamu bermaksiat kepada Allah di siang harinya.

Para ulama mengambil pelajaran dengan apa yang terjadi di alam, mereka menggunakannya sebagai perumpamaan agar mudah difahami dan lebih jelas. Abu Sulaiman bermaksud untuk mengajarkan kepada muridnya tentang ketaatan dan ketundukan, dengan mengambil perumpamaan bintang yang tunduk kepada perintah Allah,tidak bermaksiat dan tidak pula membantah, sebagaimana firman Allah :
“dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yaasin : 38-40)

Seorang mukmin yang beribadah kepada Rabb nya, tunduk kepada aturan dalam beribadah, konsisten dengan apa yang menjadi kebiasaan baiknya. Jika dia berdiri untuk beribadah kepada Rabb nya di awal malam hingga akhir malam, maka dia bagaikan bintang terang yang nampak dilihat mata sejak permulaan malam dan terus bersinar hingga terbitnya fajar. Maka ketika itu dia bagaikan bintang yang menyinari jiwanya dengan ibadahnya, dia telah memberikan contoh bagi manusia tentang bukti ketaatan, ketundukan dan kecintaan kepada Rabbul’alamin. Pada saat itu dia tinggalkan nikmatnya tidur, bukan begadang untuk bersenang senang dan bukan pula menyesali kemiskinannya, bukan untuk menyambut seruan syetan, namun bertujuan untuk beribadah kepada Ar Rahman, meraih kenikmatan bermunajat dengan ayat ayat Al Qur’an.

Dan bagi siapa yang tidak mampu mencapai tingkatan ini, sebisa mungkin dia berupaya untuk meraih tingkatan yang di bawahnya. Hendaknya dia laksana bulan yang muncul pada sebagian malam untuk menerangi ufuk dan mengusir gelapnya malam, akan tetapi merambat sedikit demi sedikit lalu menghilang kemudian akan terbit di tempatnya.

Manakala tidak mampu juga mencapai tingkatan ini, maka cukuplah dia laksana matahari, terbit di awal siang hingga tenggelam menjelang malam, menerangi dunia, menambah kekuatan pepohonan, menyerap air lalu turun menjadi hujan sehingga dapat menghidupkan tanah. Begitulah, maka sesungguhnya seorang mukmin yang tidak kuasa meraih derajat shalat malam, masih memiliki kesempatan untuk melakukan ketaatan, kebaikan, istiqamah dan memanfaatkan siangnya untuk ibadah, sehingga tidak sia sia lah waktu hidupnya. Namun manakala seseorang kehilangan kebaikan di malam harinya maupun kebaikan di siang harinya, maka tiada kebaikan pada dan dia termasuk orang orang yang merugi. tidak ada bukti keseriusan pada dirinya untuk masuk ke dalam agama Allah yang agung ini.

Sesungguhnya apa yang ditempuh oleh kebanyakan manusia di era kemajuan materialis ini telah menjauhkan manusia dari cahaya Allah sehingga gelaplah hatinya, siang dijadikannya arena keduniawiannya, begitu pula malam, di sambutnya seruan seruan maksiat yang betebaran di bumi.. Buruknya amal menyebabkan ratanya kegelapan, maka meratalah kebinasaan, bencana bencana dalam masyarakat yang mengeruhkan kehidupan dan menjerumuskan mereka ke dalam Naar tanpa terkendali. Na’udzubillahi min Dzalik

Adapun ahli iman yang senantiasa istiqamah, sesungguhnya cahaya mreka memancar dari depan dan sisi kanan mereka..walhamdulillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: