Galeri Kaum Lelaki

Diantara ungkapan Abu Hafsh An Naisaburi-Rahimahullah adalah “Siapa saja yang  tidak menimbang amal  perbuatan dan tingkah lakunya di setiap waktu dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, serta tidak pernah memperhatikan kondisi hatinya, maka ia tidak akan dimasukkan dalam galeri para lelaki sejati.”

Generasi As Salaf telah mengetahui bahwa metode yang layak diikuti adalah metodologi Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bahwa keduanya adalah jalan keselamatan dari kebinasaan dan kehancuran. Mereka mengukur seluruh amal perbuatan mereka dengan barometer Kitabullah dan As Sunnah, menimbang tingkah laku mereka dengan kedua sumber hukum tersebut. Mereka pun selamat dan tidak tergelincir, selamat dari marabahaya dan selamat dari segala kepalsuan. Demikianlah yang didakwahkan oleh Abu Hafsh-Rahimahullah : “Di setiap waktu” dan pada setiap kondisi. Hidup mereka menjadi lurus di atas metode Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tanpa penyelewengan, tanpa kerapuhan dan tanpa penyimpangan.

Mereka selalu memantau gerak hati. Mereka tidak pernah menerima yang terlintas dalam hati selain yang bersesuaian dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mereka tidak tertarik dengan yang dianggap oleh manusia sebagai penemuan dan pembaharuan, tidak mengikuti setiap seruan yang sejatinya mengarah kepada selain Kitabullah dan As Sunnah. Semua itu mereka lakukan dalam berbagai persoalan agama dan persoalan akhlak, adab pergaulan dan tingkah laku. Karena agama itu dengan mengikuti tuntunan, bukan dengan membuat-buat aturan, keyakinan bukan  keragu-raguan, ketaatan bukan kemaksiatan. Bagaimana mereka bisa merasa yakin bahwa yang terlintas dalam hati mereka bukan berasal dari syetan? Atau bukan merupakan sebab yang mengantarkan kepada kemaksiatan dan kesesatan?

Mereka adalah orang-orang yang berhak dikelompokkan dalam Galeri Kaum Lelaki, seperti yang diungkapkan oleh Al Hafsh-Rahimahullah. Selain mereka, tidak ada yang berhak mendapatkan kehormatan yang tinggi itu. Karena kejantanan menggambarkan tekad, keinginan dan kekuatan, serta kemampuan menundukkan hawa nafsu dan ketamakan yang rendah. Maka tidak mungkin sifat itu dimiliki oleh orang yang tidak mampu membebaskan diri dari tipu daya hawa nafsu  dan penghambaan  diri kepada ambisi dan ketamakan, serta kerendahan diri dengan mengikuti pengaruh hawa nafsu dan keinginan pribadi?

Generasi As Salaf adalah lelaki dengan kejantanan sejati dengan pengertian yang agung ini. Maka merekapun pantas mendapatkan ketenaran dan penghormatan. Penghormatan apa lagi yang lebih baik dari pujian  dan ridha yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” ( At Taubah : 100)

“Diantara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur. Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzaab : 23)

Kejantanan dan sikap sebagai lelaki menurut mereka bukanlah dalam sebuah kemenangan dan kekuatan materi, kekuasaan atau jabatan, namun terletak pada kemampuan memelihara janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berpegang teguh pada rambu-rambuNya. Abu Hafsh-Rahimahullah pernah ditanya : “Siapakah lelaki itu?” Beliau menjawab : “Yang selalu menepati janji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut diatas.

Oleh sebab itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menolong mereka  melawan musuh-musuh mereka dan memberikan kemuliaan kepada mereka yang memang telah ditetapkan bagi orang-orang yang beriman, yang sebenarnya kemuliaan tersebut bukanlah tujuan dan harapan mereka, mereka menghindari kemuliaan dunia dan mengharapkan kemuliaan Akhirat. Panji-panji mereka terangkat dan kalimat-kalimat mereka terdengar di mana-mana. Mereka tidak lagi hidup sebagai orang hina dina. Mereka memiliki tampuk kekuasaan terhadap dunia tanpa harus  menghalalkan cara cara batil  yang tidak sejalan dengan Kitabullah dan As Sunnah.

Maka Maha Suci Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan firmanNya :

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”  (Asy Syuura : 20).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang akhirat menjadi obsesinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan melancarkan semua urusannya, menjadikan hatinya terasa kaya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang dunia menjadi obsesinya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengacaukan semua urusannya, menjadikan hatinya miskin, dan dunia akan datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan kepadanya.” (Sunan Ibnu Majah, no. 4095)

Umat Islam sekarang ini yang sedang limbung, perlu mempelajari kejantanan semacam itu dan berupaya mendapatkannya, sehingga mereka mampu mengukur amal perbuatan, tingkah laku dan ucapan-ucapan mereka dengan timbangan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Mereka tidak perlu mendengarkan ocehan para pengekor hawa nafsu yang mengklaim bahwa mereka adalah pembaharu, yang dengan hawa nafsunya mereka menentang metode Kitabullah yang mulia dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam yang suci. Betapa banyak orang-orang semacam itu  di jaman sekarang ini yang menjual agama ini demi kenikmatan dunia, demi simbol simbol kekuasaan, betapa jeleknya kemaksiatan dan pelanggaran yang mereka propagandakan, serta berbagai kebohongan dan kedustaan yang mereka jadikan alasan, sungguh alangkah bodoh dan meruginya orang-orang tersebut beserta pengikutnya.

Orang-orang yang layak mendapatkan penghormatan adalah mereka yang menunaikan hak-hak Islam, yang menjaga diri sehingga tidak memperturutkan hawa nafsu, yang mampu menundukkan ketamakan. Mereka yang tidak tergiur oleh kemauan syahwat yang palsu, tidak senang mendapatkan gelar yang dibuat oleh kalangan ahli bathil. Mereka ridha kepada ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, itulah sebaik-baik umat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: