Sedangkan mereka merasa aman dengan dosanya sendiri

Seorang tabi’in yang agung, Rabi’ bin Khutsaim berada dalam suatu majelis. Beliau mendengar seorang membicarakan dan menyebut nyebut keburukan orang lain, lalu mereka bertanya kepada beliau tentang pendapat beliau, maka beliau menjawab : “Adapun aku tidak rela jika diriku lupa mengingat diriku, lalu mengingat orang lain. Sesungguhnya manusia takut kepada Allah atas dosa yang dikerjakan oleh orang lain, sedang mereka merasa aman dengan dosanya sendiri.

******

Sebuah pelajaran yang sangat baik dari perkataan beliau. Itulah problem yang betul betul serius pada setiap masa dan masyarakat, seseorang melihat aib orang lain namun tidak melihat aibnya diri sendiri, mengkritik orang agar berakhlak baik namun menutup mata terhadap akhlaknya sendiri.

Kalau saja dia memulai dengan memperbaiki diri sendiri, meluruskan dan mendorong dirinya kepada tindakan terpuji, niscaya layaklah jika dia memperhatikan penyimpangan orang lain dan berusaha menegurnya. Adapun jika seseorang membiarkan dirinya sendiri mengikuti hawa nafsunya, tidak mencegah dirinya dan tidak melarang dirinya, kemudian menampakkan keprihatinannya, kesedihannya, menyayangkan kesalahan yang dilakukan orang lain, maka ini adalah penyimpangan dan pengkhiatana yang menyebabkan kerusakan dan kegoncangan di masyarakat.

Rabi’ bin Khutsaim menyibukkan diri untuk memperbaiki dirinya sendiri, beliau tidak ridha jika itu didahului dengan yang lain, sehingga beliau merasa banyak hal yang membutuhkan mujahadah dan pencegahannya. Sesungguhnya, memperbaiki satu jenis dari penyakit hati atau anggota badan sudah menyita umur, membutuhkan kesungguhan di malam dan siang hari.

Lantas bagaimana pendapat anda dengan orang yang berupaya untuk mensucikan jiwanya, menumbuhkan kekuatannya dan meninggikan kemampuannya, mengeluarkan rasa dengki dan iri, mencabut rasa ujub, riya’ dan kesombongannya? Maka bagaimana mungkin dia menyibukkan diri untuk mengkritik orang lain dan menegur sebagian tindakannya sedangkan dia tengah sibuk mengobati penyakit yang sama dengan dirinya?

Akan tetapi orang orang yang gagal dalam mendidik diri mereka sendiri dan bermujahadah terhadap dirinya, mereka mengalihkan obyeknya kepada orang lain, menganggap besar aib orang lain dan menampakkan kebencian karena hal itu. Seakan akan mereka adalah malaikat yang suci, tidak pernah menyentuh dosa, tidak pernah pula cenderung kepadanya dan tiada hasrat nafsunya untuk mengerjakannya.

Orang orang semacam itulah yang digambarkan oleh Rabi bin Khutsaim “Mereka takut kepada Allah atas dosa dosa yang dilakukan orang lain”. Maka kita bisa lihat salah seorang dari mereka mengingkari kesalahan saudaranya dan menegurnya, dia takut bencana akan menimpa masyarakat yang disebabkan oleh dosa yang dikerjakan orang lain, sedangkan dia melupakan bahwa dirinya juga pelaku dosa. “Mereka merasa aman terhadap dosa dosa yang mereka kerjakan sendiri”, tidak mempermasalahkannya dan tidak takut akibatnya bahkan dia melihatnya remeh dan sepele dikarenakan dia telah merasa banyak beramal dan beribadah, dia menyepelekan dosa dosanya sehingga merasa pasti diampuni dan mendapat maghfirah.

Jadi, manakala kita dapati dan lihat orang orang yang menampakkan semangat untuk memperbaiki masyarakat banyak, maka tanyakanlah apakah di antara kalian memiliki dosa dan kesalahan?? apakah di antara kalian terjerumus ke dalam keteledoran dan kelalaian?? apakah kalian telah memahami dan menghayati firman Allah :

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb ku.” (Yusuf : 53)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Al Baqarah :44)

Maka cobalah hayati syair Islam yang bijak :

Wahai yang mendidik manusia
mengapakah tak kau didik jiwamu pula
kau obati orang yang menderita sakit
bagaimana ia sehat sedangkan kau sendiri sakit
mulailah dari dirimu, cegahlah dari kesesatannya
jika sudah kau tunaikan maka engkau telah berlaku bijaksana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: