Hujjah terbesar Allah telah diberikan kepadamu

Salah seorang diantara murid Al Harits Al Muhasibi pernah bertanya kepada beliau : “Kenapa aku bersedih terhadap ilmu yang tidak berhasil aku pahami, tetapi aku tidak juga mengamalkan yang berhasil aku pahami??

Beliau menjawab :”karena engkau tidak takut besarnya hujjah Allah kepada dirimu terhadap yang engkau ketahui, sehingga engkau menyia nyiakan amalan kepada Allah yang Dia waajibkan kepadamu. Engkau tidak bertekad kuat untuk mempersembahkan amalan dari ilmu yang telah engkau pahami dalam sebuah praktek yang bisa mengembangkan ilmu tersebut. Hendaknya engkau mengamalkan ilmu yang telah engkau ketahui, sehingga hujjah terbesar Allah telah diberikan kepadamu. Karena menyia nyiakan hak Allah dalam keadaan engkau tidak mengetahuinya itu lebih baik daripada menyia nyiakan hak Allah sementara engkau mengetahuinya.”

********

Sungguh tepat yang diungkapkan oleh Al Harits di atas, jikalau manusia itu mengerti bagaimana tanggungjawab satu ilmu, beratnya konsekuensi sebuah pengetahuan, bahwa hujjah (ketetapan hukum) itu sudah ditegakkan kepadanya bila ia sudah berilmu, pasti ia akan mengamalkan apa yang dia ketahui, sebelum dosa dosanya semakin menumpuk dan bahaya mengurung dirinya.

Sang murid di atas meminta kepada gurunya Al Harits untuk lebih menjelaskan lagi tentang tanggungjawab yang penting yang berkaitan dengan ilmu bagi para pemiliknya, serta perbedaan antara posisi ulama dan posisi orang yang tidak tahu dalam dosa dan maksiat.

Al Harits menjelaskan :”Orang yang tidak tahu lalu melakukan satu kesalahan, tidaklah melakukan kesalahan itu dengan sengaja dari lubuk hatinya, bukan dengan sikap nekad dan sikap meremehkan terhadap Allah yang selalu memantaunya. Adapun orang yang berilmu, ia melakukan maksiat dengan sengaja, dengan menganggap remeh dan berani menantang kemarahan Allah, padahal dia tahu kerasnya amarah dan adzab Allah. Ia mendahului yang sedikit dan fana daripada yang besar dan abadi, dia berjalan di atas jalan menuju siksa Naar Al Jahiem. Mereka menjauhkan hatinya dari Jannah, namun justru menggiringnya menuju siksa Allah.”

Inilah perbedaan antara dosa orang yang tidak tahu dengan dosa orang yang berilmu, sebagaimana Allah berfirman :

“Kemudian, sesungguhnya Rabb mu (mengampuni) bagi orang orang yang mengerjakan kesalahan karena kebodohannya, kemudian mereka bertaubat sesudah itu dan memperbaiki (dirinya), sesungguhnya Rabb mu sesudah itu benar benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nahl 119)

Sementara orang orang yang bila bertambah ilmunya hanya semakin berani saja menentang ajaran Allah, tidak mencegah dirinya dari berbuat dosa dan berbuat zhalim, maka mereka adalah orang orang yang berjalan di atas jalan menuju Naar Al Jahiem sementara mereka sudah mengetahui. Menjauhkan hati dari Jannah, artinya tidak berhasrat kuat mendapatkannya, mereka tidak peduli dengan kenikmatan Jannah yang tidak berhasil mereka peroleh, bahkan mereka menyerahkan diri mereka untuk disiksa secara abadi untuk membalas segala perilaku syahwat mereka yang sudah punah binasa. ilmu macam apa jika tidak dapat berguna bagi pemiliknya, yang tidak dapat menghalanginya dari kebinasaan, kerugian dan kehancuran? ilmu semacam itu hanyalah ilmu lisan, hanya kumpulan maklumat di otak semata, tidak merasuk ke dalam hati, tanpa mempengaruhi perasaan dan insting.

Rasulullah sebagai penutup para nabi pernah memberikan satu perumpamaan kondisi macam macam manusia menghadapi wahyu yang diturunkan oleh Allah kepadanya yang berisi petunjuk dan ilmu. Kita lihat sebagian di antara mereka bagaikan tanah yang subur, digenangi dengan air sehingga menumbuhkan pepohonan dan rerumputan yang banyak. Ada juga yang tandus, namun dapat menampung air sehingga orang bisa memanfaatkannya juga, meskipun dirinya sendiri tidak bisa mengambil manfaat air tersebut. Ada juga yang ibarat tanah lapang yang tidak bisa menampung air dan tidak bisa juga menumbuhkan rerumputan.

orang orang yang berbahagia adalah orang yang mengamalkan ilmu yang dipahaminya dengan hati sebelum disampaikan kepada orang lain, sehingga ilmu itu menjadi hujjah buat mereka, bukan hujjah yang menyalahkan mereka. Karena di antara orang orang yang paling menyesal di hari kiamat nanti adalah orang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain, di kala orang lain mengamalkan ilmu tersebut, ia sendiri tidak mengamalkannya. Dalam sebuah riwayat oleh Imam Ad Darimi dikisahkan bahwa Abu Darda mengungkapkan “Seseorang tidak dianggap sebagai ulama sebelum terlebih dahulu ia belajar, ia tidak dikatakan mengetahui satu ilmu sebelum ia mengamalkannya.” Bahkan Imam Ad Darimi membuat judul bab dari hadist tersebut :”Bab : Pendapat bahwa ilmu itu adalah takut kepada Allah.” Dan para Shahabat telah memahami hal ini melalui firman Allah “Sesungguhnya orang orang yang takut kepada Allah hanyalah para ulama.” (Al Faathir 28)

Hendaknya pendapat pendapat diatas tidak lantas menjadikan diri kira malah malas untuk menuntut ilmu, karena kewajiban seorang yang tidak tahu adalah mencari tahu ilmunya. Bukan berarti berlindung di balik kebodohannya untuk terhindar dari hujjah Allah sebagaimana firman allah dalam surat An Nahl diatas, bahwa kesalahan akibat kebodohan tidaklah boleh dilakukan berulang kali karena satu kali kita melakukan kesalahan dan dosa akibat kebodohan, tentunya itu menjadi satu ilmu dan pembelajaran bagi pelakuknya.

Kita hidup di jaman dimana jangkauaun ilmu pengetahuan telah meluas dan sarana untuk menuntut ilmu sudah sangat mudah. Buku buku, ceramah ceramah, seminar dan fatwa fatwa juga sudah sangat banyak dan mudah untuk didapat dan diketahui. Akan tetapi kita melihat bahwa manifestasi yang tampak di tengah masyarakat Islam justru berkebalikan dari yang menjadi konsekuensi ilmu, yakni sikap lurus dan mencari keselamatan. Kebanyakan mereka masih perlu belajar untuk bertakwa, untuk takut kepada Allah, untuk bersikap wara’ dan untuk berpegang teguh pada ilmu. Semoga para ulama senantiasa belajar dan menjadi teladan pengamalan ilmunya bagi umat manusia dalam menempuh jalan yang di ridhai Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: