Empat Malapetaka

Muhammad bin Fadhal As Sarmanqandi menceritakan :

“Lenyapnya ajaran Islam karena empat bencana, yakni Pertama, ketika umat Islam tidak mengamalkan apa yang mereka ketahui. Kedua Ketika umat Islam mengamalkan apa yang tidak mereka ketahui. Ketiga Ketika umat Islam tidak mempelajari apa yang mereka tidak ketahui. Keempat Ketika mereka mencegah orang lain untuk belajar.

==============

Para Generasi terbaik umat Islam, generasi salafush shalih, para generasi terdahulu yang shalih memperingatkan bahaya hilangnya ajaran Islam. Padahal mereka sangat paham dan mengetahui bahwa Islam dengan dasar dasarnya yang berasal dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah pasti akan senantiasa terpelihara dengan jaminan dari Allah, dengan segala karakteristiknya dan nilai kebenarannya akan terjaga hingga akhir jaman. Namun mereka khawatir dan memperingatkan akan hilangnya pengaruh Islam dalam kehidupan umat manusia, takut manakala umat Islam tidak tahu bagaimana menerapkan ajaran Islam, lalu tidak lagi mengamalkannya, yakni ketika berbagai perbuatan maksiat dan dosa sudah tersebar luas dan dianggap sebagai hal kebiasaan.

Yang pertama adalah hilangnya kebiasaan beramal, beribadah, bersikap, berperilaku, berdiskusi, berfatwa, dengan ilmu yang benar. Ini merupakan malapetaka berbahaya yang menyebabkan kegoncangan dan kehancuran di tengah masyarakat secara keseluruhan. Allah telah melarang kaum mukminin untuk tidak meremehkan ajaran Islam atau enggan mengakuinya dalam masyarakat, sebagaimana firman Nya :

“Hai orang orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu kerjakan.” (Ash Shaff 2-3)

“Maka ilmuilah (ketahuilah)! Bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu.” (QS. Muhammad : 19)

Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan,

“Ilmu adalah pemimpin amal dan amalan itu berada di belakang setelah adanya ilmu.”

Diletakkan garis pembeda antara ilmu dan amal, antara pengetahuan dengan tingkah laku, akan dapat menggiring kepada munculnya kontradiksi yang tidak akan membuahkan kemenangan, tidak akan menghasilkan kesuksesan dalam amal, serta tidak akan mengantarkan kepada tujuan yang mulia. Demikianlah kondisi yang telah menenggelamkan banyak kaum muslimin pada masa masa yang penuh dengan kelalaian dan keteledoran, dan mereka masih terus tenggelam dalam kondisi tersebut.

Munculnya musibah kedua sebagai akibat dari bencana pertama, yakni ketika mereka beramal dengan apa yang tidak mereka ketahui, mereka akan beramal dengan dasar yang tidak berasaskan petunjuk dan bimbingan yang benar, tidak ada dasar pemahaman amal yang lurus. Mereka hanya beramal menurut hawa nafsu yang liar dan pendapat pribadi yang rusak. Mereka menuruti orang orang yang menyimpang dan orang orang yang mengajak kepada kesesatan, sehingga mereka menyeleweng dari metode orang orang yang mengikuti petunjuk dan bimbingan Islam. Mereka tidak berkenan lagi mendengar nasihat orang orang yang ikhlas dan berbicara dengan ilmu yang benar.

Firman Allah Ta’ala :

“Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”(QS. Az-Zumar :9)

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”. Mereka menjawab: “(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”. (QS. Al-Baqarah :170)

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz mengatakan,

“Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”

Dengan bencana kedua itu mereka juga tidak lagi bersemangat menuntut ilmu, tidak berusaha mengejar ketinggalan mereka, karena bagi mereka cukuplah mengikuti orang orang yang mengajaknya sehingga tidak perlu susah payah mempelajari ilmu dan mengamalkannya serta tidak menjaga konsekuensinya. inilah bencana yang ketiga, yakni Ketika umat Islam tidak mempelajari apa yang mereka tidak ketahui, yang menyebabkan hilangnya ilmu dan menyebarnya kejahilan dan dunia penuh dengan kegelapan. Umat Islam tidak lagi menggandrungi lagi kebiasaan menuntut ilmu dan tidak menganggapnya sebagai tujuan yang perlu mendapat perhatian sebagaimana para pendahulu umat yang shalih, yang dengan semangat dan kerja kerasnya berusaha menggali ilmu hingga berjalan ber mil jauhnya. Mereka sudah disibukkan dengan berbagai kepentingan materi yang bersifat sementara, mereka tenggelam dalam perlombaan mendapatkan berbagai kebtuhan materi dan harta benda yang manipulatif, terjerumus dalam berbagai kekeliruan dan tidak berusaha menghindari kezhaliman yang merupakan dasar dari sifat jahil.

Jika orang orang yang jahil itu sudah tenggelam dalam kesesatan, tidak memberikan tempat tersendiri bagi ilmu dalam hidup mereka, maka mereka pasti akan beralih ke fase yang lebih gelap dan lebih membinasakan lagi, yakni fase dimana mereka akan meremehkan ilmu, menganggap ilmu tidak ada artinya, mereka tidak lagi mampu menggunakan kesempatan untuk mempelajari ilmu ilmu Islam, tidak memberi semangat untuk mempelajarinya dan akan bertindak semena mena terhadap orang orang yang menuntut ilmu hingga pada akhirnya akan mencegah orang lain untuk belajar dan mencari ilmu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh para pendahulu yang shalih “pada saat itu mereka sudah menjadi musuh dunia ilmu dan para ulama, karena mereka telah menyebarkan kejahilan dan segala yang menjadi konsekuensinya, hawa nafsu dan ketamakan.”

Masyarakat Islam yang paling bahagia adalah yang selamat dari keempat malapetaka tersebut, serta menghidupkan yang menjadi kebalikannya. Mereka selalu mengamalkan yang mereka ketahui, tidak beramal tanpa ilmu, mempelajari yang belum diketahui dan menganjurkan orang untuk menuntut ilmu yang benar. Itulah jalan menuju kebahagiaan dunia akhirat..Walhamdulillah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: