Yang Kenikmatannya Tak Pernah Putus

Diantara pesan Muhammad bin Ali AT Tirmidzi adalah : “Arahkan pantauanmu kepada Yang pandangan Nya kepadamu tak pernah lepas. Berikan rasa syukurmu kepada Yang kenikmatan Nya kepadamu tak pernah putus. Persembahkan ketundukanmu kepada Yang kekuasaan dan kekuatan Nya tak pernah sirna.”

Ketika seorang manusia meletakkan dirinya dalam barometer keadilan, memikirkan hakikat keberadaannya di alam nyata ini, pasti ia akan dapat mengetahui kepada siapa dia akan memberikan loyalitas dan orientasi hidupnya, siapa pula yang berhak mendapatkan cinta, keikhlasan dan rasa syukurnya. Karena ia adalah makhluk yang memiliki Pencipta yang Maha Bijaksana, Pemberi rezeki yang Maha Mulia, yang selalu melimpahkan karunia kepadanya, selalu memberinya sebelum ia meminta, memeliharanya siang dan malam, menundukkan baginya segala yang ada di langit dan di bumi, membiarkannya bila berbuat maksiat namun senantiasa menerimanya manakala bertaubat, memperbanyak kepadanya pahala bia ia taat dan menambahkannya lagi bila dia bersyukur, memperingatkannya bila ia lupa.Maka siapa lagi yang lebih berhak untuk ia syukuri dan ia berikan rasa tunduk kecuali daripada Nya?

Seringkali orang orang yang mengarahkan pandangannya kepada sesama hamba, memperlihatkan amal perbuatan kepada mereka, mencoba mencuri hatinya, meminta penghormatan dan pujian darinya, padahal seorang mukmin sejati hanyalah mengarahkan pandangannya kepada Allah yang tidak pernah lepas memperhatikannya. Allah berfirman

“Dia bersama kamu dimana saja kamu berada”(Al Hadid: 4)

“Dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya.” (Yunus: 61)

Betapa agungnya pemikiran tersebut dan betapa halusnya ilmu beliau yang meliputi berbagai tabiat amal, menyingkap yang tersembunyi dalam hati, niat dan sejenisnya. Betapa seorang mukmin yang selalu memantau amal perbuatannya kepada Allah agar ikhlas dan terbebas dari unsur unsur riya’, jauh dari keinginan pamer atau berbangga bangga, amatlah pantas bila amalannya lebih sempurna, lebih baik dan lebih mumpuni. Karena ia bersikap demikian dihadapan Rabb nya yang telah menetapkan kebaikan pada segala sesuatu. Maka tidak ada ruang lagi untuk bersikap teledor, bermain main, bersikap kerdil dan beralasan dengan takdir dan udzur.

Adapun rasa syukur, merupakan tabiat mendasar pada diri manusia. Akan tetapi kebanyakan orang mengarahnya tidak pada tempatnya, sementara seorang mukmin selalu yakin bahwa segala kenikmatan yang dirasakannya semuanya dari Allah, sebagaimana Firman Nya “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah lah datangnya.”(An Nahl 53)

Orang lain hanyalah hamba seperti diri kita juga. Mereka semua juga menerima berbagai karunia yang tidak terhitung. Maka bukan termasuk tuntutan iman bila kita menyangka bahwa ia telah memberi karunia kepada sesamanya. Karunia itu berasal dari Yang Memiliki segala karunia Tabaraka wa Ta’ala. Bisa saja seseorang itu menjadi sebab atau sarana diturunkannya karunia. Maka boleh boleh saja menyukurinya sebatas usaha atau pertolongan yang dia berikan. Namun rasa syukur itu tidak boleh bercampur dengan rasa syukur yang diperuntukkan kepada Pemberi Kenikmatan Yang Maha Mulia, bahkan tidak boleh mendekati rasa syukur itu sedikit pun. Oleh karena itu Allah memilihkan kata “hamd” yakni pujian yang selalu kita ulang ulang dalam shalat, bahkan kita memulai shalat dengan ucapan tersebut. Allah telah mensyariatkan kita dalam shalat untuk selalu memujiNya setiap bangkit dari ruku’, Rasulullah juga mensunnahkan kepada kita untuk selalu bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat masing masing sebanyak tiga puluh tiga kali, mensunnahkan untuk senantiasa bertahmid kepada Allah setiap kalo makan dan minum bahkan setiap kali kita mengenakan pakaian serta apabila kita mendapatkan bentuk karunia apapun.

Dari sinilah awal munculnya karakter umat Islam sebagaimana tercantum dalam Al Qur’an bahwa umat ini adalah umat yang senantiasa memuji Allah, yakni memperbanyak tahmid kepada Allah bahkan melakukannya secara terang terangan di setiap kesempatan dan setiap pertemuan.

Adapun sikap tunduk, memang hanyak layak diperuntukkan kepada Yang Maha Mencipta, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha kuasa, yang menjadi tujuan dari setiap yang ada dan menundukkan setiap hati, Yang Maha Pengampun, yang Rahmat Nya meliputi segala sesuatu, maka tidak pantas seseorang meminta orang lain untuk tunduk kepadanya, Namun ia harus mengingatkan agar orang tersebut tunduk kepada agama Allah. Dengan cara itulah dapat direalisasikan persaudaraan Islam yang sempurna dan persamaan hak yang penuh keadilan. Segala kebencian, sikap dengki dan permusuhan dengan sendirinya akan hilang.

Allah berfirman “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia :’hendaklah kamu menjadi penyembah penyembahku bukan penyembah Allah’.” (Ali Imran 79)

Penghambaan diri hanya diperuntukkan kepada Allah semata, segala bentuk kezhaliman dan dosa yang dilakukan oleh orang orang jahil sepanjang sejarah, tidak lain hanya di sebabkan oleh kealpaan terhadap hakikat ini. Manusia mulai berusaha memperbudak sesamanya. Bagaimana Fir’aun tanpa merasa sungkan mengumpulkan kaumnya dan berteriak dengan penuh kesombongan “Akulah Rabb mu yang paling tinggi.” (An Naazi’aat 24). Akan tetapi Islam datang untuk meringankan beban kemanusiaan, membebaskan mereka dari belenggu kesulitan, untuk kemudian menyadarkan manusia akan perasaan merdeka yang muncul dari penghambaan diri hanya kepada Allah dan kekuasaan Nya..walhamdulillah

Satu Balasan ke Yang Kenikmatannya Tak Pernah Putus

  1. sangpenjelajahmalam mengatakan:

    Salam kenal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: