Pribadi Terbaik Umat Ini

Ungkapan Al Haris Al Muhasibi yang cemerlang adalah : “ilmu itu melahirkan kekhawatiran (rasa takut kepada Allah), sementara sikap zuhud melahirkan ketenteraman dan ma’rifat itu melahirkan kepasrahan. Yang terbaik di antara umat ini adalah yang tidak disibukkan oleh akhirat mereka sehingga lupa dunia dan tidak disibukkan oleh dunia sehingga lupa akhirat.”

*****

Pernyataan tersebut salah satu penjabaran hakikat ma’rifat dan jalan hidup sebagaimana yang dijalani oleh generasi terbaik umat ini yakni para salafush shalih/pendahulu umat ini yang shalih, yakni tercermin dari ilmu, amal dan perniagaan yang mereka kerjakan. Kita harus memahami betul masih masing dari hal tersbut sehingga kita bisa mengamalkannya.

Ilmu yang benar akan melahirkan kekhawatiran bagi pemiliknya, karena ulama yang sesungguhnya adalah yang takut kepada Allah dan mengkhawatirkan kondisi mereka di hadapanNya bila mereka disiksa, orang orang yang memiliki ilmu tentunya lebih paham seperti apa kekuatan Allah, adzab Allah, murka Allah, makar Allah, sehingga mereka takut terhadap segala sesuatu yang dapat menimbulkan murka Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah “Sesunguhnya yang takut kepada Allah dari kalangan hambaNya hanyalah para ulama.” (Al Faathir :28).

Ilmu yang tidak menimbulkan rasa takut dalam hati dan tidak menanamkan rasa khawatir di dalam jiwa tidak akan berguna bagi pemiliknya sedikitpun. Karena itu hanya merupakan ilmu lisan dan cara memberi penjelasan, tidak sampai merasuk ke dalam hati dan tidak membawa perubahan dan pengaruh pada perilaku pemiliknya.

Setelah ilmu, kemudian akan muncul ma’rifat yang merupakan tingkatan lebih tinggi dari ilmu, yakni merasukkan ilmu ke dalam hari sehingga membawa pengaruh pada sikap, amal si pemiliknya. Ilmu adalah pemahaman akal sehingga menyebabkan hati merasa takut, sementara ma’rifah menimbulkan sikap pasrah, sikap harap terhadap rahim nya Allah. Kekhawatiran karena ilmu adalah rasa takut terhadap siksa dan peringaran Allah, sedangkan sikap pasrah yang timbul dari ma’rifat adalah keinginan untuk kembali kepada kebenaran dengan senantiasa berusahab beribadah karena kecintaan kepada Allah, mendahulukan keinginan Allah daripada hawa nafsu dan bisikan syetan.

Oleh sebab itu Allah menggambarkan Nabi Dawud sebagai hamba yang pasrah kepadaNya dalam firman : “Maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan pasrah (bertaubat).” (Shaad :24)

ini termasuk di antara dalil yang menunjukkan bahwa sikap pasrah dan taubat itu berasal dari ma’rifat yang jelas dan tertanam dalam hati.

Sementara Zuhud itu dapat menimbulkan kenyamanan dan itu hal paling mendasar dalam kebahagiaan dan ketenteraman hidup, karena segala ketamakan dan syahwat menjadikan manusia hidup dalam kegelisahan, keresahan, was was dan kesedihan terus menerus. Setiap kali mendapatkan bagian keduniaan, pasti ining mendapatkan lebih dari itu, merasa was was bahwa bagian dunianya akan berkurang atau diambil oleh orang lain, bahkan meremehkan yang telah berada ditangannya karena melihat yang ada di tangan orang lain, sehingga dia akan merasa tersiksa dengan pikiran dan perasaan semacam itu. Adapun orang yang bersikap zuhud terhadap kelebihan dunia dan menyibukkan diri dengan hal hal yang mendasar, ia akan merasa tenteram, tenang, qana’ah dan nyaman. Ia ridha dengan segala rizqi yang dibagikan oleh Allah, tidak memperdulikan orang yang meraup dunia sekalipun.

Sikap zuhud yang dimaksudkan diatas bukan berarti meninggalkan kerja dan bermalas malasan, berleha leha tanpa usaha mencari rezeki, mengharapkan dan bergantung dengan orang lain untuk mencukupkan kebutuhannya, namun zuhud berarti sikap puas dan rela, ridha dan qana’ah, setelah mengerjakan kewajiban dan berikhtiar.

Pengertian semacam itu diindikasikan pada akhir ungkapan bahwa yang terbaik di antara umat ini adalah yang tidak disibukkan oleh akhirat sehingga lupa dunia dan tidak disibukkan oleh dunia sehingga lupa akhirat. Itulah keselarasan dan sikap saling melengkapi antara dunia dengan akhirat dalam Islam, sebagaimana ditunjukkan oleh para generasi yang shalih, lihatlah bagaimana semangatnya para shahabat Rasul ketika beribadah dan bagaimana semangatnya mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhannya karena bagi mereka semuanya adalah ibadah.

Islam tidak merelakan dan tidak memerintahkan umatnya menjauhi hidup dan meninggalkan kewajiban, dengan dalih untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat. Amalan dunia adalah ibadah juga, bagian dari amalan akhirat ketika dilakukan dengan mengharapkan keridhaan Allah, menaati perintahNya dan untuk memakmurkan bumi Allah bukan untuk membuat kerusakan di atasnya. Islam juga tidak rela dan tidak memerintahkan umatnya untuk melupakan kehidupan akhirat yang kekal sehingga senantiasa diperintahkan untuk mempersiapkan diri menyambutnya. Dalih bahwa sibuk bekerja memakmurkan bumi Allah, membuat kemajuan jaman dan meningkatkan peradaban, hal itu tidak boleh hadir dalam hati setiap mukmin, karena bagi mukmin akhirat adalah tempat abadi, tempat dia kembali kepada Allah, Sang Khaliq, bahwasannya tidak akan pernah ada keabadian di kehidupan di dunia, sehingga dia tidak akan mencintai dunia saja dan mendahulukannya daripada Akhirat, sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang orang yang melalaikan ayat ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah naar, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (Yunus :7-8)

Merealisasikan keseimbangan ini merupakan buah dari ilmu yang shahih dan pemahaman hati terhadap hakikat Islam, yang direalisasikan dengan sikap dan pemikiran yang lurus. Begitulah seharusnya umat ini sebagaimana generasi terbaik umat ini terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: