Lebih Baik Dari Mutiara

Yahya bin Abi Katsier mengungkapkan : “Pusaka Ilmu lebih baik daripada pusaka emas. Keyakinan yang tulus itu lebih baik daripada mutiara.”

Itulah perbandingan yang tepat antara ilmu dengan harta. Namun artinya bukanlah mengutamakan kemiskinan tau menjauhkan diri dari sarana dan prasarana hidup, yang tulang punggungnya adalah harta. Namun artinya adalah bahwa orang tua hendaknya menumbuhkan dalam hati dan mencanangkan prinsip pentingnya ilmu karena itu adalah pusaka / warisan tertinggi untuk anak anaknya. Agar mereka tidak memandang ilmu sebelah mata dan tidak menganggap remeh dalam kehidupannya dan agar tidak menganggap bahwa yang paling penting bagi mereka adalah mewariskan kepada anak anak mereka harta kekayaan dan emas permata yang dapat memenuhi kebutuhan mereka.

Saat ini kita mendengar dan membaca di mana mana realitas yang mengecilkan nilai ilmu dan merendahkan kemuliaannya dalam pertarungan hidup, materilah yang selalu dibutuhkannya sebanyak banyaknya. Demikianlah yang selalu didengungkan dan dimasukkan ke dalam alam bawah sadar kita oleh televisi, oleh media. Film, sinetron, drama, pertunjukan, berita berita, seminar, obrolan, meracuni pikiran kita bahwa materilah yang lebih penting dibanding ilmu. Kemampuan ilmiah menurut mereka tidak dianggap sebagai modal untuk menghadapi berbagai beban hidup, baginya yang paling penting adalah mencari sumber rezeki untuk mengumpulkan harta sebanyak banyaknya. Mereka berkaca bahwasannya para biduan, artis, pemain bola dan yang semisalnya semua dapat menghasilkan uang yang berlipat lipat bahkan beratus kali lipat dari yang bisa dihasilkan oleh seorang penulis, guru, dosen atau peneliti.

Ini merupakan salah satu penyimpangan yang cukup berbahaya sekali dalam persepsi tentang ilmu. Karena menempatkan ilmu dalam timbangan yang rusak, sehingga menggiring kepada rusaknya masyarakat dan hilangnya jati diri mereka. Ilmu adalah salah satu dari kekayaan bagi kita dalam masyarakat Islam yang tidak dapat disetarakan dengan kekayaan dan harta benda dunia, karena ilmu adalah petunjuk dan pembimbing. Ilmu memelihara dari kerusakan, membimbing menuju tegaknya kemaslahatan negara dan masyarakat. Kalau kita membayangkan sebuah masyarakat yang memiliki segala harta kekayaan, namun mereka kosong dari cahaya ilmu, pasti mereka akan berjalan di atas jalur kebodohan yang dapat menghilangkan arti harta tersebut serta mengantarkan mereka ke tempat yang buruk.

Hendaknya dimaklumi, bahwa bekal ilmu yang diberikan seorang ayah kepada anaknya adalah sebaik baik warisan yang bisa dia tinggalkan, sebaik baik kekayaan yang dapat disimpan untuk masa depan. Maka hendaknya seorang ayah mendidik dan membekali ilmu kepada anaknya dengan baik, memperkenalkan ilmu kepada si anak sehingga dia menyukainya, akrab dan cenderung kepadanya, mengerahkan sebagian besar waktu dan menumpahkan segala daya upaya yang dimilikinya untuk menuntut ilmu. Dengan demikian akan semakin luas ilmu pengetahuannya dan semakin mendalam wawasan ilmiahnya, ilmu yang akan berguna baginya di dunia dan akhirat, yang akan menjamin dirinya untuk membimbing alam pikiranya dan menjaga langkahnya mengarungi kehidupan.

Adapun keyakinan yang tulus itu lebih baik dari mutiara, seperti yang diungkapkan diatas. Hal ini disebabkan dibandingkan dengan kenikmatan yakin yang selalu bertambah karena iman, maka mutiara, yakut, permata tidaklah ada artinya. keyakinan iman akan selalu menolong seorang mukmin dalam menghadapi berbagai cobaan, tantangan hidup dengan tabah dan tenang. Keyakinan dapat memelihara diri seseorang dari rasa ragu dan bimbang, memeliharanya dari rasa sedih, putus asa dan frustasi. Keyakinan selalu seiring dengan petunjuk dan kemenangan, serta dapat mengantarkan kepada kejayaan dan keberuntungan, sebagaimana difirmankan Allah :

“Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb nya dan merekalah orang orang yang beruntung.” (Al Baqarah 5-6)

Sementara umat manusia saat ini di sebagian besar lingkungan tidak pernah merasakan keyakinan iman. Berbagai filsafat keragu raguan dan kebimbangan telah berhasil mencabut keimanan yang benar dari dada mereka, memberikan kepada mereka persepsi kenyataan yang gelap, sehingga kondisi mereka mirip dengan orang orang yang memiliki semboyan “tidak tahu”. Padahal kaum muslimin yang benar telah dapat mencapai keyakinan dengan keimanan terhadap wahyu yang benar, yang diturunkan oleh Rasulullah Muhammad, yang diyakini dengan segenap hatinya sebagai penutup para nabi dan Imam para rasul, yang telah menjelaskan pokok pokok keimanan yang harus senantiasa diyakinin sesuai sabdanya : “Hendaknya kalian beriman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab kitabNya, para RasulNya, Hari Akhir dan Takdir baik maupun buruk.”. Dan itulah sebaik baik keyakinan yang melebihi mutiara apapun….Walhamdulillah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: